Diary Terbuka Seorang Peserta KKT

Penulis: Indeng

Saya kira tugas kami sudah selesai. Membuat laporan saya pikir tidaklah sulit, lagi pula ada tim pelaporan yang mengerjakannya. Tapi, tiba-tiba di tengah rutinitas perkuliahan, terdengar bunyi chat masuk khas whatsapp group.“Guys. Kita disuruh buat tulisan pribadi berupa kesan dan pesan selama KKT, nantinya akan dimasukan juga dalam laporan. Wajib kata Ibu Pengawas,” demikian isi chat dari korpos kami.

Saya bukan tipe orang yang gemar menulis tulisan jenis “kesan dan pesan”, entah kenapa bagi saya itu kurang penting dan membuat bingung, saya kira lebih baik hal seperti itu dilakukan secara lisan langsung pada siapa yang dituju. Tapi ya sudah, demi kenyamanan pribadi maka saya ganti “kesan dan pesan” menjadi “diary terbuka”. Mudah-mudahan Ibu Pengawas dan Bapak Pembimbing Lapangan tidak memotong gaji saya selama 23 hari ber-Kuliah Kerja Terpadu karena kejujuran ini.

Lumayan. Usaha yang dilakukan kampus saya dengan memangkas hari pelaksanaan KKT dari 3 bulan menjadi 23 hari saja adalah sesuatu yang membuat kedua jempol tangan saya joget. Setidaknya kampus ini menghindarkan kami sebagai peserta KKT dari skandal-skandal “syur” antara mahasiswa dan pemuda desa atau mahasiswa dengan mahasiswa atau dosen dengan mahasiswa. Eh!

“Demi kampus ini saya rela pakai rok”

Embel-embel saya ketika mengomentari postingan panitia KKT di grup Facebook tentang peraturan mengikuti pembekalan KKT, cukup membuat saya bangga sekaligus geli sendiri. Bangga karena komentar saya itu dijadikan materi Revolusi Mental pada saat pembekalan yang dibawakan oleh seorang dosen, bagian gelinya saya ditepuktangani oleh ribuan tangan juga dipuji ribuan mulut, padahal saya tidak pakai rok waktu pembekalan. Tapi intinya begini, saya akan mematuhi peraturan asalkan peraturan itu ada landasannya. Mengapa dan untuk apa sebuah peraturan dibuat.

Saya agak terkejut ketika kami para peserta KKT diberi peraturan oleh panitia pelaksana yang menurut saya tidak masuk akal. Yang pertama, larangan berambut gondrong bagi para mahasiswa. Saya memang agak menaruh perhatian terhadap cowok gondrong, tapi bukan itu alasan mengapa saya menyayangkan peraturan ini diberlakukan. Saya bingung, landasannya apa? Apa mungkin karena stigma jelek yang dibawa cowok gondrong? Jorok? Nakal? Bajingan? Tidak patut dijadikan contoh oleh masyarakat desa? Katakanlah demikian, tapi apa itu benar? Kaum intelektual tahu jawabannya. Saya banyak berteman dan mengenal banyak mahasiswa berambut gondrong dan hingga saat ini saya masih sehat dan berbahagia.

Yang kedua soal rok. Larangan menggunakan celana dan kewajiban menggunakan rok di bawah lutut bagi para mahasiswi pada saat pembekalan. Saya bingung sendiri ketika mendengar peraturan semacam ini. Kata seorang panitia, “Jadi, untuk semua mahasiswi selain celana kalian dilarang juga mengenakan atasan yang transparan dan ketat, supaya terlihat sopan dan kalian juga nyaman,” tambah bingung saya. Lah, kalau tujuannya supaya terlihat sopan dan nyaman, buat apa pakai rok? Bukankah celana membuat para mahasiswi terlihat lebih sopan dan nyaman? Jadi, siapa sebenarnya yang membuat betis dan “pala-pala” (paha) para mahasiswi menjadi tontonan gratis? Untunglah waktu itu saya pakai celana tapi sambil membaca doa biar tidak dirazia dan disuruh pulang oleh panitia.

Namanya, kan #RevolusiMental, kok ukurannya gaya rambut dan rok.

Aksi kick-kickan

Kegelisahan kami semakin menjadi-jadi oleh karena menunggu sesuatu yang sangat dinanti-nantikan, pengumuman nama-nama anggota posko. Sampai pada H-3 sebelum pelepasan, saya tidak tahu dengan siapa yang nanti akan menjadi kawan seperjuangan saya.

Apakah panitia mengkhianati sebuah perjanjian? Ya. Tepat setelah selesai pembekalan, panitia berjanji untuk langsung mengumumkan nama-nama anggota posko beserta desa yang nanti akan kita tempati.

Protes kecil sampai protes besar mulai berdatangan di grup Facebook. Teman se-fakultas saya sampai di-kick dari grup karena postingannya dianggap kepanjangan, berlebihan, atau jangan-jangan dianggap menyesatkan. Tapi menurut saya, mahasiswa fakultas sastra berotak pas-pasan ini, menilai postingan itu adalah baik dan sopan. Tidak ada makian atau sesuatu yang dapat mengombang-ambingkan jagat raya di situ. Yang ada hanya sedikit protes atas keterlambatan pengumuman anggota kelompok KKT, diikuti dengan protes mengapa tidak ada konfirmasi dari pihak penyelenggara atas keterlambatan itu. Mahasiswa seakan sengaja dibiarkan bertanya-tanya padahal waktu untuk mempersiapkan segala sesuatu tinggal menghitung menit saja. Yang dilakukan pihak panitia hanya meng-kick mahasiswa yang dinilai berlebihan. Alhasil saya pun ikut dikeluarkan dari grup tersebut, karena saya memposting kembali tulisan teman saya sebelumnya. Apa kita tidak jadi ber-KKT?

Akhirnya, Selamat datang di desa Makalu Selatan, Kecamatan Pusomaen, Minahasa Tenggara

Sebagai seorang darah Minahasa saya malu terhadap diri saya sendiri. Nama desa itu asing sekali di telinga saya, barangkali baru kali ini saya dengar. Makalu Selatan membuktikan pengetahuan saya sangatlah kecil, bahkan lebih kecil dari kecil itu sendiri.

Di desa ini kami dilayani dengan sebaik-baiknya pelayanan. Kami diberi tempat tinggal dengan air bersih yang terus mengalir. Kami juga diberi makan oleh warga, mulai sarapan, makan siang, hingga makan malam. Saya sempat berpuasa sehari untuk menghindari obesitas dan segala penyakit penyebab “kelebihan”. Tapi setelah saya pikir-pikir, Tuhan tidak akan pernah membiarkan saya mati konyol karena menghargai berkat pemberian orang lain, tapi tak lantas membuat saya lupa berhikmat dan menjadi rakus. Mulai saat itu, saya mensyukuri 4 kg ketambahan di badan ini yang sebentar lagi akan habis setelah balik ke kost.

Kebaikan warga desa menambah beban pikiran saya pribadi. Saya bingung, bakti seperti apa yang akan membalas segala kebaikan mereka? Saya rasa program-program tematik maupun non-tematik tidaklah cukup membayar semua itu.

Tidak ada jaringan, belajar memaknai “KKT”

Kawan sejawat telah lebih dulu memberi tahu, di desa ini tidak ada layanan jaringan akses internet untuk pengguna Tri, jadi saya tidak kaget ketika melihat “Emergency Calls Only” memenuhi baris teratas isi ponsel saya. Sudah saatnya saya melepas sejenak aktivitas media sosial dan memanfaatkan waktu untuk lebih dekat dengan teman-teman seposko dan bersosialisasi dengan masyarakat, pikir saya ini baru #revolusimental.

(Foto: Indeng)

Meskipun begitu, saya mengantisipasi kegabutan dengan mengajak sebuah buku, kumpulan tulisan karya Emha Ainun Najib. Kebetulan sekali. Beberapa tulisannya mengangkat mahasiswa KKN sebagai topiknya. Tulisan pendek yang ia beri judul “Egosentrisme” cukup membuat saya sibuk mikir keras di tengah-tengah padatnya rutinitas kegiatan posko.

“Mereka (baca: kampus) membawa sejumlah ide ‘tempelan’ tentang formula-formula superfisial dari yang disebut kemajuan yang sesungguhnya tidak sungguh-sungguh dibutuhkan oleh rakyat desa. Semacam kembang plastik yang sudah belum tentu bisa ditanam di tanah.” Demikian penggalan isi tulisan tersebut.

Fakta lapangan membenarkan “kembang plastik yang belum tentu bisa ditanam di tanah” itu. Sistem Informasi Desa dan WEBDES yang menjadi program pokok KKT ini memang kurang cocok diterapkan di desa yang saya tempati. Sulitnya akses internet, ketiadaan fasilitas seperti laptop atau komputer dan operator yang kadang ada kadang tidak menjadi kendala terbesar kami. Bagaimana program ini bisa berkembang dan manfaatnya bisa langsung dinikmati masyarakat desa? Mungkin nanti, 5 sampai 10 tahun mendatang. Itupun jika ada relawan IT yang mau membantu perangkat desa dalam hal cara mengoperasikannya, mengembangkannya juga mengaktifkannya.

Bapak Dosen perlu belajar “ILMU PADI” lagi

Tak jarang kami mendapat tugas tambahan oleh dosen pengawas dan dosen pembimbing lapangan di minggu-minggu pertengahan KKT. Tugas pertama datang dari dosen pengawas lapangan. Beliau memberi kami tugas tambahan berupa survei lapangan mengenai bagaimana masyarakat memanfaatkan herbal lokal. Tugas yang sebetulnya bisa kami manfaatkan untuk mengenal lebih dekat lagi masyarakat desa, tidak kami jalankan dikarenakan program-program non-tematik yang mulai dimaksimalkan di minggu tersebut.

Waktu itu pagi-pagi, saat setelah saya dan korpos baru selesai mengambil gambar untuk video potensi desa, tiba-tiba sebuah chat masuk. Rupanya tugas tambahan juga datang dari Pak Dosen Pembimbing lapangan kami yang dikenal akrab oleh mahasiswa. Seketika korpos saya dibuat sibuk oleh tugas tambahan yang tidak rumit sama sekali. Tugas kami hanya mengumpulkan anak-anak SD di gedung serbaguna untuk mengikuti sosialisasi. Pagi itu juga beberapa anggota posko pergi ke SD dan meminta izin kepada pihak sekolah untuk mengajak anak-anak mengikuti sosialisasi setelah mereka pulang sekolah. Permintaan kami direspon baik.

(Foto: Indeng)

Pukul 2 siang terlihat anak-anak bersama beberapa guru mulai memenuhi isi gedung. Anak-anak yang lain terlihat sangat rapih sambil menjinjing buku tulis dengan bedak tebal yang masih menempel di pipi hingga leher. Sejam berlalu, dosen kami belum juga datang. Situasi saat itu mulai kacau ditambah cuaca yang sangat panas turut melengkapi kegelisahan kami semua. Anggota kami kewalahan mengatur anak-anak yang bosan sejam menunggu, untunglah ada pemudi dan ibu-ibu desa yang membantu menertibkan. Dua jam berlalu, beliau masih dalam perjalanan. Kali ini bukan anak-anak saja yang bosan, Ibu Guru yang mendampingi juga terlihat gerah. Satu persatu mulai meninggalkan gedung, “Banyak yang harus diurus, saya pulang dulu,” kata seorang ibu kepada ibu yang lain.

Beberapa menit kemudian, yang ditunggu akhirnya datang juga. Bapak Dosen Pembimbing berjabat tangan dengan anak-anak dan para guru yang masih setia menunggu. Kemudian anak-anak, guru-guru juga beberapa teman anggota posko diajak foto bersama oleh beliau. Setelah foto bersama dan berbincang sebentar dengan anggota-anggota posko, beliau pamit. Anak-anak itu pamit, semua pamit. (Nah, sosialisasinya mana?)

Saya pribadi mengaku sangat jengkel dengan tindakan beliau karena tidak sepatutnya hal ini dilakukan oleh seorang intelek macam dosen ini. Tapi, memang manusia itu banyak alpanya. Begitu juga saya, teman posko saya, ibu Meisye Pananginan (Kepala Desa Makalu Selatan), anak-anak SD tadi, juga guru-guru itu termasuk Pak Dosen Pembimbing yang mungkin saat itu sudah sangat lelah sehingga ia blunder, lupa dengan tugasnya. Namun saya yakin, beliau sendiri sadar bahwa permasalahannya tidak sesederhana itu.

Lagi-lagi. Kejadian ini mengingatkan saya pada satu tulisan di buku yang saya baca waktu itu, judulnya “Ilmu Meningkat, Jiwa Meluas”.

“Apa gunanya ilmu kalau dengan itu kalian malah meminta kami yang tak berilmu ini untuk mengabdi dan selalu menyesuaikan diri kepada kalian?” dikisahkan seorang bapak di sebuah desa yang ngamuk karena perilaku mahasiswa yang seakan meremehkan.

Sedih sekali ketika kami para mahasiswa KKT sedang berjuang membalas kebaikan masyarakat yang tidak bisa terbalas ini ditutupi oleh tindakan yang kurang mengenakan yang dilakukan dosen kami sendiri.

“Aku Ingin Mencintai Kampus Ini dengan Sederhana”

Ternyata 23 hari yang tadinya saya pikir cukup panjang adalah keliru. Pada H-1 sebelum dipulangkan, kami masih disibukkan dengan sisa tugas, Webdes. Tapi berkat kerja keras anggota tim tematik, yang bertanggung jawab atas segala program tematik, akhirnya tugas-tugas tersebut bisa diselesaikan.

Meninggalkan desa dan masyarakatnya adalah hal terberat di hari itu (28/7), tapi setiap pertemuan ada perpisahan adalah hal yang pasti terjadi, sedangkan tetap tinggal di desa adalah mustahil. Jadi, kami diberangkatkan ke kampus.

Saya butuh beberapa hari untuk bisa menyesuaikan dan menerima kembali suasana kota dan kampus yang masih begitu-begitu saja, semrawut. Tapi, situasi seperti itu saya manfaatkan untuk menyelesaikan tulisan ini yang tadinya hanya akan diterbitkan di web, bukan sebagai tulisan “kesan dan pesan” dalam laporan posko kami. Namun, supaya menghemat tenaga dan pikiran, saya tetap masukan tulisan ini dalam laporan dengan sedikit catatan di bawahnya, yang bunyinya begini

“Sebelumnya saya mohon maaf, jika tulisan saya ini didapati tidak berkenan. Karena sesungguhnya saya sayang kepada KAMPUS, dosen-dosen, termasuk Ibu Pengawas dan Bapak Pembimbing. Tulisan ini saya buat agar kita dapat mengevaluasi diri kita masing-masing. Jika karena tulisan ini membuat nilai KKT saya terpotong, saya ikhlas. Tapi jangan ke teman-teman anggota posko yang lain. Tulisan ini merupakan curhatan pribadi yang tidak ada sangkut paut sama sekali dengan teman-teman yang lain. Sekian, Terima Kasih. Wassalamualaikum Wr. Wb.”

Salam #revolusimental

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *