Sexy Killers: Batu Bara Sang Pembawa Terang, Sang Pembunuh di dalam Gelap

(Ilustrasi: Jovany Joudi Joseph/Inovasi)

Penulis: Jovany Joudi Joseph

Cahaya terang yang kita nikmati setiap malam, sesungguhnya berasal dari sebuah kenyataan yang kelam.

Kira-kira seperti itulah sebuah gambaran kenyataan yang coba ditampilkan oleh film dokumenter Sexy Killers. Ia seakan mencoba membangunkan kita yang biasa tertidur pulas karena adanya cahaya di malam hari, untuk terjaga dan menyadari bahwa terang yang kita nikmati bersumber dari sebuah keadaan yang tak secerah kita kira.

Film dokumenter yang diberi judul Sexy Killers ini merupakan sebuah dokumenter produksi WatchDoc, yang adalah salah satu dari serangkaian dokumenter dalam Ekspedisi Indonesia Biru, yang bertujuan menampilkan sisi lain dari Indonesia yang tidak diketahui khalayak.

Sexy Killers sendiri mencoba mengungkap kenyataan pahit dari industri batu bara, yang merupakan bahan dasar dari Pembangkit Listrik Tenaga Uap, yang adalah pembangkit listrik terbesar di Indonesia saat ini. Ia seakan menjadi sebuah “pembunuh” yang menggairahkan. Sebuah industri yang begitu menjanjikan, namun juga begitu beresiko. Yang akhirnya memaksa para penggelutnya menutup mata dan menghalalkan segala cara, kalau mau mendapatkan keuntungan semaksimal mungkin.

Berbagai macam persoalan timbul akibat praktik pertambangan ini. Mulai dari sengketa perebutan lahan, pencemaran dan limbah yang tak tertangani, lubang hasil galian yang dibiarkan menganga dan membahayakan penduduk, sampai merambat ke politik cuci tangan pemerintah, yang seakan-akan menutup mata atas kesengsaraan masyarakat di sekitar area tambang dan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU).

 

Pertambangan yang Menyalahi Aturan dan Membunuh Petani

Desa Kertabuana di Kabupaten Kutai Kartanegara, merupakan salah satu contoh yang ditampilkan Sexy Killers, mengenai desa yang hidup berseberangan dengan tambang batu bara. Desa ini merupakan desa dengan pertanian yang maju dan adalah lumbung padi dengan produksi 2600 ton gabah setiap panen, 20 tahun yang lalu. Namun kini, tengah sekarat akibat pertambangan batu bara yang masuk di tahun 1990 dan mulai menghancurkan bukit-bukit hijau dan lahan-lahan pertanian.

Akibatnya sumber air bersih menjadi sulit didapat, sebab perbukitan yang semula jalur air telah dibabat. Rakyat hanya tinggal menggantungkan hidupnya pada air hujan, dan air aliran pabrik yang membawa endapan lumpur. Air endapan lumpur ini merupakan penyebab rusaknya pertanian dan hancurnya berbagai komoditi andalan masyarakat.

Hal ini disebabkan oleh area pengerukan yang berada persis disamping desa. Meskipun telah diatur oleh Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Perhutanan, dan Peraturan Daerah Kutai Kartanegara, bahwa jarak pertambangan dan permukiman warga haruslah paling kurang 500 meter. Pada kenyataanya jarak itu hanyalah mitos! Sudah 20 tahun lebih perusahaan ini beroperasi dengan nyaman, sementara rakyat terus diselimuti debu dan polusi.

Pertambangan ini juga menghancurkan kualitas tanah lahan-lahan warga, sehingga tanah yang semula tidak ingin dilepas masyarakat, kini menjadi tandus dan dapat ditumbuhi komoditi lagi sehingga mau tidak mau rakyat akhirnya menjual tanahnya ke perusahaan, untuk dihancurkan menjadi lahan pertambangan. Akibatnya, desa yang semula makmur, mulai satu-persatu ditinggalkan penduduknya.

 

Lubang Galian Tambang yang Dibiarkan Menganga

Pada tahun 2018 data dari Jaringan Advokasi Tambang atau JATAM, mencatat terdapat kurang lebih 8 juta hektar atau 3500 lubang bekas tambang, yang dibiarkan begitu saja selepas pengerukan, dan akhirnya membawa berbagai dampak merugikan bagi masyarakat.

Menurut aturan, lubang-lubang ini seharusnya diuruk kembali atau direklamasi. Namun pada kenyataanya, lubang-lubang tersebut dibiarkan begitu saja selepas rakyat diberi janji, akan dijadikan teman rekreasi. Akibatnya antara tahun 2014-2018, secara nasional tercatat setidaknya 115 korban jiwa tenggelam di lubang-lubang tersebut. Kebanyakan diantaranya adalah anak-anak yang sekolahnya berdekatan, atau tepat berdampingan dengan lubang bekas tambang tersebut. Sehingga sering dijadikan tempat bermain sepulang sekolah. Hal ini terlepas dari kurangnya pengawasan orang tua dan guru, kembali berkaitan dengan pelanggaran aturan bahwa aktivitas penggalian harus berjarak setidaknya 500 meter dari pemukiman warga.

 

Perampasan Lahan Hingga Perusakan Ekosistem Laut

Pada tanggal 28 Agustus 2015, Presiden Joko Widodo meresmikan pembangunan PLTU Batang di Jawa Tengah. PLTU yang digadang-gadang menjadi yang terbesar di Asia Tenggara ini dijanjikan akan mengalirkan listrik 2.000 MW ke rumah-rumah warga. Namun dengan seiring hidupnya lampu-lampu di rumah-rumah. Pembangunan ini juga mengancam akan membunuh ekosistem laut, kehidupan petani dan mata pencaharian nelayan.

PLTU yang adalah terbesar di Asia tenggara ini, tentunya akan membutuhkan lahan yang tidak sedikit pula. Akibatnya terjadilah sengketa dengan para petani, sebab lahan yang akan dipakai dalam rancangan pembangunan merupakan sebagian lahan pertanian. Rakyat yang bersikeras tidak ingin menjual lahannya akhirnya harus pasrah melihat sawah dan ladangnya dipagari tanpa ijin oleh perusahaan.

Kapasitas PLTU yang sebesar 2.000 MW, juga pastinya memerlukan bahan bakar batu bara yang sangat banyak. Akibatnya akan ada sekitar 2-3 kapal besar atau tongkang yang akan hilir mudik di perairan Jawa Tengah setiap harinya. Jalur pelayaran kapal-kapal pengangkut batu bara ini sangat dekat dengan kawasan Kepulauan Karimunjawa yang perairannya adalah taman nasional yang dilindungi. Di sekitarnya ada puluhan kapal tongkang yang setiap hari hilir mudik. Bila cuaca sedang buruk, atau alasan kehabisan bahan bakar. Kapal-kapal ini akan parkir di kawasan sekitar kepulauan dan melepas jangkar besar, yang akhirnya merusak terumbu karang yang ada di situ. Pencemaran juga terjadi akibat tumpahan batu bara yang secara tidak sengaja jatuh di lautan. Akibatnya, populasi ikan di daerah tersebut menjadi menurun dan mengancam kehidupan nelayan dan pariwisata.

 

Resiko Penyakit yang Ditimbulkan

Debu yang beterbangan ke rumah-rumah warga tentu membawa serta senyawa-senyawa B3 berbahaya yang apabila terhirup akan mengendap di paru-paru dan menimbulkan berbagai penyakit mematikan, seperti Bronkhitis Kronis, hingga kanker pernafasan atau Nasofaring.

Menurut penelitian Universitas Harvard dan organisasi Greenpeace International 2015. Industri batu bara di Indonesia telah membunuh setidaknya 6500 jiwa setiap tahunnya. Sedangkan di Palu, Sulawesi Tengah, di Kelurahan Panau yang terdapat PLTU Panau yang telah beroperasi dari tahun 2007. Korban jiwa akibat kanker dan penyakit paru-paru tercatat 8 orang telah meninggal dan 6 orang sedang menjalani perawatan akibat kanker.

Setelah melihat begitu banyak dampak negatif yang disebabkan oleh industri batu bara ini, kita tentu bertanya, siapa yang berada di balik semuanya ini?

Dari arsip nasional diketahui bahwa tambang batu bara di Kalimantan dan PLTU di Paiton, Jawa Timur merupakan milik dari PT. Toba Bara, yang juga menurut Jaringan Advokasi Tambang memiliki 50 lubang tambang yang tak terurus dan 14.000 Ha luas lahan tambang batu bara milik berbagai anak perusahaan yang terafiliasi dengan Grup Toba Sejahtera yang sebagian sahamnya dimiliki oleh Luhut Pandjaitan. Menteri Koordinator Kemaritiman Kabinet Joko Widodo, yang juga adalah bagian dari Tim Kampanye Jokowi-Ma’ruf di Pilpres 2019. Ada sekitar 9 perusahaan yang menambang di Kalimantan Timur dan Sumatera Selatan di bawah naungan MNC Energy and Natural Resource yang dimiliki oleh dewan Penasihat Kampanye Nasional Jokowi-Ma’ruf, yakni Harry Tanoesoedibjo. Pengusaha batu bara lainnya adalah Jusuf Kalla di bawah bendera Kalla Group, yang adalah Wakil Presiden Republik Indonesia saat ini, juga Dewan Pengarah Tim Kampanye Nasional Jokowi-Ma’ruf.

Disisi lain, PLTU terbesar di Asia Tenggara yang akan dibangun di Batang Jawa Tengah, adalah milik dari konsorsium perusahaan Indonesia dan Jepang, yang dari Indonesia adalah anak perusahaan dari PT. Adaro Energy yang adalah perusahaan tambang terbesar di Indonesia yang salah satu pendirinya adalah Sandiaga Uno. Calon Wakil Presiden RI 2019. Yang juga menjual saham PLTU-nya kepada PT. Toba Bara milik Luhut Panjaitan. Prabowo Subianto yang adalah Calon Presiden RI memiliki perusahaan tambang Nusantara Energy Resources, yang menaungi 17 anak perusahaan yang sebagian adalah perusahaan batu bara.

Terlepas dari segala hiruk-pikuk politik dan panasnya perdebatan menjelang Pemilihan Serentak 2019, marilah kita mengambil waktu sejenak untuk membuka mata akan kenyataan yang ada di masyarakat, bahwa tidak semua hal yang manis-manis yang kita rasakan adalah tulus dan tak berasal dari sesuatu yang kelam. Kenyamanan energi dan penerangan yang kita peroleh sesungguhnya menyimpan kisah yang pahit dibelakangnya. Entah karena regulasinya yang longgar, pencarian keuntungan ataukah memang demi mencapai tujuan harus ada harga yang dikorbankan?

Lalu apakah tujuan dan pengorbanan itu? Apakah demi memperkaya para petinggi dan pemilik modal, maka harga yang harus dikorbankan adalah nyawa masyarakat?

Kita tak bisa secara gamblang menyimpulkan. Namun melalui kenyataan ini setidaknya masyarakat dapat memperoleh haknya untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi dan informasi yang cukup untuk memantapkan pilihan dalam menyongsong pesta demokrasi yang tak lama lagi

Akhir kata, tak peduli apapun pilihanmu, mengutip artikel yang ditulis oleh Bilven Sandalista, “Siapapun yang menang, rakyat tetap kalah!”

Badan Tadzkir Fakultas Pertanian: 3 Hari Bakti Sosial Desa Pontak

(Foto: Ambar Kurnia/BTFP)

Penulis: Milah Shofiyati

BOLAANG MONGONDOW UTARA – Badan Tadzkir Fakultas Pertanian (BTFP) Universitas Sam Ratulangi Manado melaksanakan kegiatan Bakti Sosial sebagai bentuk pengabdian masyarakat di Desa Pontak, Kecamatan Kaidipang, Sulawesi Utara.

Bakti Sosial yang berlangsung mulai dari hari Jumat (5/4/2019) mengadakan sejumlah rangkaian kegiatan yang sangat membantu para warga setempat dalam keberlangsungan hidup mereka.

Pembukaan Bakti Sosial dihadiri oleh Bupati dan Wakil Bupati Bolaang Mongondow Utara, Sekretaris Daerah, Camat Kaidipang, Kepala Desa Pontak serta warga setempat. Pembukaan kegiatan bakti sosial ini dilaksanakan sekaligus dengan peresmian lapangan Desa Pontak dan dibuka secara resmi oleh Bupati Bolaang Mongondow Utara, Depri Pontoh.

“Kegiatan bakti sosial ini sebagai salah satu bentuk merealisasikan Tri Dharma Perguruan Tinggi yakni Pengabdian, dan untuk menjadikan mahasiswa, khususnya anggota Badan Tadzkir Fakultas Pertanian agar lebih peduli dengan masyarakat. Sebagaimana yang disampaikan oleh Dr. Sam Ratulangi Sitou Timou Tumou Tou, manusia hidup untuk memanusiakan manusia lain,” ujar Depri Pontoh saat pembukaan kegiatan Bakti Sosial BTFP Tahun 2019.

Kegiatan selanjutnya, yakni pelaksanaan penyuluhan yang dilaksanakan di lapangan desa pukul 17.00 WITA dibawakan oleh kepala Bidang Pertanian dari Dinas Pertanian Perkebunan dan Kehutanan Kabupaten Bolaang Mongondow Utara, Syarifuddin Pontoh. Masyarakat sangat antusias dengan adanya penyuluhan yang dihadiri oleh 31 orang ini. Ketika penyuluhan berakhir, panitia Bakti Sosial BTFP memberikan 400 bibit tanaman yang terdiri dari 200 bibit pohon cempaka, 50 bibit durian, 75 bibit matoa dan 75 bibit duku.

 

(Foto: Novia Indriawati/BTFP)

(Foto: Ari Sigit Domogalad/BTFP)

Sunatan massal yang digelar hari Sabtu (6/4/2019), kali ini bukan hanya desa Pontak saja yang berpartisipasi melainkan beberapa desa sekitar. Sunatan massal ini diadakan di Puskesmas Pembantu (PUSTU) pada pukul 08.05 sampai 13.30 WITA. Ada 29 peserta sunatan massal datang dari 5 desa: Gihang, Pontak, Soligir, Bolang Itang dan Kuala Utara.

(Foto: Novia Indriawati/BTFP)

Bukan hanya penyuluhan dan sunatan massal saja, BTFP juga mengadakan lomba adzan, hafalan surah dan busana muslim untuk anak-anak. Lomba ini bertujuan menguji kemampuan dari anak-anak yang ada di sana dalam pengetahuan keagamaan mereka.

(Foto: Safrijal Kader/BTFP)

Selanjutnya pada pukul 4 sore, panitia Bakti Sosial BTFP melakukan penanaman pohon cempaka sebanyak 15 pohon di sepanjang lahan pertanian milik warga yang dekat dengan sumber air.

Tidak lengkap rasanya jika ada acara pembukaan tanpa ada acara penutupan. Acara penutupan kegiatan yang dilaksanakan jam delapan malam, dihadiri oleh Kepala Desa, beberapa Kepala Dusun setempat, serta masyarakat Pontak.

“Kehadiran adik-adik dari Fakultas Pertanian Univeritas Sam Ratulangi ini sangat membantu masyarakat desa Pontak. Pemberian bibit tanaman dan Pohon Cempaka sangatlah membantu apalagi di desa ini kurang bibit pohon cempaka. Ditambah lagi acara sunatan massal siang tadi,” ujar Suleman Pontoh selaku Kepala Desa Pontak ketika menutup kegiatan Bakti Sosial.

Penutupan Bakti Sosial dilakukan dengan serangkaian acara seperti penyerahan hadiah untuk pemenang lomba, pemutaran video perjuangan panitia Bakti Sosial selama persiapan sampai pelaksanaan kegiatan, dan sampai pertunjukan seni dari anak-anak Desa Pontak.

Minggu (7/4/2019) kegiatan bersih-bersih lingkungan desa Pontak berlangsung usai pelaksanaan sholat subuh dini hari.

(Foto: Ari Sigit Domogalad/BTFP)

Pada jam 10 pagi, tiba saatnya panitia Bakti Sosial BTFP meninggalkan Desa Pontak. Senyuman, tangisan, kegembiraan, kekecewaan tercurahkan ketika bus melaju menjauhi Desa Pontak. Lambaian tangan dari petani yang ada di sawah menyambut kepergian mahasiswa Fakultas Pertanian Unsrat.

“Hati-hati, ya, kalian akan melakukan perjalanan jauh. Kalau ada waktu main ke Desa Pontak lagi,” ucap istri Kepala Desa saat air mata mulai tercurah ketika memeluk salah satu mahasiswa putri yang akan naik ke bus.

“Teruslah berbuat baik untuk sesama karena apa yang kalian lakukan pasti akan kembali kepada kalian sendiri, in ahsantum li anfusikum,” ucap Herman Mamonto, Ketua Umum Badan Tadzkir Fakultas Pertanian Universitas Sam Ratulangi.

Penyebaran Berita Bohong Belum Berhasil Ditangani

ilustrasi: pixabay

Penulis: Rio Fabanyo

Belakangan ini, saya melihat banyak sekali berita bohong dan informasi berisi ujaran kebecian bermunculan di berbagai platform transaksi informasi digital.
Masyarakat saat ini tidak suka kerumitan, sehingga membuat mereka mendekat pada teknologi yang memanjakan. Ibarat mi instan, tidak rumit untuk memasaknya. Cukup direbus di air panas, duduk diam, mi siap dimakan. Meski kadang-kadang, membuka bungkusan bumbunya masih terasa rumit bagi saya.
Sama halnya dengan mencari informasi, kita hanya butuh keaktifan jari-jari kita dan pulsa data tentunya.
Menggantikan peran orang tua, teknologi dapat memecahkan beberapa masalah dalam hidup saya. Seperti contoh, ketika saya penasaran dengan nama ilmiah Yaki pantat merah Sulawesi Utara, daripada mengganggu ibu yang sedang memasak, saya tanya saja pada Wikipedia. Dalam hitungan detik Macaca nigra langsung muncul di layar hape saya. Namun, ibarat jatuh cinta, teknologi kadang-kadang bikin buta. Kehebatanya buat saya bingung, bagaimana membedakan informasi yang benar dan yang tidak.
Manusia menciptakan teknologi itu sendiri, bagaimana bisa teknologi itu kemudian melampaui manusia penciptanya sendiri? Sayang, segala sesuatu yang kita ciptakan belum tentu menghasilkan hal-hal baik.
Kita boleh saja memperoleh segala informasi atau pengetahuan dengan mudah, tetapi dengan mudahnya juga kita ditipu oleh informasi-informasi itu.
Sampai saat ini saya kesulitan mencari informasi yang akurat, baik untuk tugas-tugas kuliah maupun isu-isu hangat yang ingin saya kepo-i. Masih ingat kasus Ratna Sarumpaet? Saya adalah korban berita hoaks itu.
Direktur Informasi dan Komunikasi Badan Intelijen Negara (BIN), Wawan Purwanto, menyebut konten-konten media sosial di Indonesia ternyata didominasi informasi bohong atau hoaks. Dalam kumparan.com dijelaskan bahwa Menteri Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia Rudiantara menuturkan dari survey terbaru dari lembaga Edelman diketahui dari sekitar 43 ribu media online di Indonesia, baru sekitar 500 atau 1,1 % media online yang sudah terverifikasi.
Jadi, bayangkan. Ada sekitar empat puluh ribuan lebih media online gadungan tersebar di Indonesia. Tony Keusgen sabagai Managing Director Google Indonesia menyadari ini. Dia menjelaskan, Google belum bisa mengontrol dengan ketat berbagai informasi yang diunggah.
Saya pikir penegasan peraturan tentang penyebar berita hoaks di media massa cetak atau online lemah, sehingga isu SARA merajalela di Indonesia.
Peneliti Pusat Studi Hukum dan Kebijakan Indonesia (PSHK), Miko Ginting yang dikutip dari hukumonline.com, menjelaskan bahwa penyebar berita hoaks atau kabar yang tidak lengkap itu dapat dikenakan sanksi pidana sesuai pasal 14 dan 15 UU No. 1 Tahun 1946 tentang Peraturan Hukum Pidana. Jerat hukum jika menggunakan pasal 14 dan 15 UU 1/1946 ini tidak tanggung-tanggung, kata Miko, ada yang bisa dikenakan sanksi 2 tahun, 3 tahun bahkan 10 tahun yang dikualifikasi dalam 3 bentuk pelanggaran, yakni:
1) Menyiarkan berita bohong dengan sengaja menerbitkan keonaran di kalangan rakyat dan dikenakan sanksi 10 tahun penjara sesuai Pasal 14 ayat 1
2) Menyiarkan berita atau mengeluarkan pemberitahuan yang dapat menerbitkan keonaran di kalangan rakyat, sedangkan ia patut dapat menyangka bahwa berita itu bohong dan dikenakan sanksi 3 tahun penjara sesuai Pasal 14 ayat 2
3) Menyiarkan kabar yang tidak pasti atau kabar yang berlebihan atau tidak lengkap, sedangkan ia mengerti dan mampu menduga bahwa kabar itu akan menerbitkan keonaran dan dikenakan sanksi 2 tahun penjara sesuai Pasal 15.
Hukumnya ada. Sanksinya ada. Tapi, kenapa masih ada saja berita-berita kibul di mana-mana? Dan ‘kok sepertinya tidak berhenti?
Di negara yang pluralis ini, berita bohong menjadi sangat berbahaya. Ia dapat menghadirkan kesalahpahaman di antara masyarakat.
Banyaknya isu-isu bohong bemuatan SARA dari media-media gadungan (didorong dengan berbagai kepentingan entah kepentingan ekonomi, politik, atau mungkin hanya iseng-iseng) dapat membuat negara terpecah belah.
Sampai saat ini saya melihat banyak netizen yang masih menyebarkan berita hoaks di akun media sosial pribadi. Dan memang, kenyataan di zaman ini produksi informasi-informasi aktual sebanding dengan produksi informasi-informasi bohong.
Saya kira upaya untuk menangkal berita bohong yang digaungkan oleh berbagai lembaga atau kelompok yang peduli dengan hal ini, tidak begitu berhasil sejauh ini.

Warna-Warni Kembang Api dan Kematian yang Disebabkannya

Penulis: Indeng

(Ilustrasi: 1zoom.me)

Membayangkan sebuah perayaan besar tanpa petasan atau kembang api rasanya agak berat. Arab Saudi, Australia, Brazil, Singapore, Amerika Serikat, Korea Selatan sering disebut-sebut sebagai kota dengan pesta kembang api paling impresif. Lalu, sejak kapan perayaan seperti ini dimulai?

Jauh sebelum bubuk mesiu (bahan utama peledak) ditemukan, Pemerintahan Dinasti Han yaitu 200 SM telah melakukan tradisi baozhu atau membuat suara ledakan dari bambu untuk mengusir makhluk pemakan manusia yang keluar dari gunung tiap tahun baru, bernama Nian.  

Bubuk mesiu baru ditemukan oleh Li Tian, seorang pendeta asal provinsi Hunan, pada abad ke-9 di era

(Gambar: bbs.ce.cn)

Dinasti Sung. Dan masih digunakan untuk tujuan yang sama: mengusir roh jahat. 18 April menjadi hari memperingati penemuan pendeta Li Tian.

Dikutip dari Historia.id, sekitar abad ke-13 pada masa Renaissance, seorang penjelajah Italia, Marco Polo membawa bubuk hitam ini ke Eropa, yang kemudian dikembangkan menjadi senjata api. Italia dikenal sebagai negara pertama di Eropa yang mengembangkan dan memproduksi kembang api.  Sejak saat itu, kembang api menjadi populer di masyarakat, serta menarik perhatian ratu Inggris, Elizabeth I. Olehnya, kembang api digunakan di setiap perayaan termasuk di hari ulang tahunnya.

Sementara di Indonesia, diduga petasan masuk melalui pedagang Cina. Tahun 1650, Indonesia yang waktu itu masih bernama Hindia Belanda, musim kemarau dan petasan dianggap sebagai pemicu terbakarnya lahan perkebunan dan rumah-rumah warga yang sebagian besar terbuat bambu dan beratap daun rumbia. VOC akhirnya melarang penggunaan petasan.

Cerita Rakyat dari Surakarta buku yang ditulis sastrawan Indonesia Bakdi Soemanto mengisahkan tentang perlawanan orang Cina di Batavia terhadap perlakuan buruk Belanda dengan menggunakan petasan. Alhasil, Sri Sultan Pakubuwono II karena keberpihakannya pada Belanda, mengirim pasukan keraton untuk meredam huru-hara. Tetapi, pasukan dibuat takut dan kebingungan karena mengira itu adalah bunyi senapan.

Larangan meledakan petasan terus diberlakukan bahkan setelah Indonesia merdeka. Namun, hasilnya nihil. Alwi Shahab, seorang sejarawan sekaligus wartawan kelahiran Kwitang Betawi menduga tradisi bakar petasan berasal dari orang-orang Cina di Jakarta. Petasan digunakan sebagai alat komunikasi untuk mengabarkan adanya acara besar. Petasan juga menjadi simbol status sosial dan penanda rasa syukur. Hingga kini, tradisi meledakan petasan ini begitu dicintai masyarakat. Ia hadir hampir di semua hajatan dan dijadikan simbol rasa syukur dan harapan-harapan.

Namun, masih ingatkah kita pada sebuah “pesta petasan” pada tahun baru 1971 di Jakarta yang mencekam?

Majalah Tempo, 13 November 1971, menulis Gubernur Jakarta Ali Sadikin meledakan berton-ton petasan di malam tahun baru yang tadinya penuh harapan itu menjadi suram. Pesta petasan itu membuat 50an orang termasuk warga negara asing dilarikan ke rumah sakit. Presiden Soeharto langsung turun tangan. Dalam sidang paripurna, 12 Oktober di tahun yang sama, ia mengeluarkan sejumlah larangan soal petasan. Hanya petasan berukuran kecil buatan dalam negeri yang diperbolehkan. Dan impor mercon menjadi ilegal oleh Menteri Dalam Negeri, Amir Machmud.

Hiburan itu Memakan Korban

Ledakan kembang api dan petasan, berulang kali memakan korban: benda dan nyawa. Pesta pada akhirnya berganti menjadi duka.

Di Tultepec, Meksiko menjelang Natal dan Tahun Baru, 20 Desember 2016, terjadi ledakan di sebuah pasar petasan. 29 orang tewas dan melukai 70 orang pelanggan yang datang ke tempat itu. Tirto.id menyebutnya sebagai “Peristiwa ledakan terbesar di Meksiko”.

Di Malaysia, pertengahan Juni 2018, seorang anak berusia 11 tahun harus kehilangan tiga jarinya karena petasan yang langsung meledak di tangannya. Hal serupa juga terjadi di Indonesia tepatnya di Kota Kotamobagu, Sulawesi Utara. Bocah bernama Abdul Lumingkewas tewas di tengah kemeriahan menyambut tahun baru 2018. TribunManado mengatakan bahwa peristiwa itu terjadi ketika Abdul dan ibunya sedang makan mi di sebuah kedai. Kembang api (tidak disebutkan jenisnya) milik warga sekitar roboh saat sedang dipasang dan nyasar ke dada bocah berusia 4 tahun ini. Pemerintah setempat sangat menyayangkan peristiwa itu. Padahal imbauan untuk berhati-hati dalam menyalakan petasan sudah dilayangkan pada masyarakat dari jauh-jauh hari.

Peristiwa lain, terjadi pada 26 Oktober 2017. Gudang kembang api di Kosambi, Tangerang, milik PT Panca Buana Cahaya Sukses meledak dan menewaskan 47 orang. Dua orang sempat dirawat di rumah sakit sebelum tewas. Berdasarkan hasil tinjauan dari Menteri Ketenagakerjaan, PT Panca Buana Cahaya Sukses seperti terbukti melakukan sejumlah pelanggaran, diantaranya: mempekerjakan anak-anak di bawah umur (sebagian tewas) dan mempekerjakan 103 pegawai, yang 76 di antaranya tanpa BPJS.  Dikutip dari Rappler.com, pemerintah menjatuhkan sanksi pada perusahaan, termasuk tuntutan untuk menyantuni keluarga pegawai yang menjadi korban ledakan, sebesar Rp 170-180 juta.

Kejadian-kejadian di atas hanyalah beberapa dari banyak bencana yang disebabkan oleh petasan. Berikut beberapa kasus ledakan petasan dirangkum oleh Antara News yang terjadi di berbagai daerah di Indonesia sepanjang tahun 2017.

  1. Denpasar, Bengkulu, dan Balikpapan – 1 Januari 2017

Ledakan kembang api membuat 8 orang dilarikan ke Unit Gawat Darurat RSUP Sanglah, Denpasar, Bali. Di waktu yang sama, luka berat dialami seorang warga Bengkulu akibat ledakan kembang api. Sedangkan di Balikpapan, malam pergantian tahun berujung dengan terbakarnya rumah dinas Kapolda Kalimantan Timur.

  1. Pontianak – 28 Januari 2017

Di Kalimantan Barat sebuah rumah toko hangus dilalap api ketika malam Tahun Baru Imlek. Tidak ada korban jiwa dalam insiden itu.

  1. Sukabumi – 14 April 2017

Tempat pembuatan petasan semipermanen di kampung Lembuhuma, Sukabumi, Jawa Barat hancur akibat ledakan petasan yang mereka produksi. Tak ada korban jiwa.

  1. Pamekasan – 31 Mei 2017

Di dusun Sumber Gunung, Pamekasan, Jawa Timur, dua bocah berusia 3 dan 4 tahun tewas di rumah yang juga nyaris rata dengan tanah. Diketahui petasan tersebut milik orang tua mereka yang juga pedagang petasan.

  1. Kebumen – 25 Juli 2017

Rumah kosong milik seorang warga diduga menjadi tempat penitipan petasan milik sepupu si pemilik rumah, kemudian meledak dan merusak 23 rumah tetangga. Tidak ada korban jiwa dalam peristiwa ini.

  1. Bekasi – 2 September 2017

Catur Yulianto (32), suporter Timnas ini tewas karena kembang api suar yang mendarat tepat di kepalanya pada Pertandingan persahabatan Timnas Indonesia dan Timnas Fiji di Stadion Patriot Candrabhaga.

 

Dari Racun Hingga Burung yang Hindari Ledakan

Bukan hanya manusia, bangunan, dan perabotan yang menjadi korban ledakan petasan dan kembang api. Bahan-bahan kimia dalam petasan dan kembang api cukup untuk mengusir burung-burung dan sanggup mengurangi usia bumi.

Di salah satu tulisan milik Newsweek yang berjudul “Are Fireworks chemicals dangerous?”, David E. Cahvez, ilmuwan kimia dari Los Alamos National Laboratory mengatakan bahwa perklorat (HClO4), dan beberapa zat pewarna dalam kembang api adalah zat beracun bahkan sebelum ia meledak. Sisa pembakaran perklorat dapat berdampak pada manusia yang menghirupnya, mempengaruhi metabolisme tubuh dan perkembangan mental. Perklorat ini juga membahayakan kesehatan ibu hamil dan janin yang dikandungnya.

Tak hanya di udara, logam berat ini juga dapat mencemari air. Masih dikutip dari Newsweek, sebuah penelitian pada tahun 2009 yang dilakukan di sebuah danau di Ada, Oklahoma, Amerika Serikat, perklorat meningkat 1000 kali lipat setelah pesta kembang api. Jauh melebihi batas aman kandungan partikel berat untuk sumber air minum. Butuh 20 sampai 80 tahun untuk memurnikannya kembali.

Mengutip dari Thoughtco, selain perklorat, logam berat yang digunakan sebagai pewarna dalam kembang api juga berbahaya. Seperti Barium untuk warna hijau, mengandung bahan radioaktif yang beracun. Tembaga untuk warna biru mengandung dioksin penyebab kanker (karsinogen). Kemudian, logam campuran lainnya untuk membuat efek pada petasan juga berkontribusi besar pada pencemaran udara, air, dan tanah.

Melansir dari The Guardian, New Delhi ibu kota India dipadati kabut tebal selepas pesta kembang api menyambut Hari Raya Diwali pada tanggal 8 November 2018 lalu. Pemerintah kota menyatakan bahwa tingkat partikel beracun mencapai 1.665 ppm jauh melampaui batas normal yang hanya 25 ppm. Ini membuat India menyumbang lebih banyak polusi dunia.

Sementara sekitar 5000 burung jatuh dari langit di Arkansas, Amerika Serikat, mati diduga akibat pesta kembang api pada malam tahun baru 2011. Dikutip dari BBC News, Karen Rowe dari komisi Game and Fish Commision mengatakan burung hitam jenis sayap merah terbang rendah untuk menghindari ledakan. Sulit melihat dalam kegelapan, burung ini menabrak dinding bangunan, pohon, dan tiang-tiang, lalu mati karena cedera.

(Foto: cnn.com)

Karen juga mengatakan bahwa kembang api membuat burung-burung ketakutan, panik, dan stres sehingga mereka tak dapat terbang dengan benar. Dugaan penyebab keracunan dapat ditepis, anjing dan kucing yang memakan bangkai burung-burung itu tidak memiliki masalah kesehatan. Dari olah laboratorium juga tidak menemukan tanda-tanda penyakit lain pada burung-burung.

Kembang api memang memukau. Hampir tiap orang rela begadang demi menikmati kemeriahan pergantian tahun baru, seakan-akan tahun tidak akan berganti jika tidak ada kembang api. Namun apakah perayaan dan kembang apinya setimpal dengan dampak terhadap lingkungan yang mengikutinya?

 

Fotografia: Pasar Tomohon

Fotografer: Daniel Makikama

Berjalan di Pasar Tomohon tidak akan membuat diri menjadi kelaparan. Di Pasar ini terdapat banyak penjual kue. Saat berjalan menyusuri pasar, kebetulan bertemu dengan ibu penjual kue apang ini. Kue apang merupakan salah kue khas Sulawesi Utara yang cukup digemari dan juga murah. Dengan harga Rp. 10.000, 8 biji apang berisi coklat dan kelapa bisa didapatkan.

 

Di Pasar Tomohon, apapun bisa ditemukan. Mulai dari rempah-rempah yang lazim, hingga binatang-binatang ekstrim yang menuai pro dan kontra. Penjual ini warungnya tidak terlalu jauh dari tempat penjualan binatang ekstrim. Meskipun bau menyengat, ibu ini tidak mengeluh dan tetap menjual bumbu-bumbu dagangannya.

 

Suasana pagi di Pasar Tomohon. Saat memasuki pasar, warung-warung serba ada pasti ada di setiap pasar. Salah satu yang penting adalah warung penjual beras. Saat ini harga beras masih cukup stabil. Sebagai salah satu bahan pokok yang penting, harga beras harus tetap terjaga terutama saat mendekati natal ketika beras mulai sangat diperlukan.

Maaf Aku Pernah Menyebutmu “Pelakor”

Penulis: Tessa Caca

(Foto: gettyimages.com)

Sempat ramai di media sosial video Jennifer Dunn yang dilabrak oleh putri Bos Ferarri Club dan Pengusaha Properti Faisal Haris karena diduga menjadi orang ketiga di antara hubungan ibu dan ayahnya. Sejak saat itu kata Pelakor mulai terdengar tak asing di telinga kita.

Mungkin ada yang akan bertanya-tanya, sebenarnya apa, sih pelakor itu?

Pelakor, istilah ini adalah singkatan dari “perebut laki orang”, bila dilihat dari latar belakang, munculnya kata pelakor digunakan oleh wanita yang merasa sakit hati karena suaminya direbut oleh wanita lain yang memang sudah mengetahui secara pasti bahwa sang lelaki sudah beristri. Tapi, seiring berjalannya waktu kata pelakor tidak hanya digunakan oleh wanita yang suaminya direbut, tapi juga anak muda yang merasa pacarnya diambil teman, atau orang lain yang jelas-jelas sudah mengetahui tentang hubungan mereka. Jadi, bila ditarik kesimpulan kata PELAKOR lebih mengarah ke orang ketiga dalam suatu hubungan yang khususnya ditujukan pada wanita.

Pelakor, setelah dipikir-pikir kok jatuhnya kayak diskriminatif, ya? Soalnya ‘kan dalam kampanye kesetaraan gender yang namanya korban pelecehan seksual dan korban kekerasan dalam rumah tangga tidak selalu menjadikan wanita sebagai korban. Pria pun bisa (menjadi korban).  Jadi demi kebaikan bersama yah dibikin adil aja, dong. Jika ada pelakor, seharusnya ada juga perebut wanita orang, kan pelakor viral karena singkatannya, tapi kalo perebut wanita orang disingkat terus jadi Pewarong kan rancu. Tidak enak didengar. Apa lagi kalo disingkat (maaf) Pewar, kata ini terlalu kasar buat masyarakat Manado dan sekitarnya.

Wahai para wanita, apa perlu kita menyebut pelakor ke teman wanita yang lain?

Sebagai seorang wanita saya rasa kita harus lebih berhati-hati dengan kata ini. Apa anda pernah berpikir, menyebutkan kata ini anda sama saja menghina diri anda sendiri? Mungkin hal ini belum pernah terpikir di benak anda. Namun yang anda teriaki adalah kaum anda sendiri, yaitu kaum wanita.

Pernahkan anda berkata pada pacar atau teman lelaki anda demikian, bila kau menyakiti hati seorang wanita, itu sama saja engkau menyakiti hati Ibumu sendiri?” Tapi, bagaimana bila kalimat ini dijadikan senjata untuk menyerang dirimu sendiri? Bila kau mengatakan orang ketiga dalam hubunganmu sebagai wanita pelakor itu sama saja menghina dirimu sendiri karna kau adalah seorang wanita.

Seharusnya kita berpikir bahwa orang ketiga tidak akan hadir bila sang pria tetap setia dan terus bertahan walau banyak masalah dalam suatu hubungan, dengan kata lain, orang ketiga tidak akan hadir bila tidak diberi cela.

Mungkin bukan rahasia umum lagi bahwa ada pria yang gampang bosan ketika menjalin hubungan yang bukan berjalan ke arah yang lebih baik atau menjadi lebih romantis malah menjadi makin hancur karna pasangannya sibuk, atau karena terlalu banyak masalah yang membuat pasangan sering bertengkar dengan adu mulut. Hal ini membuatnya ingin mencari kenyamanan di tempat lain. Mungkin ia akan berpikir dengan curhat ke teman wanitanya akan terasa nyaman, dan ketika rasa nyaman itu datang tumbuhlah benih-benih cinta di antara mereka.

Jadi bagaimana? Pantaskah kata pelakor dilontarkan pada wanita? Saya rasa anda bisa memikirkannya sendiri.

Saya memang bukan psikiater, saya juga bukan Penasihat Pernikahan, dan saya juga bukan mahasiswa Psikologi. Saya hanya seorang mahasiswa di Fakultas Ekonomi. Tapi saya berhak dong mengemukakan pendapat (‘kan setiap orang punya hak mengemukakan pendapat). Mungkin diantara kalian ada yang akan berpikir, “aduh bocah, nikah aja belum, sok-sokan bahas orang ke-3.” Maaf beribu maaf, saya rasa pikiran anda harus diluruskan bahwa, “orang ketiga tidak hanya ada dalam hubungan rumah tangga saja!”

Saya hanya ingin mengatakan, bila ada masalah cobalah diselesaikan dengan kepala dingin dan cobalah untuk saling mengerti satu sama lain. Karena bila ada hal yang keliru terjadi dan menyakiti salah satu pihak, itu akan membawa dampak besar dalam suatu hubungan apalagi bila yang tersakiti hanya diam dan malah menceritakan masalahnya ke orang lain. Cobalah tetap tenang dan selesaikan semuanya baik-baik. Dan tentunya dengan komunikasi. Komunikasi yang baik antara satu sama lain agar tetap terus membangun rasa kepercayaan yang ada dalam diri.

Sekian tulisan saya kali ini, maaf kalau ada salah-salah kata, saltik, atau hal-hal yang tak mengenakkan dan membuat para pembaca kesal. Akhir kata teruntuk para kaum lelaki ,“Jangan pernah meninggalkan yang tulus demi yang mulus,” dan teruntuk kamu yang pernah diteriaki pelakor, “Maaf, aku pernah menyebutmu pelakor.

Tour Guide Masih Selow Menghadapi Ancaman Teknologi

Penulis: Ginpus

(Ilustrasi: cyberpictures.net)

Perkembangan teknologi yang pesat membuat manusia semakin inovatif. Saat ini berbagai kemudahan telah ditawarkan teknologi, salah satunya pada dunia pariwisata. Dengan berkembangnya platform travel, setiap destinasi dapat dijangkau. Hanya bermodalkan gawai dan akses internet, seseorang sudah bisa mendapatkan pelayanan wisata yang tentunya sesuai keinginan dan isi kantongnya. Hal ini tentu membuat orang berpikir karir seorang tour guide konvensional akan terancam. Namun, apakah benar demikian?

Tour Guide di Era Digital

Digitalisasi dunia pariwisata merupakan suatu kemajuan dalam perkembangan teknologi. Dimana informasi mengenai tempat tujuan wisata bisa langsung kita ketahui. Transportasi dan akomodasi dapat diakses hanya dengan sekali klik. Hal ini sebenarnya bukan sebuah ancaman. Tour guide bisa beradaptasi dengan kondisi ini, karena pendekatan digital dapat disesuaikan dengan kebutuhan. Tour guide bisa memanfaatkan teknologi yang sudah ada untuk memudahkan pekerjaannya. Seperti memesan tiket perjalanan atau reservasi tempat yang akan dikunjungi.

Menurut pendapat Joko Suratno, pemilik ATAYA Tour, “Era digital hanyalah sebuah sistem yang diperuntukan untuk mempermudah, bukan menggeser ataupun menggantikan,” seperti dikutip dari phinemo.com.

Cara Menghadapi Persaingan

Masih selow dengan kemajuan teknologi, para pemandu wisata menganggap kesempatan masih terbuka lebar. Mereka percaya diri ada beberapa kelebihan yang pastinya tidak dimiliki oleh penyedia wisata yang berbasis daring. Hospitality salah satunya. Keramah-tamahan tour guide serta kesiapsediaan dalam segala situasi merupakan keunggulan mereka. Dikutip dari tribunjogja.com, pernyataan Edwin Ismedi Himna selaku Managing Director Trend Tour and Travel, “Ada beberapa service yang tidak bisa didapatkan costumer dari agen-agen online. Diantaranya, saran dan petunjuk itinerary perjalanan hingga layanan refund langsung.” Tak hanya itu, dengan pengalaman matang seorang tour guide terhadap daerah-daerah yang sudah dikenalnya menjadi nilai plus, ketimbang hanya mengandalkan layanan ulasan pada sebuah aplikasi.

Peminat yang Masih Banyak

Bukan hanya keramah-tamahan dan kesiapsiagaan, jasa tour guide masih dilirik karena dapat memberikan rasa aman bagi para pengguna jasanya. Tidak main-main, tour guide adalah orang yang bertanggung jawab atas segala kemungkinan pada kliennya selama perjalanan berlangsung. Tidak hanya itu, budget untuk perjalanan juga masih dipertimbangkan. Salah satu paket pariwisata yang paling diminati adalah group tour. Perjalanan wisata berkelompok ini banyak peminatnya karena semakin banyak peserta tur, biayanya akan lebih murah. Masih dikutip dari pendapat Joko Suratno di phinemo.com, “Minat masyarakat pada agen travel konvensional itu masih sangat tinggi. Kalau dirata-rata memang paling banyak dari government.” Dengan merogoh kocek yang tidak terlalu dalam, pengguna jasa hanya tinggal membawa diri dan pakaian, tanda pengenal, tiket, hotel, akomodasi serta konsumsi sudah beres di tangan tour guide.

Seberapa pun hebatnya perkembangan teknologi, nyatanya tenaga manusia masih dipertimbangkan. Dengan rasa aman dan kenyamanan yang terjamin hingga kecakapan dalam merencanakan dan mengorganisir perjalanan wisata mampu mempertahankan eksistensi tour guide agar tidak dilengserkan jasa travel daring.

Mengapa Berbohong?

Penulis: Aprinalda FT

(Foto: lexpress.fr)

Media sosial menjadi salah satu sumber berita yang digandrungi masyarakat Indonesia saat ini. Dari sekedar kepo akun tetangga sampai selebriti. Oleh sebagian orang, media sosial digunakan sebagai sarana tebar berita bohong atau hoax, baik untuk kepentingan kelompok tertentu maupun diri sendiri. Baru-baru ini berita konyol, yang mengguncang dunia politik Indonesia, datang dari Ratna Sarumpaet. Seniman tanah air yang satu ini harus mengundurkan diri dari tim pemenangan salah satu calon presiden karena perbuatannya yang memalukan citra kubunya sendiri. Ia mengaku digebuki oleh sekelompok orang dan mengunggah fotonya yang babak belur di Instagram. Tidak lama setelah itu diketahui ternyata itu fotonya yang baru saja sedot lemak di klinik kecantikan.

Sebenarnya tak masalah jika kita menggunakan Wi-fi sekedar scroll feed media sosial, tapi bagaimana jika kita menggunakan kuota 3 GB per minggu? Masih untung kalau kita dapat informasi yang berguna, nah kalau dapat berita bohong? Ruginya double-kill triple-kill.

Jadi, sebenarnya apa sih alasan orang berbohong dan menyebarkan infomasi bohong itu di media sosial? Apa tujuannya, coba?

David J. Ley, seorang psikolog klinis juga seorang penulis asal Meksiko, mengatakan bahwa ada 6 alasan mengapa seseorang berbohong. Pertama, karena para pembohong menganggap sebuah kebohongan itu penting baginya. Maksudnya di sini adalah meski orang di sekitarnya menganggap hal itu sepele, bagi mereka hal itu sangat penting, sehingga mereka membangun kebohongan yang sangat meyakinkan.

Kedua, berbohong untuk mengendalikan situasi dan mendapat reaksi timbal balik yang diharapkan. Seringkali, orang berbohong karena mereka mencoba mengendalikan situasi dan menggunakan pengaruh untuk mendapatkan keputusan atau reaksi yang mereka inginkan. Mereka lebih memilih berbohong jika jujur akan memberikan dampak yang mereka hindari.

Ketiga, mereka ingin membuat lawan bicaranya merasa nyaman, karena para pembohong takut ditolak ketika berkata jujur dan malu jika orang mengetahui hal yang sebenarnya. Mereka ingin mendapatkan respon yang baik dan dihargai.

Keempat adalah untuk menutupi kebohongan lainnya. Pembohong tidak melakukan kebohongan sekali saja, mereka pasti telah berbohong berkali-kali. Kebohongan yang mereka bangun dari awal tersebutlah yang menjadi asal muasal munculnya kebohongan-kebohongan baru. Ceritanya akan berbeda jika mereka mengatakan hal yang sebenarnya. Lingkaran kebohongan pun akan terus terjadi. Alasan keempat ini disebut lies snowball oleh David.

Kelima, mereka tidak sengaja berbohong, karena ingatannya menyusun kejadian sedemikian rupa sehingga mereka sendiri percaya bahwa hal tersebut benar. Si pembohong terlanjur nyaman dengan alur cerita kebohongan yang dibuat oleh dirinya sendiri, sehingga dirinya menganggap bahwa alur kebohongan yang dia bentuk itu benar adanya.

Yang keenam, mereka ingin itu menjadi sebuah kebenaran. Si pembohong berharap bahwa mereka dapat membuat sesuatu menjadi nyata dengan mengucapkannya berulang-ulang, dan mau tidak mau mereka harus mewujudkannya untuk memenuhi ekspektasi orang lain. (Psychology Today)

(Infografik: Angela Wijaya/Inovasi)

Semua orang tentunya pernah berbohong, sekecil apapun juga dengan tujuan yang beragam misalnya berbohong untuk melindungi diri dan menjaga privasi. Kebohongan jenis ini biasa disebut white lies. Dan memang ada hoax yang karena sudah menjadi kebiasaan, jadi semacam keceplosan. Ada juga hoax yang sengaja dibuat untuk merugikan orang lain, jenis kebohongan ini yang paling membahayakan. Kebohongan semacam ini disebut dirty lies.

Media sosial adalah sarang berita bohong, karena informasi di sana bisa datang dari mana saja dengan jumlah yang sangat banyak, sebagai pembaca/penikmat pun kita butuh menyaring semua informasi yang kita terima sebelum disebarkan.

Duta Damai: Perjuangan Para Pemuda Belumlah Usai!

(Ilustrasi: Jovany Joudi Joseph/Inovasi)

Penulis: Jovany Joudi Joseph

“Perdamaian tidak dapat dijaga dengan kekuatan. Hal itu hanya dapat diraih dengan pengertian” (Albert Einstein, 1965)

Pemuda adalah tanduk perjuangan negeri ini, sejak zaman penjajahan, kemerdekaan, bahkan reformasi. Kita tentu ingat betapa gigihnya para golongan muda, memperjuangkan agar proklamasi murni oleh bangsa tanpa campur tangan oleh pihak asing. Kita tentu juga ingat peranan para nyong-nyong wakil dari setiap daerah di Nusantara, bersatu dan bersumpah di bawah satu naungan tanah air, Indonesia. Kita juga tentu tak akan lupa semangat yang membara para mahasiswa yang menolak untuk tunduk di bawah paham-paham yang tidak sesuai dengan Pancasila, yang akhirnya menggulingkan tirani kekuasaan dan mendorong terjadinya reformasi.

Tapi, apakah perjuangan para pemuda hanya akan berakhir sampai di situ? Memang, kemerdekaan telah dicapai dan demokrasi telah dijunjung tinggi. Tapi apakah hal tersebut dapat selamanya bertahan? Apakah dapat mencegah masuknya paham-paham radikalisme? Apakah demokrasi yang ada dapat selamanya murni tanpa manipulasi? Apakah kedamaian dapat selamanya bertahan tanpa ada yang mempertahankannya?

Sementara melihat kondisi saat ini, bangsa yang penuh dengan keberagaman menjadikannya rentan terhadap isu-isu menyangkut keutuhan negara: ancaman konflik sosial, terorisme, penyebaran berita bohong juga isu-isu SARA, sampai perang saudara seakan semakin santer terdengar saat ini. Dan paling membahayakan ialah penyebaran radikalisme yang kini menyasar para generasi muda bangsa. Kita sekarang dihadapkan oleh tantangan global yang lebih besar. Perkembangan teknologi dan informasi yang pesat menjadi lahan luas bagi tumbuh suburnya paham radikalisme di dunia maya.

Kita tengah berhadapan dengan “musuh yang tidak nyata, namun sangat mematikan”. Terorisme kini melebarkan sayap dan menyebarkan ajarannya melalui media sosial. Hal ini tentunya akan menjadi ancaman yang cukup besar, para pemuda kini dituntut untuk mempertahankan kedamaian dan keutuhan bangsa dari serangan musuh yang tidak terlihat.

Demi menjawab tantangan dalam mempertahankan perdamaian tersebut, Badan Nasional Penanggulan Teroris atau disingkat BNPT, sebuah lembaga yang dibentuk khusus untuk menangani masalah terorisme dan paham radikalisme. Mencoba menyediakan sebuah wadah bagi para pemuda untuk memperjuangkan kemerdekaan di zaman modern ini, dengan membentuk Duta Damai Dunia Maya.

Melalui program tersebut, diseleksi 60 pemuda-pemudi terbaik yang giat berselancar di media sosial juga memiliki kesadaran akan pentingnya perdamaian. Masing-masing datang dari 12 provinsi di Indonesia. Selama 4 hari 3 malam, mereka diberi materi bagaimana melawan radikalisme dan terorisme di dunia maya, pelatihan bagaimana cara mengedukasi masyarakat dan dibimbing untuk bekerja sama dalam tim sehingga menghasilkan sebuah produk kontra propaganda yang nantinya akan disebarluaskan kepada publik sebagai penangkal berita negatif.

Pada pelatihan Duta Damai tersebut, 2 hari pertama kader-kader perdamaian ini dibekali dengan berbagai wawasan dan pengetahuan oleh para pemateri dari BNPT dan lembaga-lembaga afiliasinya. Di hari berikutnya mereka diajarkan untuk bekerja sama dalam tim dan membangun sebuah sistem media yang nantinya akan menghasilkan produk-produk positif secara berkelanjutan. Selain itu, mereka juga memiliki waktu senggang, sebagai sarana keakraban yang diisi dengan sesi sharing dan kolaborasi guna membangun komunikasi yang lebih erat diantara mereka, Duta Damai.

Sujatmiko, sebagai Kasubdit kontra propaganda BNPTRI, dalam pemaparan sesi pengenalan radikalisme, mengungkapkan betapa pentingnya peranan pemuda dalam menangkal bahaya yang mengancam keutuhan negara zaman ini. Pemuda harus tahu betul apa yang tengah dihadapi dan bagaimana menyikapinya.

“Setelah mengetahui betul akar permasalahan radikalisme dan terorisme melalui pelatihan duta damai ini, mereka dapat menciptakan suatu karya yang berisi konten-konten perdamaian yang kreatif, seperti video, meme, komik dan sebagainya kepada masyarakat…” ungkapnya seperti dikutip di mapalus.dutadamai.id

Setelah pelatihan dan dikukuhkan sebagai Duta Damai, para pemuda-pemudi ini ditempatkan dalam situs web dan media sosial dari tim masing-masing untuk menghasilkan pesan positif dan mengedukasi masyarakat. Serta menciptakan kedamaian dan mempertahankannya.

Memang, apa yang dilakukan oleh generasi muda zaman sekarang ini tak seberat jika dibandingkan dengan pengorbanan jiwa dan raga oleh pahlawan-pahlawan dalam memperjuangkan kemerdekaan di waktu itu. Tetapi, perjuangan tak sampai di situ, dan semua tinggal bergantung pada generasi kita. Bergantung pada apa yang kita ketik dan apa yang kita sebar luaskan di media sosial.

Selamat bertugas, para Duta Damai!

Tunjukan pada dunia bahwa #DamaiItuINDONESIA!

Pelestarian Lingkungan Menjadi Tanggung Jawab Pemuda Indonesia

Reporter: Rio Syahruddin Fabanyo

(Foto: Wahyu/Inovasi)

Dalam rangka Hari Sumpah Pemuda, Mahasiswa Pencinta Alam (MPA) Asteroida Fakultas Peternakan Unsrat mengadakan seminar yang bertema “Pemuda dan Konservasi”, dilaksanakan siang tadi, pukul 13.00 WITA, bertempat di Aula Fakultas Perternakan UNSRAT, Manado (25/10).

Diskusi berlangsung dengan baik, ditandai dengan adanya komunikasi dua arah antara pembicara dan peserta seminar. Yang menjadi pembicara adalah Harry Hilser (Direktur Program Konservasi), Abraham Paendong (Akademisi), Novita (Staf BKSDA) dan Terry Repi (Aktivis Lingkungan Sulut) juga peserta yang sebagian besar datang dari komunitas pencinta alam di Sulawesi Utara.

“Yah, kalau kita pikir sebagai pemuda aksi-aksi konservasi pelestarian lingkungan juga merupakan tanggung jawab pemuda Indonesia itu juga ada semangat nasionalisme jadi untuk memperingati Sumpah Pemuda tidak hanya sebatas upacara bendera, tapi lewat seminar konservasi kita juga bisa belajar bersama tentang kondisi-kondisi alam, kawasan dilindungi, dan satwa-satwa dilindungi kebetulan sebagai para pencinta alam bukan kebetulan hanya anak muda.” Terry Repi, selaku pemateri juga seorang aktivis lingkungan. “Sebagai pemuda Indonesia, jangan hanya bisa memanfaatkan alam, harus ada usaha mengembalikannya juga,” tambahnya.

Balai Konservasi Sumber Daya Alam Sulawesi Utara (BKSDA Sulut) memperketat pengawasan sesuai tiga pilar (melindungi, menjaga, dan mempertahankan kemurnian genetik) terhadap satwa yang terancam punah yaitu Anoa, Babirusa, Yaki, dan Maleo. Salah satu bahaya yang memungkinkan terjadinya penurunan populasi adalah perburuan yang dilakukan masyarakat sekitar kawasan untuk alasan diperdagangkan atau dikonsumsi.

“Kita sudah melakukan banyak kegiatan pemberdayaan-pemberdayaan masyarakat dan mengkampanyekan pelestarian satwa, tapi memang tidak semudah membalikan telapak tangan. Karena kita berhadapan dengan masyarakat yang masih  berurusan dengan perut.” ungkap Novita.

Harry Hilser sendiri mengatakan meskipun segala bentuk usaha telah diupayakan tetapi masih ada saja kendala dan ancaman. Dia berharap kepada semua pemuda Indonesia untuk berperan aktif dalam upaya pelestarian alam.

Konservasi terhadap sumber daya alam penting untuk dilakukan guna menjaga keberlangsungan kehidupan di bumi termasuk kehidupan manusia itu sendiri. Apabila pemanfaatan sumber daya alam tidak diiringi dengan upaya konservasi, maka berbagai macam bahaya dapat mengancam kehidupan kita. “Jadi harapan saya kepada para aktivis lingkungan bisa menyatu, membuat konsep, dan tindakan konservasi bersama,” ujar seorang aktivis KPA Tunas Hijau.