Membiakan Kutu Buku di Jalanan Kota Manado

Reporter: Mustika Muchtar

Kebiasaan membaca buku di Indonesia terbilang rendah dibanding negara-negara Asean. Indeks tingkat membaca masyarakat kita hanya 0,001 persen. Artinya, hanya ada satu orang dari 1000 penduduk yang masih mau membaca buku secara serius.
Pada Maret 2016 lalu, Most Literate Nations in the World, merilis pemeringkatan literasi internasional. Dalam pemeringkatan tersebut, Indonesia berada di urutan ke-60 di antara total 61 negara.
Kondisi yang sama juga terjadi pada pemeringkatan tingkat pendidikan Indonesia di dunia yang dari tahun ke tahun belum beranjak dari papan bawah dalam berbagai survei internasional. Salah satunya World Education Forum di bawah naungan PBB yang menempatkan Indonesia di posisi 69 dari 76 negara.
Literasi di Manado
Kutu Buku Jalanan, begitulah nama kegiatan membaca buku ini. Mereka hanya bermodalkan setumpuk buku dari perpustakaan milik Komunitas Rumah Pintar dan koleksi pribadi beberapa aktivis mahasiswa.
Tak disangka, warga yang kebetulan melintas di Jembatan Kuning, kawasan Sario, kota Manado, terlihat antusias dengan buku-buku bacaan yang dipamerkan di lapak sederhana.Komunitas ini kemudian mengajak teman-teman terdekat, untuk bergabung dan menjelma menjadi ‘kutu buku’ dadakan, Sabtu malam (1/4/2017). Hasilnya, cukup menggugah sebagian pejalan kaki mampir sejenak membaca buku.
Kini, mereka tenggelam dalam deretan imajinasi kata-kata. Warga berbeda latar dan usia, kian menyemut. Seakan-akan lupa memiliki gawai berteknologi layar sentuh, yang selama ini dituding penyebab rendahnya literasi kita. Bahkan, mereka terbuai angin sepoi Pantai Manado yang menggiring Mentari terbenam.

Gelaran baca buku gratis oleh LPM Inovasi Unsrat dan Komunitas Rumah Pintar (Foto : Arham Gani)


‘Inovasi’ dan minat baca kita

Sebenarnya ide lapak dadakan membaca buku ini berawal dari kesamaan visi antara aktivis Komunitas Rumah Pintar dan Lembaga Pers Mahasiswa Universitas Sam Ratulangi (LPM Inovasi Unsrat). Kami sepakat untuk meningkatkan minat baca masyarakat kota Manado, terutama di kalangan pelajar dan mahasiswa.
Makanya, gerakan membaca buku ini diharapkan menjadi solusi alternatif ruang sunyi perpustakaan yang kian monoton bagi sebagian orang. Tempat ini juga jadi lokasi alternatif bacaan gratis, ketika toko buku menjajakan buku-bukunya dengan harga yang kurang dapat dijangkau oleh sebagian orang, terutama pelajar dan mahasiswa.
Pun demikian dengan perkembangan teknologi dan informasi yang begitu cepat selama beberapa tahun terakhir ini. Hadirnya media sosial, seperti Facebook, twitter, instagram dan sejumlah aplikasi komunikasi gawai Ios dan androit, diyakini telah banyak mengubah pola kebiasaan dalam masyarakat.
Harus diakui, dunia digital mengubah minat baca buku. Akibatnya, kini makin banyak mahasiswa melakukan copy-paste artikel di internet yang belum tentu akurat, daripada mencari dan menggali data yang ada di buku.
Padahal, kecenderungan menerima informasi dari media sosial, dapat berakibat fatal. Kebiasaan instan mahasiswa yang lebih suka mencari materi tugas atau kuliahnya di internet dengan bantuan mesin pencari, sering berhadapan dengan artikel bohong atau hoax. Celakanya, kebiasaan ini jadi mulai tradisi. Perpustakaan yang makin sepi, jadi korban dunia maya.

Kutu Buku Jalanan (Foto : Arham Gani)


Menggelorakan literasi

Berbagai tanggapan positif dan dukungan atas kegiatan ini kami terima melalui berbagai sosial media yang kami gunakan dalam menyebarkan informasi kegiatan Kutu Buku Jalanan.
Kegiatan literasi jalanan semacam ini mungkin bukan lagi hal baru di beberapa daerah di Indonesia. Ada banyak sekelompok orang atau komunitas di Pulau Jawa dan sekitarnya yang tergerak untuk menggelar perpustakaan jalanan dikarenakan kepedulian mereka terhadap menurunya minat baca di kalangan masyarakat saat ini.
“Bagus kak. soalnya ini bisa meningkatkan minat baca orang-orang. Apalagi ketika ada banyak orang, kami bisa sambil mendiskusikan buku yang kita baca,” kata Khairul, mahasiswa Unsrat yang ditemui tengah membaca di bawah cahaya remang lampu kawasan.
Khairul juga turut memberi masukan untuk pemilihan tempat yang lebih tenang agar bisa lebih fokus membaca.
Meski belum mendapatkan izin resmi dari pihak pengelola kawasan bisnis tersebut untuk menggelar lapak di bagian dalam kawasannya, kami tetap membukanya di area pintu masuk kawasan reklamasi itu. Modal kami cuma keberanian, dan semangat berbagi pengetahuan.
Kegiatan Kutu Buku Jalanan ini rencananya akan rutin kami gelar pada setiap hari sabtu malam. Kemungkinnan akan berpindah-pindah tempat agar dapat menjangkau lebih banyak masyarakat. Tidak hanya pelajar dan mahasiswa, para pedagang, pemulung, petugas parkir, atau petugas kebersihan adalah orang-orang yang tentu memiliki akses ke perpustakaan dan toko buku, namun mereka cenderung tidak memiliki kesempatan untuk sekedar bersantai membaca buku. Semoga kehadiran buku ini, bisa mengobati kerinduan mereka yang merindukan ilmu pengetahuan.
0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *