Invasi Ubur-Ubur dan Kiamat Kelautan Kita

Reporter: Eat

 

 

 

 

 

 

Pada 2006 biota laut yang kita kenal akrab dengan nama ubur-ubur menciptakan gangguan dan kerugian yang signifikan pada bagian pipa pendinginan reaktor nuklir di Amerika Serikat selama dua minggu. Pada 2007 ubur-ubur jenis mauve-stinger, membunuh 100,000 salmon di Irlandia. Satu dekade lebih sebelumnya, di kawasan Laut Hitam, pada 1982  sejumlah besar ubur-ubur membuat kerugian pada industri perikanan sebanyak 350 juta dollar. Sekarang ini, tak terkecuali Indonesia, populasi ubur-ubur semakin meningkat dan menyebabkan kerugian pada industri perikanan dalam tingkat yang cukup signifikan. Dan ini bukanlah sesuatu yang bersifat musiman, tapi ledakan populasi dari biota laut yang tergolong merugikan bagi keberlangsungan industri perikanan, pariwisata, dan juga dalam hal kesehatan ekologi laut kita. Singkat kata, masalah ini bukan lagi masalah yang dapat dilihat sebelah mata saja, tapi merupakan suatu permasalahan yang patut  kita pahami dan diselesaikan dengan sebagaimana mestinya. Karena suka atau tidak, masa depan kita, manusia, sangatlah bergantung pada laut.

Herman Melville dalam bukunya Moby Dick, menulis: “ Di sana engkau berdiri, tersesat dalam keberlanjutan  lautan yang tanpa batas.” Begitulah laut, seolah tanpa batas, abadi, tak dapat dihancurkan, seolah-olah diciptakan sebagai penyedia komoditas konsumsi manusia dan juga wadah pembuangan. Parasit macam ubur-ubur ini di sela kehancuran ekologi laut yang semakin menjadi, akhirnya meledak secara populasi dan mulai mengganggu. Alasan mengapa ubur-ubur ini semakin menganggu dan populasinya meledak, sebenarnya sudah banyak dibahas oleh media lokal maupun internasional dan dalam sejarah manusia, tak pernah ada namanya meledaknya populasi ubur-ubur yang memenuhi lautan. Lalu, pertanyaannya, kenapa baru sekarang?

Dan di sinilah kenyataan yang harus dipahami manusia, bahwa lautan, seperti halnya juga sumber daya alam yang ada di muka bumi, memiliki batasan yang jelas.

Sebelum menelusuri penyebab dari “kiamat laut” yang disebabkan oleh mahluk aneh tak berotak yang tampak indah bila dilihat di acara-acara dokumenter di National Geographic, kita perlu memahami ubur-ubur khususnya dalam sudut pandang evolusioner, tentang mengapa ubur-ubur secara biologis bisa memenuhi lautan. Pertama, ubur-ubur tidak memiliki banyak predator laut yang bisa mengendalikan berkembangnya populasi mereka. Predator mereka adalah kura-kura laut, salmon, ikan makarel, albatross—hewan-hewan yang sudah sangat menciut populasinya. Kedua, ubur-ubur itu, bila mengenang peristiwa di Laut Hitam, merupakan mesin pemakan yang menimbulkan kerugian sebesar ratusan juta dollar pada industri perikanan. Ketiga, ubur-ubur merupakan kompetitor yang curang. Ubur-ubur juga berburu makanan yang sama dengan ikan-ikan kecil, namun lebih daripada itu, ubur-ubur juga memakan telur ikan-ikan kecil tersebut sehingga membuat populasi ikan kecil tersebut semakin menyusut. Keempat,  ubur-ubur sangat sulit untuk dibasmi, membelah mereka sama saja dengan memperbanyak populasinya.

Kiamat Ubur-ubur Ada Urusannya Dengan Gaya Hidup Kita

Banyak ahli yang sudah memaparkan penyebab ilmiah dari “kiamat laut” yang disebabkan ubur-ubur, dari over-fishing yang secara gamblang mengurangi predator laut yang alami bagi ubur-ubur, seperti tuna, penyu, dan hiu. Limbah-limbah yang berasal dari desa maupun kota, yang mengalir dari sungai sampai ke lautan dan menciptakan keberlimbahan ganggang yang menjadi makanan bagi ubur-ubur serta organisme laut lainnya. Pemanasan global semakin membuat ubur-ubur, yang luarbiasa adaptifnya, bereproduksi lebih banyak dan mendekati pantai.

Lantas, apa hubungannya dengan gaya hidup kita? Yang hidup di kota maupun di desa, apa hubungannya?  Semuanya saling berkaitan. Dari gaya hidup kita yang sangat tergantung energi dan terus menerus meningkat, populasi manusia yang membludak juga berarti tuntutan yang lebih atas semua produksi industri, pengelolaan limbah industri yang seenaknya saja dibuang ke sungai hingga kemudian menuju ke laut dan membuat zona-zona mati di lautan. Dan bila kita sama sekali acuh dengan perkembangan yang “tidak produktif” ini, untuk dilihat dari segi ekonomi yang berkelanjutan saja, ini merupakan kemustahilan atau bila kata-kata ini tepat: Kita  sedang menggiring kendaraan kita ke sebuah jurang dengan mata yang tertutup.

Pada 1990an terdapat 125 zona mati eutrophic di seluruh dunia; pada 2011 meningkat sampai di atas 530. Jeremy Jackson, seorang ilmuwan ternama di bidang biologi kelautan dan paleontologi, seseorang yang juga sering disebut sebagai Doctor Doom karena pandangannya yang gelap tentang masa depan dari ekologi laut dunia berucap “akan meningkat untuk membentuk petak-petak berkelanjutan sepanjangan ribuan kilometer dalam seabad. Penyebaran limbah beracun juga akan meningkat secara ukuran dan frekuensinya…dengan efek yang katastropik pada sektor perikanan dan pertanian.” Sang Doctor Doom ini juga, pada salah satu ceramahnya yang berjudul How We Wreck The Ocean (Bagaimana kita Menghancurkan Lautan), berucap “ Jadi pertanyaanya, bagaimana kita akan merespon semua ini? Dan kita bisa saja berbuat segala macam hal untuk memperbaikinya, namun pada analisis finalnya, apa yang perlu kita perbaiki pertama kali adalah memperbaiki diri kita sendiri. Ini bukanlah tentang ikan; ini bukanlah tentang polusi; ini bukanlah tentang perubahan iklim; ini adalah tentang kita dan kerakusan kita dan keinginan kita untuk pertumbuhan dan juga tentang ketidakmampuan kita dalam membayangkan sebuah dunia lain yang tidak seegois seperti dunia yang kita hidupi sekarang ini.”

Celakanya, generasi muda kita yang disebut-sebut generasi milenial ini, dengan berbagai akses informasi yang semakin banyak dan luas, yang bisa mengakses informasi tentang keadaan di Kutub Utara hanya dengan satu kali klik, tidak juga membuat kita menjadi warga yang “well-informed”. Seperti halnya berita di media massa yang meliput tentang bagaimana pertumbuhan pesat ubur-ubur semakin memojokan nelayan di berbagai daerah dengan cepat, seperti halnya iklan yang lewat begitu saja. Dan terlebih lagi, secara institusional, Kementerian Kelautan harusnya dapat lebih proaktif dalam memberikan arti penting dari ekologi kelautan ke generasi muda, khususnya krisis ubur-ubur yang telah menjadi krisis seantero dunia ini. Pada 14 April 2016 lalu, Kementrian Kelautan dan sejumlah instansi melakukan pelepasliaran 31 ekor penyu hijau (Chelonia Mydas) di Denpasar, Bali. Upaya ini dilakukan untuk, meminjam kata-kata  Plt. Direktur Pendayagunaan Pulau-pulau Kecil, Ir. Rido M. Batubara, M.Si “Pelepasliaran Penyu hijau merupakan bagian dari pengelolaan jenis ikan dilindungi oleh Pemerintah Indonesia sesuai amanah UU Perikanan No. 31 Tahun 2004 jo UU NO. 45 Tahun 2009.” Yah, memang benar bahwa penyu hijau jenis ini merupakan salah satu predator alami bagi parasit macam ubur-ubur. Tapi apakah cukup? Sepertinya tidak. Butuh banyak sektor institusi maupun keterlibatan aktif masyarakat dalam hal ini, khususnya generasi muda yang akan menjadi penerus bangsa dan akan mewarisi alam laut setelahnya. Butuh kerjasama dari berbagai institusi yang bertanggung jawab dalam hal pembuangan limbah dan pengelolaannya yang lebih tidak destruktif pada alam, perlu gerakan besar-besaran dalam mengkonservasikan alam kelautan kita yang zona matinya juga semakin banyak. Perlu sosialisasi yang lebih pada setiap lini masyarakat untuk lebih memahami efek dari konsumsi kita dan efeknya pada alam: terutama laut kita sendiri.

Lisa-Ann Gershwin, penulis buku Stung! On Jellyfish Blooms and the Future of the Ocean menguraikan sesuatu yang menganggu di buku tersebut:

“Ketika aku mulai menulis buku ini…Saya masih punya perasaan percaya diri bahwa semua ini masih dapat diselamatkan… Namun kemudian Saya berpikir bahwa Saya menyepelekan mengenai bagaimana kita telah merusak lautan kita dan yang hidup di dalamnya dengan sangat parah. Saya berpikir bahwa kita telah mendorongnya terlalu jauh, melewati berbagai saat kritis yang misterius yang datang dan pergi tanpa kemeriahan. Tak ada lingkaran merah di kalender dan tanpa kita ketahui tahap dimana hal tersebut sudah tidak dapat lagi diperbaiki seperti sedia kala. Sekarang ini Saya sangat yakin bahwa hanya butuh waktu sebelum lautan sebagaimana yang kita pahami dan membutuhkannya untuk menjadi tempat yang memang benar-benar berbeda.  Tak ada lagi batu karang yang kaya akan kehidupan. Tak ada lagi paus atau penguin. Tak ada lobster ataupun kerang. Sushi tanpa ikan.”

Bukan main, gelap sekali pandangan sang penulis soal masa depan kelautan dunia, meski memang fakta-fakta yang ada menyokong klaim tersebut. Apakah sudah terlambat atau tidak, kemungkinan merupakan sesuatu yang senantiasa ada dalam hidup. Laut adalah bagian yang sangat penting bagi manusia apalagi untuk generasi selanjutnya dan sudah seharusnya generasi kita bisa lebih proaktif dalam merespon krisis-krisis semacam ini. Kita menjadi hidup dari air, dalam amniotic fluid.  Darah dan tangis itu asin seperi lautan, siklus menstrual seperti halnya gelombang laut maternal, ibu kita semua. Albert Camus mengekspresikan cintanya pada lautan “Aku selalu merasa hidup di atas laut yang tinggi, dan merasa terancam, pada hati dari sebuah kebahagiaan yang mulia.” Bukan bermaksud untuk melankolik tentang lautan yang terancam dengan bumbu-bumbu puitik. Tapi jelas bahwa lautan adalah bagian dari kita dan kita juga bagian dari lautan, menjaga kelestariannya bukanlah tugas melainkan kewajiban. Yah, kecuali kalau kamu memang menghendaki lautan yang hanya dihidupi oleh ubur-ubur besar.  Dan pada tahap itu, bukan lagi ubur-ubur yang harus beradaptasi, melainkan umat manusia itu sendiri. 

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *