Maaf Aku Pernah Menyebutmu “Pelakor”

Penulis: Tessa Caca

(Foto: gettyimages.com)

Sempat ramai di media sosial video Jennifer Dunn yang dilabrak oleh putri Bos Ferarri Club dan Pengusaha Properti Faisal Haris karena diduga menjadi orang ketiga di antara hubungan ibu dan ayahnya. Sejak saat itu kata Pelakor mulai terdengar tak asing di telinga kita.

Mungkin ada yang akan bertanya-tanya, sebenarnya apa, sih pelakor itu?

Pelakor, istilah ini adalah singkatan dari “perebut laki orang”, bila dilihat dari latar belakang, munculnya kata pelakor digunakan oleh wanita yang merasa sakit hati karena suaminya direbut oleh wanita lain yang memang sudah mengetahui secara pasti bahwa sang lelaki sudah beristri. Tapi, seiring berjalannya waktu kata pelakor tidak hanya digunakan oleh wanita yang suaminya direbut, tapi juga anak muda yang merasa pacarnya diambil teman, atau orang lain yang jelas-jelas sudah mengetahui tentang hubungan mereka. Jadi, bila ditarik kesimpulan kata PELAKOR lebih mengarah ke orang ketiga dalam suatu hubungan yang khususnya ditujukan pada wanita.

Pelakor, setelah dipikir-pikir kok jatuhnya kayak diskriminatif, ya? Soalnya ‘kan dalam kampanye kesetaraan gender yang namanya korban pelecehan seksual dan korban kekerasan dalam rumah tangga tidak selalu menjadikan wanita sebagai korban. Pria pun bisa (menjadi korban).  Jadi demi kebaikan bersama yah dibikin adil aja, dong. Jika ada pelakor, seharusnya ada juga perebut wanita orang, kan pelakor viral karena singkatannya, tapi kalo perebut wanita orang disingkat terus jadi Pewarong kan rancu. Tidak enak didengar. Apa lagi kalo disingkat (maaf) Pewar, kata ini terlalu kasar buat masyarakat Manado dan sekitarnya.

Wahai para wanita, apa perlu kita menyebut pelakor ke teman wanita yang lain?

Sebagai seorang wanita saya rasa kita harus lebih berhati-hati dengan kata ini. Apa anda pernah berpikir, menyebutkan kata ini anda sama saja menghina diri anda sendiri? Mungkin hal ini belum pernah terpikir di benak anda. Namun yang anda teriaki adalah kaum anda sendiri, yaitu kaum wanita.

Pernahkan anda berkata pada pacar atau teman lelaki anda demikian, bila kau menyakiti hati seorang wanita, itu sama saja engkau menyakiti hati Ibumu sendiri?” Tapi, bagaimana bila kalimat ini dijadikan senjata untuk menyerang dirimu sendiri? Bila kau mengatakan orang ketiga dalam hubunganmu sebagai wanita pelakor itu sama saja menghina dirimu sendiri karna kau adalah seorang wanita.

Seharusnya kita berpikir bahwa orang ketiga tidak akan hadir bila sang pria tetap setia dan terus bertahan walau banyak masalah dalam suatu hubungan, dengan kata lain, orang ketiga tidak akan hadir bila tidak diberi cela.

Mungkin bukan rahasia umum lagi bahwa ada pria yang gampang bosan ketika menjalin hubungan yang bukan berjalan ke arah yang lebih baik atau menjadi lebih romantis malah menjadi makin hancur karna pasangannya sibuk, atau karena terlalu banyak masalah yang membuat pasangan sering bertengkar dengan adu mulut. Hal ini membuatnya ingin mencari kenyamanan di tempat lain. Mungkin ia akan berpikir dengan curhat ke teman wanitanya akan terasa nyaman, dan ketika rasa nyaman itu datang tumbuhlah benih-benih cinta di antara mereka.

Jadi bagaimana? Pantaskah kata pelakor dilontarkan pada wanita? Saya rasa anda bisa memikirkannya sendiri.

Saya memang bukan psikiater, saya juga bukan Penasihat Pernikahan, dan saya juga bukan mahasiswa Psikologi. Saya hanya seorang mahasiswa di Fakultas Ekonomi. Tapi saya berhak dong mengemukakan pendapat (‘kan setiap orang punya hak mengemukakan pendapat). Mungkin diantara kalian ada yang akan berpikir, “aduh bocah, nikah aja belum, sok-sokan bahas orang ke-3.” Maaf beribu maaf, saya rasa pikiran anda harus diluruskan bahwa, “orang ketiga tidak hanya ada dalam hubungan rumah tangga saja!”

Saya hanya ingin mengatakan, bila ada masalah cobalah diselesaikan dengan kepala dingin dan cobalah untuk saling mengerti satu sama lain. Karena bila ada hal yang keliru terjadi dan menyakiti salah satu pihak, itu akan membawa dampak besar dalam suatu hubungan apalagi bila yang tersakiti hanya diam dan malah menceritakan masalahnya ke orang lain. Cobalah tetap tenang dan selesaikan semuanya baik-baik. Dan tentunya dengan komunikasi. Komunikasi yang baik antara satu sama lain agar tetap terus membangun rasa kepercayaan yang ada dalam diri.

Sekian tulisan saya kali ini, maaf kalau ada salah-salah kata, saltik, atau hal-hal yang tak mengenakkan dan membuat para pembaca kesal. Akhir kata teruntuk para kaum lelaki ,“Jangan pernah meninggalkan yang tulus demi yang mulus,” dan teruntuk kamu yang pernah diteriaki pelakor, “Maaf, aku pernah menyebutmu pelakor.

1 reply

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *