Ketika Media Memvonis LGBT

Reporter: Mustika Muchtar

llustrasi (Sumber: http://www.sapphokolkata.in/events/)

 

Para kaum Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender (LGBT) seolah dianggap sebagai orang-orang yang berbahaya dalam kehidupan bermasyarakat akhir-akhir ini.  Berbagai pemberitaan negatif terhadap kaum LGBT menyeruak di berbagai media dengan isi berita yang cenderung menyudutkan keberadaan mereka di tengah-tengah masyarakat. Pemberitaan mengenai isu LGBT sendiri selalu dikait eratkan dengan penyakit menular, penyimpangan dan aktivitas seksual, kerusakan moral, hingga obat-obatan terlarang. Tidak banyak pemberitaan media mengenai kaum LBGT yang memberikan ruang yang sama kepada mereka untuk menjelaskan keberadaan mereka dan meluruskan banyak hal.

Dalam ranah pemberitaan, Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Indonesia juga telah mencermati gencarnya pemberitaan terkait isu-isu  kelompok termarjinal secara struktural dan sosial akhir-akhir ini, khususnya terkait  LBGT. Menurut AJI beberapa pemberitaan berindikasi melanggar UU Pers, Kode Etik Jurnalistik maupun Pedoman Prilaku Penyiaran dan Standar Program Siaran (P3SPS) 2012.

Dalam Pedoman Prilaku Penyiaran Standar Program Siaran (P3SPS) 2012, Bab XI pasal 15 ayat 1, mengamatkan tentang perlindungan kepada orang dan kelompok masyarakat tertentu, termasuk didalamnya, “Orang atau kelompok dengan orientasi seksual atau identitas gender tertentu.” Pada ayat 2 mengatur lembaga penyiaran tidak boleh menyiarkan atau menyajikan program yang menertawakan, menghina atau merendahkan kelompok masyarakat, termasuk di dalamnya orang atau kelompok dengan orientasi seksual atau identitas gender tertentu.

Bagi masyarakat yang merasa dirugikan terkait pemberitaan, AJI mendorong menggunakan  mekanisme yang telah diatur dalam  UU Pers dan diadopsi dalam KEJ, yaitu hak jawab dan koreksi. Hak jawab adalah hak seseorang atau sekelompok orang untuk memberikan tanggapan atau sanggahan terhadap pemberitaan berupa fakta yang merugikan nama baiknya. Sedangkan hak koreksi adalah hak setiap orang untuk membetulkan kekeliruan informasi yang diberitakan oleh pers, baik tentang dirinya maupun tentang orang lain.

Seperti yang dilakukan oleh Manado Line, sebuah situs berita online di Sulawesi Utara yang menuliskan pemberitaan berjudul “LGBT Penyimpangan Perilaku yang Sangat Menular” sebagai hasil liputan diskusi bersama pihak BNN Kota Bitung dan Bitung Journalist Club (BJC) pada Jumat 15/04 di sebuah warung kopi. Dalam diskusi interaktif itu bahkan sama sekali tidak menghadirkan satu orang pun narasumber dari kelompok LGBT.

Ada pun pernyataan Kepala BNN Kota Bitung dr. Tommy Sumampouw, salah seorang narasumber dalam diskusi tersebut yang mengatakan,

“LGBT, perilaku yang sangat menular. seseorang berperilaku normal jika bergaul beberapa bulan saja dengan mereka, maka akan terjangkit, dan LGBT cenderung sangat erat dengan Narkoba, karena mereka tidak diterima oleh masyarakat, larinya ke Narkoba,”

Dalam masalah ini, narasumber maupun penulis sama sekali tidak menyertakan fakta, bukti, maupun data dari pernyataan tersebut. Tidak ada data yang jelas mengenai jumlah kaum LGBT yang menggunakan narkoba. Hal ini pun seolah menambah kesan negatif terhadap kaum LGBT di Sulut. Padahal orang-orang heteroseksual juga banyak yang menjadi pengguna narkoba, yang tentunya juga disebabkan oleh berbagai motif.

Terkait dengan pernyataan bahwa LGBT merupakan  perilaku yang menular, si penulis tidak menyertakan referensi ilmiah yang mendukung pernyataan tersebut. Dikatakan bahwa seseorang yang berperilaku normal dan bergaul bersama mereka dalam beberapa bulan saja akan terjangkit. Sungguh pernyataan yang sangat disayangkan yang dilontarkan oleh seorang dokter.

Pernyataan  di atas bertolak belakang dengan pernyataan seorang dokter spesialis bedah saraf dari Rumah Sakit Mayapada Jakarta, dr. Ruslan Yusni Hasan yang dikutip dari website Harian Kompas.

“Tentu tidak menular (LGBT). Orientasi seksual dan lainnya itu struktur di otaknya sudah ada,” jelas Ruslan, Jakarta, Selasa ( 9/2/2016).  Ruslan menjelaskan, orang yang menjadi gay setelah sering berkumpul dengan gay, karena memang sebelumnya sudah ada bakat dalam diri orang tersebut. Lingkungan sosial akhirnya bisa memicu seseorang yang memiliki bakat gay kemudian menjadi gay. “Kalau punya bakat, lalu kumpul sama homoseksual, ya makin jadi homoseksual. Bakatnya, kan ada. Tapi, yang enggak ada bakatnya, ya enggak jadi ikut homoseksual,” kata Ruslan

Seseorang berjenis kelamin laki-laki yang menyukai laki-laki atau jenis kelamin perempuan menyukai perempuan adalah tergantung dari susunan saraf pada otaknya. Struktur otak itu telah terbentuk saat janin masih dalam kandungan dan tidak bisa diubah. Sistem saraf dan struktur otak  dipengaruhi oleh banyak hal, mulai dari asupan makanan, faktor genetik, hingga hormon dari orangtua maupun bayi itu sendiri. Menurut Ruslan, tidak ada yang salah dengan manusia yang terlahir LGBT, hal itu merupakan variasi dari struktur otak manusia yang berbeda-berbeda. Seperti halnya, ada manusia berkulit hitam, putih, rambut lurus, keriting, suka musik, suka matematika, begitu pula dengan adanya LGBT.

Ketidak berimbangan pemberitaan terhadap kelompok LGBT akhirnya membuat Michael (nama samaran) seorang gay angkat bicara. Awalnya Ia tidak terlalu aktif menanggapi pemberitaan yang tendensius terhadap eksistensi kelompoknya (LGBT), “toh mereka tidak membiayai hidup saya!” tukas laki-laki yang memiliki banyak prestasi akademik maupun non-akademik di kampusnya. Namun semakin hari  beberapa media semakin mengada-ada dalam membuat berita. Ketika dimintai kesediannya untuk menanggapi artikel Manado Line berjudul “LGBT Penyimpangan Perilaku yang Sangat Menular” Michael pun sempat geram. Michael mengakui bahwa keberadaan kelompok LGBT memang masih belum bisa diterima di kalangan masyarakat Indonesia, terutama di Kota Manado yang kebanyakan masyarakatnya merupakan penganut agama Kristen yang taat. Diakui Michael pula bahwa keluarganya sendiri juga belum dapat menerima keadaannya sebagai seorang gay. Di lingkungan kampusnya pun Michael tak jarang menerima tindakan diskriminatif, bahkan celaan dan penghinaan dari orang-orang yang homofobia, orang-orang yang memilki ketakutan terhadap homoseksualitas. Atau mungkin lebih tepatnya adalah orang-orang yang belum bisa bertoleransi dengan keberagaman orientasi seksual manusia. Namun dalam kondisi demikian tidak pernah membuat Michael merasa tertekan hingga berniat mengkonsumsi obat-obatan terlarang. “Saya tidak peduli dengan kata orang, just let it go ! saya juga punya cara yang lebih positif untuk melampiaskan kekesalan saya. Jalan-jalan misalnya” jelas Michael.

Jika mereka menyebut bahwa homoseksual merupakan perilaku yang menular, Michael menegaskan “Kami (LGBT) tidak pernah sebodoh itu mengajak atau mempengaruhi orang lain agar menjadi seorang homo. Dengan cara seperti apa kami menularkannya ? Kami juga bingung. Saya tidak habis pikir dengan pernyataan orang-orang di luar sana yang mengada-ada!” Berkaitan dengan orang-orang yang homofobia, menurut Michael, seorang gay juga punya tipenya sendiri, sama halnya dengan orang heteroseksual. Jadi merupakan hal yang lucu, ketika bertemu seorang yang homofobia yang sengaja menghindari mereka karena takut digoda.

Diakhir perbincangan bersama Michael, ia menyampaikan harapannya agar orang-orang seperti dirinya juga diberi kesempatan yang sama sebagai warna negara Republik Indonesia. Ia juga berharap pemberitaan terhadap kaum LGBT tidak melulu soal penyakit atau penyimpangan seksual. Mereka juga memiliki tujuan hidup yang mulia, sama seperti orang kebanyakan. “Cobalah media sesekali memberitakan hal positif mengenai kelompok LGBT. Misalnya gerakan-gerekan sosial yang rutin dilakukan komunitas LGBT, atau prestasi yang ditorehkan oleh mereka”

Bagi Michael, meskipun belum banyak masyarakat yang dapat menerima keberadaan mereka, menurutnya persoalan LGBT ini bukanlah yang hal perlu menjadi perdebatan yang panjang. Ada banyak hal yang jauh lebih penting dan perlu diurusi di negri ini. Katakanlah korupsi, kemiskinan, masalah sampah, hingga problematika reklamasi yang butuh lebih banyak solusi. 

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *