Ke Manado, Kaka Slank Galang Dana Program Lingkungan “Belajar Bersama Alam”

 

Vokalis grup band Slank yang akrab disapa Kaka akan hadir di Manado pada Senin, 10 Juli 2017. Kedatangan Kaka kali ini bukan untuk tampil konser bersama dengan grup musiknya, melainkan datang sendiri untuk membantu Yayasan Suara Pulau menggalang dana.

 

Kaka memang dikenal sebagai salah satu musisi yang dekat dan peduli dengan isu lingkungan. Kedatangan Kaka digawangi oleh Yayasan Suara Pulau, lembaga swadaya masyarakat yang fokus dalam kegiatan edukasi dan konservasi lingkungan hidup di Kepulauan Kinabuhutan, Talise, Bangka, dan Gangga (Kitabangga).

 

Pendiri Yayasan Suara Pulau, Ulva Novita Takke mengatakan, “Kami berharap kedatangan Kaka bisa membantu meningkatkan kesadaran masyarakat Manado untuk lebih peduli dengan lingkungan di Sulawesi Utara. Kami sangat senang Kaka bersedia meluangkan waktunya dan membantu menggalang dana.”

 

“Acara ini diadakan khusus untuk menggalang dana demi mendukung program ‘Belajar Bersama Alam’. Semua hasil penjualan tiket yang terkumpul sepenuhnya akan digunakan untuk program belajar bersama alam. Dengan membeli tiket itu artinya Anda sudah ikut berpartisipasi mendukung program ini,” tambah Ulva.

 

‘Belajar Bersama Alam’ adalah program dari Yayasan Suara Pulau yang dikhususkan pada pendidikan anak-anak di Kepulauan Kitabangga untuk menanamkan kecintaan dan kesadaran serta meningkatkan kepedulian mereka terhadap lingkungan dan alam sekitar.

 

Beberapa contoh kegiatan program antara lain ba pontar di nyare atau belajar ekosistem padang lamun, ba lia karang atau belajar ekosistem terumbu karang, ba ron posi-posi atau belajar ekosistem bakau, isu sampah dan penanganannya, kegiatan edukasi melalui panggung boneka, serta menonton film bertema lingkungan.

 

Tiket terbagi atas tiga kategori. Tiket Dugong seharga 250 ribu rupiah akan mendapatkan tiket masuk, foto bersama Kaka, dan tanda tangan Kaka, serta tempat duduk di barisan depan. Tiket seharga 175 ribu rupiah kategori Coral akan mendapatkan tiket masuk dan foto bersama Kaka dan kursi di barisan tengah. Terakhir, dengan membayar 100 ribu rupiah, Anda bisa mendapatkan tiket kategori Mangrove untuk tiket masuk dan duduk di barisan belakang.

 

Kaka mengajak warga Manado untuk hadir dan bersama-sama menikmati musik akustik mengatakan, “Mudah-mudahan saya bisa berkontribusi terhadap lingkungan melalui kegiatan ini. Saya berharap banyak warga Manado yang dapat hadir dan perduli untuk kita sama-sama berdiskusi sambil bermusik asik.”

 

 

Tiket dijual terbatas. Bagi yang ingin berpartisipasi sekaligus bertemu dengan Kaka Slank, bisa memesan tiket via WhatsApp ke nomor berikut: – 081212345168 – 082116497437 atau dengan mengakses www.suarapulau.org

 

Yayasan Suara Pulau merupakan lembaga swadaya masyarakat yang didirikan pada tahun 2012 dan fokus pada Pendidikan dan konservasi Lingkungan hidup . Yayasan Suara Pulau memiliki visi saling menghidupi dan bertujuan untuk memperbaiki kehidupan masyarakat melalui pengelolaan lingkungan yang berkelanjutan dengan peran aktif seluruh komponen masyarakat,  demi keberlangsungan hidup manusia dan alam di masa depan.

 

Informasi lebih lanjut mengenai Yayasan Suara Pulau dapat diakses melalui www.suarapulau.org dan www.facebook.com/suarapulau

George Aditjondro dan Makanan-Makanan yang Lezat

Penulis: Nono Sumampouw

(Sumber: http://www.cnnindonesia.com)

 

Saya harus berterima kasih kepada Ferry Rangi karena dialah orang yang paling bertanggung-jawab memperkenalkan saya pada George Junus Aditjondro. Hubungan kami memang tidak terlalu intens, tetapi mengenal George adalah salah satu pengalaman mengenal orang yang paling membekas bagi saya dan ini bukan basa-basi!!!. Saya bukan menulis kertas pendek ini karena kematiannya beberapa waktu lalu, tetapi karena dalam masa-masa hidupnya dia menjadi orang yang penuh warna, semangat dan menginspirasi, berani bahkan sangat berani, analitis dengan magnet intelektual yang kuat, murah hati, humoris, penuh cerita dan lelucon serta penikmat makanan-makanan enak.

Jadi begini kisahnya: suatu malam di Jogja tahun 2011, Ferry mengenalkan saya pada Bang George, di rumah yang ia sewa untuk jadi perpustakaan, tempat ia menulis serta perteduhan bagi anak-anak angkatnya yang juga kawan diskusi kami. Apa yang saya dan Bang George bicarakan bukanlah hal-hal teoritis dan analitis, saya lebih senang bicara hal-hal remeh-temeh dan Bung George menurut kesan saya lebih senang dan terhibur bicara lelucon, dan dengan cara yang kocak. Ini dia lakukan dengan cara sangat menyenenangkan, terus terang dan terbahak-bahak. Jelas jauh dari kesan dan reputasinya sebagai ilmuwan yang garang dan kritis dalam melontarkan analisa. Kemudian, karena tahu saya dari Manado, dia begitu bersemangat bercerita tentang makanan-makanan Manado serba daging yang menjadi kesukaannya, serta gurauan soal bau kentut di sebuah tempat di daerah saya yang bernama Lahendong. Juga soal ketika ia menjadi tutor dalam pelatihan menggunakan konsep Analisis Masalah Dampak Lingkungan Kaki Telanjang yang ia singkat Amdal Kijang.

 

Saya kenal George dan tulisannya setidaknya waktu memutuskan untuk membuat skripsi tentang konflik. Waktu menemukan kertas kerja George mengenai “Orang-orang Jakarta di Balik Tragaedi Maluku” di rumah kedua saya: sekretariat Pers Mahasiswa Inovasi Unsrat Manado. Saya begitu terpesona setelah selesai membacanya. Dia begitu terus terang dalam menuliskan nama aktor dan tajam menganalisa. Dalam hal ini, dia begitu terbuka. Dalam tahun-tahun masih rentan dimana tulisan itu dibuat, saya jadi berpikir: wajar saja dia diusir pemerintah dan harus pergi ke Australia. George benar-benar berbahaya. Dia begitu berani, sangat berani bahkan dalam mengemukakan pendapat pada waktu ia dengan begitu gampang bisa saja dicederai oleh pemangku kekuasaan. Tetapi dengan cara beginilah George benar-benar terlihat sangat humanis.

Karena memutuskan untuk mendalami Minahasa, saya juga membaca tulisan George di Majalah Prisma mengenai Sam Ratulangi yang ia beri judul: Kepak Sayap Manguni Yang Rindukan Deburan Ombak Pasifik. Untuk seorang yang menulis artikel-artikel analitis, George puitis dan seringkali mengawali tulisannya dengan lelucon (misalnya artikel Terlalu Bugis-Sentris, Kurang Perancis), sekalipun tak pernah kehilangan kualitas. Soal artikel ini, perspektifnya sangat menarik dibandingkan puja-puji pada Sam Ratulangi oleh penulis Indonesia lain. Dia punya data, jadi oom Sam yang kata dia bukan Doktor jadi sesuatu yang masuk akal, ini karena ada penjelasan mengenai pengaruh bias gender. Soal kualitas dan ketajaman, jangan ditanya. Nyatanya kisahnya mengenai korupsi di Indonesia dalam buku Gurita Cikeas yang kontroversial itu, dapat dikatakan terbukti kebenarannya dalam realita politik hari-hari ini.

George memang keras kepala dan susah dibujuk, bahkan dengan sesuatu yang bagi para akademisi dianggap prestisius. Saya mendengar bahwa dia pernah ditawari menjadi penerima Award dan Hibah Akademi Professorship Indonesia pertama sekitar tahun 2004-2005 karena keahlian dan reputasinya di bidang Sosiologi Korupsi, tapi dia tolak. Entah karena alasan apa. Padahal ini bisa membuat soal-soal keuangan dan fasilitas menjadi teratasi kalau menerima tawaran ini.

Saya lupa tanggal berapa, tetapi itu jelas tahun 2012. Kami makan-makan dengan George sejak pagi, dan sore harinya kami ada di sebuah rumah makan di daerah Selokan Mataram, dekat penerbit buku Kanisius. Ia tidak berhenti makan sambil bicara lelucon-lelucon nakal yang ia peroleh dari pengalamannya di berbagai daerah; dari hanya tempat yang ia datangi untuk jalan-jalan, juga wilayah-wilayah yang ia kunjungi karena minat intelektual dan advokasinya terhadap persoalan-persoalan konflik. Ia tertawa renyah sepanjang bersama dengan kami. Sayalah yang kemudian membonceng George untuk pulang ke kediaman yang ia kontrak untuk ditinggali bersama istrinya. Kami dipersilahkan masuk, dan ia mulai menunjukkan “museum” alias pajangan-pajangan etniknya sembari komat-kamit menceritakan kisah-kisah dibaliknya. Ia terlihat begitu bergembira dan terhibur. Sayapun pulang, dan besoknya diperoleh berita George terserang stroke hebat dan harus dirawat di RS. Bethesda Yogyakarta. Setelah itu, Ia berada dalam kondisi koma setidaknya dalam waktu 2 atau 3 bulan.

Saya balik ke Manado, dan setelah waktu-waktunya di Jogjakarta, George kembali ke Palu bersama istri untuk mendapat perawatan dan menjalani terapi penyembuhan lanjutan. Di Palu, George seperti mendapat udara segar. Dia punya banyak teman baik dan dunia yang benar-benar dia kenal. Setahu kami, di Palu dia menunjukkan kemajuan kesehatan berarti. Antusiasmenya di Palu benar-banar bangkit lagi. Dalam kondisi Stroke dia bahkan tidak kehilangan selera humor dan analisa yang tajam serta tepat sasaran. Ini terlihat karena dia seringkali dipanggil membagi pengalaman atau memberi kuliah kepada kawan-kawan muda di dunia aktivisme atau kampus Universitas Tadulako. Sekaligus tentu, jadi salah satu bagian terapi agar gairah hidupnya bangkit.

Tahun 2016 ini saya sering ke Palu untuk urusan pribadi. Dan Ferry menginisiasi kami agar menjenguk Bang George agar dia terhibur. Sekitar bulan Mei atau Juni, kami mengunjungi Bang George dengan membawa ole-ole makanan dan kue-kue khas Manado. Tentu yang cocok dengan kondisi kesehatannya. Adalah ikan Roa, Cakalang Fufu, kue-kue dan bahkan Teh dari Pekalongan –tempat kelahirannya- yang kami bawa. Kami memberi bingkisan itu sambil bicara dengan George di kamarnya. Dia begitu terhibur dan senang. Dia memakan Klapper Koek (Kue Kering Kelapa) dan Bagea dengan begitu lahap, beserta tatapan gembira serta puas. Senang sekali melihat George dalam kondisi seperti itu. George kemudian membuat kami berjanji untuk datang di akhir pekan dan memasak Ikan Woku Pedas khas Manado. Seolah-olah yang dia pikirkan hanya soal makanan. Tapi, tak apalah. Kami yakin ini baik untuk semangat dan kesehatannya. Maka, masak-masaklah kami di rumah George, dimana selain ikan Woku kami juga membuat Kuah Asang. George begitu bahagia dalam suasana makan sore menjelang malam tersebut. Ia terlihat puas, cerewet dan membuat banyak lelucon: mulai dari kisah Ingus yang katanya enak jadi bumbu hingga waktu dia bertanya dengan mimik serius: Fer, No, kamu tau nda apa fungsinya ini (sambil menunjuk Pisang Ambon yang ia pegang)? Kami dengan serius pula bilang: baik untuk Vitamin dan anti oksidan buat tubuh abang to; lalu George sergah dengan gampang; bukan!! Ini buat bikin tai tau nda !!!. Kami langsung pikir: ada-ada saja ini orang, sementara sakit sempat-sempat pula bikin lelucon nakal macam itu. Hahahahaha!!!.

Terakhir kali ke Palu, sekitar sebulan atau dua bulan yang lalu. Saya dan Ferry berencana menjenguk George saat Konferensi International tentang Sulawesi berlangsung, dimana ia juga diundang sebagai salah satu tamu terhormat karena reputasi dan karya-karyanya. Tapi, George akhirnya tak bisa juga mengikuti konferensi tersebut dan saya tak lagi sempat mengunjunginya sambil mendengar cerita tentang makanan dan humor-humor segar darinya. Ini jelas menyedihkan. Sangat menyedihkan.

Orang-orang kebanyakan, terutama para pegiat intelektual dan dunia aktivisme mengingat George karena hidup untuk memproduksi tulisan-tulisan dengan analisa yang tajam dan kritis dengan peran begitu besar dalam bidang Hak Asasi Manusia, Intelektual dan Advokasi Lingkungan. Tak ada yang bisa menolak dan meragukan hal ini. Tetapi, saya juga ingin mengingat George sebagai sosok yang hangat, humoris, sering nakal dengan cara menyenangkan dan memiliki selera makan yang besar terhadap menu-menu lezat. Saya ingin meningatnya sebagai manusia, yang menyentuh orang, ya kami-kami ini, dengan cara sederhana macam itu. Dengan cara manusiawi semacam itu.

Saya menulis tulisan pendek ini di Salatiga, sebuah kota kecil sejuk, nyaman dan indah di antara Semarang dan Solo. Tempat dimana George dan Arief Budiman, yang walaupun dalam reputasinya yang mentereng sebagai lulusan universitas ternama dunia (Cornell dan Harvard) pilih untuk mengajar di sebuah universitas swasta dan bahkan sangat mungkin jadi tempat George menulis artikel-artikelnya yang menohok pemerintah Soeharto dan bahkan membuka mata dunia, tentang Timor-Timur misalnya. Saya tak boleh takabur dan sok tahu kenapa mereka memilih tempat ini, tetapi saya menduga, bahwa di tempat-tempat kecil dan baik untuk merenung, selalu ada langkah-langkah besar yang bisa dicapai untuk memperjuangan Hak Asasi Manusia dan kemanusiaan itu sendiri.

 

Nadran: Syukurannya Nelayan Pantai Utara Jawa

Reporter: Chairil Muhammad

Upacara Nadran di Indramayu (Sumber : https://sportourism.id)

 

Nadran adalah upacara adat para nelayan di pesisir pantai utara Jawa, sepert Subang, Indramayu, dan Cirebon yang bertujuan untuk mensyukuri hasil tangkapan ikan, mengharap tingkatan hasil pada tahun mendatang dan berdoa agar tidak mendapat aral melintang pada saat mencari nafkah di laut. Inilah maksud utama dari upacara adat nadran yang diselenggarakan secara rutin tiap tahun, yaitu pada dua minggu setelah lebaran idul fitri.

Kata Nadran itu sendiri berasal dari kata nadzar, atau nadzaran yang berarti syukuran. Syukuran para nelayan perihal diadakannya tradisi ini sendiri adalah atas rezeki melimpah yang telah diberikan Tuhan kepada mereka, keselamatan ketika berlayar di laut, maupun hasil ikan yang melimpah ruah.

Nadran sebenarnya merupakan tradisi hasil akulturasi budaya Islam dan Hindu yang diwariskan sejak ratusan tahun secara turun-temurun. Inti dari upacara ini adalah memberikan sesajenkepada penguasa laut agar diberi limpahan hasil laut, sekaligus dijadikan sebagai ritual tolak bala.

Seperti Apa Prosesi Nadran ?

Tradisi nadran diawali dengan pemotongan kerbau sehari sebelum acara puncak. Sesaji dan doa dipanjatkan sebelum kerbau disembelih agar proses penyembelihan berjalan lancar. Kepala kerbau yang sudah dipotong kemudian akan menjadi sesaji yang dilarung ke tengah laut dengan pendamping beberapa tumpeng, dan jajanan pasar. Tradisi ini pada mulanya diawali dengan diadakannya pagelaran tari-tarian dan hiburan rakyat tradisional seperti reog, jaipong, genjring, tari kerbau dan lain-lain. Kemeriahan pun tampak di dalam rungan khusus dimana ibu-ibu dan bapak-bapak nelayan yang dianggap kompeten menyiapkan meron yang akan dilarung keesokan harinya. Meron sendiri merupakan miniatur perahu yang di dalamnya di isi dengan kepala kerbau, kulit kerbau, dan berbagai macam sesajen yang nantinya akan diangkut ke dalam perahu sungguhan untuk kemudian dilarung ke tengah-tengah lautan kurang lebih lima puluh meter dari pantai.

Pemotongan Kepala Kerbau Sebagai Persembahan ( Sumber : http://bayukreshnaadhitya.blogspot.co.id)

 

Ketika meron yang telah dimuat berlayar, para penduduk nelayan dengan perahunya masing-masing akan mengawal perahu yang membawa meron ini. Ketika meron dilarung maka para masyarakat nelayan tadi berbondong-bondong untuk memperebutkan segala sesaji yang ada pada meron yang dilarung tadi.

Berbagai sesaji yang para nelayan dapat tadi sebelumnya telah dibacakan mantra-mantra yang berbaur dengan asap dupa oleh dukun yang diyakini oleh para nelayan bisa menjadi jimat yang berhasiat baik untuk menolak bala maupun menambah rezeki berlimpah ketika dibawa berlayar mencari ikan.

Setelah meron dilarung, sang dukun yang bertugas sebagai pembaca mantera tadi akan mengambil air laut yang nantinya akan dipakai dalam upacara ruwatan pada malam berikutnya. Ruwatan sendiri merupakan upacara meminta keselamatan yang ditandai dengan pagelaran wayang kulit dengan lakon tertentu.

Biasanya pertunjukan wayang digelar sampai satu minggu berturut-turut. Air yang ketika siang tadi diambil pada saat upacara larung meron tadi, oleh dukun pun dicampur dengan air-air lainnya setelah upacara ruwatan usai . Air tersebut akan dibagikan kepada para nelayan sebagai ajimat agar senantiasa diberi keselamatan.

Begitu upacara ruwatan usai, maka usai pulalah upacara tradisi nadran tersebut, dan para nelayan pun pulang kerumah masing-masing untuk kembali berkutat dengan rutinitas sehari-hari mereka yang tak lepas dari jaring dan perahu.

Sejarah Tradisi Nadran Pra Islam

Berdasarkan buku penelitian Dr. Heriyani Agustina, Kepel Press-2009 diceritakan tentang buku “Negara Kertabumi” karya Pangeran Wangsakerta  dengan sumber cerita dari Kartani[8] yang memerintahkan Raja Indraprahasta Prabu Santanu ( yang sekarang Kec. Talun, Kab. Cirebon) untuk memperdalam atau memperbaiki tanggul, yang bertujuan untuk menduplikat Sungai Gangga di India. Agar tanggul sungai lebih kuat, dibuatlah prasastinya tangan sang Prabu Purnawarman yang sekarang belum ditemukan, serta sang Prabu memberikan hadiah-hadiah untuk Brahmana 500 ekor sapi, pakaian-pakaian dan satu ekor gajah untuk Raja Indraprahasta (Prabu Santanu).

Duplikat Sungai Gangga tersebut digunakan untuk keperluan mandi suci. Sungai yang dimaksud adalah sungai Gangganadi dan muaranya di sebut Subanadi (muara adalah perbatasan antara sungai dan laut). Sungai tersebut sekarang adalah sungai Kriyan, terletak di belakang Keraton Kasepuhan Kota Cirebon.

Mandi suci di sungai Gangganadi dilakukan setahun sekali, sebagai acara ritual untuk menghilangkan kesialan dan sebagai sarana mempersatukan rakyat dan pemujaan kepada sang pencipta ( Kartani dan Kaenudin).

Sebetulnya, tradisi Nadran bukanlah tradisi asli daerah Cirebon apalagi masyarakat Desa Mertasinga. Tradisi ini banyak juga ditemukan di beberapa daerah lain dengan nama yang berbeda. Di Jawa Tengah dikenal dengan tradisi Labuhan, karena ada beberapa kepercayaan bahwa apabila mereka tidak melakukan sedekah ini, mereka percaya bahwa Dewa Baruna akan murka dan segera mengirim bencana melalui dewa petir, Dewa Halilintar dan Dewa Angin yang mengakibatkan nelayan tidak dapat melaut. Akhirnya, tidak dapat mencari ikan sebagai sumber kehidupan utama.

Penggunaan daging kerbau sebagai persembahan dikarenakan daging kerbau yang lebih banyak dari pada daging sapi. Ada pula kemungkinan sapi merupakan hewan yang dianggap suci dalam agama Hindu, sehingga harus dipelihara dan tidak boleh dibunuh. Selain itu, sapi dianggap sebagai jelmaan dari dewa.

Selain melarung, ritual lainnya adalah pembacaan mantra-mantra sambil membakar dupa atau kemenyan, tujuanya adalah memohon keselamatan kepada para Dewa Laut. Mantra juga berfungsi untuk memanggil arwah para leluhur yang telah ikut menjaga keselamatan mereka dalam mencari rejeki di laut. Kesan magis pada asap dupa dan kemenyan bertujuan untuk ketenangan sekaligus permohonan kehadirat Yang Maha Kuasa, agar permohonan mereka lebih cepat sampai ke hadapan Tuhan serta cepat dikabulkan segala permohonan atau permintaannya.

Dalam rangkaian upacara Nadran, ditampilkan juga hiburan Wayang yang merupakan kesenian dari Hinduisme dan animisme, yang dapat diperankan seperti tokoh Mahabarata dan Ramayana. Pertunjukan lain dari wayang yang sangat kental dengan Hinduisme dan animismenya adalah wayang dengan lakon Wudug Basuh, yang menceritkan tentang pencarian Tirta Amerta (air kehidupan) oleh para Dewa, dengan cara mengaduk air laut menggunakan ekor naga Basuki.

Tirta Amerta diperlukan untuk mengurapi para Dewa agar mereka terhindar dari kematian, tapi mereka tidak dapat terhindar dari sakit. Oleh karena itu, masing-masing-masing dewa diberi tempat dikayangan Suralaya. Namun demikian, ada kelanjutannya, air laut yang diaduk oleh para dewa tersebut mengakibatkan mahluk laut terganggu, lalu bermuculan ke daratan sambil membawah wabah penyakit wudug, budug (bisul), penyakit-penyakit lainnya. untuk mengatasi wabah ini para Dewa meminta bantuan pada Sanghiyang Baruna untuk menentramkan mahluk laut supaya tidak mengganggu penghuni daratan. Sangyang Baruna melantunkan jampa mantra di baskom air kembang, lalu air kembang yang telah diberi mantra disiramkan pada layar perahu nelayan (Prawiraredja,2005:164).

Meskipun Nadran bernuansa magis dan animisme, masyarakat primitif pada waktu itu telaah memiliki kesadaran mistik terhadap keberadaan penguasa alam semesta, disertai rasa terima kasih dan bermohon kepada Yang Maha Kuasa suapaya diberi kebaikan dan keselamatan.

Tradisi Nadran Setelah Datang Islam

Tradisi-tradisi Nadran setelah kedatangan Islam tidak lagi dimaknai sebagai sebuah persembahan kepada Sanghyang Jagat Batara (Penguasa Alam Semesta), akan tetapi lebih dimaknai sebagai wujud syukur kepada Allah SWT atas karunia yang diberikan-Nya kepada para nelayan, baik itu karunia kesehatan, kekuatan maupun hasil tangkapan ikan yang berlimpah. Mantra-mantra yang dibacakan dalam prosesi Nadran diganti dengan pembacaan do’a-do’a yang dipimpin oleh seorang ulama. Lauk pauk hasil bumi yang diikutsertakan dalam upacara ini dibagi-bagikan kepada penduduk desa dangan simbolisasi pembagian berkah. (Dasuki,1979:1011).

Pelarungan kepala kerbau ke laut tetap dilakukan, tapi tidak lagi dimaknai sebagai persembahan kepada Dewa Baruna.  Pelarungan ini lebih bersimbol pada membuang kesialan, sekaligus untuk mengingat bahwa laut merupakan sumber kehidupan bagi para nelayan, sehingga perlu dijaga dan dilestarikan.

Nuansa keislaman juga nampak dalam pementasan seni wayang dan tari. Wayang yang dipertunjukan adalah wayang Golek Cepak dan wayang kulit Dakwah (sebelumnya wayang dibuat dari gulungan kain yang bergambar lalu diubah menjadi wayang kulit yang berasal dari kulit kerbau atau lembu ) yang merupakan asli Cirebon yang alur ceritanya diambil dari Babad Cirebon, Babad Walisanga dan Babad Ambiya, yang menggambarkan sejarah Islamisasi di tanah Jawa yang dilakukan para Wali, beserta cerita perjuangan Rasullah SAW dan sahabat-sahabatnya dalam menegakkan syariat Islam.

Pagelaran wayang semalam suntuk dalam tradisi Nadran bukan hanya untuk bergadang, akan tetapi masyarakat mendapatkan penyuluhan dan pembekalan rohani. Pagelaran ini diistilahkan dengan tabarukan, yaitu mencari keberkahan atas syukur yang mendalam, dengan membuang kebiasaan-kebiasaan buruk dan menggantinya dengan nilai-nilai positif (Dahuri,2004:218).

Tradisi Nadran Dewasa Ini

Proses pelaksanaan tradisi Nadran di Desa Playangan Kecamatan Gebang Kabupaten  Cirebon, berdasarkan cerita masyarakat setempat, dari dulu hingga sekarang adalah sama dan hampir tidak ada perubahan berarti kalaupun ada hanya proses kelengkapan hiburan yang kadang disesuaikan dengan tingkat kemampuan para nelayan atau tengkulak, dan berdasarkan fakta dilapangan disetiap tahunnya hampir seluruh warga masyarakat khusunya yang berdekatan dengan Desa Playangan turut memeriahkan tradisi ini.

Mereka mengelar berbagai hiburan tambahan, bahkan para pedagang pun tak ketinggalan dari pintu masuk jalan raya sampai ke pusat kegiatan (biasanya jalan menuju bendungan atau pusat acara nadran Desa Playangan) disesaki berbagai macam pedagang, dan hiburan baik dari penduduk desa maupun dari luar desa.

Pemicu tradisi nadran masih selalu dilakukan selain sebagai upaya pelestarian budaya dan tradisi, masyarakat  percaya dengan mitos-mitos yang bermunculan jika nadran tidak dilakukan, maka hal-hal aneh akan terjadi pada nelayan Desa Playangan itu sendiri.

Dahulu, tradisi Nadran pernah tidak diadakan karena beberapa kendala, serta tidak adanya persiapan yang dilakukan. Dalam waktu yang berselang, beberapa kejadian aneh terjadi, seperti kemunculan buaya putih yang menggemparkan warga, juga tenggelamnya kapal nelayan yang sedang berlayar.

Menurut Dr. Heriyani Agustina, dalam kontek kekinian, Nadran terkadang lebih terlihat sebagai upaya pelestarian tradisi, juga sebagai sarana hiburan bagi masyarakat. Ia kehilangan ruhnya, ini terlihat dari banyaknya masyarakat yang telah mulai meninggalkan pesan-pesan moral para pendahulunya, terutama tokoh-tokoh Islam dan para pendiri Cirebon yang tersirat melalui simbol-simbol tradisi.

Bahkan, ketika menampilkan lakon para sufi atau para wali dalam pagelaran wayang sebagai media pengajaran masyarakat supaya hidup sederhana, dan selalu memperhatikan kaum yang lemah, Nadran kini justru dijadikan sarana untuk berfoya-foya dengan tidak menghiraukan pendekatan kaum yang lemah. Sekarang ada kecenderungan bahwa pesta tradisi Nadran lebih banyak dalam bentuk campur sari dan dangdutan.

Kalau dicermati secara rinci dari sisi ekonomi, tradisi Nadran yang dilaksanakan oleh masyarakat Nalayan Desa Playangan, sebenarnya sangat menguntungkan bagi masyarakat maupun daerah, dikarenakan kegiatan Nadran ini sangat menarik para wisatawan baik domestik maupun mancanegara. Bahkan lewat tradisi ini kadang masyarakat Desa Mertasinga juga diuntungkan dari para wisatawan yang kadang juga turut bertransaksi ekonomi lainnya disamping menikmati hiburan-hiburan yang sedang ditampilkan.

Tradisi Nadran merupakan tradisi tahunan yang dirayakan oleh masyarakat Desa Playangan yang perayaannya memakan waktu berhari-hari, dimana tradisi ini merupakan upacara tradisi kelautan yang dilatarbelakangi semangat penyerapan nilai-nilai Islami.

Tradisi Nadran dimaknai sebagai bentuk rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa yang telah menjadikan laut sebagai tempat mencari nafkah bagi masyarakat pesisir. Tradisi Nadran merupakan tradisi yang sakral, bahkan komersial, karena dalam pelaksanaannya sudah pasti memakan biaya besar hanya demi mempertahankan tradisi. Namun demikian, Nadran apabila tidak dipengaruhi berbagai kepentingan politik dan ekonomi atau campur tangan pihak lain, ia adalah upacara tanpa pamrih duniawi.

Apabila dicermati lebih lanjut, tradisi Nadran memiliki nilai-nilai yang sangat ideal, namun nilai-nilai tersebut belum sepenuhnya diimplikasikan dalam kehidupan dilapangan. Nadran memiliki dimensi yang sangat luas, namun masih sebatas dimensi kultural atau tradisi saja, dan belum menyentuh dimensi kearifan budaya lokal. Tradisinya memiliki kelebihan bila dibandingkan dengan ketentuan-ketentuan hukum positif nasional. Nadran juga berguna dalam memperkaya konsepsi dan tujuan pembangunan nasional berbasis kelautan.

Satu hal yang harus kita ketahui bersama adalah bahwa persoalan yang sekarang dihadapi oleh para nelayan begitu kompleks, maka diperlukan peran semua unsur dan elemen bangsa ini untuk mencari solusi bagi kesejahteraan nelayan dalam rangka meningkatkan taraf hidup masyarakat nelayan. hal yang lebih penting juga bahwa tradisi Nadran dapat dijadikan sebagai nilai etika dan agama (asas-asas akhlak) yang manjadi faktor penentu, agar tradisi Nadran kembali pada kesakralan, sekaligus menjadi landasan spritual bagi terbentuknya kode etik dan konvensi pesisir dan kelautan.