Pelajaran dari Palau Bangka: Rakyat Juga Bisa Menang Lawan Tambang

Reporter: Mustika Muchtar

Foto : Facebook Save Bangka Island

 

Perjuangan warga pulau Bangka, Sulawesi Utara, diyakini bisa menjadi pelajaran untuk melawan industri pertambangan. Sebab, dalam kurun 6 tahun, mereka berhasil menendang perusahan tambang dari pulau tersebut.

Pernyataan itu disampaikan sejumlah lembaga dalam peringatan Hari Anti Tambang (Hatam) pada Senin (29/05/2017) di Manado, Sulawesi Utara. Mereka menyebut, perjuangan warga pulau Bangka didukung Mahkamah Agung (MA), melalui putusan No. 255 K/TUN/2016.

Kemudian, 23 Maret 2017, menindaklanjuti putusan MA, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), juga mencabut Izin Usaha Pertambangan Operasi Produksi PT. Mikgro Metal Perdana (MMP).

Sebelumnya, PT. MMP memperoleh izin di pulau yang luasnya hanya sekitar 3.319 hektar. Di pulau kecil itu, perusahaan tambang memperoleh wilayah konsesi sekitar 50% dari luas daratan pulau Bangka.

Melihat fakta-fakta tersebut, Merah Johansyah, Koordinator Jaringan Advokasi Tambang (Jatam) mengatakan, “Putusan MA dapat menjadi basis hukum bagi  kebijakan moratorium dan Pencabutan IUP di seluruh pulau kecil di Indonesia.”

Selain itu, pemerintah didesak melakukan audit atas kerugian-kerugian warga. Termasuk pemulihan sosial, dan penyelidikan lanjut terhadap kasus-kasus tindak kekerasan yang pernah terjadi di pulau bangka.

“Dibatalkannya Izin Usaha Pertambangan PT.MMP terhadap Pulau Bangka oleh Mentri ESDM seharusnya menjadi yurisprudensi atau tonggak perbaikkan kebijakan pemerintah terhadap pertambangan di Indonesia, terutama di pulau-pulau kecil,” tutur Merah ketika menjadi pembicara pada dialog publik di Manado, Senin (29/05/2017).

Para Pembicara dalam Seminar Publik Hari Anti Tambang di Hotel Ibis Manado pada (29/05/2017) Foto : Eku Wand (Facebook Save Bangka Island)

 

Menurut dia, penyelamatan dan audit izin tambang di pulau-pulau kecil perlu segera dilakukan. Sebab, Indonesia memiliki 17.508 pulau, dengan 13.433 pulau kecil yang rentan terhadap berbagai ancaman perubahan lingkungan.

Berdasarkan catatan Jatam, saat ini terdapat sekitar 10.963 izin tambang, atau setara dengan 44% luas daratan di Indonesia. Jatam juga menyebut, 15 juta hektar kawasan karst Indonesia ditambang 232 perusahaan.

Dampaknya, aktvitas pertambangan memakan banyak korban. 27 anak tewas di lubang-lubang tambang, yang berada di 17 konsesi perusahan asing dan nasional.

Sejak tahun 2011, tanggal 29 Mei diperingati sebagai Hari Anti Tambang (HATAM) Nasional. Peringatan ini merupakan mandat Pertemuan Nasional Jaringan Advokasi Tambang (Jatam), pada tahun 2010.

Tanggal 29 Mei dipilih karena pada tahun 2006 tepat pada tanggal itu, Lumpur Lapindo, Sidoarjo, menyembur untuk pertama kali.

Peringatan Hari Anti Tambang, kemudian, dijadikan momentum untuk menyerukan berbagai ketidakadilan, serta melawan segala bentuk pengerusakan lingkungan. Sebab, aktifitas pertambangan dinilai lebih banyak mendatangankan kerugian daripada kesejahteraan bagi masyarakat.

Tahun ini, 22 daerah di Indonesia turut meramaikan Hatam. Berbagai aksi solidaritas melawan tambang diselenggarakan. Misalnya seminar dan workshop oleh beberapa simpul Jatam, Mapala, Komunitas Pecinta Alam, serta berbagai kelompok masyarakat.

Di Sulawesi Utara, Hatam diperingati melalui penanaman mangrove dan transplantasi karang di Pulau Bangka, pada Sabtu (27/05/2017). Puncaknya, di Manado Jatam bekerja sama dengan Yayasan Suara Nurani Minaesa menyelenggarakan Seminar Publik, Senin (29/05/2017).

Seminar itu, diberi tema “Menuju Perbaikan Kebijakan Penyelamatan Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil dari Daya Rusak Tambang”.

“Paradigma pembangunan yang berkelanjutan adalah tanpa pertambangan” ujar Arifsyah dari Greenpeace Indonesia.

“Terutama provinsi Sulawesi Utara yang terletak di wilayah Segitiga Karang melalui Coral Triangle Initiative. Maka, tidak mungkin penerapannya berdampingan dengan tambang, terutama di pulau-pulau kecil,” pungkas Ariefsyah.

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *