Duta Damai: Perjuangan Para Pemuda Belumlah Usai!

(Ilustrasi: Jovany Joudi Joseph/Inovasi)

Penulis: Jovany Joudi Joseph

“Perdamaian tidak dapat dijaga dengan kekuatan. Hal itu hanya dapat diraih dengan pengertian” (Albert Einstein, 1965)

Pemuda adalah tanduk perjuangan negeri ini, sejak zaman penjajahan, kemerdekaan, bahkan reformasi. Kita tentu ingat betapa gigihnya para golongan muda, memperjuangkan agar proklamasi murni oleh bangsa tanpa campur tangan oleh pihak asing. Kita tentu juga ingat peranan para nyong-nyong wakil dari setiap daerah di Nusantara, bersatu dan bersumpah di bawah satu naungan tanah air, Indonesia. Kita juga tentu tak akan lupa semangat yang membara para mahasiswa yang menolak untuk tunduk di bawah paham-paham yang tidak sesuai dengan Pancasila, yang akhirnya menggulingkan tirani kekuasaan dan mendorong terjadinya reformasi.

Tapi, apakah perjuangan para pemuda hanya akan berakhir sampai di situ? Memang, kemerdekaan telah dicapai dan demokrasi telah dijunjung tinggi. Tapi apakah hal tersebut dapat selamanya bertahan? Apakah dapat mencegah masuknya paham-paham radikalisme? Apakah demokrasi yang ada dapat selamanya murni tanpa manipulasi? Apakah kedamaian dapat selamanya bertahan tanpa ada yang mempertahankannya?

Sementara melihat kondisi saat ini, bangsa yang penuh dengan keberagaman menjadikannya rentan terhadap isu-isu menyangkut keutuhan negara: ancaman konflik sosial, terorisme, penyebaran berita bohong juga isu-isu SARA, sampai perang saudara seakan semakin santer terdengar saat ini. Dan paling membahayakan ialah penyebaran radikalisme yang kini menyasar para generasi muda bangsa. Kita sekarang dihadapkan oleh tantangan global yang lebih besar. Perkembangan teknologi dan informasi yang pesat menjadi lahan luas bagi tumbuh suburnya paham radikalisme di dunia maya.

Kita tengah berhadapan dengan “musuh yang tidak nyata, namun sangat mematikan”. Terorisme kini melebarkan sayap dan menyebarkan ajarannya melalui media sosial. Hal ini tentunya akan menjadi ancaman yang cukup besar, para pemuda kini dituntut untuk mempertahankan kedamaian dan keutuhan bangsa dari serangan musuh yang tidak terlihat.

Demi menjawab tantangan dalam mempertahankan perdamaian tersebut, Badan Nasional Penanggulan Teroris atau disingkat BNPT, sebuah lembaga yang dibentuk khusus untuk menangani masalah terorisme dan paham radikalisme. Mencoba menyediakan sebuah wadah bagi para pemuda untuk memperjuangkan kemerdekaan di zaman modern ini, dengan membentuk Duta Damai Dunia Maya.

Melalui program tersebut, diseleksi 60 pemuda-pemudi terbaik yang giat berselancar di media sosial juga memiliki kesadaran akan pentingnya perdamaian. Masing-masing datang dari 12 provinsi di Indonesia. Selama 4 hari 3 malam, mereka diberi materi bagaimana melawan radikalisme dan terorisme di dunia maya, pelatihan bagaimana cara mengedukasi masyarakat dan dibimbing untuk bekerja sama dalam tim sehingga menghasilkan sebuah produk kontra propaganda yang nantinya akan disebarluaskan kepada publik sebagai penangkal berita negatif.

Pada pelatihan Duta Damai tersebut, 2 hari pertama kader-kader perdamaian ini dibekali dengan berbagai wawasan dan pengetahuan oleh para pemateri dari BNPT dan lembaga-lembaga afiliasinya. Di hari berikutnya mereka diajarkan untuk bekerja sama dalam tim dan membangun sebuah sistem media yang nantinya akan menghasilkan produk-produk positif secara berkelanjutan. Selain itu, mereka juga memiliki waktu senggang, sebagai sarana keakraban yang diisi dengan sesi sharing dan kolaborasi guna membangun komunikasi yang lebih erat diantara mereka, Duta Damai.

Sujatmiko, sebagai Kasubdit kontra propaganda BNPTRI, dalam pemaparan sesi pengenalan radikalisme, mengungkapkan betapa pentingnya peranan pemuda dalam menangkal bahaya yang mengancam keutuhan negara zaman ini. Pemuda harus tahu betul apa yang tengah dihadapi dan bagaimana menyikapinya.

“Setelah mengetahui betul akar permasalahan radikalisme dan terorisme melalui pelatihan duta damai ini, mereka dapat menciptakan suatu karya yang berisi konten-konten perdamaian yang kreatif, seperti video, meme, komik dan sebagainya kepada masyarakat…” ungkapnya seperti dikutip di mapalus.dutadamai.id

Setelah pelatihan dan dikukuhkan sebagai Duta Damai, para pemuda-pemudi ini ditempatkan dalam situs web dan media sosial dari tim masing-masing untuk menghasilkan pesan positif dan mengedukasi masyarakat. Serta menciptakan kedamaian dan mempertahankannya.

Memang, apa yang dilakukan oleh generasi muda zaman sekarang ini tak seberat jika dibandingkan dengan pengorbanan jiwa dan raga oleh pahlawan-pahlawan dalam memperjuangkan kemerdekaan di waktu itu. Tetapi, perjuangan tak sampai di situ, dan semua tinggal bergantung pada generasi kita. Bergantung pada apa yang kita ketik dan apa yang kita sebar luaskan di media sosial.

Selamat bertugas, para Duta Damai!

Tunjukan pada dunia bahwa #DamaiItuINDONESIA!

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *