Forest Man : Manusia Pohon dari India

Reporter: Ilona

“Cut me before you cut my trees!”
Demikian penggalan kalimat yang keluar dari seorang pria India pada film dokumenter “Forest Man”. Ia adalah Jadav Payeng. Dengan lantang dan air muka yang tegas Payeng menyerukan kegeramannya terhadap manusia-manusia yang memotong pohon dengan semena-mena. Ini adalah kisah Jadav Payeng, seorang pria yang menanam pohon hingga menjadi hutan luas  di sebuah gurun tandus di pinggiran India.
Pada tahun 2009 Jitu Kalita seorang Jurnalis yang juga fotografer dari India, menemukan hutan lebat di gurun tandus Pulau Majuli. Majuli merupakan sebuah wilayah di tepi kota Jorhat sebelah timur laut negara India. Saat sedang menjelajahi tepian gurun tandus dekat hutan tersebut Jitu Kalita hampir diserang oleh pria paruh baya. Pria tersebut hendak menyerangnya karena menyangka Jitu adalah seorang pemburu.
Setelah mengetahui bahwa Jitu adalah seorang fotografer yang ingin mengambil gambar burung, pria itu meminta maaf. Ia pun menjelaskan alasan kenapa ia hampir menyerang Jitu. Nama pria itu adalah Jadav Payeng. Pria yang selama hampir 30 tahun menanam sendiri setiap pohon di 550 hektar lahan tropis di Pulau Majuli. Lebih luas dibandingkan ‘Central Park’ (taman kota) New York yang seluas 341 hektar. Mendengar cerita Jadav Payeng, Jitu tertarik untuk menulis tentangnya di koran di India.

Jadav payeng tinggal di sebuah pondok kecil dekat hutan pulau Majuli, tepat di tepi sungai Brahmaputra. Ia tinggal bersama istri dan tiga anak-anaknya. Ia mulai menanam pohon pada tahun 1979. Saat itu usianya masih 16 tahun. Usia ketika sebagian besar anak-anak Indonesia berada di bangku SMA dan belum terlalu memperdulikan pentingnya menanam pohon. Ketika itu Payeng sudah mulai meletakkan bibit pohon di tengah gurun tandus pulau Majuli dengan harapan bibit-bibit tersebut tumbuh besar dan menghidupi sekitarnya. Tidak hanya berhenti sampai di situ. Payeng juga menghalau penebang yang berusaha merusak hutan hasil tanamannya.

Payeng pertama kali tertarik menanam setelah mengetahui efek hutan bagi kehidupan satwa liar. 30 tahun tanpa lelah menanam, kini pohon-pohon yang ditanamnya tumbuh tinggi menutupi sebagian area tandus, menjadikannya hutan damai bersama hewan-hewan liar yang tinggal di dalamnya.

Ada sekitar 115 ekor gajah yang secara rutin mengunjungi hutan yang ditanami Payeng, dan pada umumnya tinggal selama sekitar 3 bulan dalam setahun. Mereka melahirkan 10 anak di hutan dalam beberapa tahun terakhir. Selain gajah, selama bertahun-tahun, hutan timur laut India telah menjadi rumah bagi banyak binatang hutan seperti, rusa, badak, harimau Bengal, kera, kelinci, dan burung bangkai.

Kepada Jitu ia bercerita keluh kesahnya menanam pohon. Mulanya sangat memakan waktu. Dengan kesabarannya pohon hasil tanamannya pun tumbuh dan lebih membantunya untuk menanam karena lebih mudah mendapatkan bibit. Namun menjadi lebih sulit pula ketika harus menjaga pohon-pohon tersebut. Menurutnya ancaman terbesar datang dari manusia. “Mereka menghancurkan hutan untuk kebutuhan ekonomi. Maka hewan-hewan di dalamnya pun rentan punah.” ujarnya.

“Manusia termasuk bangsa animal seperti hewan-hewan lainnya, yang membedakannya hanya manusia memakai baju. Tidak ada monster di alam ini yang sekejam manusia. Manusia mengkonsumsi semuanya sampai tidak ada yang tersisa. Tidak ada yang aman di tangan manusia, tidak terkecuali macan, gajah bahkan hewan lainnya.” Tuturnya lagi.

Cara berfikirnya yang sederhana dan mungkin aneh bagi sebagian orang bahkan bagi tuan pemodal perampas tanah dan hutan justru secara nyata membantu pengurangan erosi di India khususnya di Pulau Majuli. Diperkirakan 175 Juta hektar tanah di India (sekitar 53 persen) dari total wilayah geografis menderita efek buruk erosi. Pulau Majuli merupakan salah satu tempat yang terkena dampak tersebut. Sejak 1917 Pulau ini menyusut menjadi kurang dari setengah ukuran aslinya.

Hal itu pula dibenarkan oleh Dr. Arup Kumar Sarma, Akademisi dari Institut Teknologi Guwarhati India.

Walaupun begitu Payeng tetap mendukung industri agrikultur lain seperti kelapa. Karena menurutnya pohon kelapa membantu mengatasi erosi. Disamping itu masyarakat tetap dapat keuntungan ekonomi.

Berkat kegigihan dan kecintaan menanam pohonya, jadav dianugerahi gelar “Padma Shri”, sebuah gelar penghargaan sipil tertinggi keempat di India.

Film pendek yang didokumentasikan oleh William Douglas Mc Master ini masuk sebagai nominasi di empat penghargaan film internasional. Terlepas dari itu film ini mengajarkan kepada kita untuk tetap menjaga alam dan isinya. Belajarlah kepada Jadav. Jika sulit untuk menanam mulailah dari hal-hal kecil seperti tidak menebang pohon, mengurangi pemakaian kertas, atau bahkan mengurangi konsumsi belanja. Karena apa yang kita beli membutuhkan tempat produksi yang tentunya memakai lahan yang mungkin memakai lahan hutan yang banyak. Hiduplah dengan sederhana, maka alam akan memberkahi kita semua.

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *