Sexy Killers: Batu Bara Sang Pembawa Terang, Sang Pembunuh di dalam Gelap

(Ilustrasi: Jovany Joudi Joseph/Inovasi)

Penulis: Jovany Joudi Joseph

Cahaya terang yang kita nikmati setiap malam, sesungguhnya berasal dari sebuah kenyataan yang kelam.

Kira-kira seperti itulah sebuah gambaran kenyataan yang coba ditampilkan oleh film dokumenter Sexy Killers. Ia seakan mencoba membangunkan kita yang biasa tertidur pulas karena adanya cahaya di malam hari, untuk terjaga dan menyadari bahwa terang yang kita nikmati bersumber dari sebuah keadaan yang tak secerah kita kira.

Film dokumenter yang diberi judul Sexy Killers ini merupakan sebuah dokumenter produksi WatchDoc, yang adalah salah satu dari serangkaian dokumenter dalam Ekspedisi Indonesia Biru, yang bertujuan menampilkan sisi lain dari Indonesia yang tidak diketahui khalayak.

Sexy Killers sendiri mencoba mengungkap kenyataan pahit dari industri batu bara, yang merupakan bahan dasar dari Pembangkit Listrik Tenaga Uap, yang adalah pembangkit listrik terbesar di Indonesia saat ini. Ia seakan menjadi sebuah “pembunuh” yang menggairahkan. Sebuah industri yang begitu menjanjikan, namun juga begitu beresiko. Yang akhirnya memaksa para penggelutnya menutup mata dan menghalalkan segala cara, kalau mau mendapatkan keuntungan semaksimal mungkin.

Berbagai macam persoalan timbul akibat praktik pertambangan ini. Mulai dari sengketa perebutan lahan, pencemaran dan limbah yang tak tertangani, lubang hasil galian yang dibiarkan menganga dan membahayakan penduduk, sampai merambat ke politik cuci tangan pemerintah, yang seakan-akan menutup mata atas kesengsaraan masyarakat di sekitar area tambang dan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU).

 

Pertambangan yang Menyalahi Aturan dan Membunuh Petani

Desa Kertabuana di Kabupaten Kutai Kartanegara, merupakan salah satu contoh yang ditampilkan Sexy Killers, mengenai desa yang hidup berseberangan dengan tambang batu bara. Desa ini merupakan desa dengan pertanian yang maju dan adalah lumbung padi dengan produksi 2600 ton gabah setiap panen, 20 tahun yang lalu. Namun kini, tengah sekarat akibat pertambangan batu bara yang masuk di tahun 1990 dan mulai menghancurkan bukit-bukit hijau dan lahan-lahan pertanian.

Akibatnya sumber air bersih menjadi sulit didapat, sebab perbukitan yang semula jalur air telah dibabat. Rakyat hanya tinggal menggantungkan hidupnya pada air hujan, dan air aliran pabrik yang membawa endapan lumpur. Air endapan lumpur ini merupakan penyebab rusaknya pertanian dan hancurnya berbagai komoditi andalan masyarakat.

Hal ini disebabkan oleh area pengerukan yang berada persis disamping desa. Meskipun telah diatur oleh Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Perhutanan, dan Peraturan Daerah Kutai Kartanegara, bahwa jarak pertambangan dan permukiman warga haruslah paling kurang 500 meter. Pada kenyataanya jarak itu hanyalah mitos! Sudah 20 tahun lebih perusahaan ini beroperasi dengan nyaman, sementara rakyat terus diselimuti debu dan polusi.

Pertambangan ini juga menghancurkan kualitas tanah lahan-lahan warga, sehingga tanah yang semula tidak ingin dilepas masyarakat, kini menjadi tandus dan dapat ditumbuhi komoditi lagi sehingga mau tidak mau rakyat akhirnya menjual tanahnya ke perusahaan, untuk dihancurkan menjadi lahan pertambangan. Akibatnya, desa yang semula makmur, mulai satu-persatu ditinggalkan penduduknya.

 

Lubang Galian Tambang yang Dibiarkan Menganga

Pada tahun 2018 data dari Jaringan Advokasi Tambang atau JATAM, mencatat terdapat kurang lebih 8 juta hektar atau 3500 lubang bekas tambang, yang dibiarkan begitu saja selepas pengerukan, dan akhirnya membawa berbagai dampak merugikan bagi masyarakat.

Menurut aturan, lubang-lubang ini seharusnya diuruk kembali atau direklamasi. Namun pada kenyataanya, lubang-lubang tersebut dibiarkan begitu saja selepas rakyat diberi janji, akan dijadikan teman rekreasi. Akibatnya antara tahun 2014-2018, secara nasional tercatat setidaknya 115 korban jiwa tenggelam di lubang-lubang tersebut. Kebanyakan diantaranya adalah anak-anak yang sekolahnya berdekatan, atau tepat berdampingan dengan lubang bekas tambang tersebut. Sehingga sering dijadikan tempat bermain sepulang sekolah. Hal ini terlepas dari kurangnya pengawasan orang tua dan guru, kembali berkaitan dengan pelanggaran aturan bahwa aktivitas penggalian harus berjarak setidaknya 500 meter dari pemukiman warga.

 

Perampasan Lahan Hingga Perusakan Ekosistem Laut

Pada tanggal 28 Agustus 2015, Presiden Joko Widodo meresmikan pembangunan PLTU Batang di Jawa Tengah. PLTU yang digadang-gadang menjadi yang terbesar di Asia Tenggara ini dijanjikan akan mengalirkan listrik 2.000 MW ke rumah-rumah warga. Namun dengan seiring hidupnya lampu-lampu di rumah-rumah. Pembangunan ini juga mengancam akan membunuh ekosistem laut, kehidupan petani dan mata pencaharian nelayan.

PLTU yang adalah terbesar di Asia tenggara ini, tentunya akan membutuhkan lahan yang tidak sedikit pula. Akibatnya terjadilah sengketa dengan para petani, sebab lahan yang akan dipakai dalam rancangan pembangunan merupakan sebagian lahan pertanian. Rakyat yang bersikeras tidak ingin menjual lahannya akhirnya harus pasrah melihat sawah dan ladangnya dipagari tanpa ijin oleh perusahaan.

Kapasitas PLTU yang sebesar 2.000 MW, juga pastinya memerlukan bahan bakar batu bara yang sangat banyak. Akibatnya akan ada sekitar 2-3 kapal besar atau tongkang yang akan hilir mudik di perairan Jawa Tengah setiap harinya. Jalur pelayaran kapal-kapal pengangkut batu bara ini sangat dekat dengan kawasan Kepulauan Karimunjawa yang perairannya adalah taman nasional yang dilindungi. Di sekitarnya ada puluhan kapal tongkang yang setiap hari hilir mudik. Bila cuaca sedang buruk, atau alasan kehabisan bahan bakar. Kapal-kapal ini akan parkir di kawasan sekitar kepulauan dan melepas jangkar besar, yang akhirnya merusak terumbu karang yang ada di situ. Pencemaran juga terjadi akibat tumpahan batu bara yang secara tidak sengaja jatuh di lautan. Akibatnya, populasi ikan di daerah tersebut menjadi menurun dan mengancam kehidupan nelayan dan pariwisata.

 

Resiko Penyakit yang Ditimbulkan

Debu yang beterbangan ke rumah-rumah warga tentu membawa serta senyawa-senyawa B3 berbahaya yang apabila terhirup akan mengendap di paru-paru dan menimbulkan berbagai penyakit mematikan, seperti Bronkhitis Kronis, hingga kanker pernafasan atau Nasofaring.

Menurut penelitian Universitas Harvard dan organisasi Greenpeace International 2015. Industri batu bara di Indonesia telah membunuh setidaknya 6500 jiwa setiap tahunnya. Sedangkan di Palu, Sulawesi Tengah, di Kelurahan Panau yang terdapat PLTU Panau yang telah beroperasi dari tahun 2007. Korban jiwa akibat kanker dan penyakit paru-paru tercatat 8 orang telah meninggal dan 6 orang sedang menjalani perawatan akibat kanker.

Setelah melihat begitu banyak dampak negatif yang disebabkan oleh industri batu bara ini, kita tentu bertanya, siapa yang berada di balik semuanya ini?

Dari arsip nasional diketahui bahwa tambang batu bara di Kalimantan dan PLTU di Paiton, Jawa Timur merupakan milik dari PT. Toba Bara, yang juga menurut Jaringan Advokasi Tambang memiliki 50 lubang tambang yang tak terurus dan 14.000 Ha luas lahan tambang batu bara milik berbagai anak perusahaan yang terafiliasi dengan Grup Toba Sejahtera yang sebagian sahamnya dimiliki oleh Luhut Pandjaitan. Menteri Koordinator Kemaritiman Kabinet Joko Widodo, yang juga adalah bagian dari Tim Kampanye Jokowi-Ma’ruf di Pilpres 2019. Ada sekitar 9 perusahaan yang menambang di Kalimantan Timur dan Sumatera Selatan di bawah naungan MNC Energy and Natural Resource yang dimiliki oleh dewan Penasihat Kampanye Nasional Jokowi-Ma’ruf, yakni Harry Tanoesoedibjo. Pengusaha batu bara lainnya adalah Jusuf Kalla di bawah bendera Kalla Group, yang adalah Wakil Presiden Republik Indonesia saat ini, juga Dewan Pengarah Tim Kampanye Nasional Jokowi-Ma’ruf.

Disisi lain, PLTU terbesar di Asia Tenggara yang akan dibangun di Batang Jawa Tengah, adalah milik dari konsorsium perusahaan Indonesia dan Jepang, yang dari Indonesia adalah anak perusahaan dari PT. Adaro Energy yang adalah perusahaan tambang terbesar di Indonesia yang salah satu pendirinya adalah Sandiaga Uno. Calon Wakil Presiden RI 2019. Yang juga menjual saham PLTU-nya kepada PT. Toba Bara milik Luhut Panjaitan. Prabowo Subianto yang adalah Calon Presiden RI memiliki perusahaan tambang Nusantara Energy Resources, yang menaungi 17 anak perusahaan yang sebagian adalah perusahaan batu bara.

Terlepas dari segala hiruk-pikuk politik dan panasnya perdebatan menjelang Pemilihan Serentak 2019, marilah kita mengambil waktu sejenak untuk membuka mata akan kenyataan yang ada di masyarakat, bahwa tidak semua hal yang manis-manis yang kita rasakan adalah tulus dan tak berasal dari sesuatu yang kelam. Kenyamanan energi dan penerangan yang kita peroleh sesungguhnya menyimpan kisah yang pahit dibelakangnya. Entah karena regulasinya yang longgar, pencarian keuntungan ataukah memang demi mencapai tujuan harus ada harga yang dikorbankan?

Lalu apakah tujuan dan pengorbanan itu? Apakah demi memperkaya para petinggi dan pemilik modal, maka harga yang harus dikorbankan adalah nyawa masyarakat?

Kita tak bisa secara gamblang menyimpulkan. Namun melalui kenyataan ini setidaknya masyarakat dapat memperoleh haknya untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi dan informasi yang cukup untuk memantapkan pilihan dalam menyongsong pesta demokrasi yang tak lama lagi

Akhir kata, tak peduli apapun pilihanmu, mengutip artikel yang ditulis oleh Bilven Sandalista, “Siapapun yang menang, rakyat tetap kalah!”

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *