Generasi Z: Kami Bukan “Generasi Micin”

Penulis: Indri Karundeng

                                                                                                           (Sumber: Stores.org)

 

Generasi Z adalah istilah yang ditujukan kepada jenis manusia yang lahir pada tahun 1995 hingga 2014. Istilah ini memang masih terdengar asing bagi sebagian orang, namun cukup menggemparkan dan membuat generasi sebelumnya, Generasi Y atau Generasi Milenial, cenat-cenut.

Generasi Z dikenal dengan sebutan iGeneration atau generasi internet. Bukan cuma ayah dan bunda, jenis ini juga dibesarkan oleh makhluk tak berkelamin bernama teknologi. Sejak kecil mereka akrab dengan gadget dan sosial media. Tidak jauh  dengan Generasi Y, yang lahir pada rentang tahun 1981 sampai dengan 2000. Hanya saja Generasi Z cenderung menggantungkan hampir seluruh aktivitasnya kepada teknologi yang secara tidak langsung mempengaruhi gaya hidup mereka.

Jika Generasi Z pertama adalah mereka yang lahir pada 1995, maka yang paling tua dari Generasi Z Indonesia sudah berumur 22 tahun: sudah dikategorikan sebagai manusia dewasa, paling tidak sekarang mereka sudah berkuliah atau sudah punya pekerjaan. Mereka juga sebenarnya adalah produk Generasi Y, di mana mereka masih sempat merasakan masa kecil tanpa WiFi dan indahnya dunia tanpa Instagram, Facebook, dan Online Games. Namun, dewasa ini mereka diperhadapkan dengan situasi yang lumayan berbeda. Tidak sulit bagi mereka untuk menyesuaikan, karena sebelumnya mereka sendiri pun juga sudah disentuh oleh teknologi wireless.

Generasi Z yang berstatus sebagai mahasiswa,  cenderung lebih terbuka, komunikatif, dan multitasking. Mereka juga dikenal kritis dalam menanggapi isu-isu kekinian. Mereka senang mencari tahu segala informasi berdasarkan fakta. Di tengah kontroversi berita hoax, mahasiswa golongan Z tidak begitu saja menerimanya, melainkan mereka mencari terlebih dahulu kebenarannya kemudian mereka berkesimpulan. Budaya tulis-menulis masih berlaku di zaman ini, mereka tidak akan sungkan menulis  dan menceritakan ide-ide mereka untuk dijadikan sebuah karya yang berfaedah. Bagi Gen Z, produktifitas adalah harga mati.

 

Momok Penyematan “Micin” Kepada Generasi Z

Belakangan ini, ilstilah “Micin” sering disebutkan di hampir setiap perbincangan, baik langsung maupun di sosial media. “Micin” sendiri ditujukan kepada perilaku kids zaman now yang suka melazimkan sesuatu yang tidak dilazimkan sebelumnya. Generasi ini dipandang sebagai manusia yang hedon, instan, dan sering melakukan tindakan yang tidak berfaedah, khususnya di media sosial. Sebuah kebanggan bagi mereka jika wajah dan nama mereka terpampang dimana-mana. Lantas, mengapa “Micin” menjadi istilah untuk menggambarkan kids zaman now  hingga berimbas ke Generasi Z?

Micin atau MSG (Monosodium glutamat) adalah bahan yang digunakan sebagai bumbu penyedap makanan. Anggapan bahwa micin adalah sesuatu yang membahayakan konsumernya, masih melekat di masyarakat luas. Namun, berdasarkan penelitian Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat  mengategorikan MSG sebagai GRAS (Generally Recognised As Safe) atau umumnya diakui aman. Penelitian lebih lanjut mengenai MSG tentu akan selalu bermunculan untuk benar-benar memastikan keamanannya. Hingga saat itu tiba, jika kita belum mengenal Generasi Z dengan baik, mungkin ada baiknya kita memuaskan diri untuk menggunakan kata “Micin” sebagai penggambaran Generasi Z.

Tidak sedikit Generasi Z menolak, bahkan kesal digeneralisasikan sebagai Generasi Micin. Walaupun mereka dibesarkan dan dimanjakan oleh teknologi wireless, tak lantas membuat mereka menjadi malas untuk berkreasi. Justru kemudahan akses inilah yang mereka manfaatkan sebagai kebutuhan utama untuk mengekspresikan karya mereka dengan mudah. Bukti hasil kreatifitas Generasi (Bukan) Micin dapat dilihat di mana saja, dalam bentuk apa saja, baik karya  tulisan, video, fotografi, dll. Maka wajar saja generasi ini menolak disebut Generasi Micin.

 

Masa Depan di Tangan Generasi Z

Sebagai generasi yang terlahir di era digital, mau tidak mau mereka akan tetap bersentuhan dengan teknologi, yang mana mereka secara tidak langsung dituntut untuk menggunakan teknologi dalam kesehariannya untuk memenuhi hasrat dan kebutuhannya sebagai seorang Gen Z itu sendiri. Yang dibutuhkan adalah kemampuan untuk menghasilkan sesuatu yang dibutuhkan, diinginkan, dan dicari oleh banyak orang. Kerena dalam sepuluh atau dua puluh tahun lagi, bumi akan dipenuhi dengan manusia Gen Z yang membuat persaingan semakin ketat.

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *