Manusia Penambal Jalan

(Sumber: merdeka.com)

Karya: Indeng

Kisah Abdul Sukur, seorang kakek penambal jalan asal Surabaya ini menjadi inspirasi puisi berjudul “Manusia Penambal Jalan”, yang kemudian mengantar saya pada Pekan Seni Mahasiswa Nasional 2018 di Jogja mewakili daerah Sulawesi Utara. Sehat terus, kek..

 

Lelaki ini bercerita tentang cita-citanya dahulu

Gigi ompong tak jarang mengaburkan cerita

untunglah dua gigi depan sedikit menolongnya

Sesekali kutanyakan lagi, tapi kabur di telinganya

 

Untuknya selalu kugratiskan segelas kopi hitam, meski basa-basi ucapan terima kasih tak pernah kudengar

“Cita-cita Eyang dulu apa?”

“Jadi presiden, cuk. Membangun negara”, kopinya diteguk sampai setengah

“Susah, cuk. Cita-citaku itu terlalu besar untuk orang kecil seperti aku ini”, katanya sambil merapihkan topinya yang miring setengah

“Akhirnya aku merubah cita-citaku. Kecil tapi sudah terwujud”, kopinya diteguk sampai habis

“Jadi apa?” tanyaku

“Ya, penambal jalan. Membantu pengendara”

Dijinjingnya sekop dan ember kosong

“Aku mau pulang tidur dulu. Terima kasih kopi hitamnya”

 

Lelaki itu telah bercerita tentang cita-citanya dahulu

Lelaki yang setiap harinya menutup lobang-lobang jalan pernah bercita-cita jadi presiden

Lelaki itu kini tengah memimpikan sebuah mimpi yang bisa dimimpikan orang besar dan orang kecil, tidur siang.

Hari ini untuk pertama kali, manusia penambal jalan itu mengucapkan terima kasih

 

Auditorium Universitas Sam Ratulangi Manado, 17 September 2018

 

Antara Aku dan Kamu

Karya: Karen

Andai saja kita bisa bersatu layaknya dua insan yang saling mencinta
Andai saja mudah bagi bibir ini untuk berkata aku mencintaimu

Andai saja kau tahu bahwa setiap detik bersamamu adalah hal yang paling bisa membahagiakanku

Cukup, cukup!
Jangan lagi berharap pada sesuatu yang tak bisa kau dapatkan, percuma kau menanti jika sesuatu yang kau nantikan itu tak kan pernah kau miliki…

Aku dan kamu,
Kita
Berbeda
Sekeras apapun kita berusaha, takdir tidak akan pernah mempersatukan kita

Aku dan kamu
Adalah bagian dari dunia yang tidak dapat dipersatukan
Bahkan sekeras apapun kita saling mencinta

Nanti, akan ada saatnya aku harus merelakan mu pergi
Nanti, akan ada saatnya harus kubiasakan diriku untuk tidak terhanyut dalam indah nya senyuman yang terukir di wajahmu

Nanti, akan ada saatnya aku harus rela melihatmu bahagia bersama wanita yang akan bersanding denganmu

Nanti, hanya akan tertinggal kenangan kamu dan aku, kita yang dulu pernah saling mencinta namun tak bisa dipersatukan

Nyanyian Kemerdekaan Seorang Kakek

Karya: Indri Karundeng

Seorang kakek duduk di emperan lorong sebuah kota hendak menjual bendera yang dijahitnya sendiri dengan benang loak dan jarum patah.

Keringatnya jatuh menyentuh tanah bekas tempat tinggalnya yang dirampas pagar gedung-gedung tinggi. Di situlah Ia berkenalan dengan penghianatan.

Kadang kala tangisnya dijemput angin dari segala arah terhempas menjadi debu menempel di lipatan kulit keriputnya yang berkarat.

Lagu Indonesia Raya yang datang dari toko cina sedikit menghibur kegundahan seorang kakek yang sedang kehausan.

“‘Indonesia kebangsaanku, bangsa dan tanah airku, marilah kit.. ‘ persetan dengan kemerdekaan!”, kakek bergumam

Namun, matahari kian mengirim cahayanya untuk menyedot habis air dalam teko itu tapi tidak dengan memori gelap seorang kakek

Ia mulai merindukan aroma rumahnya, lalu Ia pulang membawa cerita kelam bangsa yang tidak pernah benar-benar merdeka

Manado, 17 Agustus 2018