Sampai Kamis ke Berapa?

Penulis: Wahyu Alfi

Anggota Jaringan Solidaritas Korban untuk Keadilan (JSKK) mengikuti Aksi Kamisan ke-460 di depan Istana Merdeka, Jakarta. 22 September 2016. (lensa.fotokita.net)

Ketika hak hidup keluarga tidak mendapat perlindungan dari negara, Tuhan akan melindunginya.

Aksi diam melawan impunitas, adalah aksi diam yang tak sepenuhnya diam. Mereka sesungguhnya sedang menyuarakan hal-hal besar yang luput dari pandangan kita, bahkan mata para pembesar negara pun buta akan persoalan ini. Buta atau memilih tutup mata, tidak ada yang tahu. Bagi mereka yang berjuang, diam adalah cara untuk mengkritik pemerintah yang tidak selayaknya diam atas isu-isu yang mereka suarakan.

Gerakan itu diberi nama Payung Hitam. Mereka adalah orang-orang yang berdiri di depan istana negara dengan mengembangkan payung-payung berwarna hitam, bukan karena hari sedang hujan.

Makna “Payung” memang menyimbolkan perlindungan secara fisik atas hujan dan terik matahari. Sedangkan warna hitam melambangkan keteguhan iman dalam mendambakan kekuatan dan ketentuan ilahi. Hitam juga melambangkan duka cita sekaligus cinta kasih kepada para korban, dan sesamanya.

Aksi yang mereka lakukan setiap hari kamis disebut “Kamisan”. Mereka memilih untuk diam dan berdiri sebagai pilihan. Diam mengartikan telah hilangnya hak-hak sebagai warga negara, sedangkan berdiri adalah bentuk sikap korban dan keluarga korban yang akan tetap berdiri menuntut hak-haknya hak sebagai warga di bumi pertiwi.

Adalah hak mereka juga untuk menyuarakan kepada pemerintah agar mengusut kasus-kasus pelangaran HAM (Hak Asasi Manusia) yang dialami para korban, maupun keluarga korban.

Orang-orang itu adalah keluarga korban perengutan HAM—tragedi ’65, Trisakti, Semanggi, ’98, Rumpin, dll— yang enggan menutup mata. Gerakan Payung Hitam ‘diam’ pertama kali pada hari Kamis 18 Januari 2007, sekaligus menjadi momentum dimulainya aksi ini. Sebuah usaha untuk bertahan dalam memperjuangkan, mengungkap, mencari keadilan, dan tentunya, melawan lupa.

 

Kasus HAM yang Menemui Kemacetan

Pengusutan serta penuntasan kasus HAM di negeri ini selalu menemui jalan buntu, juga tak jarang dikesampingkan. Janji politik untuk memberikan cahaya pada sejarah kelam seolah menguap begitu saja. Isu hanyalah barang jualan di pasar pemilu. Janji, hanya sebatas janji. Akuntabilitas pelanggaran HAM masa lalu tidak menunjukkan kemajuan.

Mari kita lihat kembali yang terjadi pasca-peristiwa Gerakan 30 September 1965. Pada 2012 lalu, Komnas HAM menyatakan telah menemukan adanya pelangaran HAM berat. Kasus-kasus yang ditemukan antara lain adalah penganiayaan, pemerkosaan, pembunuhan, perbudakan, hingga penghilangan paksa. Kasus tersebut menemui kemacetan di kejaksaan agung, jumlah korbanya mencapai 1,5 juta orang. Sebagian besar dari mereka adalah anggota PKI, ormas-ormas yang berafiliasi dengannya, dan orang-orang yang disangka atau dituduh sebagai PKI.

Ada juga peristiwa Talang Sari  Lampung 1989. Komnas HAM membentuk komisi penyelidikan pelanggaran HAM guna melakukan penyelidikan terhadap kasus ini pada Maret 2005. Tim Penyidik meyimpulkan terdapat unsur pelanggaran HAM besar pada 19 Mei 2005. Berkas-berkas hasil penyelidikan diserahkan Komnas HAM kepada Kejaksaan Agung tahun 2006 untuk ditindak lanjuti. Dari hasil penyelidikan, jumlah korban diperkirakan mencapai 803 orang, dan sampai hari ini kasus tersebut juga masih macet di kejaksaan.

Tidak lebih parah dari kasus penembakan mahasiswa Trisakti tahun 1998, juga masih menemui jalan buntu. Kasus ini tak kunjung diselesaikan sampai sekarang. Peristiwa yang menewaskan empat mahasiswa Trisakti berjalan di tempat hingga memasuki babak tahun ke-19. Desakan dari banyak pihak agar menyeret pelaku pelanggaran HAM ini belum mampu membuat pemerintah bergerak mengeluarkan keputusan.

Walaupun Komnas HAM telah melakukan penyelidikan, dan selesai pada 2002 lalu, hanya mampu masuk ke Kejaksaan Agung berkali-kali, dan dikembalikan untuk kesekian kali. Mirisnya lagi, pada 13 maret 2008 dinyatakan hilang oleh Jampidsus Kejaksaan Agung, diperkirakan korban mencapai 685 orang.

Masih pada rentetan tahun 1998 ketika tragedi Semangi I. Komnas HAM sudah melakukan penyelidikan atas kasus ini, dan selesai pada maret 2002. Sayangnya, berkas hanya mondar-mandir dari komnas HAM ke Kejaksaan Agung. Sama seperti kasus Trisakti yang pada 13 maret 2008 juga dinyatakan hilang oleh Jampidus Kejaksaan dengan korban sejumlah 127 orang. Tragedi semangi II juga menemui hal serupa dengan jumlah korban 228 orang.

Di bulan Mei tahun 1998 juga terjadi kerusuhan dengan jumlah korban mencapai 1.308 orang. Komnas HAM telah membentuk komisi penyelidikan pelanggaran HAM untuk kasus ini, dan hasilnya telah diserahkan ke Jaksa Agung, tapi, lagi-lagi dikembalikan dengan alasan tidak lengkap.  Ada juga kasus Munir, si aktivis HAM yang diracun, Marsinah buruh pabrik yang dibunuh, Kasus Rumpin, kasus Penembakan Misterius (petrus) dan deretan kasus pelanggaran HAM lainnya yang masih meninggalkan tanda tanya.

Kasus pelanggaran HAM masih dianggap belum jelas kelanjutan penyelesaiannya. Penyelesaian kasus pelanggaran HAM di masa lalu, bukan sekedar amanat reformasi, namun juga merupakan tantangan bangsa melihat masa depan. Penuntasan pelanggaran HAM berat juga merupakan penguji ketahanan bangsa sebagai negara hukum. Pengungkapan pelanggaran HAM akan menunjukan bahwa hukum, masih berdaulat di bumi pertiwi.

 

Sepuluh Tahun Kamisan

Tepat sepuluh tahun lamanya, sejak digagas pada penghujung tahun 2006. Waktu itu Jaringan Solidaritas Korban untuk Keadilan (JSKK)—paguyuban korban/keluarga korban pelanggaran HAM—bersama JRK (Jaringan Relawan Kemanusian), dan KontraS mencari alternatif perjuangan. Disepakati pada 9 Januari 2007 untuk mengadakan kegiatan guna bertahan dalam perjuangan mengungkap fakta kebenaran, mencari keadilan, yang pada intinya adalah melawan lupa.

Hari kamis 18 Januari 2007 merupakan Kamisan pertama. Mereka menuntut pengusutan secara tuntas kasus-kasus pelanggaran HAM serius masa lalu di depan Istana Negara. Sebuah perlawanan kolektif, bukan sekedar rutinitas mingguan yang hanya sekedar mempererat solidaritas antar sesama korban atau keluarga korban pelanggaran HAM. Di saat yang sama juga merupakan salah satu cara membuat publik tetap terjaga ingatannya atas sikap represif aparat militer, yang dalam hal ini telah melanggar hak-hak sipil dan politik.

Aksi kamisan mempunyai ciri khas tersendiri dari aksi protes lainnya. Durabilitas aksi yang kuat, aktor yang sama dari waktu ke waktu, keteraturan waktu terkait keberlangsungan aksi protes, konsistensi isu, dan tuntutan yang diperjuangkan di dalamnya, serta metode dan penyampaian tuntutan. Tidak banyak yang tahu bahwa aksi ini sudah berlangsung selama bertahun-tahun, dan dengan tuntutan yang selalu sama, begitu pula dengan aktor yang bermain di dalamnya.

Melihat motif kemunculan aksi Kamisan, maka terlihat jelas bahwa motif politik berupa mendesak pemerintah untuk mengusut tuntas pelanggaran HAM, baik yang terjadi di masa orde baru, maupun era pasca reformasi, dengan upaya menjaga ingatan kolektif tentang kejahatan HAM berat untuk disuarakan. Karena sampai hari ini, negara tidak memiliki keseriusan dan komitmen dalam menyikapi kasus-kasus HAM di masa lalu, serta cenderung membuat publik lupa pada persoalan penegakan keadilan HAM.

Sampai Kamis ke-512, tanggal 2 November 2017 lalu, orang-orang itu  masih dengan pijakan kuat berdiri, berpakaian serba hitam, dengan payung berwarna serupa digenggaman bertuliskan nama-nama kasus pelanggaran HAM. Tujuannya tetap sama, yakni, menuntut pemerintah menyelesaikan kasus HAM. Disamping itu, juga mengajak dan mengubah kanalisasi pandangan masyarakat yang melihat kejahatan HAM masa lalu sebagai permasalahan segelintir orang untuk menjadi pandangan bersama atas potensi-potensi bahaya kemanusiaan, yang bisa saja kita alami sewaktu-waktu. Segala jerih dalam upaya itu dimaksudkan untuk lagi, dan lagi mendesak, menekan negara agar membentuk pengadilan HAM ad hoc—pengadilan khusus yang dibentuk sementara waktu untuk menyelesaikan kasus tertentu.

13 Years Of Munir: Has It Been Resolved Yet?

Penulis: Dwiki H

                                                                    (Sumber: CNN Indonesia)

We used to have a human rights activist who fought for advocacy for the victims of kidnapping and violence during the New Order. This figure was named Munir Said Thalib. Munir, so he is often addressed, a simple man. He is a character, a true warrior, a human rights defender of Indonesia. The man born in Malang, December 8, 1965, was an extreme Muslim activist who later turned into a person who upheld tolerance, respect for humanity, non-violence and fought tirelessly against the practices of authoritarian as well as militaristic. He was an activist who was very active in fighting for the rights of the oppressed. During his life he was always committed to defend anyone whose rights are wrong.

While in the midst of fighting for human rights, there was a time many parties feel disturbed, causing him to go through several terrors and threats, including death threats.

Meeting His Death

The death threat finally became apparent on September 7, 2004 while he was en route to Amsterdam to continue his studies there. He boarded Garuda Indonesia GA-947 which took off from Singapore. Three hours after take-off, the cabin crew reported to pilot Pantun Matondang that a passenger named Munir sitting on seat number 40-G was ill. Munir went back to the toilet. The pilot asked the cabin crew to continue monitoring his condition. Munir was moved to sit next to a passenger who happened to be a doctor who also tried to help him at that time. The flight to Amsterdam took 12 hours. But two hours before landing on 7 September 2004, at 8:10 am Amsterdam time at Schiphol Airport Amsterdam, when examined, Munir has died.

On November 12, 2004, the Dutch police (Dutch Forensic Institute) issued that they found traces of arsenic compounds after autopsy. This was also confirmed by the Indonesian police. It was not yet known who has poisoned Munir then, although some suspect that certain elements do want to get rid of him.

Handling the Case

On December 20, 2005 Pollycarpus Budihari Priyanto was sentenced to 14 years in prison for the murder of Munir. The judge stated that Pollycarpus, a Garuda pilot on leave, put arsenic in Munir’s food, because he wanted to silence Munir, who had been actively criticizing the government. On June 19, 2008 a military General Muchdi Prawiro Pranjono, who also happened to be close to Prabowo Subianto and the Vice Chairman of Gerindra Party, was arrested with strong suspicion that he was the mastermind of Munir’s murder. Various strong evidence and testimony led to him. However, on December 31, 2008, Muchdi was acquitted. The verdict is highly controversial and the case is being reviewed, and 3 judges who convicted him free of charge are now being questioned.

A rapid process since the arrest was announced on June 19, 2008. Muchdi’s freedom was considered odd, because several facts in the trial reinforced his role in Munir’s death. Here is the gaffe:

  1. Muchdi is considered to have a motive of hurt to Munir. His career stalled after the disclosure of the case of kidnapping activists in 1997-1998.
  2. Before and after Munir were killed, there were at least more than 40 telephone communications happened between Muhdi and Pollycarpus. Even on the day Munir was murdered there were fifteen phone calls to Pollycarpus.
  3. From a list of contacts on Muhdi’s computers seized from his office, the team of investigators found Polly’s name.

Unfortunately, the judges’ verdicts did not lead to Muchdi’s involvement.

The President’s Move

13 years has passed by, however Munir’s case has not yet reached a bright spot. In 2016, the Public Information Commission (KIP) won Munir’s widow Suciwati and KontraS’s lawsuit requesting that the Ministry of State Secretariat (Kemensetneg) open a Fact Finding Team (TPF) document of Munir’s murder to the public.

The TPF document on Munir’s murder had been handed over to the then-president Susilo Bambang Yudhoyono on July 23, 2005. However, it has now gone missing. President Joko Widodo had instructed the Attorney General to find the missing document and examine it to resolve Munir’s murder case. A year later KIP’s decision for Kemensetneg was annulled and stated that said document is lost and is not a responsibility of Kemensetneg to find.

Munir’s widow Suciwati questioned Kemensetneg’s statement, she personally believes that the document had been submitted by the TPF to the government at the Palace in 2005. She also assumes there is a cover-up so that the document in 2005 was not opened. She will still ask the government to announce the TPF document.

Reflecting from this case 13 years ago, we can also look at the latest case as similar, such as Novel Baswedan’s case. How the government’s reaction to it may show that cases like these get only a small attention. In order for judicial cases like this to be resolved quickly, should there be more attention from the government such as the protection of the witnesses required to testify.

It’s been 3 years since Jokowi was elected as President of Indonesia in 2014. As a President, what he needs to do is to fulfill his promises because back then while he was campaigning to run, he promised to resolve the old and unresolved cases like Munir’s and other cases regarding to Human Rights. But up until now many parties think Jokowi hasn’t given his full attention to his promise. Given a statement by Indonesian International Amnesty director saying that Munir’s case could also be fully disclosed if the Attorney General’s Office and the Police re-opened the case seriously after the Supreme Court (MA)’s verdict stating that Kemensetneg was not obliged to find the TPF Munir document.

During his 3 years of governing the nation, he has done remarkable accomplishments. In his early years he managed to strengthen and maintain the nation’s economic stability. Now he needs to set his priority for the unresolved cases just like he promised.

Generasi Z: Kami Bukan “Generasi Micin”

Penulis: Indri Karundeng

                                                                                                           (Sumber: Stores.org)

 

Generasi Z adalah istilah yang ditujukan kepada jenis manusia yang lahir pada tahun 1995 hingga 2014. Istilah ini memang masih terdengar asing bagi sebagian orang, namun cukup menggemparkan dan membuat generasi sebelumnya, Generasi Y atau Generasi Milenial, cenat-cenut.

Generasi Z dikenal dengan sebutan iGeneration atau generasi internet. Bukan cuma ayah dan bunda, jenis ini juga dibesarkan oleh makhluk tak berkelamin bernama teknologi. Sejak kecil mereka akrab dengan gadget dan sosial media. Tidak jauh  dengan Generasi Y, yang lahir pada rentang tahun 1981 sampai dengan 2000. Hanya saja Generasi Z cenderung menggantungkan hampir seluruh aktivitasnya kepada teknologi yang secara tidak langsung mempengaruhi gaya hidup mereka.

Jika Generasi Z pertama adalah mereka yang lahir pada 1995, maka yang paling tua dari Generasi Z Indonesia sudah berumur 22 tahun: sudah dikategorikan sebagai manusia dewasa, paling tidak sekarang mereka sudah berkuliah atau sudah punya pekerjaan. Mereka juga sebenarnya adalah produk Generasi Y, di mana mereka masih sempat merasakan masa kecil tanpa WiFi dan indahnya dunia tanpa Instagram, Facebook, dan Online Games. Namun, dewasa ini mereka diperhadapkan dengan situasi yang lumayan berbeda. Tidak sulit bagi mereka untuk menyesuaikan, karena sebelumnya mereka sendiri pun juga sudah disentuh oleh teknologi wireless.

Generasi Z yang berstatus sebagai mahasiswa,  cenderung lebih terbuka, komunikatif, dan multitasking. Mereka juga dikenal kritis dalam menanggapi isu-isu kekinian. Mereka senang mencari tahu segala informasi berdasarkan fakta. Di tengah kontroversi berita hoax, mahasiswa golongan Z tidak begitu saja menerimanya, melainkan mereka mencari terlebih dahulu kebenarannya kemudian mereka berkesimpulan. Budaya tulis-menulis masih berlaku di zaman ini, mereka tidak akan sungkan menulis  dan menceritakan ide-ide mereka untuk dijadikan sebuah karya yang berfaedah. Bagi Gen Z, produktifitas adalah harga mati.

 

Momok Penyematan “Micin” Kepada Generasi Z

Belakangan ini, ilstilah “Micin” sering disebutkan di hampir setiap perbincangan, baik langsung maupun di sosial media. “Micin” sendiri ditujukan kepada perilaku kids zaman now yang suka melazimkan sesuatu yang tidak dilazimkan sebelumnya. Generasi ini dipandang sebagai manusia yang hedon, instan, dan sering melakukan tindakan yang tidak berfaedah, khususnya di media sosial. Sebuah kebanggan bagi mereka jika wajah dan nama mereka terpampang dimana-mana. Lantas, mengapa “Micin” menjadi istilah untuk menggambarkan kids zaman now  hingga berimbas ke Generasi Z?

Micin atau MSG (Monosodium glutamat) adalah bahan yang digunakan sebagai bumbu penyedap makanan. Anggapan bahwa micin adalah sesuatu yang membahayakan konsumernya, masih melekat di masyarakat luas. Namun, berdasarkan penelitian Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat  mengategorikan MSG sebagai GRAS (Generally Recognised As Safe) atau umumnya diakui aman. Penelitian lebih lanjut mengenai MSG tentu akan selalu bermunculan untuk benar-benar memastikan keamanannya. Hingga saat itu tiba, jika kita belum mengenal Generasi Z dengan baik, mungkin ada baiknya kita memuaskan diri untuk menggunakan kata “Micin” sebagai penggambaran Generasi Z.

Tidak sedikit Generasi Z menolak, bahkan kesal digeneralisasikan sebagai Generasi Micin. Walaupun mereka dibesarkan dan dimanjakan oleh teknologi wireless, tak lantas membuat mereka menjadi malas untuk berkreasi. Justru kemudahan akses inilah yang mereka manfaatkan sebagai kebutuhan utama untuk mengekspresikan karya mereka dengan mudah. Bukti hasil kreatifitas Generasi (Bukan) Micin dapat dilihat di mana saja, dalam bentuk apa saja, baik karya  tulisan, video, fotografi, dll. Maka wajar saja generasi ini menolak disebut Generasi Micin.

 

Masa Depan di Tangan Generasi Z

Sebagai generasi yang terlahir di era digital, mau tidak mau mereka akan tetap bersentuhan dengan teknologi, yang mana mereka secara tidak langsung dituntut untuk menggunakan teknologi dalam kesehariannya untuk memenuhi hasrat dan kebutuhannya sebagai seorang Gen Z itu sendiri. Yang dibutuhkan adalah kemampuan untuk menghasilkan sesuatu yang dibutuhkan, diinginkan, dan dicari oleh banyak orang. Kerena dalam sepuluh atau dua puluh tahun lagi, bumi akan dipenuhi dengan manusia Gen Z yang membuat persaingan semakin ketat.

Merah Bercerita tentang Bunga dan Tembok

Penulis: Rio Syahruddin Fabanyo

                                       (Sumber Ilustrasi: Soundcloud.com)

 

Sudah tahukah Kamu dengan band indie yang satu ini?

Merah Bercerita adalah kelompok musik asal Solo yang beraliran sound of freedom.  Pertama kali dibentuk oleh sekawanan siswa SMK 8 Surakarta yang ingin berpartisipasi pada sebuah event bulanan yang diselenggarakan sekolah mereka. Sebelumnya, band ini bernama Milagros.

Entah karena merasa aneh dengan nama tersebut, mereka memutuskan untuk merubah nama menjadi Merah Bercerita. Kata “Merah” diambil dari nama Vokalis mereka, Fajar Merah. Sedangkan maksud kata “Bercerita” adalah karena keinginan mereka menjadi pencerita lewat lirik-lirik lagunya.

Band ini digawangi oleh Fajar Merah (vocal/gitar), Gandhiasta Andarajati (gitar), Yanuar Arifin (bas), dan Lintang Bumi (drum). Mereka meluncurkan album perdana yang serupa nama band mereka: Merah Bercerita. Singel terbarunya berjudul Derita Sudah Naik Seleher. Hingga saat ini, Merah Bercerita telah memiliki sebelas lagu. Satu di antara lagu mereka berjudul Bunga dan Tembok, liriknya diadopsi dari puisi Wiji Thukul, Ayah dari Fajar Merah.

 Bagi Fajar Merah, puisi masih kata-kata mati ketika tidak ada yang membicarakan. “Kami ingin meghidupkan tulisan itu agar menjadi hidup melalui musik. Kami akan mengantar kalimat itu menuju keabadian” kata Fajar Merah, dikutip dari metrotvnews.com.

Fajar Merah tidak ingin kalau puisi yang ditulis bapaknya itu mati. Puisi masih kata-kata mati ketika tidak ada yang membacakannya.

 

Tentang Bunga dan Tembok

Melalui puisi-puisinya, Ia menerbar konfrontasi. Puisi ini mengibaratkan rakyat kecil sebagai bunga, mereka tumbuh, tapi tak diharapkan oleh pemilik rumahnya. Rakyat kecil diibaratkan seperti bunga yang dicabut dan disingkirkan dari tanahnya sendiri. Lalu, sang penguasa sebagai tembok, menggusur bunga-bunga dari tanahnya sendiri.

Namun, di akhir sajaknya, Thukul memberikan semangat untuk pembaca, bahwa si bunga yang tercabut dari akarnya itu akan tetap menebarkan benihnya. Benih semangat yang akan bergelora kelak di masa depan, merongrong kengakuhan tembok penguasa.

Puisi Thukul menggambarkan kebobrokan pemerintah masa itu. Kezaliman orang-orang yang memiliki tahta tinggi di pemerintahan, melakukan segala macam cara untuk membungkam suara-suara yang melawan. Suara-suara yang meminta keadilan. Sebuah rezim yang membawa penderitaan fisik, dan menyisakan luka batin. Wiji Thukul lebih senang “melagukan” puisi dengan tema-tema kebangsaan yang membangkitkan jiwa. Salah satu cita-citanya yang selalu ia pegang adalah memberikan keadilan bagi semua kalangan rakyat, dan menentang segala bentuk penindasan dan pelanggaran kaum elit negeri ini.

Perjuangannya melawan ketidakadilan lewat puisi tidak berjalan mulus. Sudah tidak terhitung lagi aksinya yang ditentang aparat, hingga sekolompok orang yang merasa terusik dengan bisikan-bisikan pedas ala Wiji Thukul.

Namun, titik akhir hidup sang maestro ternyata malah menjadi misteri yang memilukan. Seperti kisah di akhir puisinya, Ia dikabarkan hilang pada prahara Mei 1998. Hingga kini, tak ada yang tahu di mana rimbanya. Ia menjadi korban penghilangan paksa, bersama dua belas aktivis 1998 yang lain. Tahun ini, terhitung sudah mereka hilang selama 19 tahun.

Mencari Keuntungan: Menguntungkan atau Merugikan?

Penulis: Jovany Joudi Joseph

(Sumber: Dokumenter Gorontalo Baik)

 

“Hidup ini bagai hukum permintaan dan penawaran, memiliki kontra dan hubungan yang akan mempengaruhi kedua aspek, apakah itu akan bertambah atau berkurang? Ketika semangat dan motivasi kita naik, maka otomatis pekerjaan kita akan turut berkembang, dan berlaku juga sebaliknya. Namun, bila ada aspek yang merugikan justru bertambah, maka ia akan menggerus kerja kita, dan akan berdampak berlawanan. Seperti itulah kira-kira yang dialami bila kita mempelajari ekonomi. Ada hukumnya” demikian kata-kata dari seorang dosen Ilmu Ekonomi yang tengah memberikan kuliah. Pernyataannya di atas menjadi doktrin bagi para mahasiswanya untuk mencari keuntungan sebanyak-banyaknya. Dalam konsep ekonomi, kerugian adalah kutukan yang mesti dihindari.

Pertanyaannya, apakah keuntungan itu benar-benar menguntungkan kehidupan? Apakah moral kita juga diuntungkan dengan doktrin mengejar keuntungan tersebut?

Hari itu tidak ada yang berbeda di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sam Ratulangi. Mahasiswa berkeliaran ke sana kemari. Hampir setiap jam kelas-kelas berganti mata kuliah, dosen lalu lalang dengan raut diam tanpa ekspresi. Kegiatan ormawa di tempat itu berjalan seperti biasa. Jadwal kuliah padat seperti biasa. Di sana, sekumpulan manusia terstruktur sedang  belajar tentang “keuntungan”.

“Apa yang kalian pelajari di mata kuliah ini?” tanya seorang dosen Ilmu Ekonomi kepada mahasiswanya. Lalu, serentak mereka menjawab “Mencari keuntungan!” Namun, bagaimana bila kalian dihadapkan dengan kerugian?” tanya sang dosen. Semua mahasiswa diam sesaat.

 “Kalian bangkit, dan kejar lagi keuntungan. Lupakan kerugian. Bila kalian ingin berhasil dan bahagia, tidak boleh ada yang namanya kerugian!” tegas sang dosen.

Dosen itu lalu menegur seorang mahasiswa yang telah selesai mengikuti mata kuliah Ilmu ekonomi, juga untuk menanyakan, apa yang telah Ia pelajari. Aldi Affandy, seorang mahasiswa semester-1 jurusan manajemen di Fekon.

“Saya mempelajari tentang defenisi keuntungan, dampak keuntungan, dan rumus-rumus untuk mencapai keuntungan” jawabnya dengan penuh percaya diri. Sebuah jawaban yang menegaskan doktrin keuntungan yang seolah menjanjikan sesuatu yang sangat “menguntungkan” dalam kehidupan, sehingga mesti dikejar dengan berbagai macam cara.

Namun, pertanyaan lain kembali muncul, apa bukti yang kuat bahwa keuntungan itu benar-benar menguntungkan?

KENYATAAN ZAMAN INI

“Seorang pejabat pemerintahan ditangkap KPK dalam operasi tangkap tangan tadi malam. Pelaku terbukti menggelapkan uang proyek pemerintah untuk kepentingan pribadinya’’ ucap seorang pembaca berita melalui sebuah siaran televisi nasional dengan raut serius. Namun, berita itu tak lagi begitu dihiraukan sebagian penonton berita. Berita seperti itu sudah tidak menarik untuk disimak. Sudah biasa.

Menengok kembali beberapa kasus korupsi besar-besaran yang terjadi di Indonesia: Hambalang, E-KTP, Dana hibah, dan serentetan kasus korupsi lainnya. Sudah basi. Seolah yang dicari para koruptur hanya melulu soal keuntungan. Seakan belum cukup gaji yang diterima, mereka malah mengejar keuntungan lain yang bukan menjadi hak mereka. “Toh, namanya juga keuntungan. Selagi ada kesempatan, ya, dikejar” ujar Fernanda Barijha, Mahasiswa jurusan manajemen, Fakultas Ekonomi dan Bisnis.

Tapi, apakah moral kita juga diuntungkan? Apakah perbuatan para pejabat yang mengejar keuntungan sampai ke balik jeruji besi, menerima keuntungan bagi kehidupannya? Apabila, para pajabat itu juga merupakan jebolan Fakultas Ekonomi, bergelar Sarjana Ekonomi, apakah ekonomi yang mereka pelajari telah benar-benar menjadikan mereka penggila keuntungan? Apakah benar manusia harus selalu mengejar keuntungan?

Kata Mereka, Secukupnya Saja

“Yang penting, secukupnya saja” ujar tante Oco, seorang penjual milu siram di kelurahan Biawu, Kota Selatan, Gorontalo. “Yah, penting berkah di usia saya yang sudah tua” begitu kata Oma Rabi, peramu obat tradisional di Desa Patungo, Telaga Biru, Gorontalo. Begitulah kutipan dari film dokumenter Gorontalo Baik karya Dandhy Dwi Laksono yang belum lama ini dirilis di YouTube.

Tante Oco dan Oma Rabi tidak menyandang gelar Serjana Ekonomi. Bukan pula pengikut doktrin “keuntungan” dalam menjalankan usaha mereka. “Yang penting, secukupnya” Itu adalah prinsip mereka. Warung sederhana di kelurahan Biawu itu sangat terkenal akan kenikmatan milu siram racikan Tante Oco. Warung yang hanya buka dari pukul 10.00- 13.00 WITA itu selalu ramai dikunjungi, bahkan tak pernah sepi dari para pelanggan setianya. Tante Oco, penjual dan pemilik usaha itu telah dikenal luas dan memiliki banyak pelanggan tetap. Diakuinya bahwa penghasilan yang diperoleh sudah cukup. Lalu, ketika ditanya, kenapa tak menambah jam buka, atau berinvestasi dengan membuka cabang di tempat lain? Ia menjawab, “Yang penting, secukupnya saja”.

Tante Oco mengaku tak ingin susah payah mengejar keuntungan sebesar-besarnya. Yang penting sudah cukup memenuhi target hari itu. Ketika dagangannya habis, Ia akan menutup warung kecil itu, lalu kembali mempersiapkan dagangan untuk esok hari.

Sama halnya dengana oma Rabi. Seorang peramu obat tradisional yang telah dikenal luas sampai keluar daerah karena ramuannya yang manjur. Namun, dengan ketulusan hatinya, setiap pasien yang datang dengan berbagai keluhan penyakit kronis, bahkan ada yang hampir mati akibat gagal ginjal, diberikan ramuan secara cuma-cuma tanpa bayaran sepeser pun. Para pasien yang telah merasakan ramuannya mengaku langsung sembuh tanpa perlu penanganan medis. Ketika ditanya, kenapa tak ingin meminta imbalan sedikit pun, Ia menjawab “Saya tidak ingin dikomersialkan. Tidak pernah kepikiran jauh-jauh ingin dikenal orang. Pokoknya, yang penting masyarakat sekitar sehat-sehat, kalau saya kan tinggal nunggu nomor antrian” ucapnya diiringi tawa kecil. “Saya tidak pernah kepikiran untuk berjualan. Memang tidak dijual. Saya hanya ingin sisa hidup saya menjadi berkah“ tutupnya.

Setelah menyimak cerita kedua tokoh di atas, manakah defenisi keuntungan yang sejati ? Manakah yang benar-benar menguntungkan kehidupan? Apakah kerugian adalah kutukan? Apakah kita sudah menjalani kehidupan dengan sebaik-baiknya?

Entah kenapa, mereka yang berujar “yang penting secukupnya saja,” adalah yang masih bisa tersenyum sampai hari ini. Mereka yang berpendidikan dan berpangkat, kini justru duduk di balik jeruji besi, menyaksikan mereka yang berujar “yang penting secukupnya saja” yang seolah-olah mengejek dari kejauhan, sambil berlalu dan tersenyum. Ironis.

Arus Balik Inovasi

Alumni: Themmy Aditya Nugraha

TAHUN 2010, beberapa senior terkejut. Kepada mereka, saya menunjukkan Surat Keputusan Rektor Universitas Sam Ratulangi Manado, tentang Kepengurusan di Lembaga Pers Mahasiswa INOVASI. Bagaimana tidak kaget, sekitar 4 atau 5 tahun, organisasi ini tidak mendapat legitimasi dari pihak rektorat. Mereka beraktifitas namun dianggap tidak ada. 

 

Permasalahan itu, sebelum tahun 2010, dipicu dinamika politik di dalam kampus. Pimpinan Universitas, melalui Pembantu Rektor bidang kemahasiswaan, mengeluarkan Petunjuk Teknis (Juknis) tentang organisasi kemahasiswaan intra kampus.

 

Pengurus INOVASI menyatakan penolakan di forum-forum resmi, maupun dalam diskusi non-formal. Mereka, yang saat itu didominasi aktivis ekstra kampus, beranggapan, Juknis adalah kelanjutan kebijakan NKK/BKK yang digunakan rezim Orde Baru untuk membungkam daya kritis mahasiswa.

 

Saat itu, berkembang wacana perampingan unit-unit kegiatan mahasiswa. Perampingan yang dimaksud, misalnya, UKM Catur, UKM Wushu, UKM Taekwondo, disatukan ke dalam UKM Olahraga. INOVASI, Fodim, Debat Bahasa Inggris, masuk dalam UKM Penalaran.

 

Juknis, lantas dinilai bukan hanya memberangus organisasi kemahasiswaan tapi juga kebebasan berekspresi mahasiswa.

 

Akibatnya, pimpinan Universitas didesak mendukung program Student Government. Itu berarti, hubungan antara pimpinan mahasiswa dengan pimpinan Universitas, harus bersifat koordinasi. Bukan komando, seperti yang mereka maknai dalam Juknis. Mahasiswa ingin mengatur dirinya sendiri.

 

Selisih pendapat tak bisa dihindari. Beberapa kali, sekretariat INOVASI digembok secara paksa. Walau akhirnya, dibuka kembali oleh pengurus. Puncak perselisihan itu adalah tidak diakuinya kepengurusan INOVASI oleh Pimpinan Universitas. Malahan, dengan kontrol kekuasaan yang dimiliki, Pembantu Rektor bidang Kemahasiswaan, menunjuk sejumlah nama sebagai pengurus INOVASI yang sah.

 

Keputusan itu ditolak. Alumnus INOVASI dari berbagai penjuru turun gunung. Setiap orang yang tidak pernah bersinggungan dengan organisasi dilarang memasuki sekretariat. Bisa dikatakan, dalam beberapa saat, INOVASI berstatus siaga satu.

 

Dampak lain dari penolakan Juknis adalah terpecahnya pendapat di tingkatan elit mahasiswa. Mereka nyaris tidak bisa membedakan teman dengan lawan. Kelompok pendukung rektorat dituding berhasil dibujuk dengan berbagai fasilitas dan kesempatan berkeliling Indonesia.

 

“Beberapa dari kami tetap berjuang, menjaga idealisme dengan bertarung melawan pimpinan Universitas, apapun resikonya. Namun, secara keseluruhan, aktivis mahasiswa menjadi lemah dan menjadi anak baik-baik[i],” tulis Nono Sumampouw, dalam Catatan Tentang Rumah Kami.

 

Bagi INOVASI, perselisihan dengan pimpinan Universitas berarti membuat penerbitan secara mandiri, tanpa berharap subsidi Universitas. Akibatnya, dalam sebuah terbitan, pengurus sempat mencantumkan Tuhan Yang Maha Esa, sebagai pelindungnya.

 

Dengan sistem underground, mereka banyak menyuarakan ide-ide kebebasan berekspresi. Di samping, menyerukan, tentu saja, “Pencabutan Juknis!”

 

DI PERPUSTAKAAN Depdikbud Sulawesi Utara, di kota Manado, beberapa mahasiswa tekun mengutak-atik buku teks. Mereka datang dari berbagai disiplin ilmu dan tidak saling kenal. Seringnya frekuensi bertemu, entah bagaimana ceritanya, mendorong mereka membentuk sebuah kelompok studi bernama Mesikolah, yang artinya kira-kira: Ayo Sekolah!

 

Mereka adalah Peter Tappi, Harry Marentek, Ronny Inkiriwang, Kardin Tiah, dan Selvy Sambuaga – sekumpulan mahasiswa dekade 1980an.

 

Dalam kurun 7 bulan, macam-macam mereka buat: komunikasi dengan Kelompok Netral Diskusi Muda (Kondida) di Jakarta, kontak dengan Bakom PKB[ii] pusat dan daerah, hingga menggarap the right man on the right place.

 

Setelah berpuas diri dengan aktifitas diskusi, mereka coba menggagas penerbitan kampus. Namanya, seperti yang sudah disepakati, adalah INOVASI.

 

27 Februari 1985, edisi perdana majalah INOVASI terbit. Tanggal itu sekaligus diperingati sebagai hari lahir organisasi ini. Drs. Ishak Pulukadang, koordinator KKN Unsrat, kemudian menjadi pemimpin redaksinya.

 

Edisi awal majalah ini berisi informasi kegiatan yang sudah dan akan diselenggarakan Universitas. Ada berita soal kunjungan Meneteri ke kampus, kegiatan KKN serta seminar-seminar di berbagai fakultas. Di masa awal kemunculannya, penerbitan ini jadi semacam media humas Universitas.

 

Di masa itu, INOVASI juga berada di puncak kemapanan materiil. Subsidi terbitan turun tiap bulan dengan beragam cara: langsung dari Universitas, ataupun dari pemasangan iklan-iklan rokok di halaman belakang majalah.

 

Pada catatan redaksi edisi Maret 1985, mereka menuliskan rangkaian kalimat yang mirip manifesto. “Sebuah lakon kini telah dimulai, yang nanti akan menjadi sebuah sejarah. Sejarah pers mahasiswa Universitas Sam Ratulangi. Tak dapat dikatakan baru, memang. Tapi kini, tengah berlangsung sutradara dalam dunia pers mahasiswa Unsrat[iii].”

 

Harus disadari, seheroik apapun pernyataan sikap redaksi kala itu, INOVASI berada dalam asuhan Badan Koordinasi Kemahasiswaan-Unit Kegiatan Pers. Di masa pemerintahan Soeharto, seluruh organisasi kemahasiswaan harus berada langsung dalam ‘asuhan’ pimpinan Universitas.

 

Orde baru sudah kapok dengan keterlibatan politik mahasiswa. Demonstrasi menolak modal asing yang berbuntut Malapetaka Lima Belas Januari (Malari) cukup menampar wajah pemerintah Soeharto. Belum lagi, menjelang pemilu 1977, mahasiswa menggelar demonstrasi menolak pencalonan diri Soeharto sebagai presiden dan mendesaknya untuk mundur dari jabatan.

 

Setahun kemudian, pada 1978, membalas ‘kekurangan-ajaran’ mahasiswa, pemerintah memberlakukan Normalisasi Kehidupan Kampus/ Badan Koordinasi Kemahasiswaan (NKK/BKK). Lewat kebijakan tersebut, pemerintah nampak berhasil meredam keterlibatan politik mahasiswa. Kaum terpelajar, harus kembali ke dalam kampus dan mengurusi perkuliahannya.

 

Praktis, dalam kurun 1985 hingga akhir 1980an, INOVASI tidak bisa berbuat banyak selain mengikuti kebijakan tersebut. Akibatnya, pemberitaan yang disajikan cenderung datar dan miskin eksperimentasi, baik ide maupun gaya tulis.

 

Memasuki awal 1990an, INOVASI berbenah. Struktur organisasi dirombak. Box redaksi seluruhnya mulai diisi mahasiswa. Majalah ini, kemudian, mendeklarasikan dirinya sebagai pers mahasiswa.

 

Hal yang terlihat dari perubahan status tersebut adalah penyajian topik liputan. Isunya mulai beragam. “Masalah Lingkungan di Sulawesi Utara[iv]”, “Hari Ibu dalam Sisi Emansipasi[v]”, “SDSB tidak bersalah[vi]”, “Tata Niaga Cengkih dalam Gugatan[vii]” hingga “Teluk Manado Milik Siapa?[viii]

 

Paska reformasi hingga awal 2000an, analisis redaksi INOVASI semakin tajam dan kritis. Ada Rezim Datang, Rezim Pergi, yang bercerita pergantian kekuasaan dari Soeharto pada Habibie. Serta topik otonomi daerah.

 

Di dekade ini, INOVASI mulai mengalami pencabutan subsidi. Namun, memiliki lebih banyak kebebasan berekspresi. Penerbitan tidak melulu dalam format majalah. Ada juga edisi fotocopy sebagai penerbitan bawah tanah. Tujuannya, menyampaikan ide-ide untuk menggulingkan kekuasaan fasis Soeharto.

 

Tak begitu mengejutkan, jika menjelang kejatuhan Soeharto, sekretariat INOVASI juga menjadi tempat rapat untuk mempersiapkan demonstrasi besar-besaran di Sulawesi Utara.

 

Saya kira, jika di awal kelahirannya, INOVASI mencapai puncak kemapanan materiil, maka di awal 1990an hingga awal 2000an, penerbitan ini mencapai puncak intelektual.

 

SAYA tentu saja gembira dengan SK Rektor tadi. Ada dua hal yang saya bayangkan dari situ. Pertama, INOVASI tidak berada di bawah UKM Penalaran, dan tentunya menjadi cara kecil menolak Juknis. Kedua, kerja-kerja pengurus akan dimudahkan dengan subsidi Universitas.

 

Beberapa saat kemudian, saya menghubungi rekan-rekan lain untuk menyusun program kerja pengurus INOVASI. Dalam setahun, kami berharap bisa memproduksi setidaknya 2 atau 3 cetak terbitan, dalam bentuk apapun.

 

Selain itu, ada pengurus yang bertugas mendisain ulang logo, menginventarisir perbendaharaan, dan merancang anggaran organisasi untuk setahun kedepan.

 

Awalnya, segala sesuatu berjalan sebagai mana mestinya. Tapi kemudian, muncul persoalan utama: bagaimana manajemen keredaksian nantinya?

 

Memang, sebelum dan setelah memperoleh SK Rektor, beberapa senior dan alumnus sempat memberi pembekalan, serta berbagi pengalaman terkait manajemen keredaksian INOVASI. Namun, saya kira itu belum cukup.

 

Soalnya, keterampilan jurnalistik tidak mungkin bisa didapat hanya dengan mendengar kisah-kisah romantik para pendahulu. Karena, kemampuan mengemas sebuah laporan menjadi penting dan enak dibaca, butuh metode yang tepat dan eksperimentasi secara berulang-ulang. Macam aktifitas manusia zaman beruburu-meramu, keterampilan menulis harus melewati tahap trial and error.

 

Kami, pengurus saat itu, sadar, ada jenjang intelektual yang terputus.

 

Kebingungan kami, lalu membuahkan hasil: satu per satu pengurus mundur. Bukan hal mengejutkan. Dalam stagnasi, ada dua hal yang paling bisa dilakukan: memperbaiki atau mencari suasana baru. Banyak yang memilih opsi terakhir.

 

Otomatis, tersisa saya dan beberapa kawan dekat. Barangkali, selain berusaha memperbaiki suasana, alasan kami bertahan adalah enggan disebut pecundang.

 

Seingat saya, nyaris satu semester tidak ada perubahan – selain jumlah anggota yang tinggal beberapa orang saja. Di saat bersamaan, kendala penerbitan belum kunjung terpecahkan.

 

Demi mengisi waktu, aktifitas yang paling banyak dilakukan hanyalah ngopi dan main catur. Sementara, untuk menunjukkan eksistensi INOVASI, kegiatan yang dibuat adalah diskusi film dengan mengundang orgnaisasi intra maupun ekstra Universitas, serta melibatkan diri pada aksi-aksi demonstrasi baik di dalam maupun di luar kampus.

 

Saya sadar, hal-hal itu masih jauh dari harapan. Terlalu banyak omong, tidak lantas membuat saya pantas disebut aktivis pers mahasiswa. Karena, tanpa produk jurnalistik, orasi aktivis pers mahasiswa tidak lebih dari omong kosong.

 

Dalam segala hal yang saya perbuat, satu hal yang pasti: INOVASI belum kemana-mana.

 

[i] https://inovasionline.wordpress.com/opini/catatan-tentang-rumah-kami/

[ii] Sebuah lembaga semi pemerintah

[iii] Majalah INOVASI No 2, Tahun I, Maret 1985

[iv] INOVASI No. 53 Juli-Agustus 1990

[v] INOVASI No. 57 Desember 1990

[vi] INOVASI No. 61 November Tahun 1991

[vii] INOVASI No. 79 Tahun X, 1995

[viii] INOVASI No. 82 Tahun XII, 1997-1998

Sunda Wiwitan: The Purity of the Local Religion and Its Discrimination in Indonesia

Penulis Tamu: Chika Tamsir

Sunda Wiwitan (Foto:https://sportourism.id)

There are only few people knowing the existence of the local believe in Indonesia. Local believes also known as nusantara religion. However, Indonesia only recognizing six religions officially. As what contained on the President’s decree number 1 in 1965 and also regulated in Indonesian constitution number 5 in 1965, explained that Indonesian people embrace the six religions, which are Islam, Christian, Catholic, Hindu, Buddha, and Konghucu. However, those all six religions are imported from the outside Indonesia.

Sunda Wiwitan is one of the local believe that worshiping to the nature and their ancestral spirit. Most of the Sunda Wiwitan believers are the traditional people of Sunda tribe. According to the Sunda Wiwitan believers, Sunda Wiwitan believe has already embraced since the ancient time, long before the Islam and Hindu entered Indonesia.

The Sunda Wiwitan believe was introduced by Sadewa Alibasa Kusuma Wijayaningrat, he also known as name Pangeran Madrais from Cigugur, Kuningan. Pangeran Madrais was arrested and exiled to Merauke by the Dutch colonist in 1901 for accusing heresy.

But in fact, the colonists are actually worry with the expanding influences of Madrais movement in building a resistance against the Dutch colonist through the doctrine of Islam. But at the end, he could free himself and back to Cigugur his hometown, and teach his followers about the importance of loving each other and being independent.

Madrais established a community to bring up and encourage the local people to against the colonists. In order to avoid the colonists suspicion, they created a strategy by delivering the doctrines through Sunda Java script, so that today, Madrais also known as Sunda Java believe, or Sunda Wiwitan.

When Madrais passed away in 1939, his leadership was continued by his Son named Pangeran Tedja Buana Alibasa until 1958. In 1964, there were group of people that slandered the Madrais and all his followers are communist. Eventually the Madrais community splitted into some groups.

The one group was led by Djati Kusumah, he is the son of Raden Tedja Buana from his second wife. Djati Kusumah reminded to all his Sunda Wiwitan followers that their believe is the continuation from Muslim Madrais. When at the beginning Madrais recognized as the founder and propagator of the Sunda Java believe, since the doctrine of Islam which was delivered in Sunda Java script.

In Sunda Wiwitan believe, they called their almighty as Sang Hyang Kersa, or Nu Ngersakuen as the most desirable. Sang Hyang Kersa also called in some names like, Batara Tunggal which means the omnipresent, Batara Jagat means the nature ruler, and Batara Seda Niskala as the unseen. The Sang Hyang Kersa is dwelling in the Buana Nyungcung.

All God in the concept of Hindu (Brahma, Wishnu, Shiwa, Indra, Yama, and etc) is bend over to the Batara Seda Niskala. There are three kind of world in Sunda Wiwitan believe, which are: Buana Nyungcung (the place to reside of Sang Hyang Kersa, which is located at the top), Buana Panca Tengah (the place of human dwelling and others creature, which is located at the middle), Buana Larang (the hell, which is located at the bottom).

We can meet the Sunda Wiwitan followers at the small village lacated in  Cireundeu, Bandung. Ridwan Tajudin the head of the Village mentioned that there are about 354 family living there, 91 of them are the followers of Sunda Wiwitan believe.

There are some life values believed by the Sunda Wiwitan like how to be a human being , and how to be a nation. To be a human being, the adherent must be having an affection to the nature, doing goods in the daily life, and respecting the parents. And to be a nation, the followers must uphold the local culture where they born, so they will not colonize other nation.

The Sunda Wiwitan followers are taught that in order to know their God, as human being they have to know their own self before their God, because they believed that the God itself is exist in every human being.

Unfortunately, the existence of Sunda Wiwitan followers today is quite apprehensive. As mentioned in Indonesian constitution 1945 article 29 explain about the freedom of religion, that the country is guarantee the freedom of every Indonesian people to choose their own religion, and worshiping according to what religion they believe in.

But today, the freedom of religion in Indonesia is now in the lowest point. People are commonly see the freedom of religion is different with the freedom of what to believe in. The Government separated the official and unofficial religion, so that most of the society never know that there are some local believe exist in Indonesia. Just like Sunda Wiwitan, even though the way they worship is actually similar to the other religions, which there are always bunch of goodness and values are taught. Sadly, some people think that Sunda Wiwitan is not a religion but the heresy, even the followers of Sunda Wiwitan are accused as Kafir.

The discrimination that happened to Sunda Wiwitan followers is the proof that this nation still cannot uphold the third Sila of Pancasila which is the unity of Indonesia. It is unfair for the Sunda Wiwitan followers, cause the freedom of religion is owned by each Indonesian people. The common society are still lack of information regarding to existence of the local believes.

The marriage of Sunda Wiwitan followers are not recorded in the Office of Religious Affairs, so they cannot have a certificate of marriage just like others. They are also prosecuted to empty their religion information on their Identity Card. Sometimes they cannot have the same right to get the health access from which is actually provide by the government, even in their own workplace. The worst is their children cannot get the birth certificate as what everyone should have for some sake of administration.

There are a lot of sadness experienced by the followers of Sunda Wiwitan. They are treated unfair by the country and most of other official religion, but it doesn’t trigger their revolt to the government. Even though everybody knew that ancestor of Sunda Wiwitan himself is one of the Indonesian national hero that also fight for the freedom of Indonesia.

The followers are living in patiently, but keep in fight for their own believe. They are all realize that the religion they believe in is teach the goodness just like the other religion. They are all believe that they are never break the Pancasila, and they have the same right accordance to Indonesian constitution article 29 about the freedom of religion and believe.

George Aditjondro dan Makanan-Makanan yang Lezat

Penulis: Nono Sumampouw

(Sumber: http://www.cnnindonesia.com)

 

Saya harus berterima kasih kepada Ferry Rangi karena dialah orang yang paling bertanggung-jawab memperkenalkan saya pada George Junus Aditjondro. Hubungan kami memang tidak terlalu intens, tetapi mengenal George adalah salah satu pengalaman mengenal orang yang paling membekas bagi saya dan ini bukan basa-basi!!!. Saya bukan menulis kertas pendek ini karena kematiannya beberapa waktu lalu, tetapi karena dalam masa-masa hidupnya dia menjadi orang yang penuh warna, semangat dan menginspirasi, berani bahkan sangat berani, analitis dengan magnet intelektual yang kuat, murah hati, humoris, penuh cerita dan lelucon serta penikmat makanan-makanan enak.

Jadi begini kisahnya: suatu malam di Jogja tahun 2011, Ferry mengenalkan saya pada Bang George, di rumah yang ia sewa untuk jadi perpustakaan, tempat ia menulis serta perteduhan bagi anak-anak angkatnya yang juga kawan diskusi kami. Apa yang saya dan Bang George bicarakan bukanlah hal-hal teoritis dan analitis, saya lebih senang bicara hal-hal remeh-temeh dan Bung George menurut kesan saya lebih senang dan terhibur bicara lelucon, dan dengan cara yang kocak. Ini dia lakukan dengan cara sangat menyenenangkan, terus terang dan terbahak-bahak. Jelas jauh dari kesan dan reputasinya sebagai ilmuwan yang garang dan kritis dalam melontarkan analisa. Kemudian, karena tahu saya dari Manado, dia begitu bersemangat bercerita tentang makanan-makanan Manado serba daging yang menjadi kesukaannya, serta gurauan soal bau kentut di sebuah tempat di daerah saya yang bernama Lahendong. Juga soal ketika ia menjadi tutor dalam pelatihan menggunakan konsep Analisis Masalah Dampak Lingkungan Kaki Telanjang yang ia singkat Amdal Kijang.

 

Saya kenal George dan tulisannya setidaknya waktu memutuskan untuk membuat skripsi tentang konflik. Waktu menemukan kertas kerja George mengenai “Orang-orang Jakarta di Balik Tragaedi Maluku” di rumah kedua saya: sekretariat Pers Mahasiswa Inovasi Unsrat Manado. Saya begitu terpesona setelah selesai membacanya. Dia begitu terus terang dalam menuliskan nama aktor dan tajam menganalisa. Dalam hal ini, dia begitu terbuka. Dalam tahun-tahun masih rentan dimana tulisan itu dibuat, saya jadi berpikir: wajar saja dia diusir pemerintah dan harus pergi ke Australia. George benar-benar berbahaya. Dia begitu berani, sangat berani bahkan dalam mengemukakan pendapat pada waktu ia dengan begitu gampang bisa saja dicederai oleh pemangku kekuasaan. Tetapi dengan cara beginilah George benar-benar terlihat sangat humanis.

Karena memutuskan untuk mendalami Minahasa, saya juga membaca tulisan George di Majalah Prisma mengenai Sam Ratulangi yang ia beri judul: Kepak Sayap Manguni Yang Rindukan Deburan Ombak Pasifik. Untuk seorang yang menulis artikel-artikel analitis, George puitis dan seringkali mengawali tulisannya dengan lelucon (misalnya artikel Terlalu Bugis-Sentris, Kurang Perancis), sekalipun tak pernah kehilangan kualitas. Soal artikel ini, perspektifnya sangat menarik dibandingkan puja-puji pada Sam Ratulangi oleh penulis Indonesia lain. Dia punya data, jadi oom Sam yang kata dia bukan Doktor jadi sesuatu yang masuk akal, ini karena ada penjelasan mengenai pengaruh bias gender. Soal kualitas dan ketajaman, jangan ditanya. Nyatanya kisahnya mengenai korupsi di Indonesia dalam buku Gurita Cikeas yang kontroversial itu, dapat dikatakan terbukti kebenarannya dalam realita politik hari-hari ini.

George memang keras kepala dan susah dibujuk, bahkan dengan sesuatu yang bagi para akademisi dianggap prestisius. Saya mendengar bahwa dia pernah ditawari menjadi penerima Award dan Hibah Akademi Professorship Indonesia pertama sekitar tahun 2004-2005 karena keahlian dan reputasinya di bidang Sosiologi Korupsi, tapi dia tolak. Entah karena alasan apa. Padahal ini bisa membuat soal-soal keuangan dan fasilitas menjadi teratasi kalau menerima tawaran ini.

Saya lupa tanggal berapa, tetapi itu jelas tahun 2012. Kami makan-makan dengan George sejak pagi, dan sore harinya kami ada di sebuah rumah makan di daerah Selokan Mataram, dekat penerbit buku Kanisius. Ia tidak berhenti makan sambil bicara lelucon-lelucon nakal yang ia peroleh dari pengalamannya di berbagai daerah; dari hanya tempat yang ia datangi untuk jalan-jalan, juga wilayah-wilayah yang ia kunjungi karena minat intelektual dan advokasinya terhadap persoalan-persoalan konflik. Ia tertawa renyah sepanjang bersama dengan kami. Sayalah yang kemudian membonceng George untuk pulang ke kediaman yang ia kontrak untuk ditinggali bersama istrinya. Kami dipersilahkan masuk, dan ia mulai menunjukkan “museum” alias pajangan-pajangan etniknya sembari komat-kamit menceritakan kisah-kisah dibaliknya. Ia terlihat begitu bergembira dan terhibur. Sayapun pulang, dan besoknya diperoleh berita George terserang stroke hebat dan harus dirawat di RS. Bethesda Yogyakarta. Setelah itu, Ia berada dalam kondisi koma setidaknya dalam waktu 2 atau 3 bulan.

Saya balik ke Manado, dan setelah waktu-waktunya di Jogjakarta, George kembali ke Palu bersama istri untuk mendapat perawatan dan menjalani terapi penyembuhan lanjutan. Di Palu, George seperti mendapat udara segar. Dia punya banyak teman baik dan dunia yang benar-benar dia kenal. Setahu kami, di Palu dia menunjukkan kemajuan kesehatan berarti. Antusiasmenya di Palu benar-banar bangkit lagi. Dalam kondisi Stroke dia bahkan tidak kehilangan selera humor dan analisa yang tajam serta tepat sasaran. Ini terlihat karena dia seringkali dipanggil membagi pengalaman atau memberi kuliah kepada kawan-kawan muda di dunia aktivisme atau kampus Universitas Tadulako. Sekaligus tentu, jadi salah satu bagian terapi agar gairah hidupnya bangkit.

Tahun 2016 ini saya sering ke Palu untuk urusan pribadi. Dan Ferry menginisiasi kami agar menjenguk Bang George agar dia terhibur. Sekitar bulan Mei atau Juni, kami mengunjungi Bang George dengan membawa ole-ole makanan dan kue-kue khas Manado. Tentu yang cocok dengan kondisi kesehatannya. Adalah ikan Roa, Cakalang Fufu, kue-kue dan bahkan Teh dari Pekalongan –tempat kelahirannya- yang kami bawa. Kami memberi bingkisan itu sambil bicara dengan George di kamarnya. Dia begitu terhibur dan senang. Dia memakan Klapper Koek (Kue Kering Kelapa) dan Bagea dengan begitu lahap, beserta tatapan gembira serta puas. Senang sekali melihat George dalam kondisi seperti itu. George kemudian membuat kami berjanji untuk datang di akhir pekan dan memasak Ikan Woku Pedas khas Manado. Seolah-olah yang dia pikirkan hanya soal makanan. Tapi, tak apalah. Kami yakin ini baik untuk semangat dan kesehatannya. Maka, masak-masaklah kami di rumah George, dimana selain ikan Woku kami juga membuat Kuah Asang. George begitu bahagia dalam suasana makan sore menjelang malam tersebut. Ia terlihat puas, cerewet dan membuat banyak lelucon: mulai dari kisah Ingus yang katanya enak jadi bumbu hingga waktu dia bertanya dengan mimik serius: Fer, No, kamu tau nda apa fungsinya ini (sambil menunjuk Pisang Ambon yang ia pegang)? Kami dengan serius pula bilang: baik untuk Vitamin dan anti oksidan buat tubuh abang to; lalu George sergah dengan gampang; bukan!! Ini buat bikin tai tau nda !!!. Kami langsung pikir: ada-ada saja ini orang, sementara sakit sempat-sempat pula bikin lelucon nakal macam itu. Hahahahaha!!!.

Terakhir kali ke Palu, sekitar sebulan atau dua bulan yang lalu. Saya dan Ferry berencana menjenguk George saat Konferensi International tentang Sulawesi berlangsung, dimana ia juga diundang sebagai salah satu tamu terhormat karena reputasi dan karya-karyanya. Tapi, George akhirnya tak bisa juga mengikuti konferensi tersebut dan saya tak lagi sempat mengunjunginya sambil mendengar cerita tentang makanan dan humor-humor segar darinya. Ini jelas menyedihkan. Sangat menyedihkan.

Orang-orang kebanyakan, terutama para pegiat intelektual dan dunia aktivisme mengingat George karena hidup untuk memproduksi tulisan-tulisan dengan analisa yang tajam dan kritis dengan peran begitu besar dalam bidang Hak Asasi Manusia, Intelektual dan Advokasi Lingkungan. Tak ada yang bisa menolak dan meragukan hal ini. Tetapi, saya juga ingin mengingat George sebagai sosok yang hangat, humoris, sering nakal dengan cara menyenangkan dan memiliki selera makan yang besar terhadap menu-menu lezat. Saya ingin meningatnya sebagai manusia, yang menyentuh orang, ya kami-kami ini, dengan cara sederhana macam itu. Dengan cara manusiawi semacam itu.

Saya menulis tulisan pendek ini di Salatiga, sebuah kota kecil sejuk, nyaman dan indah di antara Semarang dan Solo. Tempat dimana George dan Arief Budiman, yang walaupun dalam reputasinya yang mentereng sebagai lulusan universitas ternama dunia (Cornell dan Harvard) pilih untuk mengajar di sebuah universitas swasta dan bahkan sangat mungkin jadi tempat George menulis artikel-artikelnya yang menohok pemerintah Soeharto dan bahkan membuka mata dunia, tentang Timor-Timur misalnya. Saya tak boleh takabur dan sok tahu kenapa mereka memilih tempat ini, tetapi saya menduga, bahwa di tempat-tempat kecil dan baik untuk merenung, selalu ada langkah-langkah besar yang bisa dicapai untuk memperjuangan Hak Asasi Manusia dan kemanusiaan itu sendiri.

 

Nadran: Syukurannya Nelayan Pantai Utara Jawa

Reporter: Chairil Muhammad

Upacara Nadran di Indramayu (Sumber : https://sportourism.id)

 

Nadran adalah upacara adat para nelayan di pesisir pantai utara Jawa, sepert Subang, Indramayu, dan Cirebon yang bertujuan untuk mensyukuri hasil tangkapan ikan, mengharap tingkatan hasil pada tahun mendatang dan berdoa agar tidak mendapat aral melintang pada saat mencari nafkah di laut. Inilah maksud utama dari upacara adat nadran yang diselenggarakan secara rutin tiap tahun, yaitu pada dua minggu setelah lebaran idul fitri.

Kata Nadran itu sendiri berasal dari kata nadzar, atau nadzaran yang berarti syukuran. Syukuran para nelayan perihal diadakannya tradisi ini sendiri adalah atas rezeki melimpah yang telah diberikan Tuhan kepada mereka, keselamatan ketika berlayar di laut, maupun hasil ikan yang melimpah ruah.

Nadran sebenarnya merupakan tradisi hasil akulturasi budaya Islam dan Hindu yang diwariskan sejak ratusan tahun secara turun-temurun. Inti dari upacara ini adalah memberikan sesajenkepada penguasa laut agar diberi limpahan hasil laut, sekaligus dijadikan sebagai ritual tolak bala.

Seperti Apa Prosesi Nadran ?

Tradisi nadran diawali dengan pemotongan kerbau sehari sebelum acara puncak. Sesaji dan doa dipanjatkan sebelum kerbau disembelih agar proses penyembelihan berjalan lancar. Kepala kerbau yang sudah dipotong kemudian akan menjadi sesaji yang dilarung ke tengah laut dengan pendamping beberapa tumpeng, dan jajanan pasar. Tradisi ini pada mulanya diawali dengan diadakannya pagelaran tari-tarian dan hiburan rakyat tradisional seperti reog, jaipong, genjring, tari kerbau dan lain-lain. Kemeriahan pun tampak di dalam rungan khusus dimana ibu-ibu dan bapak-bapak nelayan yang dianggap kompeten menyiapkan meron yang akan dilarung keesokan harinya. Meron sendiri merupakan miniatur perahu yang di dalamnya di isi dengan kepala kerbau, kulit kerbau, dan berbagai macam sesajen yang nantinya akan diangkut ke dalam perahu sungguhan untuk kemudian dilarung ke tengah-tengah lautan kurang lebih lima puluh meter dari pantai.

Pemotongan Kepala Kerbau Sebagai Persembahan ( Sumber : http://bayukreshnaadhitya.blogspot.co.id)

 

Ketika meron yang telah dimuat berlayar, para penduduk nelayan dengan perahunya masing-masing akan mengawal perahu yang membawa meron ini. Ketika meron dilarung maka para masyarakat nelayan tadi berbondong-bondong untuk memperebutkan segala sesaji yang ada pada meron yang dilarung tadi.

Berbagai sesaji yang para nelayan dapat tadi sebelumnya telah dibacakan mantra-mantra yang berbaur dengan asap dupa oleh dukun yang diyakini oleh para nelayan bisa menjadi jimat yang berhasiat baik untuk menolak bala maupun menambah rezeki berlimpah ketika dibawa berlayar mencari ikan.

Setelah meron dilarung, sang dukun yang bertugas sebagai pembaca mantera tadi akan mengambil air laut yang nantinya akan dipakai dalam upacara ruwatan pada malam berikutnya. Ruwatan sendiri merupakan upacara meminta keselamatan yang ditandai dengan pagelaran wayang kulit dengan lakon tertentu.

Biasanya pertunjukan wayang digelar sampai satu minggu berturut-turut. Air yang ketika siang tadi diambil pada saat upacara larung meron tadi, oleh dukun pun dicampur dengan air-air lainnya setelah upacara ruwatan usai . Air tersebut akan dibagikan kepada para nelayan sebagai ajimat agar senantiasa diberi keselamatan.

Begitu upacara ruwatan usai, maka usai pulalah upacara tradisi nadran tersebut, dan para nelayan pun pulang kerumah masing-masing untuk kembali berkutat dengan rutinitas sehari-hari mereka yang tak lepas dari jaring dan perahu.

Sejarah Tradisi Nadran Pra Islam

Berdasarkan buku penelitian Dr. Heriyani Agustina, Kepel Press-2009 diceritakan tentang buku “Negara Kertabumi” karya Pangeran Wangsakerta  dengan sumber cerita dari Kartani[8] yang memerintahkan Raja Indraprahasta Prabu Santanu ( yang sekarang Kec. Talun, Kab. Cirebon) untuk memperdalam atau memperbaiki tanggul, yang bertujuan untuk menduplikat Sungai Gangga di India. Agar tanggul sungai lebih kuat, dibuatlah prasastinya tangan sang Prabu Purnawarman yang sekarang belum ditemukan, serta sang Prabu memberikan hadiah-hadiah untuk Brahmana 500 ekor sapi, pakaian-pakaian dan satu ekor gajah untuk Raja Indraprahasta (Prabu Santanu).

Duplikat Sungai Gangga tersebut digunakan untuk keperluan mandi suci. Sungai yang dimaksud adalah sungai Gangganadi dan muaranya di sebut Subanadi (muara adalah perbatasan antara sungai dan laut). Sungai tersebut sekarang adalah sungai Kriyan, terletak di belakang Keraton Kasepuhan Kota Cirebon.

Mandi suci di sungai Gangganadi dilakukan setahun sekali, sebagai acara ritual untuk menghilangkan kesialan dan sebagai sarana mempersatukan rakyat dan pemujaan kepada sang pencipta ( Kartani dan Kaenudin).

Sebetulnya, tradisi Nadran bukanlah tradisi asli daerah Cirebon apalagi masyarakat Desa Mertasinga. Tradisi ini banyak juga ditemukan di beberapa daerah lain dengan nama yang berbeda. Di Jawa Tengah dikenal dengan tradisi Labuhan, karena ada beberapa kepercayaan bahwa apabila mereka tidak melakukan sedekah ini, mereka percaya bahwa Dewa Baruna akan murka dan segera mengirim bencana melalui dewa petir, Dewa Halilintar dan Dewa Angin yang mengakibatkan nelayan tidak dapat melaut. Akhirnya, tidak dapat mencari ikan sebagai sumber kehidupan utama.

Penggunaan daging kerbau sebagai persembahan dikarenakan daging kerbau yang lebih banyak dari pada daging sapi. Ada pula kemungkinan sapi merupakan hewan yang dianggap suci dalam agama Hindu, sehingga harus dipelihara dan tidak boleh dibunuh. Selain itu, sapi dianggap sebagai jelmaan dari dewa.

Selain melarung, ritual lainnya adalah pembacaan mantra-mantra sambil membakar dupa atau kemenyan, tujuanya adalah memohon keselamatan kepada para Dewa Laut. Mantra juga berfungsi untuk memanggil arwah para leluhur yang telah ikut menjaga keselamatan mereka dalam mencari rejeki di laut. Kesan magis pada asap dupa dan kemenyan bertujuan untuk ketenangan sekaligus permohonan kehadirat Yang Maha Kuasa, agar permohonan mereka lebih cepat sampai ke hadapan Tuhan serta cepat dikabulkan segala permohonan atau permintaannya.

Dalam rangkaian upacara Nadran, ditampilkan juga hiburan Wayang yang merupakan kesenian dari Hinduisme dan animisme, yang dapat diperankan seperti tokoh Mahabarata dan Ramayana. Pertunjukan lain dari wayang yang sangat kental dengan Hinduisme dan animismenya adalah wayang dengan lakon Wudug Basuh, yang menceritkan tentang pencarian Tirta Amerta (air kehidupan) oleh para Dewa, dengan cara mengaduk air laut menggunakan ekor naga Basuki.

Tirta Amerta diperlukan untuk mengurapi para Dewa agar mereka terhindar dari kematian, tapi mereka tidak dapat terhindar dari sakit. Oleh karena itu, masing-masing-masing dewa diberi tempat dikayangan Suralaya. Namun demikian, ada kelanjutannya, air laut yang diaduk oleh para dewa tersebut mengakibatkan mahluk laut terganggu, lalu bermuculan ke daratan sambil membawah wabah penyakit wudug, budug (bisul), penyakit-penyakit lainnya. untuk mengatasi wabah ini para Dewa meminta bantuan pada Sanghiyang Baruna untuk menentramkan mahluk laut supaya tidak mengganggu penghuni daratan. Sangyang Baruna melantunkan jampa mantra di baskom air kembang, lalu air kembang yang telah diberi mantra disiramkan pada layar perahu nelayan (Prawiraredja,2005:164).

Meskipun Nadran bernuansa magis dan animisme, masyarakat primitif pada waktu itu telaah memiliki kesadaran mistik terhadap keberadaan penguasa alam semesta, disertai rasa terima kasih dan bermohon kepada Yang Maha Kuasa suapaya diberi kebaikan dan keselamatan.

Tradisi Nadran Setelah Datang Islam

Tradisi-tradisi Nadran setelah kedatangan Islam tidak lagi dimaknai sebagai sebuah persembahan kepada Sanghyang Jagat Batara (Penguasa Alam Semesta), akan tetapi lebih dimaknai sebagai wujud syukur kepada Allah SWT atas karunia yang diberikan-Nya kepada para nelayan, baik itu karunia kesehatan, kekuatan maupun hasil tangkapan ikan yang berlimpah. Mantra-mantra yang dibacakan dalam prosesi Nadran diganti dengan pembacaan do’a-do’a yang dipimpin oleh seorang ulama. Lauk pauk hasil bumi yang diikutsertakan dalam upacara ini dibagi-bagikan kepada penduduk desa dangan simbolisasi pembagian berkah. (Dasuki,1979:1011).

Pelarungan kepala kerbau ke laut tetap dilakukan, tapi tidak lagi dimaknai sebagai persembahan kepada Dewa Baruna.  Pelarungan ini lebih bersimbol pada membuang kesialan, sekaligus untuk mengingat bahwa laut merupakan sumber kehidupan bagi para nelayan, sehingga perlu dijaga dan dilestarikan.

Nuansa keislaman juga nampak dalam pementasan seni wayang dan tari. Wayang yang dipertunjukan adalah wayang Golek Cepak dan wayang kulit Dakwah (sebelumnya wayang dibuat dari gulungan kain yang bergambar lalu diubah menjadi wayang kulit yang berasal dari kulit kerbau atau lembu ) yang merupakan asli Cirebon yang alur ceritanya diambil dari Babad Cirebon, Babad Walisanga dan Babad Ambiya, yang menggambarkan sejarah Islamisasi di tanah Jawa yang dilakukan para Wali, beserta cerita perjuangan Rasullah SAW dan sahabat-sahabatnya dalam menegakkan syariat Islam.

Pagelaran wayang semalam suntuk dalam tradisi Nadran bukan hanya untuk bergadang, akan tetapi masyarakat mendapatkan penyuluhan dan pembekalan rohani. Pagelaran ini diistilahkan dengan tabarukan, yaitu mencari keberkahan atas syukur yang mendalam, dengan membuang kebiasaan-kebiasaan buruk dan menggantinya dengan nilai-nilai positif (Dahuri,2004:218).

Tradisi Nadran Dewasa Ini

Proses pelaksanaan tradisi Nadran di Desa Playangan Kecamatan Gebang Kabupaten  Cirebon, berdasarkan cerita masyarakat setempat, dari dulu hingga sekarang adalah sama dan hampir tidak ada perubahan berarti kalaupun ada hanya proses kelengkapan hiburan yang kadang disesuaikan dengan tingkat kemampuan para nelayan atau tengkulak, dan berdasarkan fakta dilapangan disetiap tahunnya hampir seluruh warga masyarakat khusunya yang berdekatan dengan Desa Playangan turut memeriahkan tradisi ini.

Mereka mengelar berbagai hiburan tambahan, bahkan para pedagang pun tak ketinggalan dari pintu masuk jalan raya sampai ke pusat kegiatan (biasanya jalan menuju bendungan atau pusat acara nadran Desa Playangan) disesaki berbagai macam pedagang, dan hiburan baik dari penduduk desa maupun dari luar desa.

Pemicu tradisi nadran masih selalu dilakukan selain sebagai upaya pelestarian budaya dan tradisi, masyarakat  percaya dengan mitos-mitos yang bermunculan jika nadran tidak dilakukan, maka hal-hal aneh akan terjadi pada nelayan Desa Playangan itu sendiri.

Dahulu, tradisi Nadran pernah tidak diadakan karena beberapa kendala, serta tidak adanya persiapan yang dilakukan. Dalam waktu yang berselang, beberapa kejadian aneh terjadi, seperti kemunculan buaya putih yang menggemparkan warga, juga tenggelamnya kapal nelayan yang sedang berlayar.

Menurut Dr. Heriyani Agustina, dalam kontek kekinian, Nadran terkadang lebih terlihat sebagai upaya pelestarian tradisi, juga sebagai sarana hiburan bagi masyarakat. Ia kehilangan ruhnya, ini terlihat dari banyaknya masyarakat yang telah mulai meninggalkan pesan-pesan moral para pendahulunya, terutama tokoh-tokoh Islam dan para pendiri Cirebon yang tersirat melalui simbol-simbol tradisi.

Bahkan, ketika menampilkan lakon para sufi atau para wali dalam pagelaran wayang sebagai media pengajaran masyarakat supaya hidup sederhana, dan selalu memperhatikan kaum yang lemah, Nadran kini justru dijadikan sarana untuk berfoya-foya dengan tidak menghiraukan pendekatan kaum yang lemah. Sekarang ada kecenderungan bahwa pesta tradisi Nadran lebih banyak dalam bentuk campur sari dan dangdutan.

Kalau dicermati secara rinci dari sisi ekonomi, tradisi Nadran yang dilaksanakan oleh masyarakat Nalayan Desa Playangan, sebenarnya sangat menguntungkan bagi masyarakat maupun daerah, dikarenakan kegiatan Nadran ini sangat menarik para wisatawan baik domestik maupun mancanegara. Bahkan lewat tradisi ini kadang masyarakat Desa Mertasinga juga diuntungkan dari para wisatawan yang kadang juga turut bertransaksi ekonomi lainnya disamping menikmati hiburan-hiburan yang sedang ditampilkan.

Tradisi Nadran merupakan tradisi tahunan yang dirayakan oleh masyarakat Desa Playangan yang perayaannya memakan waktu berhari-hari, dimana tradisi ini merupakan upacara tradisi kelautan yang dilatarbelakangi semangat penyerapan nilai-nilai Islami.

Tradisi Nadran dimaknai sebagai bentuk rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa yang telah menjadikan laut sebagai tempat mencari nafkah bagi masyarakat pesisir. Tradisi Nadran merupakan tradisi yang sakral, bahkan komersial, karena dalam pelaksanaannya sudah pasti memakan biaya besar hanya demi mempertahankan tradisi. Namun demikian, Nadran apabila tidak dipengaruhi berbagai kepentingan politik dan ekonomi atau campur tangan pihak lain, ia adalah upacara tanpa pamrih duniawi.

Apabila dicermati lebih lanjut, tradisi Nadran memiliki nilai-nilai yang sangat ideal, namun nilai-nilai tersebut belum sepenuhnya diimplikasikan dalam kehidupan dilapangan. Nadran memiliki dimensi yang sangat luas, namun masih sebatas dimensi kultural atau tradisi saja, dan belum menyentuh dimensi kearifan budaya lokal. Tradisinya memiliki kelebihan bila dibandingkan dengan ketentuan-ketentuan hukum positif nasional. Nadran juga berguna dalam memperkaya konsepsi dan tujuan pembangunan nasional berbasis kelautan.

Satu hal yang harus kita ketahui bersama adalah bahwa persoalan yang sekarang dihadapi oleh para nelayan begitu kompleks, maka diperlukan peran semua unsur dan elemen bangsa ini untuk mencari solusi bagi kesejahteraan nelayan dalam rangka meningkatkan taraf hidup masyarakat nelayan. hal yang lebih penting juga bahwa tradisi Nadran dapat dijadikan sebagai nilai etika dan agama (asas-asas akhlak) yang manjadi faktor penentu, agar tradisi Nadran kembali pada kesakralan, sekaligus menjadi landasan spritual bagi terbentuknya kode etik dan konvensi pesisir dan kelautan.

 

Cerita di Balik Tradisi Unik “Pengucapan Syukur” Minahasa

Reporter: Ilona

Minahasa merupakan suku asli yang tersebar di beberapa wilayah di Sulawesi Utara. Seperti halnya suku-suku lain di Indonesia, suku Minahasa memiliki suatu tradisi tahunan khas yang dikenal dengan “Hari Pengucapan Syukur”. Suku Minahasa sendiri umumnya menetap di beberapa wilayah kabupaten di Sulawesi Utara seperti kabupaten Minahasa Selatan, Minahasa Utara, Minahasa tenggara, dan Minahasa Induk.

Setiap wilayah kabupaten tersebut umumnya merayakan hari Pengucapan Syukur pada pertengahan tahun. Pengucapan syukur biasanya dilakukan sebagai bentuk syukur kepada Empung Wailan Wangko (Tuhan Yang Maha Besar). Menurut praktisi budaya, Rinto Taroreh, tradisi ini sudah ada sejak zaman leluhur dan dilakukan sebagai wujud syukur atas panen yang didapat. Walaupun dilaksanakan serentak pada setiap pertengahan tahun, setiap kabupatennya merayakan pengucapan syukur di tanggal yang berbeda, tergantung instruksi yang ditetapkan oleh pemerintah masing-masing kabupaten atau kota.

Tahun ini pemerintah Minahasa (induk) menetapkan tanggal 24 Juli 2016 sebagai hari Pengucapan Syukur. Kali ini saya dapat kesempatan untuk mengunjungi kota Langowan untuk mengikuti perayaan tahunan Minahasa ini. Berangkat sejak sabtu dari kota Manado memungkinkan saya untuk melihat-lihat persiapan masyarakat Minahasa (Langowan khususnya) menghadapi hari pengucapan syukur.

Hal unik yang biasa saya saksikan pada perayaan Pengucapan adalah makanan yang disajikan. Masyarakat Minahasa dikenal dengan sajian kulinernya yang ekstrim. Selain makanan jajanan seperti dodol, dan nasi jaha, mereka juga menyajikan makanan pokok teman makan nasi yang biasanya dibuat dari olahan daging-dagingan. Pembuatan dodol biasanya sama dengan pembuatan dodol pada umumnya, hanya saja dodol yang telah jadi dibungkus dengan daun Woka. Nasi Jaha sendiri merupakan olahan beras ketan seperti lemper hanya saja memasaknya dengan dimasukkan kedalam bambu.

Bagi yang tidak terbiasa dan bukan orang asli Minahasa anda mungkin akan kaget dengan olahan daging-dagingan khas Minahasa. Seperti saya, walaupun ayah dan ibu saya merupakan warga turunan asli Minahasa, Saya cukup kaget melihat olahan daging-dagingan yang disajikan di pengucapan syukur Minahasa.

Hari Pembantaian

Sebelum proses pengolahan makanan, saya mendapat kesempatan untuk mengunjungi tempat jualan hewan dan ternak untuk dimasak. Pukul 9 pagi saya bersama seorang kerabat yang tinggal di Langowan berangkat menuju pasar baru. Sabtu pagi yang padat di pasar baru Langowan. Masyarakat berdesakan berbelanja keperluan pengucapan. Selain baju, sepatu, karpet, bumbu dan keperluan rumahtangga lainnya tujuan saya datang adalah karena penasaran dengan hewan-hewan yang nantinya akan berakhir di panci penggorengan.

Masuk lebih dalam pasar saya melihat stand unggas yang terdiri dari ayam dan bebek siap potong (Langowan terkenal dengan olahan bebeknya yang enak). Melihat ayam-ayam dan bebek-bebek yang digantung terbalik dengan kaki diikat saya sedikit kasihan. “belum dimasak saja sudah disiksa”.

Semakin kedalam pasar aroma kopi bercampur dengan keringat orang berdesakan, unggas, dan bumbu-bumbu yang digelar di meja-meja lapak pedagang. Terus kedalam ada meja-meja yang di atasnya diletakkan ikan berbagai jenis yang tengah megap-megap berusaha bernafas bahkan ada yang pingsan.

Di pojok paling belakang pasar merupakan letak lokasi pembantaian yang sesungguhnya. Anda yang nggak tegaan disarankan untuk tidak datang kesini. Masyarakat Minahasa memang dikenal dengan kuliner ekstrimnya. Di tempat inilah anda akan melihat Tikus, Ular Patola (piton), Paniki (kelelawar), Kucing, Anjing, Babi, dan Yaki Hitam (Satwa Endemik khas Sulawesi) yang tengah digantung, dibakar, atau dipotong-potong untuk dijajakan. Walaupun tidak ada aturan tertulisnya, namun hewan-hewan tersebut “wajib” ada (walaupun tidak semua) di meja sajian perayaan Pengucapan.

Cara eksekusinyalah yang jadi perhatian bagi saya. Untuk tikus, tidak ada kegiatan pembantaian langsung. Yang saya saksikan hanya tikus masih utuh yang sudah dibakar dan dijejer diatas meja. “Rest in Peace Mice”. Selain itu ada pula Patola (ular piton), saat tiba di lokasi ular telah dipotong menjadi beberapa bagian tapi tanpa dibakar karena kulitnya tidak ikut dimasak. Berbeda dengan hewan berbulu lainnya yang harus dibakar untuk merontokan bulu.

Selain tikus dan ular, ada pula babi. Babi biasanya telah dipotong terlebih dahulu sebelum dijual. Ada pula kucing. Disini hewan yang biasa dipelihara tersebut harus berakhir di panci penggorengan. Ada yang dibantai langsung, biasanya dengan dijerat. Setelah mati kemudian dibakar.

Coklat yang malang

Hal yang paling menggugah bagi saya adalah saat melihat stand anjing. Saya pribadi memang penyuka hewan yang suka menggoyang-goyangkan ekor sambil menjulirkan lidah kala sedang bahagia tersebut. Walau demikian saya tidak punya daya untuk menghentikan kaum omnivora ini mengkonsumsi bleki dan kawan-kawan. Yang menyedihkan adalah prosesi pembantaiannya. Mungkin saya sedikit mendramatisir. Tapi inilah yang saya lihat dan rasakan langsung saat kawan si Bleki harus dibantai demi daging RW di meja Pengucapan.

Anjing-anjing biasanya dikurung bersama dalam keranjang besi. Kala itu ada 2 ekor anjing yang dikurung dalam satu keranjang sementara anjing lain diletakkan di keranjang berbeda. Saat semakin mendekat saya melihat om-om yang tidak dapat disebutkan namanya menjerat seekor anjing berwarana coklat dengan corak putih di keempat kakinya (sebut saja si Coklat) di salah satu keranjang tersebut. Alat penjeratnya berupa bambu (galah) yang pada ujungnya diikatkan tali lingkar sebesar ukuran leher anjing. Saat berhasil dijerat, saya melihat si Coklat berusaha melepaskan jeratnya dengan menahan galah yang disodorkan si om sambil berteriak ketakutan. Saat sudah terjeratpun coklat masih berusaha memegang galah sambil menangis memohon si om melepaskan jeratnya. Si om tidak memperdulikan tangisan si Coklat. Si om kemudian memukul kepala coklat dengan balok sampai Coklat terkulai lemas disaksikan beberapa teman anjing di keranjang lain yang hanya bisa menatap pedih kemudian tertunduk dalam diam.

Di kandang bersama-sama dengan Coklat ada seekor anjing lain yang juga tertunduk tanpa mau menoleh ke tubuh lemas Coklat di sebelahnya. Hatinya lebih pedih karena itu berarti gilirannya semakin dekat. Ia hanya bisa berdoa untuk keselamatan dirinya dan anjing lainnya.

Sementara itu tubuh lemah coklat kemudian diangkat untuk dibakar dan dipotong dan dijajakan ke pembeli lainnya.

Antara tradisi dan satwa endemik Sulawesi

Di antara beberapa daging yang dijajakan, saya penasaran dengan daging Yaki (monyet) hitam yang merupakan satwa endemik Sulawesi Utara. Sepanjang stand saya tidak dapat menemukan daging yaki. Menurut kerabat saya yang mengajak saya ke pasar ini daging yaki cukup langka karena banyak peminatnya. Setelah beberapa kali berkeliling dengan hasil nihil karena saya bukanlah ahli yang bisa tau morfologi hewan hanya dengan melihat meski hanya potongan, saya kemudian memutuskan bertanya kepada seorang penjual, seorang om berbaju kuning yang sedang memotong-motong daging hewan.

“Om, daging Yaki di seblah mana kang?” ujar saya. Si om mengamati saya, setelah yakin saya adalah pembeli dengan memandang kantong kresek yang saya bawa di tangan kiri,ia kemudian menunjuk ke arah meja di sebelahnya.

“sana dang yaki”

“ih, patola itu om” ujar saya kurang yakin karena tidak melihat tubuh utuh yaki di atas meja yang ditunjuk si om.

“itu dang yaki di depe seblah”. Ujarnya lagi. Setelah benar-benar yakin, saya pun mendatangi stand tersebut. Untuk lebih memastikan saya bertanya kepada wanita muda yang menjaga stand tersebut. Dengan menunjuk daging yang dimaksud saya mulai bertanya

“ini…” belum sempat saya meneruskan omongan saya langsung dipotong oleh penjualnya yang memang terlihat sibuk

“Yaki” ujarnya pendek sambil melayani pembeli lain.

Daging yang saya tunjuk merupakan potongan dari pinggang hingga kaki yang dibelah lagi menjadi dua. Karena sudah dibakar orang awam seperti saya tidak tahu jika potongan tersebut merupakan daging Yaki, satwa endemik sulawesi yang dilindungi.

“berapa?” saya bertanya lagi.

“80 ribu” balasnya pendek.

Ternyata selain langka, harganya juga sedikit lebih mahal dibanding daging babi yang kala itu dibandrol dengan harga 75 ribu rupiah perkilonya.

Menit-menit terakhir di pasar baru Langowan. Saya kembali memandangi hewan-hewan malang yang jadi korban tradisi, yang akan berakhir di panci lalu mati. Inilah tradisi yang justru bagi mereka tak boleh mati. Sampai saat menulis tulisan ini saya masih cukup sedih membayangkan Coklat yang mati, dan tetap dikonsumsinya satwa di ambang kepunahan seperti Yaki. Walau demikian masyarakat yang telah turun-temurun melakukan tradisi ini tidak bisa langsung disalahkan.

Untuk coklat, saya amat sangat teramat sedih dan pedih atas jiwanya yang harus melayang, tapi saya tidak lantas menyalahkan para pengkonsumsi anjing, dan mungkin oma-oma dan opa-opa yang makan olahan daging si Coklat. Saya tidak boleh egois. Karena saya juga tetap makan ayam, sapi, dan ikan di tengah beberapa orang yang mungkin cinta mati ayam, sapi, dan ikan, dan beranggapan mereka teman, bukan makanan. Untuk Yaki, karena jumlahnya yang semakin sedikit dan hanya ada di Sulawesi, saya berpesan kepada anda semua, mari kurangi makan Yaki, jika boleh jangan makan sama sekali. Untuk hewan lainnya, silahkan makan sepuasnya, asal jaga kolestrol anda.  Untuk Langowan, terimakasih telah menghadirkan pengalaman dan cerita unik bagi saya. Sampai ketemu di Pengucapan selanjutnya.

Foto ilustrasi si Coklat diunduh dari sini