Komunitas Jalan Roda dalam Sebuah Buku

Reporter: Mustika Muchtar

Bedah Buku dan Refleksi Akhir Tahun : Maraknya Rumah Kopi & Ruang Publik di Toko Buku Gramedia Sudirman, Manado (Foto : Mustika Muchtar)

 

Manado(31/12/2016)-Muhammad Iqbal, pada 2016, merampungkan bukunya yang berjudul “Komunitas Jalan Roda”. Alumnus IAIN Manado ini, sudah sejak kecil mengenal jalan roda. Namun, niat menulis komunitas jalan roda muncul di masa-masa semester awal perkuliahannya. Ketika Iqbal mulai terlibat dalam sejumlah diskusi dengan para aktivis Jalan Roda baru dimulai.

Dalam buku Komunitas Jalan Roda, Iqbal merujuk pada teori Jurgen Habermas tentang Ruang Publik; Sebuah Kajian Tentang Kategori Masyarakat Borjuis. Ruang publik dipandang sebagai jembatan antara negara dan masyarakat sipil. Ruang ini adalah ruang universal, tempat orang-orang berkumpul untuk mendiskusikan apa saja yang perlu didiskusikan.

Dia menilai, teori ruang publik Jurgen Habermas dapat kita temukan pada Jalan Roda. Di sana, masyarakat berkomunikasi mengenai kegelisahan-kegelisahan sosial dan politis.  Ruang publik bersifat bebas, terbuka, transparan, dan tidak ada intervensi pemerintah atau otonom di dalamnya.  Oleh karena itu, ruang publik itu harus mudah diakses semua orang, sebagaimana Jalan Roda (Jarod) yang terbuka untuk umum tanpa ada pembatasan.

Memang, pengunjung Jarod berasal dari berbagai latarbelakang. Sebut saja pedagang, makelar, penjual kopi, penyapu jalan, akademisi, birokrat, ekonom, budayawan, pemuka agama, hingga wartawan. Siapapun yang bertandang ke Jarod bebas menentukan posisi, sesuai isu atau informasi yang ingin diketahui. Maka, ia dipandang sebagai tempat mengelola isu publik.

Dari situ, Iqbal memetakan Jalan Roda dalam tiga komisi atau tiga fakultas. Pertama, fakultas Agama, terletak di bagian paling belakang dekat Shopping Center. Di sini berkumpul para pemuka agama atau orang-orang yang biasa mendiskusikan isu-isu bersifat keagaaman.

Kedua, fakultas Ilmu Sosial dan Politik, terletak di bagian tengah. Di sini adalah tempat berkumpulnya para akademisi, cendekiawan, budayawan, sampai mahasiswa mendiskusikan isu-isu sosial maupun politik, dari isu yang lokal sampai nasional.

Ketiga, fakultas Ekonomi, terletak di bagian paling depan Jalan Roda. Fakultas ini adalah tempat para ekonom, pedagang, dan makelar membahas seputar harga rumah, tanah, sampai batu akik.

Iqbal juga melihat adanya semacam pengakuan publik yang berkembang pada komunitas Jalan Roda. Di sana, ada orang-orang yang telah diakui perannya untuk menanggapi isu-isu tertentu. Misalnya, ketika berlangsung perdebatan beberapa kasus, maka ada tokoh-tokoh yang seolah telah diberikan otoritas untuk menanggapi topik tersebut. Orang-orang itu telah dipercaya komunitasnya untuk memberikan komentar.

  1. Iqbal juga memandang Jalan Roda sebagai sebuah ladang pengetahuan, terutama pengetahuan sosial dan politik, karena siapapun bebas masuk dan berdiskusi. Maka Ia menyebutnya sebagai suatu cara “berpengetahuan ala komunitas Jalan Roda”. Pengetahuan itu kemudian tersebar karena peranan sejumlah wartawan yang memang sering menggali informasi pada komunitas-komunitas di sana. Penyebaran informasi itu, kata Iqbal, paling sering terjadi pada topik-topik pemilihan kepala daerah. Akhirnya, diskusi di Jarod secara tidak langsung berkontributsi membentuk opini publik.

Buku Komunitas Jalan Roda adalah buku kedua yang ditulis M. Iqbal. Ia pun berkeinginan untuk menulis Jalan Roda dari perspektif lain sebagai pengembangan dari buku pertama. Keinginan itu didorong oleh masukan-masukan terkait teori dan pendekatan yang dapat digunakan untuk membedah struktur Komunitas Jalan Roda. Sebab, dalam acara bedah bukunya, hadir juga ekonom, ahli arsitektur, dan pedagang kopi yang mengemukakan pandangan pendangan mereka tentang masalah-masalah dan perubahan yang terjadi di jalan roda.

Sementara itu, Taufiq Pasiak memperkirakan ada sekitar 17 rumah kopi baru di Manado, mulai dari rumah-rumah kopi tradisional yang sederhana hingga rumah-rumah kopi modern yang biasa dikunjungi masyarakat menengah ke atas.

Kepala Studi Otak dan Perilaku Sosial LPPM Universitas Sam Ratulangi ini menilai, menjamurnya rumah kopi di kota Manado didorong beberapa faktor. Pertama, senyawa pada kopi dapat mengusir rasa kantuk, membuat orang melek dan betah ngorbol lama-lama.

Kemudian, ngopi-ngopi dan nongkrong-nongkrong dipandang sudah jadi semacam gaya hidup. Para pengusaha melihat ini sebagai peluang yang menjanjikan. Mereka kemudian berlomba-lomba menciptakan suasana rumah kopi atau café  yang nyaman, desain interior yang unik untuk selfie, serta dilengkapi fasilitas wifi gratis, dan harga yang harga kopi yang terjangkau.

Uniknya, Taufiq Pasiak melihat, para peracik kopi di rumah-rumah kopi yang tersebar di Manado merupakan orang-orang yang sama. Mereka merupakan para ‘alumnus’ Jalan Roda. Sehingga, tak heran jika kita menemukan kopi-kopi dengan cita rasa yang sama dengan kopi khas Jalan Roda.

 

Menurut catatan sejarah, Jalan Roda sudah ada sejak zaman penjajahan Belanda. Disebut Jalan Roda karena dahulu merupakan tempat masyarakat memarkir roda atau semacam gerobak yang ditarik kuda atau sapi. Mereka lalu akan mampir memesan kopi sembari bertukar cerita. 

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *