Arus Balik Inovasi

Alumni: Themmy Aditya Nugraha

TAHUN 2010, beberapa senior terkejut. Kepada mereka, saya menunjukkan Surat Keputusan Rektor Universitas Sam Ratulangi Manado, tentang Kepengurusan di Lembaga Pers Mahasiswa INOVASI. Bagaimana tidak kaget, sekitar 4 atau 5 tahun, organisasi ini tidak mendapat legitimasi dari pihak rektorat. Mereka beraktifitas namun dianggap tidak ada. 

 

Permasalahan itu, sebelum tahun 2010, dipicu dinamika politik di dalam kampus. Pimpinan Universitas, melalui Pembantu Rektor bidang kemahasiswaan, mengeluarkan Petunjuk Teknis (Juknis) tentang organisasi kemahasiswaan intra kampus.

 

Pengurus INOVASI menyatakan penolakan di forum-forum resmi, maupun dalam diskusi non-formal. Mereka, yang saat itu didominasi aktivis ekstra kampus, beranggapan, Juknis adalah kelanjutan kebijakan NKK/BKK yang digunakan rezim Orde Baru untuk membungkam daya kritis mahasiswa.

 

Saat itu, berkembang wacana perampingan unit-unit kegiatan mahasiswa. Perampingan yang dimaksud, misalnya, UKM Catur, UKM Wushu, UKM Taekwondo, disatukan ke dalam UKM Olahraga. INOVASI, Fodim, Debat Bahasa Inggris, masuk dalam UKM Penalaran.

 

Juknis, lantas dinilai bukan hanya memberangus organisasi kemahasiswaan tapi juga kebebasan berekspresi mahasiswa.

 

Akibatnya, pimpinan Universitas didesak mendukung program Student Government. Itu berarti, hubungan antara pimpinan mahasiswa dengan pimpinan Universitas, harus bersifat koordinasi. Bukan komando, seperti yang mereka maknai dalam Juknis. Mahasiswa ingin mengatur dirinya sendiri.

 

Selisih pendapat tak bisa dihindari. Beberapa kali, sekretariat INOVASI digembok secara paksa. Walau akhirnya, dibuka kembali oleh pengurus. Puncak perselisihan itu adalah tidak diakuinya kepengurusan INOVASI oleh Pimpinan Universitas. Malahan, dengan kontrol kekuasaan yang dimiliki, Pembantu Rektor bidang Kemahasiswaan, menunjuk sejumlah nama sebagai pengurus INOVASI yang sah.

 

Keputusan itu ditolak. Alumnus INOVASI dari berbagai penjuru turun gunung. Setiap orang yang tidak pernah bersinggungan dengan organisasi dilarang memasuki sekretariat. Bisa dikatakan, dalam beberapa saat, INOVASI berstatus siaga satu.

 

Dampak lain dari penolakan Juknis adalah terpecahnya pendapat di tingkatan elit mahasiswa. Mereka nyaris tidak bisa membedakan teman dengan lawan. Kelompok pendukung rektorat dituding berhasil dibujuk dengan berbagai fasilitas dan kesempatan berkeliling Indonesia.

 

“Beberapa dari kami tetap berjuang, menjaga idealisme dengan bertarung melawan pimpinan Universitas, apapun resikonya. Namun, secara keseluruhan, aktivis mahasiswa menjadi lemah dan menjadi anak baik-baik[i],” tulis Nono Sumampouw, dalam Catatan Tentang Rumah Kami.

 

Bagi INOVASI, perselisihan dengan pimpinan Universitas berarti membuat penerbitan secara mandiri, tanpa berharap subsidi Universitas. Akibatnya, dalam sebuah terbitan, pengurus sempat mencantumkan Tuhan Yang Maha Esa, sebagai pelindungnya.

 

Dengan sistem underground, mereka banyak menyuarakan ide-ide kebebasan berekspresi. Di samping, menyerukan, tentu saja, “Pencabutan Juknis!”

 

DI PERPUSTAKAAN Depdikbud Sulawesi Utara, di kota Manado, beberapa mahasiswa tekun mengutak-atik buku teks. Mereka datang dari berbagai disiplin ilmu dan tidak saling kenal. Seringnya frekuensi bertemu, entah bagaimana ceritanya, mendorong mereka membentuk sebuah kelompok studi bernama Mesikolah, yang artinya kira-kira: Ayo Sekolah!

 

Mereka adalah Peter Tappi, Harry Marentek, Ronny Inkiriwang, Kardin Tiah, dan Selvy Sambuaga – sekumpulan mahasiswa dekade 1980an.

 

Dalam kurun 7 bulan, macam-macam mereka buat: komunikasi dengan Kelompok Netral Diskusi Muda (Kondida) di Jakarta, kontak dengan Bakom PKB[ii] pusat dan daerah, hingga menggarap the right man on the right place.

 

Setelah berpuas diri dengan aktifitas diskusi, mereka coba menggagas penerbitan kampus. Namanya, seperti yang sudah disepakati, adalah INOVASI.

 

27 Februari 1985, edisi perdana majalah INOVASI terbit. Tanggal itu sekaligus diperingati sebagai hari lahir organisasi ini. Drs. Ishak Pulukadang, koordinator KKN Unsrat, kemudian menjadi pemimpin redaksinya.

 

Edisi awal majalah ini berisi informasi kegiatan yang sudah dan akan diselenggarakan Universitas. Ada berita soal kunjungan Meneteri ke kampus, kegiatan KKN serta seminar-seminar di berbagai fakultas. Di masa awal kemunculannya, penerbitan ini jadi semacam media humas Universitas.

 

Di masa itu, INOVASI juga berada di puncak kemapanan materiil. Subsidi terbitan turun tiap bulan dengan beragam cara: langsung dari Universitas, ataupun dari pemasangan iklan-iklan rokok di halaman belakang majalah.

 

Pada catatan redaksi edisi Maret 1985, mereka menuliskan rangkaian kalimat yang mirip manifesto. “Sebuah lakon kini telah dimulai, yang nanti akan menjadi sebuah sejarah. Sejarah pers mahasiswa Universitas Sam Ratulangi. Tak dapat dikatakan baru, memang. Tapi kini, tengah berlangsung sutradara dalam dunia pers mahasiswa Unsrat[iii].”

 

Harus disadari, seheroik apapun pernyataan sikap redaksi kala itu, INOVASI berada dalam asuhan Badan Koordinasi Kemahasiswaan-Unit Kegiatan Pers. Di masa pemerintahan Soeharto, seluruh organisasi kemahasiswaan harus berada langsung dalam ‘asuhan’ pimpinan Universitas.

 

Orde baru sudah kapok dengan keterlibatan politik mahasiswa. Demonstrasi menolak modal asing yang berbuntut Malapetaka Lima Belas Januari (Malari) cukup menampar wajah pemerintah Soeharto. Belum lagi, menjelang pemilu 1977, mahasiswa menggelar demonstrasi menolak pencalonan diri Soeharto sebagai presiden dan mendesaknya untuk mundur dari jabatan.

 

Setahun kemudian, pada 1978, membalas ‘kekurangan-ajaran’ mahasiswa, pemerintah memberlakukan Normalisasi Kehidupan Kampus/ Badan Koordinasi Kemahasiswaan (NKK/BKK). Lewat kebijakan tersebut, pemerintah nampak berhasil meredam keterlibatan politik mahasiswa. Kaum terpelajar, harus kembali ke dalam kampus dan mengurusi perkuliahannya.

 

Praktis, dalam kurun 1985 hingga akhir 1980an, INOVASI tidak bisa berbuat banyak selain mengikuti kebijakan tersebut. Akibatnya, pemberitaan yang disajikan cenderung datar dan miskin eksperimentasi, baik ide maupun gaya tulis.

 

Memasuki awal 1990an, INOVASI berbenah. Struktur organisasi dirombak. Box redaksi seluruhnya mulai diisi mahasiswa. Majalah ini, kemudian, mendeklarasikan dirinya sebagai pers mahasiswa.

 

Hal yang terlihat dari perubahan status tersebut adalah penyajian topik liputan. Isunya mulai beragam. “Masalah Lingkungan di Sulawesi Utara[iv]”, “Hari Ibu dalam Sisi Emansipasi[v]”, “SDSB tidak bersalah[vi]”, “Tata Niaga Cengkih dalam Gugatan[vii]” hingga “Teluk Manado Milik Siapa?[viii]

 

Paska reformasi hingga awal 2000an, analisis redaksi INOVASI semakin tajam dan kritis. Ada Rezim Datang, Rezim Pergi, yang bercerita pergantian kekuasaan dari Soeharto pada Habibie. Serta topik otonomi daerah.

 

Di dekade ini, INOVASI mulai mengalami pencabutan subsidi. Namun, memiliki lebih banyak kebebasan berekspresi. Penerbitan tidak melulu dalam format majalah. Ada juga edisi fotocopy sebagai penerbitan bawah tanah. Tujuannya, menyampaikan ide-ide untuk menggulingkan kekuasaan fasis Soeharto.

 

Tak begitu mengejutkan, jika menjelang kejatuhan Soeharto, sekretariat INOVASI juga menjadi tempat rapat untuk mempersiapkan demonstrasi besar-besaran di Sulawesi Utara.

 

Saya kira, jika di awal kelahirannya, INOVASI mencapai puncak kemapanan materiil, maka di awal 1990an hingga awal 2000an, penerbitan ini mencapai puncak intelektual.

 

SAYA tentu saja gembira dengan SK Rektor tadi. Ada dua hal yang saya bayangkan dari situ. Pertama, INOVASI tidak berada di bawah UKM Penalaran, dan tentunya menjadi cara kecil menolak Juknis. Kedua, kerja-kerja pengurus akan dimudahkan dengan subsidi Universitas.

 

Beberapa saat kemudian, saya menghubungi rekan-rekan lain untuk menyusun program kerja pengurus INOVASI. Dalam setahun, kami berharap bisa memproduksi setidaknya 2 atau 3 cetak terbitan, dalam bentuk apapun.

 

Selain itu, ada pengurus yang bertugas mendisain ulang logo, menginventarisir perbendaharaan, dan merancang anggaran organisasi untuk setahun kedepan.

 

Awalnya, segala sesuatu berjalan sebagai mana mestinya. Tapi kemudian, muncul persoalan utama: bagaimana manajemen keredaksian nantinya?

 

Memang, sebelum dan setelah memperoleh SK Rektor, beberapa senior dan alumnus sempat memberi pembekalan, serta berbagi pengalaman terkait manajemen keredaksian INOVASI. Namun, saya kira itu belum cukup.

 

Soalnya, keterampilan jurnalistik tidak mungkin bisa didapat hanya dengan mendengar kisah-kisah romantik para pendahulu. Karena, kemampuan mengemas sebuah laporan menjadi penting dan enak dibaca, butuh metode yang tepat dan eksperimentasi secara berulang-ulang. Macam aktifitas manusia zaman beruburu-meramu, keterampilan menulis harus melewati tahap trial and error.

 

Kami, pengurus saat itu, sadar, ada jenjang intelektual yang terputus.

 

Kebingungan kami, lalu membuahkan hasil: satu per satu pengurus mundur. Bukan hal mengejutkan. Dalam stagnasi, ada dua hal yang paling bisa dilakukan: memperbaiki atau mencari suasana baru. Banyak yang memilih opsi terakhir.

 

Otomatis, tersisa saya dan beberapa kawan dekat. Barangkali, selain berusaha memperbaiki suasana, alasan kami bertahan adalah enggan disebut pecundang.

 

Seingat saya, nyaris satu semester tidak ada perubahan – selain jumlah anggota yang tinggal beberapa orang saja. Di saat bersamaan, kendala penerbitan belum kunjung terpecahkan.

 

Demi mengisi waktu, aktifitas yang paling banyak dilakukan hanyalah ngopi dan main catur. Sementara, untuk menunjukkan eksistensi INOVASI, kegiatan yang dibuat adalah diskusi film dengan mengundang orgnaisasi intra maupun ekstra Universitas, serta melibatkan diri pada aksi-aksi demonstrasi baik di dalam maupun di luar kampus.

 

Saya sadar, hal-hal itu masih jauh dari harapan. Terlalu banyak omong, tidak lantas membuat saya pantas disebut aktivis pers mahasiswa. Karena, tanpa produk jurnalistik, orasi aktivis pers mahasiswa tidak lebih dari omong kosong.

 

Dalam segala hal yang saya perbuat, satu hal yang pasti: INOVASI belum kemana-mana.

 

[i] https://inovasionline.wordpress.com/opini/catatan-tentang-rumah-kami/

[ii] Sebuah lembaga semi pemerintah

[iii] Majalah INOVASI No 2, Tahun I, Maret 1985

[iv] INOVASI No. 53 Juli-Agustus 1990

[v] INOVASI No. 57 Desember 1990

[vi] INOVASI No. 61 November Tahun 1991

[vii] INOVASI No. 79 Tahun X, 1995

[viii] INOVASI No. 82 Tahun XII, 1997-1998

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *