Nyai Ontosoroh: Perempuan Sejati Harus Mandiri!

Reporter: Chairil Muhammad

Ilustrasi Nyai Ontosoroh (Sumber : http://www.imgrum.org/media/happysalma)

 

“Kita sudah melawan, nak. Sekuat-kuatnya, sehormat-hormatnya,” Nyai Ontosoroh.

 

Tugas mata kuliah antropologi gender, mengharuskan saya membaca buku “Bumi Manusia”, karya Pramoedya Ananta Toer – yang merupakan refrensi utama dalam penugasan mata kuliah tersebut.

Sebelum lebih jauh bicara “Bumi Manusia”, ada baiknya kita mempelajari gagasan beberapa pakar terkait gender.

Nunuk P. Murniati, dalam “Getar Gender” (2004)mengemukakan bahwa gender merupakan sebuah kata kuno yang diberi makna baru. Dalam perkembangannya, gender menjadi sebuah ideologi, yang bisa merusak relasi laki-laki dan perempuan ketika dicampur adukan dengan pengertian seks (jenis kelamin).

Ketika perbedaan seks dan gender tidak dilihat secara kritis, maka munculah ketidakadilan gender. Bentuknya, posisi subordinat, streotip terhadap perempuan dan laki-laki, beban ganda, serta marginalisasi dan kekerasan terhadap perempuan.

Jauh sebelum menjadi sebuah ideologi, kata gender sendiri sering diartikan secara sempit sebagai sebuah pembagian kerja, baik secara nature maupun nurture. Arif Budiman dalam buku “Pembagian Kerja Secara Seksual” (1982) mengatakan bahwa “pembagian kerja secara seksualitas substansinya jelas merugikan dan tak mencerminkan keadilan bagi perempuan”.

Asumsinya, laki-laki secara jasmaniah mempunyai banyak kelebihan, dan secara psikologis lebih aktif dan mengedepankan rasio bukan emosi, sedangkan perempuan selalu ada dalam posisi sebaliknya. Sehingga, domestikasi perempuan dalam rutinitas rumah tangga akan dianggap wajar.

Dalam “Bumi Manusia”, saya kira, karakter yang cukup menarik untuk mendeskripsikan perjuangan berbasis gender adalah perempuan pribumi bernama Nyai Ontosoroh. Deskripsi karakater ini, oleh Pram, ditulis dalam beberapa lembar halaman.

Semasa remaja Nyai Ontosoroh sangat cantik. Banyak surat lamaran yang disinggahkan kepadanya, namun tak satu pun direstui ayahnya – juru tulis Sastrotomo, yang mengidamkan jabatan sebagai juru bayar di perusahaan.

Demi ambisinya, sang ayah rela “menjual” anaknya. Keinginan itu pun terpenuhi. Tuan Melemma, seorang Belanda totok, mempersunting Sanikem], dengan catatan, sang ayah mendapat kenaikan pangkat jadi juru bayar.

Di awal pernikahan, Nyai merasa tersiksa dan bertekad untuk tidak menganggap orangtuanya.

Tapi, di kemudian hari, ia sangat mempengaruhi watak Minke, tokoh utama dalam “Bumi Manusia” – yang oleh Pram disebut sebagai “pemuda yang mengawali perjuangan modern bangsanya”.

Saya kira status sebagai peremuan dan gundik, di masa itu, cukup untuk menempatkan Nyai Ontosoroh sebagai warga negara kelas “bulu terbang”. Lalu, kenapa perempuan pribumi, sekaligus gundik seorang Belanda ini, bisa mendapat tempat yang begitu berpengaruh dalam tetralogi Pulau Buru?

Berikut akan saya ringkas beberapa tindakan Nyai Ontosoroh, seorang yang melampaui perempuan – bahkan generasi – di zamannya.

Perempuan Berpengetahuan Luas

Sikap terpelajar Nyai cukup mengejutkan Minke. Awalnya, dia menganggap gundik hanyalah seorang pemuas nafsu. Namun anggapan itu berubah dalam sebuah kesempatan makan bersama. Minke kaget melihat cara Nyai makan yang mirip dengan etika makan orang Eropa.

Keterampilan Nyai Ontosoroh juga menepis anggapan miring masyarakat Wonokromo, yang menganggap rendah seorang Gundik. Itu ditunjukan lewat prilakunya yang sopan dan beradab, serta keterampilan berbahasa, dan membaca.

Tuan Malemma, suami Nyai, memang banyak memberi pelajaran. Mulai cara berdandan a la Eropa, membaca, menulis, berbahasa, hingga cara mengelola perusahaan.

Meski ‘hanya’ perempuan pribumi, juga gundik, niat Nyai untuk belajar tak pernah surut. Dia tidak mau kalah, bahkan pada orang Eropa. Tak jarang, Nyai beradu mulut dengan Tuan Melemma dan tidak merasa gentar sedikit pun.

Seorang Pemimpin dan Perempuan yang Mandiri

Selain itu, Nyai Ontosoroh juga mampu memimpin sebuah perusahaan besar di Wonokromo. Dalam kepemimpinan itu, ia dibantu Annelies, putrinya, sebagai mandor, serta Darsam sebagai pengawal pribadi.

Ketika Maurits Melemma datang ke Wonokromo, sikap Tuan Melemma berubah. Dia jadi sering keluyuran dan jarang pulang. Maurits adalah anak Herman Melemma yang sah. Selama ini, Herman Melemma, tidak lagi memberi nafkah pada keluarganya di Belanda. Maurits datang untuk menuntut keadilan.

Nyai Ontosoroh tidak begitu kaget dengan kelakuan suaminya yang macam “Bang Toyib” – tak pulang-pulang. Ia sudah mampu memimpin perusahaan dan menghidupi anak-anaknya tanpa bantuan suami.

Ini menandakan bahwa perempuan tidak seharusnya selalu tunduk dan patuh terhadap laki-laki, serta mampu memperjuangkan hak-haknya, secara mandiri. Seperti yang dia bilang, “Jangan sebut aku perempuan sejati, jika hidup hanya berkalang lelaki. Tapi, bukan berarti, aku tidak butuh lelaki untuk aku cintai.”

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *