Cerita di Balik Tradisi Unik “Pengucapan Syukur” Minahasa

Reporter: Ilona

Minahasa merupakan suku asli yang tersebar di beberapa wilayah di Sulawesi Utara. Seperti halnya suku-suku lain di Indonesia, suku Minahasa memiliki suatu tradisi tahunan khas yang dikenal dengan “Hari Pengucapan Syukur”. Suku Minahasa sendiri umumnya menetap di beberapa wilayah kabupaten di Sulawesi Utara seperti kabupaten Minahasa Selatan, Minahasa Utara, Minahasa tenggara, dan Minahasa Induk.

Setiap wilayah kabupaten tersebut umumnya merayakan hari Pengucapan Syukur pada pertengahan tahun. Pengucapan syukur biasanya dilakukan sebagai bentuk syukur kepada Empung Wailan Wangko (Tuhan Yang Maha Besar). Menurut praktisi budaya, Rinto Taroreh, tradisi ini sudah ada sejak zaman leluhur dan dilakukan sebagai wujud syukur atas panen yang didapat. Walaupun dilaksanakan serentak pada setiap pertengahan tahun, setiap kabupatennya merayakan pengucapan syukur di tanggal yang berbeda, tergantung instruksi yang ditetapkan oleh pemerintah masing-masing kabupaten atau kota.

Tahun ini pemerintah Minahasa (induk) menetapkan tanggal 24 Juli 2016 sebagai hari Pengucapan Syukur. Kali ini saya dapat kesempatan untuk mengunjungi kota Langowan untuk mengikuti perayaan tahunan Minahasa ini. Berangkat sejak sabtu dari kota Manado memungkinkan saya untuk melihat-lihat persiapan masyarakat Minahasa (Langowan khususnya) menghadapi hari pengucapan syukur.

Hal unik yang biasa saya saksikan pada perayaan Pengucapan adalah makanan yang disajikan. Masyarakat Minahasa dikenal dengan sajian kulinernya yang ekstrim. Selain makanan jajanan seperti dodol, dan nasi jaha, mereka juga menyajikan makanan pokok teman makan nasi yang biasanya dibuat dari olahan daging-dagingan. Pembuatan dodol biasanya sama dengan pembuatan dodol pada umumnya, hanya saja dodol yang telah jadi dibungkus dengan daun Woka. Nasi Jaha sendiri merupakan olahan beras ketan seperti lemper hanya saja memasaknya dengan dimasukkan kedalam bambu.

Bagi yang tidak terbiasa dan bukan orang asli Minahasa anda mungkin akan kaget dengan olahan daging-dagingan khas Minahasa. Seperti saya, walaupun ayah dan ibu saya merupakan warga turunan asli Minahasa, Saya cukup kaget melihat olahan daging-dagingan yang disajikan di pengucapan syukur Minahasa.

Hari Pembantaian

Sebelum proses pengolahan makanan, saya mendapat kesempatan untuk mengunjungi tempat jualan hewan dan ternak untuk dimasak. Pukul 9 pagi saya bersama seorang kerabat yang tinggal di Langowan berangkat menuju pasar baru. Sabtu pagi yang padat di pasar baru Langowan. Masyarakat berdesakan berbelanja keperluan pengucapan. Selain baju, sepatu, karpet, bumbu dan keperluan rumahtangga lainnya tujuan saya datang adalah karena penasaran dengan hewan-hewan yang nantinya akan berakhir di panci penggorengan.

Masuk lebih dalam pasar saya melihat stand unggas yang terdiri dari ayam dan bebek siap potong (Langowan terkenal dengan olahan bebeknya yang enak). Melihat ayam-ayam dan bebek-bebek yang digantung terbalik dengan kaki diikat saya sedikit kasihan. “belum dimasak saja sudah disiksa”.

Semakin kedalam pasar aroma kopi bercampur dengan keringat orang berdesakan, unggas, dan bumbu-bumbu yang digelar di meja-meja lapak pedagang. Terus kedalam ada meja-meja yang di atasnya diletakkan ikan berbagai jenis yang tengah megap-megap berusaha bernafas bahkan ada yang pingsan.

Di pojok paling belakang pasar merupakan letak lokasi pembantaian yang sesungguhnya. Anda yang nggak tegaan disarankan untuk tidak datang kesini. Masyarakat Minahasa memang dikenal dengan kuliner ekstrimnya. Di tempat inilah anda akan melihat Tikus, Ular Patola (piton), Paniki (kelelawar), Kucing, Anjing, Babi, dan Yaki Hitam (Satwa Endemik khas Sulawesi) yang tengah digantung, dibakar, atau dipotong-potong untuk dijajakan. Walaupun tidak ada aturan tertulisnya, namun hewan-hewan tersebut “wajib” ada (walaupun tidak semua) di meja sajian perayaan Pengucapan.

Cara eksekusinyalah yang jadi perhatian bagi saya. Untuk tikus, tidak ada kegiatan pembantaian langsung. Yang saya saksikan hanya tikus masih utuh yang sudah dibakar dan dijejer diatas meja. “Rest in Peace Mice”. Selain itu ada pula Patola (ular piton), saat tiba di lokasi ular telah dipotong menjadi beberapa bagian tapi tanpa dibakar karena kulitnya tidak ikut dimasak. Berbeda dengan hewan berbulu lainnya yang harus dibakar untuk merontokan bulu.

Selain tikus dan ular, ada pula babi. Babi biasanya telah dipotong terlebih dahulu sebelum dijual. Ada pula kucing. Disini hewan yang biasa dipelihara tersebut harus berakhir di panci penggorengan. Ada yang dibantai langsung, biasanya dengan dijerat. Setelah mati kemudian dibakar.

Coklat yang malang

Hal yang paling menggugah bagi saya adalah saat melihat stand anjing. Saya pribadi memang penyuka hewan yang suka menggoyang-goyangkan ekor sambil menjulirkan lidah kala sedang bahagia tersebut. Walau demikian saya tidak punya daya untuk menghentikan kaum omnivora ini mengkonsumsi bleki dan kawan-kawan. Yang menyedihkan adalah prosesi pembantaiannya. Mungkin saya sedikit mendramatisir. Tapi inilah yang saya lihat dan rasakan langsung saat kawan si Bleki harus dibantai demi daging RW di meja Pengucapan.

Anjing-anjing biasanya dikurung bersama dalam keranjang besi. Kala itu ada 2 ekor anjing yang dikurung dalam satu keranjang sementara anjing lain diletakkan di keranjang berbeda. Saat semakin mendekat saya melihat om-om yang tidak dapat disebutkan namanya menjerat seekor anjing berwarana coklat dengan corak putih di keempat kakinya (sebut saja si Coklat) di salah satu keranjang tersebut. Alat penjeratnya berupa bambu (galah) yang pada ujungnya diikatkan tali lingkar sebesar ukuran leher anjing. Saat berhasil dijerat, saya melihat si Coklat berusaha melepaskan jeratnya dengan menahan galah yang disodorkan si om sambil berteriak ketakutan. Saat sudah terjeratpun coklat masih berusaha memegang galah sambil menangis memohon si om melepaskan jeratnya. Si om tidak memperdulikan tangisan si Coklat. Si om kemudian memukul kepala coklat dengan balok sampai Coklat terkulai lemas disaksikan beberapa teman anjing di keranjang lain yang hanya bisa menatap pedih kemudian tertunduk dalam diam.

Di kandang bersama-sama dengan Coklat ada seekor anjing lain yang juga tertunduk tanpa mau menoleh ke tubuh lemas Coklat di sebelahnya. Hatinya lebih pedih karena itu berarti gilirannya semakin dekat. Ia hanya bisa berdoa untuk keselamatan dirinya dan anjing lainnya.

Sementara itu tubuh lemah coklat kemudian diangkat untuk dibakar dan dipotong dan dijajakan ke pembeli lainnya.

Antara tradisi dan satwa endemik Sulawesi

Di antara beberapa daging yang dijajakan, saya penasaran dengan daging Yaki (monyet) hitam yang merupakan satwa endemik Sulawesi Utara. Sepanjang stand saya tidak dapat menemukan daging yaki. Menurut kerabat saya yang mengajak saya ke pasar ini daging yaki cukup langka karena banyak peminatnya. Setelah beberapa kali berkeliling dengan hasil nihil karena saya bukanlah ahli yang bisa tau morfologi hewan hanya dengan melihat meski hanya potongan, saya kemudian memutuskan bertanya kepada seorang penjual, seorang om berbaju kuning yang sedang memotong-motong daging hewan.

“Om, daging Yaki di seblah mana kang?” ujar saya. Si om mengamati saya, setelah yakin saya adalah pembeli dengan memandang kantong kresek yang saya bawa di tangan kiri,ia kemudian menunjuk ke arah meja di sebelahnya.

“sana dang yaki”

“ih, patola itu om” ujar saya kurang yakin karena tidak melihat tubuh utuh yaki di atas meja yang ditunjuk si om.

“itu dang yaki di depe seblah”. Ujarnya lagi. Setelah benar-benar yakin, saya pun mendatangi stand tersebut. Untuk lebih memastikan saya bertanya kepada wanita muda yang menjaga stand tersebut. Dengan menunjuk daging yang dimaksud saya mulai bertanya

“ini…” belum sempat saya meneruskan omongan saya langsung dipotong oleh penjualnya yang memang terlihat sibuk

“Yaki” ujarnya pendek sambil melayani pembeli lain.

Daging yang saya tunjuk merupakan potongan dari pinggang hingga kaki yang dibelah lagi menjadi dua. Karena sudah dibakar orang awam seperti saya tidak tahu jika potongan tersebut merupakan daging Yaki, satwa endemik sulawesi yang dilindungi.

“berapa?” saya bertanya lagi.

“80 ribu” balasnya pendek.

Ternyata selain langka, harganya juga sedikit lebih mahal dibanding daging babi yang kala itu dibandrol dengan harga 75 ribu rupiah perkilonya.

Menit-menit terakhir di pasar baru Langowan. Saya kembali memandangi hewan-hewan malang yang jadi korban tradisi, yang akan berakhir di panci lalu mati. Inilah tradisi yang justru bagi mereka tak boleh mati. Sampai saat menulis tulisan ini saya masih cukup sedih membayangkan Coklat yang mati, dan tetap dikonsumsinya satwa di ambang kepunahan seperti Yaki. Walau demikian masyarakat yang telah turun-temurun melakukan tradisi ini tidak bisa langsung disalahkan.

Untuk coklat, saya amat sangat teramat sedih dan pedih atas jiwanya yang harus melayang, tapi saya tidak lantas menyalahkan para pengkonsumsi anjing, dan mungkin oma-oma dan opa-opa yang makan olahan daging si Coklat. Saya tidak boleh egois. Karena saya juga tetap makan ayam, sapi, dan ikan di tengah beberapa orang yang mungkin cinta mati ayam, sapi, dan ikan, dan beranggapan mereka teman, bukan makanan. Untuk Yaki, karena jumlahnya yang semakin sedikit dan hanya ada di Sulawesi, saya berpesan kepada anda semua, mari kurangi makan Yaki, jika boleh jangan makan sama sekali. Untuk hewan lainnya, silahkan makan sepuasnya, asal jaga kolestrol anda.  Untuk Langowan, terimakasih telah menghadirkan pengalaman dan cerita unik bagi saya. Sampai ketemu di Pengucapan selanjutnya.

Foto ilustrasi si Coklat diunduh dari sini

Ketika Media Memvonis LGBT

Reporter: Mustika Muchtar

llustrasi (Sumber: http://www.sapphokolkata.in/events/)

 

Para kaum Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender (LGBT) seolah dianggap sebagai orang-orang yang berbahaya dalam kehidupan bermasyarakat akhir-akhir ini.  Berbagai pemberitaan negatif terhadap kaum LGBT menyeruak di berbagai media dengan isi berita yang cenderung menyudutkan keberadaan mereka di tengah-tengah masyarakat. Pemberitaan mengenai isu LGBT sendiri selalu dikait eratkan dengan penyakit menular, penyimpangan dan aktivitas seksual, kerusakan moral, hingga obat-obatan terlarang. Tidak banyak pemberitaan media mengenai kaum LBGT yang memberikan ruang yang sama kepada mereka untuk menjelaskan keberadaan mereka dan meluruskan banyak hal.

Dalam ranah pemberitaan, Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Indonesia juga telah mencermati gencarnya pemberitaan terkait isu-isu  kelompok termarjinal secara struktural dan sosial akhir-akhir ini, khususnya terkait  LBGT. Menurut AJI beberapa pemberitaan berindikasi melanggar UU Pers, Kode Etik Jurnalistik maupun Pedoman Prilaku Penyiaran dan Standar Program Siaran (P3SPS) 2012.

Dalam Pedoman Prilaku Penyiaran Standar Program Siaran (P3SPS) 2012, Bab XI pasal 15 ayat 1, mengamatkan tentang perlindungan kepada orang dan kelompok masyarakat tertentu, termasuk didalamnya, “Orang atau kelompok dengan orientasi seksual atau identitas gender tertentu.” Pada ayat 2 mengatur lembaga penyiaran tidak boleh menyiarkan atau menyajikan program yang menertawakan, menghina atau merendahkan kelompok masyarakat, termasuk di dalamnya orang atau kelompok dengan orientasi seksual atau identitas gender tertentu.

Bagi masyarakat yang merasa dirugikan terkait pemberitaan, AJI mendorong menggunakan  mekanisme yang telah diatur dalam  UU Pers dan diadopsi dalam KEJ, yaitu hak jawab dan koreksi. Hak jawab adalah hak seseorang atau sekelompok orang untuk memberikan tanggapan atau sanggahan terhadap pemberitaan berupa fakta yang merugikan nama baiknya. Sedangkan hak koreksi adalah hak setiap orang untuk membetulkan kekeliruan informasi yang diberitakan oleh pers, baik tentang dirinya maupun tentang orang lain.

Seperti yang dilakukan oleh Manado Line, sebuah situs berita online di Sulawesi Utara yang menuliskan pemberitaan berjudul “LGBT Penyimpangan Perilaku yang Sangat Menular” sebagai hasil liputan diskusi bersama pihak BNN Kota Bitung dan Bitung Journalist Club (BJC) pada Jumat 15/04 di sebuah warung kopi. Dalam diskusi interaktif itu bahkan sama sekali tidak menghadirkan satu orang pun narasumber dari kelompok LGBT.

Ada pun pernyataan Kepala BNN Kota Bitung dr. Tommy Sumampouw, salah seorang narasumber dalam diskusi tersebut yang mengatakan,

“LGBT, perilaku yang sangat menular. seseorang berperilaku normal jika bergaul beberapa bulan saja dengan mereka, maka akan terjangkit, dan LGBT cenderung sangat erat dengan Narkoba, karena mereka tidak diterima oleh masyarakat, larinya ke Narkoba,”

Dalam masalah ini, narasumber maupun penulis sama sekali tidak menyertakan fakta, bukti, maupun data dari pernyataan tersebut. Tidak ada data yang jelas mengenai jumlah kaum LGBT yang menggunakan narkoba. Hal ini pun seolah menambah kesan negatif terhadap kaum LGBT di Sulut. Padahal orang-orang heteroseksual juga banyak yang menjadi pengguna narkoba, yang tentunya juga disebabkan oleh berbagai motif.

Terkait dengan pernyataan bahwa LGBT merupakan  perilaku yang menular, si penulis tidak menyertakan referensi ilmiah yang mendukung pernyataan tersebut. Dikatakan bahwa seseorang yang berperilaku normal dan bergaul bersama mereka dalam beberapa bulan saja akan terjangkit. Sungguh pernyataan yang sangat disayangkan yang dilontarkan oleh seorang dokter.

Pernyataan  di atas bertolak belakang dengan pernyataan seorang dokter spesialis bedah saraf dari Rumah Sakit Mayapada Jakarta, dr. Ruslan Yusni Hasan yang dikutip dari website Harian Kompas.

“Tentu tidak menular (LGBT). Orientasi seksual dan lainnya itu struktur di otaknya sudah ada,” jelas Ruslan, Jakarta, Selasa ( 9/2/2016).  Ruslan menjelaskan, orang yang menjadi gay setelah sering berkumpul dengan gay, karena memang sebelumnya sudah ada bakat dalam diri orang tersebut. Lingkungan sosial akhirnya bisa memicu seseorang yang memiliki bakat gay kemudian menjadi gay. “Kalau punya bakat, lalu kumpul sama homoseksual, ya makin jadi homoseksual. Bakatnya, kan ada. Tapi, yang enggak ada bakatnya, ya enggak jadi ikut homoseksual,” kata Ruslan

Seseorang berjenis kelamin laki-laki yang menyukai laki-laki atau jenis kelamin perempuan menyukai perempuan adalah tergantung dari susunan saraf pada otaknya. Struktur otak itu telah terbentuk saat janin masih dalam kandungan dan tidak bisa diubah. Sistem saraf dan struktur otak  dipengaruhi oleh banyak hal, mulai dari asupan makanan, faktor genetik, hingga hormon dari orangtua maupun bayi itu sendiri. Menurut Ruslan, tidak ada yang salah dengan manusia yang terlahir LGBT, hal itu merupakan variasi dari struktur otak manusia yang berbeda-berbeda. Seperti halnya, ada manusia berkulit hitam, putih, rambut lurus, keriting, suka musik, suka matematika, begitu pula dengan adanya LGBT.

Ketidak berimbangan pemberitaan terhadap kelompok LGBT akhirnya membuat Michael (nama samaran) seorang gay angkat bicara. Awalnya Ia tidak terlalu aktif menanggapi pemberitaan yang tendensius terhadap eksistensi kelompoknya (LGBT), “toh mereka tidak membiayai hidup saya!” tukas laki-laki yang memiliki banyak prestasi akademik maupun non-akademik di kampusnya. Namun semakin hari  beberapa media semakin mengada-ada dalam membuat berita. Ketika dimintai kesediannya untuk menanggapi artikel Manado Line berjudul “LGBT Penyimpangan Perilaku yang Sangat Menular” Michael pun sempat geram. Michael mengakui bahwa keberadaan kelompok LGBT memang masih belum bisa diterima di kalangan masyarakat Indonesia, terutama di Kota Manado yang kebanyakan masyarakatnya merupakan penganut agama Kristen yang taat. Diakui Michael pula bahwa keluarganya sendiri juga belum dapat menerima keadaannya sebagai seorang gay. Di lingkungan kampusnya pun Michael tak jarang menerima tindakan diskriminatif, bahkan celaan dan penghinaan dari orang-orang yang homofobia, orang-orang yang memilki ketakutan terhadap homoseksualitas. Atau mungkin lebih tepatnya adalah orang-orang yang belum bisa bertoleransi dengan keberagaman orientasi seksual manusia. Namun dalam kondisi demikian tidak pernah membuat Michael merasa tertekan hingga berniat mengkonsumsi obat-obatan terlarang. “Saya tidak peduli dengan kata orang, just let it go ! saya juga punya cara yang lebih positif untuk melampiaskan kekesalan saya. Jalan-jalan misalnya” jelas Michael.

Jika mereka menyebut bahwa homoseksual merupakan perilaku yang menular, Michael menegaskan “Kami (LGBT) tidak pernah sebodoh itu mengajak atau mempengaruhi orang lain agar menjadi seorang homo. Dengan cara seperti apa kami menularkannya ? Kami juga bingung. Saya tidak habis pikir dengan pernyataan orang-orang di luar sana yang mengada-ada!” Berkaitan dengan orang-orang yang homofobia, menurut Michael, seorang gay juga punya tipenya sendiri, sama halnya dengan orang heteroseksual. Jadi merupakan hal yang lucu, ketika bertemu seorang yang homofobia yang sengaja menghindari mereka karena takut digoda.

Diakhir perbincangan bersama Michael, ia menyampaikan harapannya agar orang-orang seperti dirinya juga diberi kesempatan yang sama sebagai warna negara Republik Indonesia. Ia juga berharap pemberitaan terhadap kaum LGBT tidak melulu soal penyakit atau penyimpangan seksual. Mereka juga memiliki tujuan hidup yang mulia, sama seperti orang kebanyakan. “Cobalah media sesekali memberitakan hal positif mengenai kelompok LGBT. Misalnya gerakan-gerekan sosial yang rutin dilakukan komunitas LGBT, atau prestasi yang ditorehkan oleh mereka”

Bagi Michael, meskipun belum banyak masyarakat yang dapat menerima keberadaan mereka, menurutnya persoalan LGBT ini bukanlah yang hal perlu menjadi perdebatan yang panjang. Ada banyak hal yang jauh lebih penting dan perlu diurusi di negri ini. Katakanlah korupsi, kemiskinan, masalah sampah, hingga problematika reklamasi yang butuh lebih banyak solusi. 

Nyai Ontosoroh: Perempuan Sejati Harus Mandiri!

Reporter: Chairil Muhammad

Ilustrasi Nyai Ontosoroh (Sumber : http://www.imgrum.org/media/happysalma)

 

“Kita sudah melawan, nak. Sekuat-kuatnya, sehormat-hormatnya,” Nyai Ontosoroh.

 

Tugas mata kuliah antropologi gender, mengharuskan saya membaca buku “Bumi Manusia”, karya Pramoedya Ananta Toer – yang merupakan refrensi utama dalam penugasan mata kuliah tersebut.

Sebelum lebih jauh bicara “Bumi Manusia”, ada baiknya kita mempelajari gagasan beberapa pakar terkait gender.

Nunuk P. Murniati, dalam “Getar Gender” (2004)mengemukakan bahwa gender merupakan sebuah kata kuno yang diberi makna baru. Dalam perkembangannya, gender menjadi sebuah ideologi, yang bisa merusak relasi laki-laki dan perempuan ketika dicampur adukan dengan pengertian seks (jenis kelamin).

Ketika perbedaan seks dan gender tidak dilihat secara kritis, maka munculah ketidakadilan gender. Bentuknya, posisi subordinat, streotip terhadap perempuan dan laki-laki, beban ganda, serta marginalisasi dan kekerasan terhadap perempuan.

Jauh sebelum menjadi sebuah ideologi, kata gender sendiri sering diartikan secara sempit sebagai sebuah pembagian kerja, baik secara nature maupun nurture. Arif Budiman dalam buku “Pembagian Kerja Secara Seksual” (1982) mengatakan bahwa “pembagian kerja secara seksualitas substansinya jelas merugikan dan tak mencerminkan keadilan bagi perempuan”.

Asumsinya, laki-laki secara jasmaniah mempunyai banyak kelebihan, dan secara psikologis lebih aktif dan mengedepankan rasio bukan emosi, sedangkan perempuan selalu ada dalam posisi sebaliknya. Sehingga, domestikasi perempuan dalam rutinitas rumah tangga akan dianggap wajar.

Dalam “Bumi Manusia”, saya kira, karakter yang cukup menarik untuk mendeskripsikan perjuangan berbasis gender adalah perempuan pribumi bernama Nyai Ontosoroh. Deskripsi karakater ini, oleh Pram, ditulis dalam beberapa lembar halaman.

Semasa remaja Nyai Ontosoroh sangat cantik. Banyak surat lamaran yang disinggahkan kepadanya, namun tak satu pun direstui ayahnya – juru tulis Sastrotomo, yang mengidamkan jabatan sebagai juru bayar di perusahaan.

Demi ambisinya, sang ayah rela “menjual” anaknya. Keinginan itu pun terpenuhi. Tuan Melemma, seorang Belanda totok, mempersunting Sanikem], dengan catatan, sang ayah mendapat kenaikan pangkat jadi juru bayar.

Di awal pernikahan, Nyai merasa tersiksa dan bertekad untuk tidak menganggap orangtuanya.

Tapi, di kemudian hari, ia sangat mempengaruhi watak Minke, tokoh utama dalam “Bumi Manusia” – yang oleh Pram disebut sebagai “pemuda yang mengawali perjuangan modern bangsanya”.

Saya kira status sebagai peremuan dan gundik, di masa itu, cukup untuk menempatkan Nyai Ontosoroh sebagai warga negara kelas “bulu terbang”. Lalu, kenapa perempuan pribumi, sekaligus gundik seorang Belanda ini, bisa mendapat tempat yang begitu berpengaruh dalam tetralogi Pulau Buru?

Berikut akan saya ringkas beberapa tindakan Nyai Ontosoroh, seorang yang melampaui perempuan – bahkan generasi – di zamannya.

Perempuan Berpengetahuan Luas

Sikap terpelajar Nyai cukup mengejutkan Minke. Awalnya, dia menganggap gundik hanyalah seorang pemuas nafsu. Namun anggapan itu berubah dalam sebuah kesempatan makan bersama. Minke kaget melihat cara Nyai makan yang mirip dengan etika makan orang Eropa.

Keterampilan Nyai Ontosoroh juga menepis anggapan miring masyarakat Wonokromo, yang menganggap rendah seorang Gundik. Itu ditunjukan lewat prilakunya yang sopan dan beradab, serta keterampilan berbahasa, dan membaca.

Tuan Malemma, suami Nyai, memang banyak memberi pelajaran. Mulai cara berdandan a la Eropa, membaca, menulis, berbahasa, hingga cara mengelola perusahaan.

Meski ‘hanya’ perempuan pribumi, juga gundik, niat Nyai untuk belajar tak pernah surut. Dia tidak mau kalah, bahkan pada orang Eropa. Tak jarang, Nyai beradu mulut dengan Tuan Melemma dan tidak merasa gentar sedikit pun.

Seorang Pemimpin dan Perempuan yang Mandiri

Selain itu, Nyai Ontosoroh juga mampu memimpin sebuah perusahaan besar di Wonokromo. Dalam kepemimpinan itu, ia dibantu Annelies, putrinya, sebagai mandor, serta Darsam sebagai pengawal pribadi.

Ketika Maurits Melemma datang ke Wonokromo, sikap Tuan Melemma berubah. Dia jadi sering keluyuran dan jarang pulang. Maurits adalah anak Herman Melemma yang sah. Selama ini, Herman Melemma, tidak lagi memberi nafkah pada keluarganya di Belanda. Maurits datang untuk menuntut keadilan.

Nyai Ontosoroh tidak begitu kaget dengan kelakuan suaminya yang macam “Bang Toyib” – tak pulang-pulang. Ia sudah mampu memimpin perusahaan dan menghidupi anak-anaknya tanpa bantuan suami.

Ini menandakan bahwa perempuan tidak seharusnya selalu tunduk dan patuh terhadap laki-laki, serta mampu memperjuangkan hak-haknya, secara mandiri. Seperti yang dia bilang, “Jangan sebut aku perempuan sejati, jika hidup hanya berkalang lelaki. Tapi, bukan berarti, aku tidak butuh lelaki untuk aku cintai.”

Riset: Kecenderungan Pemimpin Umum LPM Inovasi Unsrat

Reporter: Themmy Aditya Nugraha

Riset terbaru menunjukan benang merah antara studi, finansial dan asmara di kalangan pers mahasiswa. Benarkah?

Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Inovasi Universitas Sam Ratulangi (Unsrat) baru saja bikin musyawarah anggota. Mustika Permata Sari Muchtar dipercaya jadi Pemimpin Umum periode 2017-2018.

Sebelum itu, Inovasi Institute sudah membuat sebuah riset untuk mengetahui sejumlah kecenderungan Pemimpin Umum LPM Inovasi.

Metode yang digunakan dalam riset ini adalah stratified-multi stage random sampling. Responden berjumlah 15 orang, yang terdiri dari mantan (bukan mantan pasangan) Pemimpin Umum LPM Inovasi Unsrat. Margin of error 3% dan tingkat kepercayaan sebesar 97%.

Riset ini bertujuan mengetahui kecenderungan personal Pemimpin Umum LPM Inovasi di luar aktifitas ilmiah. Beberapa poin diharap bisa menjadi pertimbangan bagi Pemimpin Umum Inovasi terpilih, untuk menghindarkan diri dari gegar budaya serta sindrom pasca berkuasa.

Kecenderungan lama studi
Kecenderungan awal yang diakui berkaitan dengan masa studi. 100% Pemimpin Umum LPM Inovasi mengaku cenderung konsisten melampaui batas minimal kuliah.

Jika persentase tadi dirinci, sebanyak 50% responden menyelesaikan studi karena terancam dihapus dari kartu keluarga. 30% karena adik tingkat sudah jadi dosen. 10% karena segera dinikahkan kalau tak juga lulus kuliah. Sementara, 10% enggak enakan menjawab.

Persentase itu menggambarkan tingginya semangat belajar Pemimpin Umum LPM Inovasi dari masa ke masa. Sebab, mayoritas responden menilai, durasi studi tidak berbanding lurus dengan pengetahuan akademik dan keterampilan praktis.

Sehingga, durasi kuliah tak dipatok pada cepat atau lambat. Responden lebih setuju menyelesaikannya pada waktu yang tepat.

Kecenderungan ekonomi
Dari aspek ekonomi, Pemimpin Umum LPM Inovasi tidak hanya dituntut terampil mengatur kas organisasi, tetapi juga membuktikannya dalam praktik harian. Sebanyak 100% responden menyebut, keterampilan itu harus dimiliki setiap Pemimpin Umum.

Adapun, keterampilan mengelola keuangan bulanan dilakukan dengan menekan pembiayaan akomdasi dan konsumsi. Cukup mengejutkan, 70% responden menekan biaya penginapan bulanan dengan tinggal di sekretariat, 15% ngekos bareng teman dan 15% hidup nomaden.

Sementara, cara yang dilakukan untuk menekan biaya konsumsi bulanan dilakukan lewat ngutang 30%, makan gorengan 25%, masak mie instan 25%, minta teman 5%, makan bareng temen 5%, serta menahan lapar 5%. Sebanyak 5% responden mengaku pasrah pada Yang Kuasa.

Kecenderungan ini membuktikan, selain terampil mengelola pengeluaran bulanan, mayoritas Pemimpin Umum Inovasi juga dituntut menjalin hubungan sosial yang baik. Penilaiain itu dibuktikan dengan tingginya aktifitas komunal-kolektif untuk meminimalisir pengeluaran akomodasi dan konsumsi.

 

Kecenderungan asmara
Sementara, dalam urusan asmara, secara historis, jabatan Pemimpin Umum LPM Inovasi didominasi pemuda-pemudi lajang.

Sesuai hasil riset, persentase lajang mencapai 97%. Sementara, putus setelah jadi Pemimpin Umum sebesar 1%, ragu-ragu 1%, putus-nyambung 0,3%, tak menjawab 0,5% dan mengaku punya pasangan 0,2%. Kata “mengaku” sudah di-garis-bawahi-secara-tebal.

Temuan itu menunjukkan, nyaris seluruh Pemimpin Umum Inovasi gagal dalam urusan cinta berkarakter single fighter. Aktifitas keredaksian dinilai sebagai faktor pengubur harapan untuk menjalin hubungan-yang-lebih-dari-teman.

Kalaupun ada kesempatan, paling sebatas SMS dan telepon. Selebihnya, simpan foto di ponsel dan laptop. Dampaknya, mayoritas responden sudah terbiasa menyaksikan pujaan hatinya digandeng orang lain.

Pelajaran dari Palau Bangka: Rakyat Juga Bisa Menang Lawan Tambang

Reporter: Mustika Muchtar

Foto : Facebook Save Bangka Island

 

Perjuangan warga pulau Bangka, Sulawesi Utara, diyakini bisa menjadi pelajaran untuk melawan industri pertambangan. Sebab, dalam kurun 6 tahun, mereka berhasil menendang perusahan tambang dari pulau tersebut.

Pernyataan itu disampaikan sejumlah lembaga dalam peringatan Hari Anti Tambang (Hatam) pada Senin (29/05/2017) di Manado, Sulawesi Utara. Mereka menyebut, perjuangan warga pulau Bangka didukung Mahkamah Agung (MA), melalui putusan No. 255 K/TUN/2016.

Kemudian, 23 Maret 2017, menindaklanjuti putusan MA, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), juga mencabut Izin Usaha Pertambangan Operasi Produksi PT. Mikgro Metal Perdana (MMP).

Sebelumnya, PT. MMP memperoleh izin di pulau yang luasnya hanya sekitar 3.319 hektar. Di pulau kecil itu, perusahaan tambang memperoleh wilayah konsesi sekitar 50% dari luas daratan pulau Bangka.

Melihat fakta-fakta tersebut, Merah Johansyah, Koordinator Jaringan Advokasi Tambang (Jatam) mengatakan, “Putusan MA dapat menjadi basis hukum bagi  kebijakan moratorium dan Pencabutan IUP di seluruh pulau kecil di Indonesia.”

Selain itu, pemerintah didesak melakukan audit atas kerugian-kerugian warga. Termasuk pemulihan sosial, dan penyelidikan lanjut terhadap kasus-kasus tindak kekerasan yang pernah terjadi di pulau bangka.

“Dibatalkannya Izin Usaha Pertambangan PT.MMP terhadap Pulau Bangka oleh Mentri ESDM seharusnya menjadi yurisprudensi atau tonggak perbaikkan kebijakan pemerintah terhadap pertambangan di Indonesia, terutama di pulau-pulau kecil,” tutur Merah ketika menjadi pembicara pada dialog publik di Manado, Senin (29/05/2017).

Para Pembicara dalam Seminar Publik Hari Anti Tambang di Hotel Ibis Manado pada (29/05/2017) Foto : Eku Wand (Facebook Save Bangka Island)

 

Menurut dia, penyelamatan dan audit izin tambang di pulau-pulau kecil perlu segera dilakukan. Sebab, Indonesia memiliki 17.508 pulau, dengan 13.433 pulau kecil yang rentan terhadap berbagai ancaman perubahan lingkungan.

Berdasarkan catatan Jatam, saat ini terdapat sekitar 10.963 izin tambang, atau setara dengan 44% luas daratan di Indonesia. Jatam juga menyebut, 15 juta hektar kawasan karst Indonesia ditambang 232 perusahaan.

Dampaknya, aktvitas pertambangan memakan banyak korban. 27 anak tewas di lubang-lubang tambang, yang berada di 17 konsesi perusahan asing dan nasional.

Sejak tahun 2011, tanggal 29 Mei diperingati sebagai Hari Anti Tambang (HATAM) Nasional. Peringatan ini merupakan mandat Pertemuan Nasional Jaringan Advokasi Tambang (Jatam), pada tahun 2010.

Tanggal 29 Mei dipilih karena pada tahun 2006 tepat pada tanggal itu, Lumpur Lapindo, Sidoarjo, menyembur untuk pertama kali.

Peringatan Hari Anti Tambang, kemudian, dijadikan momentum untuk menyerukan berbagai ketidakadilan, serta melawan segala bentuk pengerusakan lingkungan. Sebab, aktifitas pertambangan dinilai lebih banyak mendatangankan kerugian daripada kesejahteraan bagi masyarakat.

Tahun ini, 22 daerah di Indonesia turut meramaikan Hatam. Berbagai aksi solidaritas melawan tambang diselenggarakan. Misalnya seminar dan workshop oleh beberapa simpul Jatam, Mapala, Komunitas Pecinta Alam, serta berbagai kelompok masyarakat.

Di Sulawesi Utara, Hatam diperingati melalui penanaman mangrove dan transplantasi karang di Pulau Bangka, pada Sabtu (27/05/2017). Puncaknya, di Manado Jatam bekerja sama dengan Yayasan Suara Nurani Minaesa menyelenggarakan Seminar Publik, Senin (29/05/2017).

Seminar itu, diberi tema “Menuju Perbaikan Kebijakan Penyelamatan Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil dari Daya Rusak Tambang”.

“Paradigma pembangunan yang berkelanjutan adalah tanpa pertambangan” ujar Arifsyah dari Greenpeace Indonesia.

“Terutama provinsi Sulawesi Utara yang terletak di wilayah Segitiga Karang melalui Coral Triangle Initiative. Maka, tidak mungkin penerapannya berdampingan dengan tambang, terutama di pulau-pulau kecil,” pungkas Ariefsyah.

Mengapa Merayakan Hari Laut Sedunia?

Reporter: Mustika Muchtar

Di Indonesia, masyarakat memperingati Hari Laut Sedunia dengan menyampaikan pesan-pesan tentang pentingnya menjaga kelestarian laut dan organismenya.

Pesan-pesan itu disampaikan melalui berbagai saluran media sosial. Tagar #HariLautSedunia, misalnya, pada 8 Juni 2017 menjadi trending topic.

Sementara di Manado, Sulawesi Utara, pemerintah provinsi menyelenggarakan aksi bersih-bersih pantai di Pulau Bunaken bersama berbagai LSM dan masyarakat pulau tersebut.

Bunaken, sebagai ikon pariwisisata Sulut, dalam beberapa tahun terakhir memang mengalami masalah sampah yang tak kunjung terselesaikan.

Aksi tersebut diharapkan dapat mempengaruhi masyarakat agar mengubah kebiasaan membuang sampah di aliran sungai agar. Sekaligus, melestarikan satu-satunya Taman Laut yang dimiliki Sulawesi Utara.

Mengapa Kita Merayakan Hari Laut Sedunia?

Sebuah organisasi internasional bernama The Ocean Project, berupaya menginisiasi Hari Laut Sedunia sejak tahun 2002. Pada perhelatan Earth Summit yang diselenggarakan di Rio de Janeiro, tahun 1992, Pemerintah Canada mengajukan konsep Hari Laut Sedunia dalam forum tersebut. Namun, hingga saat itu, Hari Laut Sedunia  masih menjadi wacana.

Akhirnya, bersama World Ocean Network, pada tahun 2004 sampai 2008, para sukarelawan membuat dan membagikan petisi online yang berisi desakan kepada PBB agar menetapkan Hari Laut Sedunia pada setiap tanggal 8 Juni.

Usaha mereka berbuah manis. Ratusan organisasi dan masyarakat dari berbagai belahan dunia turut berpartisipasi menandatangani petisi tersebut. Hasilnya, pada tahun 2008, Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), menetapkan Hari Laut Sedunia pada setiap tanggal 8 Juni.

Sejak saat itu, Hari Laut Sedunia dirayakan dengan berbagai macam cara di berbagai negara. Umumnya, masyarakat merayakannya dengan menggelar berbagai kampanye mengenai isu-isu kerusakan lingkungan laut, aksi bersih-bersih pantai, pemutaran film, pentas seni, dan berbagai aksi positif lainnya dalam rangka melindungi kehidupan di laut.

Apa Tujuan Hari Laut Sedunia 

Laut yang mencakup 71% wilayah permukaan bumi selayaknya dimaknai secara khusus oleh kita, manusia – aktor utama yang paling bertanggung jawab atas berbagai kasus kerusakan lingkungan laut yang mengancam kehidupan jutaan biota tinggal di dalammya.

Kesehatan laut menjadi sangat penting bagi kehidupan makhluk hidup di belahan bumi manapun. Kesehatan laut adalah kesehatan manusia. Ada banyak peranan laut yang begitu erat dalam rangka memastikan kehidupan manusia berlangsung dengan baik.

Salah satu peran  laut yang paling penting adalah memenuhi kebutuhan pangan, protein, dan mineral 7  miliar manusia di bumi. Secara ideal, penyediaan konsumsi pangan laut merujuk pada berbagai ikan konsumsi yang bernilai ekonomis, rumput laut, garam yodium, dan berbagai macam sumberdaya laut lainnya yang berpotensi untuk dikembangkan menjadi alternatif pangan.

Adapun obat-obatan yang merupakan hasil ekstraksi dari organisme laut, saat ini tengah dikembangkan dalam bidang biofarmasitika laut oleh para peneliti bidang kelautan dan kesehatan.

Laporan Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) memperkirakan 30% total karbondioksida di atmosfer selama masa pra-industri diserap oleh lautan melalui siklus karbon global.

Kemampuan laut dalam menyerap karbondioksida diperkirakan bahkan lebih baik dari hutan tropis. Berbagai variasi iklim dan cuaca di bumi juga tidak lepas dari peranan laut sebagai komponen penting.

Jutaan masyarakat di banyak negara juga menggantungkan perekonomian dan mata pencaharian mereka pada aktivitas penangkapan di laut. Terutama di negara-negara berkembang, mata pencaharian di bidang perikanan dan pariwisata bahari sangat bergantung pada produktivitas terumbu karang yang sehat.

Sebab itu, Hari Laut Sedunia menjadi kesempatan bagi kita semua untuk sedikit membalas limpahan kebaikan alam yang kita nikmati dari laut.

Melalui berbagai kegiatan perayaan Hari Laut Sedunia, ada beberapa poin-poin penting yang diharapkan dapat disampaikan kepada setiap individu, baik yang mendiami daratan, maupun wilayah-wilayan pesisir.

Pertama, memberikan pemahaman kepada masyarakat tentang makna laut, dan apa saja yang disediakannya bagi kehidupan makhluk hidup di masa sekarang dan masa yang akan datang.

Kedua, Hari Laut Sedunia diharapkan menjadi momentum bagi siapa saja untuk mengekplorasi keindahan dan keanekaragaman hayati laut dan habitat di dalamnya.

Kemudian kita dapat mempertimbangkan tindakan sehari-hari yang mempengaruhi kehidupan organisme-organisme di dalammya, juga bagaimana memahami hubungan manusia dan lautan.

Ketiga, berbagai aksi kampanye dan penyadartahuan dilakukan untuk mendorong orang-orang mengubah kebiasaan-kebiasaan kecilnnya yang berkontribusi dalam merusak kehidupan di laut.

Semisal, di manapun kita membuang sampah sembarangan, 80% di antaranya dipastikan akan bermuara ke laut, serta meracuni setiap organisme laut yang tanpa sengaja mengira sampah sebagai makanannya.

Kita dapat mengajak anggota keluarga, teman, kerabat, atau siapapun untuk ikut beraksi mengurangi jumlah sampah yang masuk ke lautan dengan cara-cara menyenangkan.

Ocean Conference

Bertepatan dengan Hari Laut Sedunia, baru-baru ini juga berlangsung Ocean Conference 2017 yang diselenggarakan oleh PBB di New York Amerika, pada 5 sampai 9 Juni 2017 kemarin.

Konferensi tersebut bertujuan mencapai target Sustainable Development Goal nomer 14, yaitu pada tahun 2030 negara-negara anggota bisa secara efektif meregulasi panen ikan, mencegah tangkapan berlebih (over fishing), dan memberantas IUUF (Illegal, Unreported, Unregulated Fishing), praktik penangkapan ikan yang destruktif.

Target lain yang ingin dicapai adalah manajemen perikanan berdasarkan sains, untuk mengembalikan stok ikan secepat mungkin ke tingkat yang bisa menghasilkan panen maksimum berkelanjutan.

Invasi Ubur-Ubur dan Kiamat Kelautan Kita

Reporter: Eat

 

 

 

 

 

 

Pada 2006 biota laut yang kita kenal akrab dengan nama ubur-ubur menciptakan gangguan dan kerugian yang signifikan pada bagian pipa pendinginan reaktor nuklir di Amerika Serikat selama dua minggu. Pada 2007 ubur-ubur jenis mauve-stinger, membunuh 100,000 salmon di Irlandia. Satu dekade lebih sebelumnya, di kawasan Laut Hitam, pada 1982  sejumlah besar ubur-ubur membuat kerugian pada industri perikanan sebanyak 350 juta dollar. Sekarang ini, tak terkecuali Indonesia, populasi ubur-ubur semakin meningkat dan menyebabkan kerugian pada industri perikanan dalam tingkat yang cukup signifikan. Dan ini bukanlah sesuatu yang bersifat musiman, tapi ledakan populasi dari biota laut yang tergolong merugikan bagi keberlangsungan industri perikanan, pariwisata, dan juga dalam hal kesehatan ekologi laut kita. Singkat kata, masalah ini bukan lagi masalah yang dapat dilihat sebelah mata saja, tapi merupakan suatu permasalahan yang patut  kita pahami dan diselesaikan dengan sebagaimana mestinya. Karena suka atau tidak, masa depan kita, manusia, sangatlah bergantung pada laut.

Herman Melville dalam bukunya Moby Dick, menulis: “ Di sana engkau berdiri, tersesat dalam keberlanjutan  lautan yang tanpa batas.” Begitulah laut, seolah tanpa batas, abadi, tak dapat dihancurkan, seolah-olah diciptakan sebagai penyedia komoditas konsumsi manusia dan juga wadah pembuangan. Parasit macam ubur-ubur ini di sela kehancuran ekologi laut yang semakin menjadi, akhirnya meledak secara populasi dan mulai mengganggu. Alasan mengapa ubur-ubur ini semakin menganggu dan populasinya meledak, sebenarnya sudah banyak dibahas oleh media lokal maupun internasional dan dalam sejarah manusia, tak pernah ada namanya meledaknya populasi ubur-ubur yang memenuhi lautan. Lalu, pertanyaannya, kenapa baru sekarang?

Dan di sinilah kenyataan yang harus dipahami manusia, bahwa lautan, seperti halnya juga sumber daya alam yang ada di muka bumi, memiliki batasan yang jelas.

Sebelum menelusuri penyebab dari “kiamat laut” yang disebabkan oleh mahluk aneh tak berotak yang tampak indah bila dilihat di acara-acara dokumenter di National Geographic, kita perlu memahami ubur-ubur khususnya dalam sudut pandang evolusioner, tentang mengapa ubur-ubur secara biologis bisa memenuhi lautan. Pertama, ubur-ubur tidak memiliki banyak predator laut yang bisa mengendalikan berkembangnya populasi mereka. Predator mereka adalah kura-kura laut, salmon, ikan makarel, albatross—hewan-hewan yang sudah sangat menciut populasinya. Kedua, ubur-ubur itu, bila mengenang peristiwa di Laut Hitam, merupakan mesin pemakan yang menimbulkan kerugian sebesar ratusan juta dollar pada industri perikanan. Ketiga, ubur-ubur merupakan kompetitor yang curang. Ubur-ubur juga berburu makanan yang sama dengan ikan-ikan kecil, namun lebih daripada itu, ubur-ubur juga memakan telur ikan-ikan kecil tersebut sehingga membuat populasi ikan kecil tersebut semakin menyusut. Keempat,  ubur-ubur sangat sulit untuk dibasmi, membelah mereka sama saja dengan memperbanyak populasinya.

Kiamat Ubur-ubur Ada Urusannya Dengan Gaya Hidup Kita

Banyak ahli yang sudah memaparkan penyebab ilmiah dari “kiamat laut” yang disebabkan ubur-ubur, dari over-fishing yang secara gamblang mengurangi predator laut yang alami bagi ubur-ubur, seperti tuna, penyu, dan hiu. Limbah-limbah yang berasal dari desa maupun kota, yang mengalir dari sungai sampai ke lautan dan menciptakan keberlimbahan ganggang yang menjadi makanan bagi ubur-ubur serta organisme laut lainnya. Pemanasan global semakin membuat ubur-ubur, yang luarbiasa adaptifnya, bereproduksi lebih banyak dan mendekati pantai.

Lantas, apa hubungannya dengan gaya hidup kita? Yang hidup di kota maupun di desa, apa hubungannya?  Semuanya saling berkaitan. Dari gaya hidup kita yang sangat tergantung energi dan terus menerus meningkat, populasi manusia yang membludak juga berarti tuntutan yang lebih atas semua produksi industri, pengelolaan limbah industri yang seenaknya saja dibuang ke sungai hingga kemudian menuju ke laut dan membuat zona-zona mati di lautan. Dan bila kita sama sekali acuh dengan perkembangan yang “tidak produktif” ini, untuk dilihat dari segi ekonomi yang berkelanjutan saja, ini merupakan kemustahilan atau bila kata-kata ini tepat: Kita  sedang menggiring kendaraan kita ke sebuah jurang dengan mata yang tertutup.

Pada 1990an terdapat 125 zona mati eutrophic di seluruh dunia; pada 2011 meningkat sampai di atas 530. Jeremy Jackson, seorang ilmuwan ternama di bidang biologi kelautan dan paleontologi, seseorang yang juga sering disebut sebagai Doctor Doom karena pandangannya yang gelap tentang masa depan dari ekologi laut dunia berucap “akan meningkat untuk membentuk petak-petak berkelanjutan sepanjangan ribuan kilometer dalam seabad. Penyebaran limbah beracun juga akan meningkat secara ukuran dan frekuensinya…dengan efek yang katastropik pada sektor perikanan dan pertanian.” Sang Doctor Doom ini juga, pada salah satu ceramahnya yang berjudul How We Wreck The Ocean (Bagaimana kita Menghancurkan Lautan), berucap “ Jadi pertanyaanya, bagaimana kita akan merespon semua ini? Dan kita bisa saja berbuat segala macam hal untuk memperbaikinya, namun pada analisis finalnya, apa yang perlu kita perbaiki pertama kali adalah memperbaiki diri kita sendiri. Ini bukanlah tentang ikan; ini bukanlah tentang polusi; ini bukanlah tentang perubahan iklim; ini adalah tentang kita dan kerakusan kita dan keinginan kita untuk pertumbuhan dan juga tentang ketidakmampuan kita dalam membayangkan sebuah dunia lain yang tidak seegois seperti dunia yang kita hidupi sekarang ini.”

Celakanya, generasi muda kita yang disebut-sebut generasi milenial ini, dengan berbagai akses informasi yang semakin banyak dan luas, yang bisa mengakses informasi tentang keadaan di Kutub Utara hanya dengan satu kali klik, tidak juga membuat kita menjadi warga yang “well-informed”. Seperti halnya berita di media massa yang meliput tentang bagaimana pertumbuhan pesat ubur-ubur semakin memojokan nelayan di berbagai daerah dengan cepat, seperti halnya iklan yang lewat begitu saja. Dan terlebih lagi, secara institusional, Kementerian Kelautan harusnya dapat lebih proaktif dalam memberikan arti penting dari ekologi kelautan ke generasi muda, khususnya krisis ubur-ubur yang telah menjadi krisis seantero dunia ini. Pada 14 April 2016 lalu, Kementrian Kelautan dan sejumlah instansi melakukan pelepasliaran 31 ekor penyu hijau (Chelonia Mydas) di Denpasar, Bali. Upaya ini dilakukan untuk, meminjam kata-kata  Plt. Direktur Pendayagunaan Pulau-pulau Kecil, Ir. Rido M. Batubara, M.Si “Pelepasliaran Penyu hijau merupakan bagian dari pengelolaan jenis ikan dilindungi oleh Pemerintah Indonesia sesuai amanah UU Perikanan No. 31 Tahun 2004 jo UU NO. 45 Tahun 2009.” Yah, memang benar bahwa penyu hijau jenis ini merupakan salah satu predator alami bagi parasit macam ubur-ubur. Tapi apakah cukup? Sepertinya tidak. Butuh banyak sektor institusi maupun keterlibatan aktif masyarakat dalam hal ini, khususnya generasi muda yang akan menjadi penerus bangsa dan akan mewarisi alam laut setelahnya. Butuh kerjasama dari berbagai institusi yang bertanggung jawab dalam hal pembuangan limbah dan pengelolaannya yang lebih tidak destruktif pada alam, perlu gerakan besar-besaran dalam mengkonservasikan alam kelautan kita yang zona matinya juga semakin banyak. Perlu sosialisasi yang lebih pada setiap lini masyarakat untuk lebih memahami efek dari konsumsi kita dan efeknya pada alam: terutama laut kita sendiri.

Lisa-Ann Gershwin, penulis buku Stung! On Jellyfish Blooms and the Future of the Ocean menguraikan sesuatu yang menganggu di buku tersebut:

“Ketika aku mulai menulis buku ini…Saya masih punya perasaan percaya diri bahwa semua ini masih dapat diselamatkan… Namun kemudian Saya berpikir bahwa Saya menyepelekan mengenai bagaimana kita telah merusak lautan kita dan yang hidup di dalamnya dengan sangat parah. Saya berpikir bahwa kita telah mendorongnya terlalu jauh, melewati berbagai saat kritis yang misterius yang datang dan pergi tanpa kemeriahan. Tak ada lingkaran merah di kalender dan tanpa kita ketahui tahap dimana hal tersebut sudah tidak dapat lagi diperbaiki seperti sedia kala. Sekarang ini Saya sangat yakin bahwa hanya butuh waktu sebelum lautan sebagaimana yang kita pahami dan membutuhkannya untuk menjadi tempat yang memang benar-benar berbeda.  Tak ada lagi batu karang yang kaya akan kehidupan. Tak ada lagi paus atau penguin. Tak ada lobster ataupun kerang. Sushi tanpa ikan.”

Bukan main, gelap sekali pandangan sang penulis soal masa depan kelautan dunia, meski memang fakta-fakta yang ada menyokong klaim tersebut. Apakah sudah terlambat atau tidak, kemungkinan merupakan sesuatu yang senantiasa ada dalam hidup. Laut adalah bagian yang sangat penting bagi manusia apalagi untuk generasi selanjutnya dan sudah seharusnya generasi kita bisa lebih proaktif dalam merespon krisis-krisis semacam ini. Kita menjadi hidup dari air, dalam amniotic fluid.  Darah dan tangis itu asin seperi lautan, siklus menstrual seperti halnya gelombang laut maternal, ibu kita semua. Albert Camus mengekspresikan cintanya pada lautan “Aku selalu merasa hidup di atas laut yang tinggi, dan merasa terancam, pada hati dari sebuah kebahagiaan yang mulia.” Bukan bermaksud untuk melankolik tentang lautan yang terancam dengan bumbu-bumbu puitik. Tapi jelas bahwa lautan adalah bagian dari kita dan kita juga bagian dari lautan, menjaga kelestariannya bukanlah tugas melainkan kewajiban. Yah, kecuali kalau kamu memang menghendaki lautan yang hanya dihidupi oleh ubur-ubur besar.  Dan pada tahap itu, bukan lagi ubur-ubur yang harus beradaptasi, melainkan umat manusia itu sendiri. 

Musik Kekinian: Peng-induksi Yang Mapan

Reporter: Andi Zulqifly Musdar

“without music, life would a mistake”

(Friedrich Nietzsche).

Tepat 189 tahun lalu (terhitung dari tahun ini), lahir seorang komponis besar yang bernama Ludwig Van Beethoven tepatnya 26 Maret 1827. Pria berkebangsaan Jerman ini merupakan salah satu dari sedikit komponis pada waktu itu yang memberi pengaruh besar terhadap perkembangan musik klasik. Karyanya yang berjudul Fur Elise mengingatkan kita terhadap sebuah kegalauan dari seseorang yang kemudian dikemas dalam sebuah alunan musik yang harmoni.

 

Apa yang diciptakan oleh Beethoven pada waktu itu tak mungkin lagi bisa kita dapatkan di masa sekarang. Kekuatan serangan dari musik-musik populer tak mampu dibendung oleh roh sakral musik klasik, bahkan oleh Beethoven sekalipun.

Lihat saja play list abg-abg sekarang, penuh dengan dentuman-dentuman tidak jelas yang diperkokoh oleh teknologi mixing yang mutakhir. Dengan lirik asal-asalan, dengan mudah mereka menghindari makna yang edukatif untuk pendengarnya. Karena kebutuhan pasar dan entertain segalanya dibuat instant.

Walaupun kita masih dapat menjumpai beberapa aliran musik yang menjunjung tinggi nilai edukasi, dan kesadaran sosial. Bahkan, jenis musik yang mereka ciptakan merupakan bentuk kritik kepada pemerintah dan segala jenis ketimpangan di negara ini. Namun, mereka biasanya berada di jalur indie.

Kecenderungannya, bahwa musik populer merupakan yang paling berhasil memikat hati para muda-mudi. Baik itu musik hasil dalam negeri maupun luar negeri. Dan ini diperparah dengan ketidakpedulian kita pada arti dan makna dari lirik-lirik lagu yang sering kita dengarkan. Kita selalu hanyut dalam dentuman-dentuman tadi. 

Menilik ke dalam, mari lihat potensi musik sebagai peng-induksi yang mapan. Sebelumnya, induksi yang dimaksud di sini adalah semacam sugesti yang berulang-ulang, seperti yang sering kita lakukan saat mendengarkan musik. Akan ada musik yang selalu ingin kita dengar dan tak pernah bosan untuk mengulangnya. Tapi untuk membuktikan penginduksian itu, dibutuhkan penelitian dan data ilmiah yang membosankan.

Proses induksi itu kira-kira yang akan berhubungan dengan apa yang dikatakan Sigmund Freud; kehidupan jiwa memiliki tiga tingkatan kesadaran yakni sadar (conscious), prasadar (preconscious) dan tak sadar (unconscious). Yang pada level tertentu memasuki alam bawah sadar kita.

Lagi, menurut Sigmund Freud, alam bawah sadar yang mengendalikan sebagian besar perilaku manusia.

Bayangkan, jika ada jenis musik yang telah menginduksi anda. Dan pada saat itu anda sedang semangat-semangatnya kerja agar dapat bonus. Ketika mendengar musik tersebut anda langsung badmood. Itu pasti akan merugikan anda.

(dari tadi kok kayak serius banget yaa..slow aja kayak di pantai kali yaa..)

Ada sedikit saran bagi yang mau berbondong-bondong mendengar musik dan punya kemauan yang kuat untuk mengerti apa yang ingin disampaikan oleh penciptanya. Juga untuk mengurangi efek induksi tadi.

Pertama, sebelum headset merapat di lubang telinga, dan menyalurkan gelombangnya. Maka, mari sama-sama kita mengirimkan do’a untuk pencipta atau pengarang dari musik yang akan kita dengar. Mengapa demikian? Karena yang sebenarnya yang akan kita dengar adalah karya orang yang rela berjam-jam di dalam sebuah studio untuk rekaman satu buah lagu, dan kita mendapatkan karyanya dengan gampang di stafaband atau di mp3skull dan lain-lain. Lalu kalian tak mendo’akan mereka, sungguh keterlaluan.

Kedua, ini untuk yang nilai bahasa inggrisnya anjlok terus sok-sok andengar lagu barat, disarankan mempersiapkan kamus, google translate, atau ada juga jasa terjemahan lirik yang tersebar di macam-macam blog/website yang tersedia. Supaya mengerti artinya. Dan ketemu makna yang dicari dari sebuah lagu, dan belajar sedikit pronunciation-nya biar nggak kumur-kumur jadinya. Karena sungguh menyakitkan jika anda ditertawakan.

Ketiga, saat mendengarkan musik sendiri, harap maklum anda seketika terbawa suasana dan mundur beberapa tahun ke labirin masa lalu anda yang membuat anda gagal move-on. Itu pertanda baik, kalau anda sedang betul-betul terinduksi. Nikmati saja!

Keempat, agar musiknya yang kamu dengar lebih gurih, coba kamu plesetkan liriknya. Supaya induksi tadi, berhenti di stadium awal. Misalnya:“hei kau yang marxis singgahlah dan ikut bernyanyi”.

Kira-kira seperti itu. Karena musik adalah hak setiap orang. Bagi pencipta, pendengar, bahkan pembajak. Maka tulisan ini tidak bermaksud mengintervensi selera musik anda. So, selamat mendengarkan musik anda.

Sumber gambar: http://www.anneahira.com/musik-humor.htm

Open Day : Mengenal FPIK Lebih Dekat

Open Day Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Unsrat telah dimulai sejak tahun 2013, adalah sebuah kegiatan pengenalan program-program studi di FPIK Unsrat kepada  siswa-siswi SMA yang dalam hal ini dibidik sebagai para calon mahasiswa. Open Day merupakan inisiasi dari mahasiswa FPIK yang bertujuan melakukan promosi fakultas sekaligus mengembangkan bakat dan softskill mahasiswa FPIK sendiri.

Hingga saat ini Open Day FPIK terus rutin digelar. Hingga baru-baru ini pada 25-29 April 2017 Open Day kembali diselenggarakan oleh mahasiswa FPIK Unsrat di pertengahan musim pendaftaran kuliah. Sejumlah siswa-siswi SMA dari berbagai sekolah negeri maupun swasta di Sulawesi Utara diundang untuk berpartisipasi dalam berbagai perlombaan adu bakat dan kreativitas yang diselenggarakan oleh mahasiswa FPIK Unsrat sebagai panitia.

Kegiatan Open Day meliputi sejumlah perlombaan bagi siswa-siswi SMA seperti kompetisi basket, pidato bahasa inggris, dan dance cover competition. Ada pula pemilihan Putra-Putri FPIK 2017 yang merupakan ajang pemilihan duta kampus yang khusus diselenggarakan bagi mahasiswa FPIK. Sejak dimulai pada Selasa (25/04), para peserta lomba telah melalui serangkaian proses penilaian yang diadakan di aula dan area sekitar kampus FPIK Unsrat. Jumlah sekolah yang berpartisipasi pada Open Day kali ini adalah delapan SMA/SMK dari kota Manado dan sekitarnya, di antaranya adalah SMA Lokon St.Nicolaus Tomohon, SMA Negri 9 Manado, SMA N 1 Tomohon, SMA Aquino Amurang, SMA Kristen Tomohon, SMK Kristen Tomohon, SMA N 1 Manado, dan SMA Don Bosco Manado.

Panitia Open Day tahun ini mengangkat tema “Marine and Fisheries as Buddy For Our Future”, atau perikanan dan kelautan yang diproyeksikan menjadi sahabat bagi masa depan masyarakat Indonesia. Melihat kemajuan dari sektor perikanan dan kelautan di Indonesia saat ini, serta prospek lapangan pekerjaan di bidang tersebut yang semakin terbuka, maka sektor perikanan dan kelautan diharapkan menjadi tumpuan ekonomi bagi masyarakat Indonesia yang lebih baik. Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS), sektor perikanan di Indonesia berkembang 8.37% pada kuartal ketiga tahun 2015, jauh lebih tinggi dari pertumbuhan ekonomi negara ini secara keseluruhan 4,73% pada kuartal yang sama. Ekspor produk perikanan Indonesia tercatat sebesar 244,6 juta dollar Amerika Serikat (AS) pada bulan Oktober 2015, sedangkan impor hanya mencapai 12,5 juta dollar AS. Meningkatnya kebutuhan manusia akan produk hasil perikanan, juga perlu dibarengi dengan peningkatan usaha pelestarian ekosistem pesisir dan laut agar bisa terus mendukung keberlanjutan sumberdaya yang terus-menerus dimanfaatkan manusia

Melalui berbagai kegiatan yang diselenggarakan selama Open Day, panitia menghadirkan sejumlah informasi mengenai program-program studi di FPIK Unsrat yang diharapkan dapat menjadi salah satu opsi para calon mahasiswa dalam menentukan pilihan kuliah mereka. Ada enam program studi yang ditawarkan FPIK Unsrat, di antaranya adalah Program Studi Manajemen Sumberdaya Perairan, Budidaya Perairan, Ilmu Kelautan, Agrobisnis Perikanan, Pengolahan Hasil Perikanan, dan Pemanfatan Sumberdaya Perikanan. Keenam program studi tersebut memiliki fokusnya masing-masing dalam menggerakan sektor perikanan.

Prof. Winda Mingkid selaku Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan dan Alumni menuturkan bahwa penting bagi FPIK sendiri untuk melakukan promosi, agar para calon mahasiswa mendapat gambaran seperti apa FPIK dan apa-apa yang akan dipelajari di sini 

Sebagaimana arah pembangunan Indonesia yang oleh presiden Jokowi diarahkan pada sektor perikanan dan kelautan, maka kita masih membutuhkan lebih banyak sumberdaya manusia untuk merealisasikan konsep ekonomi biru tersebut” ujar Prof. Winda Mingkid. Open Day sudah dilaksanakan sejak tahun 2013, efeknya dapat dilihat dari peningkatan jumlah mahasiswa yang cukup signifikan. Yaitu pada 2015 ada kurang lebih 260 pendaftar, dari pada tahun 2014 yang hanya 230-an pendaftar. Dan baru-baru ini pada tahun 2016 telah menembus angka lebih dari 300-an mahasiswa. (samudra)

Komunitas Jalan Roda dalam Sebuah Buku

Reporter: Mustika Muchtar

Bedah Buku dan Refleksi Akhir Tahun : Maraknya Rumah Kopi & Ruang Publik di Toko Buku Gramedia Sudirman, Manado (Foto : Mustika Muchtar)

 

Manado(31/12/2016)-Muhammad Iqbal, pada 2016, merampungkan bukunya yang berjudul “Komunitas Jalan Roda”. Alumnus IAIN Manado ini, sudah sejak kecil mengenal jalan roda. Namun, niat menulis komunitas jalan roda muncul di masa-masa semester awal perkuliahannya. Ketika Iqbal mulai terlibat dalam sejumlah diskusi dengan para aktivis Jalan Roda baru dimulai.

Dalam buku Komunitas Jalan Roda, Iqbal merujuk pada teori Jurgen Habermas tentang Ruang Publik; Sebuah Kajian Tentang Kategori Masyarakat Borjuis. Ruang publik dipandang sebagai jembatan antara negara dan masyarakat sipil. Ruang ini adalah ruang universal, tempat orang-orang berkumpul untuk mendiskusikan apa saja yang perlu didiskusikan.

Dia menilai, teori ruang publik Jurgen Habermas dapat kita temukan pada Jalan Roda. Di sana, masyarakat berkomunikasi mengenai kegelisahan-kegelisahan sosial dan politis.  Ruang publik bersifat bebas, terbuka, transparan, dan tidak ada intervensi pemerintah atau otonom di dalamnya.  Oleh karena itu, ruang publik itu harus mudah diakses semua orang, sebagaimana Jalan Roda (Jarod) yang terbuka untuk umum tanpa ada pembatasan.

Memang, pengunjung Jarod berasal dari berbagai latarbelakang. Sebut saja pedagang, makelar, penjual kopi, penyapu jalan, akademisi, birokrat, ekonom, budayawan, pemuka agama, hingga wartawan. Siapapun yang bertandang ke Jarod bebas menentukan posisi, sesuai isu atau informasi yang ingin diketahui. Maka, ia dipandang sebagai tempat mengelola isu publik.

Dari situ, Iqbal memetakan Jalan Roda dalam tiga komisi atau tiga fakultas. Pertama, fakultas Agama, terletak di bagian paling belakang dekat Shopping Center. Di sini berkumpul para pemuka agama atau orang-orang yang biasa mendiskusikan isu-isu bersifat keagaaman.

Kedua, fakultas Ilmu Sosial dan Politik, terletak di bagian tengah. Di sini adalah tempat berkumpulnya para akademisi, cendekiawan, budayawan, sampai mahasiswa mendiskusikan isu-isu sosial maupun politik, dari isu yang lokal sampai nasional.

Ketiga, fakultas Ekonomi, terletak di bagian paling depan Jalan Roda. Fakultas ini adalah tempat para ekonom, pedagang, dan makelar membahas seputar harga rumah, tanah, sampai batu akik.

Iqbal juga melihat adanya semacam pengakuan publik yang berkembang pada komunitas Jalan Roda. Di sana, ada orang-orang yang telah diakui perannya untuk menanggapi isu-isu tertentu. Misalnya, ketika berlangsung perdebatan beberapa kasus, maka ada tokoh-tokoh yang seolah telah diberikan otoritas untuk menanggapi topik tersebut. Orang-orang itu telah dipercaya komunitasnya untuk memberikan komentar.

  1. Iqbal juga memandang Jalan Roda sebagai sebuah ladang pengetahuan, terutama pengetahuan sosial dan politik, karena siapapun bebas masuk dan berdiskusi. Maka Ia menyebutnya sebagai suatu cara “berpengetahuan ala komunitas Jalan Roda”. Pengetahuan itu kemudian tersebar karena peranan sejumlah wartawan yang memang sering menggali informasi pada komunitas-komunitas di sana. Penyebaran informasi itu, kata Iqbal, paling sering terjadi pada topik-topik pemilihan kepala daerah. Akhirnya, diskusi di Jarod secara tidak langsung berkontributsi membentuk opini publik.

Buku Komunitas Jalan Roda adalah buku kedua yang ditulis M. Iqbal. Ia pun berkeinginan untuk menulis Jalan Roda dari perspektif lain sebagai pengembangan dari buku pertama. Keinginan itu didorong oleh masukan-masukan terkait teori dan pendekatan yang dapat digunakan untuk membedah struktur Komunitas Jalan Roda. Sebab, dalam acara bedah bukunya, hadir juga ekonom, ahli arsitektur, dan pedagang kopi yang mengemukakan pandangan pendangan mereka tentang masalah-masalah dan perubahan yang terjadi di jalan roda.

Sementara itu, Taufiq Pasiak memperkirakan ada sekitar 17 rumah kopi baru di Manado, mulai dari rumah-rumah kopi tradisional yang sederhana hingga rumah-rumah kopi modern yang biasa dikunjungi masyarakat menengah ke atas.

Kepala Studi Otak dan Perilaku Sosial LPPM Universitas Sam Ratulangi ini menilai, menjamurnya rumah kopi di kota Manado didorong beberapa faktor. Pertama, senyawa pada kopi dapat mengusir rasa kantuk, membuat orang melek dan betah ngorbol lama-lama.

Kemudian, ngopi-ngopi dan nongkrong-nongkrong dipandang sudah jadi semacam gaya hidup. Para pengusaha melihat ini sebagai peluang yang menjanjikan. Mereka kemudian berlomba-lomba menciptakan suasana rumah kopi atau café  yang nyaman, desain interior yang unik untuk selfie, serta dilengkapi fasilitas wifi gratis, dan harga yang harga kopi yang terjangkau.

Uniknya, Taufiq Pasiak melihat, para peracik kopi di rumah-rumah kopi yang tersebar di Manado merupakan orang-orang yang sama. Mereka merupakan para ‘alumnus’ Jalan Roda. Sehingga, tak heran jika kita menemukan kopi-kopi dengan cita rasa yang sama dengan kopi khas Jalan Roda.

 

Menurut catatan sejarah, Jalan Roda sudah ada sejak zaman penjajahan Belanda. Disebut Jalan Roda karena dahulu merupakan tempat masyarakat memarkir roda atau semacam gerobak yang ditarik kuda atau sapi. Mereka lalu akan mampir memesan kopi sembari bertukar cerita.