Musik Kekinian: Peng-induksi Yang Mapan

Reporter: Andi Zulqifly Musdar

“without music, life would a mistake”

(Friedrich Nietzsche).

Tepat 189 tahun lalu (terhitung dari tahun ini), lahir seorang komponis besar yang bernama Ludwig Van Beethoven tepatnya 26 Maret 1827. Pria berkebangsaan Jerman ini merupakan salah satu dari sedikit komponis pada waktu itu yang memberi pengaruh besar terhadap perkembangan musik klasik. Karyanya yang berjudul Fur Elise mengingatkan kita terhadap sebuah kegalauan dari seseorang yang kemudian dikemas dalam sebuah alunan musik yang harmoni.

 

Apa yang diciptakan oleh Beethoven pada waktu itu tak mungkin lagi bisa kita dapatkan di masa sekarang. Kekuatan serangan dari musik-musik populer tak mampu dibendung oleh roh sakral musik klasik, bahkan oleh Beethoven sekalipun.

Lihat saja play list abg-abg sekarang, penuh dengan dentuman-dentuman tidak jelas yang diperkokoh oleh teknologi mixing yang mutakhir. Dengan lirik asal-asalan, dengan mudah mereka menghindari makna yang edukatif untuk pendengarnya. Karena kebutuhan pasar dan entertain segalanya dibuat instant.

Walaupun kita masih dapat menjumpai beberapa aliran musik yang menjunjung tinggi nilai edukasi, dan kesadaran sosial. Bahkan, jenis musik yang mereka ciptakan merupakan bentuk kritik kepada pemerintah dan segala jenis ketimpangan di negara ini. Namun, mereka biasanya berada di jalur indie.

Kecenderungannya, bahwa musik populer merupakan yang paling berhasil memikat hati para muda-mudi. Baik itu musik hasil dalam negeri maupun luar negeri. Dan ini diperparah dengan ketidakpedulian kita pada arti dan makna dari lirik-lirik lagu yang sering kita dengarkan. Kita selalu hanyut dalam dentuman-dentuman tadi. 

Menilik ke dalam, mari lihat potensi musik sebagai peng-induksi yang mapan. Sebelumnya, induksi yang dimaksud di sini adalah semacam sugesti yang berulang-ulang, seperti yang sering kita lakukan saat mendengarkan musik. Akan ada musik yang selalu ingin kita dengar dan tak pernah bosan untuk mengulangnya. Tapi untuk membuktikan penginduksian itu, dibutuhkan penelitian dan data ilmiah yang membosankan.

Proses induksi itu kira-kira yang akan berhubungan dengan apa yang dikatakan Sigmund Freud; kehidupan jiwa memiliki tiga tingkatan kesadaran yakni sadar (conscious), prasadar (preconscious) dan tak sadar (unconscious). Yang pada level tertentu memasuki alam bawah sadar kita.

Lagi, menurut Sigmund Freud, alam bawah sadar yang mengendalikan sebagian besar perilaku manusia.

Bayangkan, jika ada jenis musik yang telah menginduksi anda. Dan pada saat itu anda sedang semangat-semangatnya kerja agar dapat bonus. Ketika mendengar musik tersebut anda langsung badmood. Itu pasti akan merugikan anda.

(dari tadi kok kayak serius banget yaa..slow aja kayak di pantai kali yaa..)

Ada sedikit saran bagi yang mau berbondong-bondong mendengar musik dan punya kemauan yang kuat untuk mengerti apa yang ingin disampaikan oleh penciptanya. Juga untuk mengurangi efek induksi tadi.

Pertama, sebelum headset merapat di lubang telinga, dan menyalurkan gelombangnya. Maka, mari sama-sama kita mengirimkan do’a untuk pencipta atau pengarang dari musik yang akan kita dengar. Mengapa demikian? Karena yang sebenarnya yang akan kita dengar adalah karya orang yang rela berjam-jam di dalam sebuah studio untuk rekaman satu buah lagu, dan kita mendapatkan karyanya dengan gampang di stafaband atau di mp3skull dan lain-lain. Lalu kalian tak mendo’akan mereka, sungguh keterlaluan.

Kedua, ini untuk yang nilai bahasa inggrisnya anjlok terus sok-sok andengar lagu barat, disarankan mempersiapkan kamus, google translate, atau ada juga jasa terjemahan lirik yang tersebar di macam-macam blog/website yang tersedia. Supaya mengerti artinya. Dan ketemu makna yang dicari dari sebuah lagu, dan belajar sedikit pronunciation-nya biar nggak kumur-kumur jadinya. Karena sungguh menyakitkan jika anda ditertawakan.

Ketiga, saat mendengarkan musik sendiri, harap maklum anda seketika terbawa suasana dan mundur beberapa tahun ke labirin masa lalu anda yang membuat anda gagal move-on. Itu pertanda baik, kalau anda sedang betul-betul terinduksi. Nikmati saja!

Keempat, agar musiknya yang kamu dengar lebih gurih, coba kamu plesetkan liriknya. Supaya induksi tadi, berhenti di stadium awal. Misalnya:“hei kau yang marxis singgahlah dan ikut bernyanyi”.

Kira-kira seperti itu. Karena musik adalah hak setiap orang. Bagi pencipta, pendengar, bahkan pembajak. Maka tulisan ini tidak bermaksud mengintervensi selera musik anda. So, selamat mendengarkan musik anda.

Sumber gambar: http://www.anneahira.com/musik-humor.htm

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *