Mencari Keuntungan: Menguntungkan atau Merugikan?

Penulis: Jovany Joudi Joseph

(Sumber: Dokumenter Gorontalo Baik)

 

“Hidup ini bagai hukum permintaan dan penawaran, memiliki kontra dan hubungan yang akan mempengaruhi kedua aspek, apakah itu akan bertambah atau berkurang? Ketika semangat dan motivasi kita naik, maka otomatis pekerjaan kita akan turut berkembang, dan berlaku juga sebaliknya. Namun, bila ada aspek yang merugikan justru bertambah, maka ia akan menggerus kerja kita, dan akan berdampak berlawanan. Seperti itulah kira-kira yang dialami bila kita mempelajari ekonomi. Ada hukumnya” demikian kata-kata dari seorang dosen Ilmu Ekonomi yang tengah memberikan kuliah. Pernyataannya di atas menjadi doktrin bagi para mahasiswanya untuk mencari keuntungan sebanyak-banyaknya. Dalam konsep ekonomi, kerugian adalah kutukan yang mesti dihindari.

Pertanyaannya, apakah keuntungan itu benar-benar menguntungkan kehidupan? Apakah moral kita juga diuntungkan dengan doktrin mengejar keuntungan tersebut?

Hari itu tidak ada yang berbeda di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sam Ratulangi. Mahasiswa berkeliaran ke sana kemari. Hampir setiap jam kelas-kelas berganti mata kuliah, dosen lalu lalang dengan raut diam tanpa ekspresi. Kegiatan ormawa di tempat itu berjalan seperti biasa. Jadwal kuliah padat seperti biasa. Di sana, sekumpulan manusia terstruktur sedang  belajar tentang “keuntungan”.

“Apa yang kalian pelajari di mata kuliah ini?” tanya seorang dosen Ilmu Ekonomi kepada mahasiswanya. Lalu, serentak mereka menjawab “Mencari keuntungan!” Namun, bagaimana bila kalian dihadapkan dengan kerugian?” tanya sang dosen. Semua mahasiswa diam sesaat.

 “Kalian bangkit, dan kejar lagi keuntungan. Lupakan kerugian. Bila kalian ingin berhasil dan bahagia, tidak boleh ada yang namanya kerugian!” tegas sang dosen.

Dosen itu lalu menegur seorang mahasiswa yang telah selesai mengikuti mata kuliah Ilmu ekonomi, juga untuk menanyakan, apa yang telah Ia pelajari. Aldi Affandy, seorang mahasiswa semester-1 jurusan manajemen di Fekon.

“Saya mempelajari tentang defenisi keuntungan, dampak keuntungan, dan rumus-rumus untuk mencapai keuntungan” jawabnya dengan penuh percaya diri. Sebuah jawaban yang menegaskan doktrin keuntungan yang seolah menjanjikan sesuatu yang sangat “menguntungkan” dalam kehidupan, sehingga mesti dikejar dengan berbagai macam cara.

Namun, pertanyaan lain kembali muncul, apa bukti yang kuat bahwa keuntungan itu benar-benar menguntungkan?

KENYATAAN ZAMAN INI

“Seorang pejabat pemerintahan ditangkap KPK dalam operasi tangkap tangan tadi malam. Pelaku terbukti menggelapkan uang proyek pemerintah untuk kepentingan pribadinya’’ ucap seorang pembaca berita melalui sebuah siaran televisi nasional dengan raut serius. Namun, berita itu tak lagi begitu dihiraukan sebagian penonton berita. Berita seperti itu sudah tidak menarik untuk disimak. Sudah biasa.

Menengok kembali beberapa kasus korupsi besar-besaran yang terjadi di Indonesia: Hambalang, E-KTP, Dana hibah, dan serentetan kasus korupsi lainnya. Sudah basi. Seolah yang dicari para koruptur hanya melulu soal keuntungan. Seakan belum cukup gaji yang diterima, mereka malah mengejar keuntungan lain yang bukan menjadi hak mereka. “Toh, namanya juga keuntungan. Selagi ada kesempatan, ya, dikejar” ujar Fernanda Barijha, Mahasiswa jurusan manajemen, Fakultas Ekonomi dan Bisnis.

Tapi, apakah moral kita juga diuntungkan? Apakah perbuatan para pejabat yang mengejar keuntungan sampai ke balik jeruji besi, menerima keuntungan bagi kehidupannya? Apabila, para pajabat itu juga merupakan jebolan Fakultas Ekonomi, bergelar Sarjana Ekonomi, apakah ekonomi yang mereka pelajari telah benar-benar menjadikan mereka penggila keuntungan? Apakah benar manusia harus selalu mengejar keuntungan?

Kata Mereka, Secukupnya Saja

“Yang penting, secukupnya saja” ujar tante Oco, seorang penjual milu siram di kelurahan Biawu, Kota Selatan, Gorontalo. “Yah, penting berkah di usia saya yang sudah tua” begitu kata Oma Rabi, peramu obat tradisional di Desa Patungo, Telaga Biru, Gorontalo. Begitulah kutipan dari film dokumenter Gorontalo Baik karya Dandhy Dwi Laksono yang belum lama ini dirilis di YouTube.

Tante Oco dan Oma Rabi tidak menyandang gelar Serjana Ekonomi. Bukan pula pengikut doktrin “keuntungan” dalam menjalankan usaha mereka. “Yang penting, secukupnya” Itu adalah prinsip mereka. Warung sederhana di kelurahan Biawu itu sangat terkenal akan kenikmatan milu siram racikan Tante Oco. Warung yang hanya buka dari pukul 10.00- 13.00 WITA itu selalu ramai dikunjungi, bahkan tak pernah sepi dari para pelanggan setianya. Tante Oco, penjual dan pemilik usaha itu telah dikenal luas dan memiliki banyak pelanggan tetap. Diakuinya bahwa penghasilan yang diperoleh sudah cukup. Lalu, ketika ditanya, kenapa tak menambah jam buka, atau berinvestasi dengan membuka cabang di tempat lain? Ia menjawab, “Yang penting, secukupnya saja”.

Tante Oco mengaku tak ingin susah payah mengejar keuntungan sebesar-besarnya. Yang penting sudah cukup memenuhi target hari itu. Ketika dagangannya habis, Ia akan menutup warung kecil itu, lalu kembali mempersiapkan dagangan untuk esok hari.

Sama halnya dengana oma Rabi. Seorang peramu obat tradisional yang telah dikenal luas sampai keluar daerah karena ramuannya yang manjur. Namun, dengan ketulusan hatinya, setiap pasien yang datang dengan berbagai keluhan penyakit kronis, bahkan ada yang hampir mati akibat gagal ginjal, diberikan ramuan secara cuma-cuma tanpa bayaran sepeser pun. Para pasien yang telah merasakan ramuannya mengaku langsung sembuh tanpa perlu penanganan medis. Ketika ditanya, kenapa tak ingin meminta imbalan sedikit pun, Ia menjawab “Saya tidak ingin dikomersialkan. Tidak pernah kepikiran jauh-jauh ingin dikenal orang. Pokoknya, yang penting masyarakat sekitar sehat-sehat, kalau saya kan tinggal nunggu nomor antrian” ucapnya diiringi tawa kecil. “Saya tidak pernah kepikiran untuk berjualan. Memang tidak dijual. Saya hanya ingin sisa hidup saya menjadi berkah“ tutupnya.

Setelah menyimak cerita kedua tokoh di atas, manakah defenisi keuntungan yang sejati ? Manakah yang benar-benar menguntungkan kehidupan? Apakah kerugian adalah kutukan? Apakah kita sudah menjalani kehidupan dengan sebaik-baiknya?

Entah kenapa, mereka yang berujar “yang penting secukupnya saja,” adalah yang masih bisa tersenyum sampai hari ini. Mereka yang berpendidikan dan berpangkat, kini justru duduk di balik jeruji besi, menyaksikan mereka yang berujar “yang penting secukupnya saja” yang seolah-olah mengejek dari kejauhan, sambil berlalu dan tersenyum. Ironis.

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *