Merah Bercerita tentang Bunga dan Tembok

Penulis: Rio Syahruddin Fabanyo

                                       (Sumber Ilustrasi: Soundcloud.com)

 

Sudah tahukah Kamu dengan band indie yang satu ini?

Merah Bercerita adalah kelompok musik asal Solo yang beraliran sound of freedom.  Pertama kali dibentuk oleh sekawanan siswa SMK 8 Surakarta yang ingin berpartisipasi pada sebuah event bulanan yang diselenggarakan sekolah mereka. Sebelumnya, band ini bernama Milagros.

Entah karena merasa aneh dengan nama tersebut, mereka memutuskan untuk merubah nama menjadi Merah Bercerita. Kata “Merah” diambil dari nama Vokalis mereka, Fajar Merah. Sedangkan maksud kata “Bercerita” adalah karena keinginan mereka menjadi pencerita lewat lirik-lirik lagunya.

Band ini digawangi oleh Fajar Merah (vocal/gitar), Gandhiasta Andarajati (gitar), Yanuar Arifin (bas), dan Lintang Bumi (drum). Mereka meluncurkan album perdana yang serupa nama band mereka: Merah Bercerita. Singel terbarunya berjudul Derita Sudah Naik Seleher. Hingga saat ini, Merah Bercerita telah memiliki sebelas lagu. Satu di antara lagu mereka berjudul Bunga dan Tembok, liriknya diadopsi dari puisi Wiji Thukul, Ayah dari Fajar Merah.

 Bagi Fajar Merah, puisi masih kata-kata mati ketika tidak ada yang membicarakan. “Kami ingin meghidupkan tulisan itu agar menjadi hidup melalui musik. Kami akan mengantar kalimat itu menuju keabadian” kata Fajar Merah, dikutip dari metrotvnews.com.

Fajar Merah tidak ingin kalau puisi yang ditulis bapaknya itu mati. Puisi masih kata-kata mati ketika tidak ada yang membacakannya.

 

Tentang Bunga dan Tembok

Melalui puisi-puisinya, Ia menerbar konfrontasi. Puisi ini mengibaratkan rakyat kecil sebagai bunga, mereka tumbuh, tapi tak diharapkan oleh pemilik rumahnya. Rakyat kecil diibaratkan seperti bunga yang dicabut dan disingkirkan dari tanahnya sendiri. Lalu, sang penguasa sebagai tembok, menggusur bunga-bunga dari tanahnya sendiri.

Namun, di akhir sajaknya, Thukul memberikan semangat untuk pembaca, bahwa si bunga yang tercabut dari akarnya itu akan tetap menebarkan benihnya. Benih semangat yang akan bergelora kelak di masa depan, merongrong kengakuhan tembok penguasa.

Puisi Thukul menggambarkan kebobrokan pemerintah masa itu. Kezaliman orang-orang yang memiliki tahta tinggi di pemerintahan, melakukan segala macam cara untuk membungkam suara-suara yang melawan. Suara-suara yang meminta keadilan. Sebuah rezim yang membawa penderitaan fisik, dan menyisakan luka batin. Wiji Thukul lebih senang “melagukan” puisi dengan tema-tema kebangsaan yang membangkitkan jiwa. Salah satu cita-citanya yang selalu ia pegang adalah memberikan keadilan bagi semua kalangan rakyat, dan menentang segala bentuk penindasan dan pelanggaran kaum elit negeri ini.

Perjuangannya melawan ketidakadilan lewat puisi tidak berjalan mulus. Sudah tidak terhitung lagi aksinya yang ditentang aparat, hingga sekolompok orang yang merasa terusik dengan bisikan-bisikan pedas ala Wiji Thukul.

Namun, titik akhir hidup sang maestro ternyata malah menjadi misteri yang memilukan. Seperti kisah di akhir puisinya, Ia dikabarkan hilang pada prahara Mei 1998. Hingga kini, tak ada yang tahu di mana rimbanya. Ia menjadi korban penghilangan paksa, bersama dua belas aktivis 1998 yang lain. Tahun ini, terhitung sudah mereka hilang selama 19 tahun.

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *