Penyebaran Berita Bohong Belum Berhasil Ditangani

ilustrasi: pixabay

Penulis: Rio Fabanyo

Belakangan ini, saya melihat banyak sekali berita bohong dan informasi berisi ujaran kebecian bermunculan di berbagai platform transaksi informasi digital.
Masyarakat saat ini tidak suka kerumitan, sehingga membuat mereka mendekat pada teknologi yang memanjakan. Ibarat mi instan, tidak rumit untuk memasaknya. Cukup direbus di air panas, duduk diam, mi siap dimakan. Meski kadang-kadang, membuka bungkusan bumbunya masih terasa rumit bagi saya.
Sama halnya dengan mencari informasi, kita hanya butuh keaktifan jari-jari kita dan pulsa data tentunya.
Menggantikan peran orang tua, teknologi dapat memecahkan beberapa masalah dalam hidup saya. Seperti contoh, ketika saya penasaran dengan nama ilmiah Yaki pantat merah Sulawesi Utara, daripada mengganggu ibu yang sedang memasak, saya tanya saja pada Wikipedia. Dalam hitungan detik Macaca nigra langsung muncul di layar hape saya. Namun, ibarat jatuh cinta, teknologi kadang-kadang bikin buta. Kehebatanya buat saya bingung, bagaimana membedakan informasi yang benar dan yang tidak.
Manusia menciptakan teknologi itu sendiri, bagaimana bisa teknologi itu kemudian melampaui manusia penciptanya sendiri? Sayang, segala sesuatu yang kita ciptakan belum tentu menghasilkan hal-hal baik.
Kita boleh saja memperoleh segala informasi atau pengetahuan dengan mudah, tetapi dengan mudahnya juga kita ditipu oleh informasi-informasi itu.
Sampai saat ini saya kesulitan mencari informasi yang akurat, baik untuk tugas-tugas kuliah maupun isu-isu hangat yang ingin saya kepo-i. Masih ingat kasus Ratna Sarumpaet? Saya adalah korban berita hoaks itu.
Direktur Informasi dan Komunikasi Badan Intelijen Negara (BIN), Wawan Purwanto, menyebut konten-konten media sosial di Indonesia ternyata didominasi informasi bohong atau hoaks. Dalam kumparan.com dijelaskan bahwa Menteri Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia Rudiantara menuturkan dari survey terbaru dari lembaga Edelman diketahui dari sekitar 43 ribu media online di Indonesia, baru sekitar 500 atau 1,1 % media online yang sudah terverifikasi.
Jadi, bayangkan. Ada sekitar empat puluh ribuan lebih media online gadungan tersebar di Indonesia. Tony Keusgen sabagai Managing Director Google Indonesia menyadari ini. Dia menjelaskan, Google belum bisa mengontrol dengan ketat berbagai informasi yang diunggah.
Saya pikir penegasan peraturan tentang penyebar berita hoaks di media massa cetak atau online lemah, sehingga isu SARA merajalela di Indonesia.
Peneliti Pusat Studi Hukum dan Kebijakan Indonesia (PSHK), Miko Ginting yang dikutip dari hukumonline.com, menjelaskan bahwa penyebar berita hoaks atau kabar yang tidak lengkap itu dapat dikenakan sanksi pidana sesuai pasal 14 dan 15 UU No. 1 Tahun 1946 tentang Peraturan Hukum Pidana. Jerat hukum jika menggunakan pasal 14 dan 15 UU 1/1946 ini tidak tanggung-tanggung, kata Miko, ada yang bisa dikenakan sanksi 2 tahun, 3 tahun bahkan 10 tahun yang dikualifikasi dalam 3 bentuk pelanggaran, yakni:
1) Menyiarkan berita bohong dengan sengaja menerbitkan keonaran di kalangan rakyat dan dikenakan sanksi 10 tahun penjara sesuai Pasal 14 ayat 1
2) Menyiarkan berita atau mengeluarkan pemberitahuan yang dapat menerbitkan keonaran di kalangan rakyat, sedangkan ia patut dapat menyangka bahwa berita itu bohong dan dikenakan sanksi 3 tahun penjara sesuai Pasal 14 ayat 2
3) Menyiarkan kabar yang tidak pasti atau kabar yang berlebihan atau tidak lengkap, sedangkan ia mengerti dan mampu menduga bahwa kabar itu akan menerbitkan keonaran dan dikenakan sanksi 2 tahun penjara sesuai Pasal 15.
Hukumnya ada. Sanksinya ada. Tapi, kenapa masih ada saja berita-berita kibul di mana-mana? Dan ‘kok sepertinya tidak berhenti?
Di negara yang pluralis ini, berita bohong menjadi sangat berbahaya. Ia dapat menghadirkan kesalahpahaman di antara masyarakat.
Banyaknya isu-isu bohong bemuatan SARA dari media-media gadungan (didorong dengan berbagai kepentingan entah kepentingan ekonomi, politik, atau mungkin hanya iseng-iseng) dapat membuat negara terpecah belah.
Sampai saat ini saya melihat banyak netizen yang masih menyebarkan berita hoaks di akun media sosial pribadi. Dan memang, kenyataan di zaman ini produksi informasi-informasi aktual sebanding dengan produksi informasi-informasi bohong.
Saya kira upaya untuk menangkal berita bohong yang digaungkan oleh berbagai lembaga atau kelompok yang peduli dengan hal ini, tidak begitu berhasil sejauh ini.
0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *