Mengapa Berbohong?

Penulis: Aprinalda FT

(Foto: lexpress.fr)

Media sosial menjadi salah satu sumber berita yang digandrungi masyarakat Indonesia saat ini. Dari sekedar kepo akun tetangga sampai selebriti. Oleh sebagian orang, media sosial digunakan sebagai sarana tebar berita bohong atau hoax, baik untuk kepentingan kelompok tertentu maupun diri sendiri. Baru-baru ini berita konyol, yang mengguncang dunia politik Indonesia, datang dari Ratna Sarumpaet. Seniman tanah air yang satu ini harus mengundurkan diri dari tim pemenangan salah satu calon presiden karena perbuatannya yang memalukan citra kubunya sendiri. Ia mengaku digebuki oleh sekelompok orang dan mengunggah fotonya yang babak belur di Instagram. Tidak lama setelah itu diketahui ternyata itu fotonya yang baru saja sedot lemak di klinik kecantikan.

Sebenarnya tak masalah jika kita menggunakan Wi-fi sekedar scroll feed media sosial, tapi bagaimana jika kita menggunakan kuota 3 GB per minggu? Masih untung kalau kita dapat informasi yang berguna, nah kalau dapat berita bohong? Ruginya double-kill triple-kill.

Jadi, sebenarnya apa sih alasan orang berbohong dan menyebarkan infomasi bohong itu di media sosial? Apa tujuannya, coba?

David J. Ley, seorang psikolog klinis juga seorang penulis asal Meksiko, mengatakan bahwa ada 6 alasan mengapa seseorang berbohong. Pertama, karena para pembohong menganggap sebuah kebohongan itu penting baginya. Maksudnya di sini adalah meski orang di sekitarnya menganggap hal itu sepele, bagi mereka hal itu sangat penting, sehingga mereka membangun kebohongan yang sangat meyakinkan.

Kedua, berbohong untuk mengendalikan situasi dan mendapat reaksi timbal balik yang diharapkan. Seringkali, orang berbohong karena mereka mencoba mengendalikan situasi dan menggunakan pengaruh untuk mendapatkan keputusan atau reaksi yang mereka inginkan. Mereka lebih memilih berbohong jika jujur akan memberikan dampak yang mereka hindari.

Ketiga, mereka ingin membuat lawan bicaranya merasa nyaman, karena para pembohong takut ditolak ketika berkata jujur dan malu jika orang mengetahui hal yang sebenarnya. Mereka ingin mendapatkan respon yang baik dan dihargai.

Keempat adalah untuk menutupi kebohongan lainnya. Pembohong tidak melakukan kebohongan sekali saja, mereka pasti telah berbohong berkali-kali. Kebohongan yang mereka bangun dari awal tersebutlah yang menjadi asal muasal munculnya kebohongan-kebohongan baru. Ceritanya akan berbeda jika mereka mengatakan hal yang sebenarnya. Lingkaran kebohongan pun akan terus terjadi. Alasan keempat ini disebut lies snowball oleh David.

Kelima, mereka tidak sengaja berbohong, karena ingatannya menyusun kejadian sedemikian rupa sehingga mereka sendiri percaya bahwa hal tersebut benar. Si pembohong terlanjur nyaman dengan alur cerita kebohongan yang dibuat oleh dirinya sendiri, sehingga dirinya menganggap bahwa alur kebohongan yang dia bentuk itu benar adanya.

Yang keenam, mereka ingin itu menjadi sebuah kebenaran. Si pembohong berharap bahwa mereka dapat membuat sesuatu menjadi nyata dengan mengucapkannya berulang-ulang, dan mau tidak mau mereka harus mewujudkannya untuk memenuhi ekspektasi orang lain. (Psychology Today)

(Infografik: Angela Wijaya/Inovasi)

Semua orang tentunya pernah berbohong, sekecil apapun juga dengan tujuan yang beragam misalnya berbohong untuk melindungi diri dan menjaga privasi. Kebohongan jenis ini biasa disebut white lies. Dan memang ada hoax yang karena sudah menjadi kebiasaan, jadi semacam keceplosan. Ada juga hoax yang sengaja dibuat untuk merugikan orang lain, jenis kebohongan ini yang paling membahayakan. Kebohongan semacam ini disebut dirty lies.

Media sosial adalah sarang berita bohong, karena informasi di sana bisa datang dari mana saja dengan jumlah yang sangat banyak, sebagai pembaca/penikmat pun kita butuh menyaring semua informasi yang kita terima sebelum disebarkan.

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *