Warna-Warni Kembang Api dan Kematian yang Disebabkannya

Penulis: Indeng

(Ilustrasi: 1zoom.me)

Membayangkan sebuah perayaan besar tanpa petasan atau kembang api rasanya agak berat. Arab Saudi, Australia, Brazil, Singapore, Amerika Serikat, Korea Selatan sering disebut-sebut sebagai kota dengan pesta kembang api paling impresif. Lalu, sejak kapan perayaan seperti ini dimulai?

Jauh sebelum bubuk mesiu (bahan utama peledak) ditemukan, Pemerintahan Dinasti Han yaitu 200 SM telah melakukan tradisi baozhu atau membuat suara ledakan dari bambu untuk mengusir makhluk pemakan manusia yang keluar dari gunung tiap tahun baru, bernama Nian.  

Bubuk mesiu baru ditemukan oleh Li Tian, seorang pendeta asal provinsi Hunan, pada abad ke-9 di era

(Gambar: bbs.ce.cn)

Dinasti Sung. Dan masih digunakan untuk tujuan yang sama: mengusir roh jahat. 18 April menjadi hari memperingati penemuan pendeta Li Tian.

Dikutip dari Historia.id, sekitar abad ke-13 pada masa Renaissance, seorang penjelajah Italia, Marco Polo membawa bubuk hitam ini ke Eropa, yang kemudian dikembangkan menjadi senjata api. Italia dikenal sebagai negara pertama di Eropa yang mengembangkan dan memproduksi kembang api.  Sejak saat itu, kembang api menjadi populer di masyarakat, serta menarik perhatian ratu Inggris, Elizabeth I. Olehnya, kembang api digunakan di setiap perayaan termasuk di hari ulang tahunnya.

Sementara di Indonesia, diduga petasan masuk melalui pedagang Cina. Tahun 1650, Indonesia yang waktu itu masih bernama Hindia Belanda, musim kemarau dan petasan dianggap sebagai pemicu terbakarnya lahan perkebunan dan rumah-rumah warga yang sebagian besar terbuat bambu dan beratap daun rumbia. VOC akhirnya melarang penggunaan petasan.

Cerita Rakyat dari Surakarta buku yang ditulis sastrawan Indonesia Bakdi Soemanto mengisahkan tentang perlawanan orang Cina di Batavia terhadap perlakuan buruk Belanda dengan menggunakan petasan. Alhasil, Sri Sultan Pakubuwono II karena keberpihakannya pada Belanda, mengirim pasukan keraton untuk meredam huru-hara. Tetapi, pasukan dibuat takut dan kebingungan karena mengira itu adalah bunyi senapan.

Larangan meledakan petasan terus diberlakukan bahkan setelah Indonesia merdeka. Namun, hasilnya nihil. Alwi Shahab, seorang sejarawan sekaligus wartawan kelahiran Kwitang Betawi menduga tradisi bakar petasan berasal dari orang-orang Cina di Jakarta. Petasan digunakan sebagai alat komunikasi untuk mengabarkan adanya acara besar. Petasan juga menjadi simbol status sosial dan penanda rasa syukur. Hingga kini, tradisi meledakan petasan ini begitu dicintai masyarakat. Ia hadir hampir di semua hajatan dan dijadikan simbol rasa syukur dan harapan-harapan.

Namun, masih ingatkah kita pada sebuah “pesta petasan” pada tahun baru 1971 di Jakarta yang mencekam?

Majalah Tempo, 13 November 1971, menulis Gubernur Jakarta Ali Sadikin meledakan berton-ton petasan di malam tahun baru yang tadinya penuh harapan itu menjadi suram. Pesta petasan itu membuat 50an orang termasuk warga negara asing dilarikan ke rumah sakit. Presiden Soeharto langsung turun tangan. Dalam sidang paripurna, 12 Oktober di tahun yang sama, ia mengeluarkan sejumlah larangan soal petasan. Hanya petasan berukuran kecil buatan dalam negeri yang diperbolehkan. Dan impor mercon menjadi ilegal oleh Menteri Dalam Negeri, Amir Machmud.

Hiburan itu Memakan Korban

Ledakan kembang api dan petasan, berulang kali memakan korban: benda dan nyawa. Pesta pada akhirnya berganti menjadi duka.

Di Tultepec, Meksiko menjelang Natal dan Tahun Baru, 20 Desember 2016, terjadi ledakan di sebuah pasar petasan. 29 orang tewas dan melukai 70 orang pelanggan yang datang ke tempat itu. Tirto.id menyebutnya sebagai “Peristiwa ledakan terbesar di Meksiko”.

Di Malaysia, pertengahan Juni 2018, seorang anak berusia 11 tahun harus kehilangan tiga jarinya karena petasan yang langsung meledak di tangannya. Hal serupa juga terjadi di Indonesia tepatnya di Kota Kotamobagu, Sulawesi Utara. Bocah bernama Abdul Lumingkewas tewas di tengah kemeriahan menyambut tahun baru 2018. TribunManado mengatakan bahwa peristiwa itu terjadi ketika Abdul dan ibunya sedang makan mi di sebuah kedai. Kembang api (tidak disebutkan jenisnya) milik warga sekitar roboh saat sedang dipasang dan nyasar ke dada bocah berusia 4 tahun ini. Pemerintah setempat sangat menyayangkan peristiwa itu. Padahal imbauan untuk berhati-hati dalam menyalakan petasan sudah dilayangkan pada masyarakat dari jauh-jauh hari.

Peristiwa lain, terjadi pada 26 Oktober 2017. Gudang kembang api di Kosambi, Tangerang, milik PT Panca Buana Cahaya Sukses meledak dan menewaskan 47 orang. Dua orang sempat dirawat di rumah sakit sebelum tewas. Berdasarkan hasil tinjauan dari Menteri Ketenagakerjaan, PT Panca Buana Cahaya Sukses seperti terbukti melakukan sejumlah pelanggaran, diantaranya: mempekerjakan anak-anak di bawah umur (sebagian tewas) dan mempekerjakan 103 pegawai, yang 76 di antaranya tanpa BPJS.  Dikutip dari Rappler.com, pemerintah menjatuhkan sanksi pada perusahaan, termasuk tuntutan untuk menyantuni keluarga pegawai yang menjadi korban ledakan, sebesar Rp 170-180 juta.

Kejadian-kejadian di atas hanyalah beberapa dari banyak bencana yang disebabkan oleh petasan. Berikut beberapa kasus ledakan petasan dirangkum oleh Antara News yang terjadi di berbagai daerah di Indonesia sepanjang tahun 2017.

  1. Denpasar, Bengkulu, dan Balikpapan – 1 Januari 2017

Ledakan kembang api membuat 8 orang dilarikan ke Unit Gawat Darurat RSUP Sanglah, Denpasar, Bali. Di waktu yang sama, luka berat dialami seorang warga Bengkulu akibat ledakan kembang api. Sedangkan di Balikpapan, malam pergantian tahun berujung dengan terbakarnya rumah dinas Kapolda Kalimantan Timur.

  1. Pontianak – 28 Januari 2017

Di Kalimantan Barat sebuah rumah toko hangus dilalap api ketika malam Tahun Baru Imlek. Tidak ada korban jiwa dalam insiden itu.

  1. Sukabumi – 14 April 2017

Tempat pembuatan petasan semipermanen di kampung Lembuhuma, Sukabumi, Jawa Barat hancur akibat ledakan petasan yang mereka produksi. Tak ada korban jiwa.

  1. Pamekasan – 31 Mei 2017

Di dusun Sumber Gunung, Pamekasan, Jawa Timur, dua bocah berusia 3 dan 4 tahun tewas di rumah yang juga nyaris rata dengan tanah. Diketahui petasan tersebut milik orang tua mereka yang juga pedagang petasan.

  1. Kebumen – 25 Juli 2017

Rumah kosong milik seorang warga diduga menjadi tempat penitipan petasan milik sepupu si pemilik rumah, kemudian meledak dan merusak 23 rumah tetangga. Tidak ada korban jiwa dalam peristiwa ini.

  1. Bekasi – 2 September 2017

Catur Yulianto (32), suporter Timnas ini tewas karena kembang api suar yang mendarat tepat di kepalanya pada Pertandingan persahabatan Timnas Indonesia dan Timnas Fiji di Stadion Patriot Candrabhaga.

 

Dari Racun Hingga Burung yang Hindari Ledakan

Bukan hanya manusia, bangunan, dan perabotan yang menjadi korban ledakan petasan dan kembang api. Bahan-bahan kimia dalam petasan dan kembang api cukup untuk mengusir burung-burung dan sanggup mengurangi usia bumi.

Di salah satu tulisan milik Newsweek yang berjudul “Are Fireworks chemicals dangerous?”, David E. Cahvez, ilmuwan kimia dari Los Alamos National Laboratory mengatakan bahwa perklorat (HClO4), dan beberapa zat pewarna dalam kembang api adalah zat beracun bahkan sebelum ia meledak. Sisa pembakaran perklorat dapat berdampak pada manusia yang menghirupnya, mempengaruhi metabolisme tubuh dan perkembangan mental. Perklorat ini juga membahayakan kesehatan ibu hamil dan janin yang dikandungnya.

Tak hanya di udara, logam berat ini juga dapat mencemari air. Masih dikutip dari Newsweek, sebuah penelitian pada tahun 2009 yang dilakukan di sebuah danau di Ada, Oklahoma, Amerika Serikat, perklorat meningkat 1000 kali lipat setelah pesta kembang api. Jauh melebihi batas aman kandungan partikel berat untuk sumber air minum. Butuh 20 sampai 80 tahun untuk memurnikannya kembali.

Mengutip dari Thoughtco, selain perklorat, logam berat yang digunakan sebagai pewarna dalam kembang api juga berbahaya. Seperti Barium untuk warna hijau, mengandung bahan radioaktif yang beracun. Tembaga untuk warna biru mengandung dioksin penyebab kanker (karsinogen). Kemudian, logam campuran lainnya untuk membuat efek pada petasan juga berkontribusi besar pada pencemaran udara, air, dan tanah.

Melansir dari The Guardian, New Delhi ibu kota India dipadati kabut tebal selepas pesta kembang api menyambut Hari Raya Diwali pada tanggal 8 November 2018 lalu. Pemerintah kota menyatakan bahwa tingkat partikel beracun mencapai 1.665 ppm jauh melampaui batas normal yang hanya 25 ppm. Ini membuat India menyumbang lebih banyak polusi dunia.

Sementara sekitar 5000 burung jatuh dari langit di Arkansas, Amerika Serikat, mati diduga akibat pesta kembang api pada malam tahun baru 2011. Dikutip dari BBC News, Karen Rowe dari komisi Game and Fish Commision mengatakan burung hitam jenis sayap merah terbang rendah untuk menghindari ledakan. Sulit melihat dalam kegelapan, burung ini menabrak dinding bangunan, pohon, dan tiang-tiang, lalu mati karena cedera.

(Foto: cnn.com)

Karen juga mengatakan bahwa kembang api membuat burung-burung ketakutan, panik, dan stres sehingga mereka tak dapat terbang dengan benar. Dugaan penyebab keracunan dapat ditepis, anjing dan kucing yang memakan bangkai burung-burung itu tidak memiliki masalah kesehatan. Dari olah laboratorium juga tidak menemukan tanda-tanda penyakit lain pada burung-burung.

Kembang api memang memukau. Hampir tiap orang rela begadang demi menikmati kemeriahan pergantian tahun baru, seakan-akan tahun tidak akan berganti jika tidak ada kembang api. Namun apakah perayaan dan kembang apinya setimpal dengan dampak terhadap lingkungan yang mengikutinya?

 

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *