Berkenalan dengan Bahasa Sendiri di Abad Isyarat

Penulis: Jovany Joudi Joseph

(Ilustrasi: Jovany Joudi Joseph/Inovasi)

Banuaku kinawantelang, mewantuge seng tawe sihinge, pinetatelang su haghing banua, makaluase daliungu naungku…”

“Tempat kelahiranku, sungguh indah tidak ada duanya, terkenal di seluruh dunia, dan menjadi kebanggaan hatiku…”

Tentirong Gaghurang (Pengajaran Orang Tua), Johanis Saul

Sebuah ruang waktu abad 21 tidak hanya menyajikan lelucuon belaka. Ia bukan hanya sekedar figur mewah yang menjadi patok untuk dipuja. Ia juga bukan sekadar panggung megah yang mempertontonkan kehebatan kaki manusia untuk berdiri tanpa Tuhan. Ia adalah pemangsa! Apa yang dimangsanya? Sesuatu yang tak dapat menjadi patokan, tidak dipuja, sesuatu yang tak begitu hebat untuk berdiri dipanggung dunia yang pada akhirnya akan diabaikan, dilupakan dan musnah. Budaya kita sedang menatap hal itu. Bahasa etnik kita sedang berada di jalan itu. Ini adalah tantangan yang akan kita hadapi sebagai sebuah bangsa dan generasi muda. Berbagai pihak mungkin bisa dengan bangga menyebut keberagaman yang ada, dan kita mungkin bisa terbuai dengan modernisasi dunia. Namun bukan saat-nya lagi kita menanggapinya hanya sekedar bangga. Kenyataannya kita tengah dikikis perlahan-lahan.

Kutipan lagu yang berada di awal tulisan ini berasal dari etnis Sangir yang mendiami kawasan kepulauan di utara Sulawesi. Sebuah daerah tropis di ujung utara negeri. Namun suku bangsa yang kecil ini tengah menghadapi sebuah tantangan yang besar, di mana dewasa ini generasi mudanya tidak lagi mengenal budaya dirinya. Mungkin lagu tersebut masih familiar dan bisa dinyanyikan sebagian besar masyarakat. Namun hanya sekolompok kecil golongan tua saja yang mampu mengartikan lagu yang bercerita tentang betapa indahnya tanah air kita ini. Sungguh sebuah ironi. Dimana para generasi tua sajalah yang masih dominan dan mempergunakan bahasa ini sebagai “Bahasa Ibu”. Sementara hasil riset yang telah dilakukan terhadap 100 orang pelajar di daerah Sangihe, generasi muda golongan pelajarnya hanya 15% saja yang menguasai dan mempergunakan bahasa etnik ini sehari-hari. Dan sebuah kenyataan mengerikan bahwa 85% yang tidak menguasai itu mengatakan, tidak akan ada dampak apa-apa bila suatu saat bahasa etnik mereka menghilang dari kehidupan masyarakatnya.

Sebuah potret yang lebih parah terjadi di Maluku, daerah yang dikenal dengan keragaman budaya yang memiliki lebih dari 140 bahasa ini, terselip sebuah kisah memilukan berkaitan dengan sebuah bahasa dari rumpun tertua yakni bahasa Hukumina atau Bambaa yang dipakai oleh masyarakat pulau Buru di masa lalu. Kenyataan yang ada kini hanya tersisa 1 penutur saja yang aktif. Kondisi ini lebih baik dibanding 9 bahasa etnik lainnya yang telah dinyatakan punah. seperti terungkap oleh staf ahli Komisi III DPD-RI, M.R.M Tawangsih Lauder, di sela-sela kunjungan penyusunan draft RUU bahasa daerah di Bengkulu. Dilansir dari portalsatu.com, Ia menuturkan bahwa setidaknya ada 13 bahasa kesukuan Indonesia yang telah punah dari bumi pertiwi ini. Punahnya bahasa ini tentunya berbarengan dengan nasib kebudayaannya yang tak lagi memiliki ruang untuk bergerak. Sungguh sebuah kenyataan yang miris, melihat sebuah adat budaya dapat hilang begitu saja dan mungkin tidak akan mungkin untuk dapat memulihkannya kembali.

Penyebab kedua kasus ini bisa saja dari tindakan keliru para tetua yang enggan untuk menaburkan tradisi ke generasi muda. Mengingat bahasa daerah ini adalah bahasa lisan bukan tulisan. Bisa juga kurangnya kepedulian seperti yang bisa kita dapati di kasus suku Sangir, pelajaran bahasa daerah hanya menyentuh jenjang sekolah dasar. Atau pun kurang kuatnya tradisi yang ada sehingga gampang tergeser oleh budaya lain. Namun sesungguhnya, akar dari semua permasalahan itu ialah masuknya sebuah unsur asing di tengah-tengah masyarakat tradisi. Unsur asing yang menempatkan diri begitu penting beriringan dengan kemajuan yang seakan-akan enggan menyalami kearifan lokal, namun tidak mau beranjak. Sehingga mendesak unsur yang ‘tidak maju’ itu untuk bersembunyi di rumah sendiri. Dan lucunya, unsur asing itu ialah Bahasa Indonesia.

BAHASA INDONESIA ITU PEMERSATU, ATAUKAH PEMECAH SEBUAH BANGSA?

Dilansir dari dkn.go.id, kita ketahui bahwa Indonesia itu terdiri dari 17.500 lebih pulau dengan 300 lebih kelompok etnik, tepatnya 1.340 suku bangsa yang berbeda-beda tersebar dari Sabang sampai Merauke. Dan dengan keperkasaannya, bahasa Indonesia telah berhasil menyebar dan 90% menguasai seantero negeri, sehingga memperoleh predikat pemersatu. Namun bila kita menengok kembali contoh-contoh di atas tadi, Bahasa Indonesia seperti terlalu perkasa dan mendominasi, sehingga menjajah kebudayaan kecil dan perlahan memisahkan rakyatnya dari adat ke dalam dunia modern yang tak beradat. Belum lagi kita membicarakan begitu banyak suku dalam yang akhirnya mengasingkan diri seperti suku Kombai dan Korowai di Papua, suku Badui di Banten, suku Samin di Jawa tengah, suku Sakai di Riau, suku Polai di Gorontalo, dan suku Mante di Aceh, yang belakangan ini ramai diperbingcankan karena tak sengaja keluar dari tempat “persembunyian” dan terlihat oleh para “manusia”. Bukankah aneh mereka seperti merasa terasing, hingga harus bersembunyi? Padahal ini rumah mereka sendiri!

Yang jadi pertanyaan sekarang adalah, bagaimana generasi sekarang ini tetap berada pada jalur kemajuan dan modernitas, tanpa kehilangan dan terus menopang jati diri mereka agar tidak sekedar menjadi “isyarat” di abad yang serba diam ini?

SOLUSI BILINGUALISME

Kendall King (2007) dalam The Bilingual Edge mengenai konsep bilingual; bahwa setiap bayi yang dilahirkan memiliki anugerah untuk mempelajari bahasa. Dan karena pemberian ini, berjuta anak kecil di seluruh dunia secara berkesinambungan menjadi seorang bilingual dan ini sangat bermanfaat sehingga perlu diterapkan secara luas. Meskipun mungkin konsep bilingual ini sudah lama terjadi pada kehidupan manusia, seperti yang diungkapkan Li Wei dalamThe Bilingualism Reader (2000) yang memberi contoh bahwa, banyak orang telah mempelajari bahasa asing di sekolah. Namun tentu berbeda, karena yang akan kita pelajari adalah bahasa kita sendiri bukan bahasa asing, dan yang kita perlukan sekarang adalah penerapan secara luas, dan menyeluruh, perbaikan kurikulum dengan memprioritaskan pengajaran budaya, kerja keras pemerintah daerah untuk mengangkat keetnisan itu kepermukaan, dan kesediaannya kita untuk mempelajari budaya kita sendiri.

Dan untuk itu, dengan menerapkan konsep Bilingual Ethnic, atau Bilingual Keetnisan ini. Dapat menjadi solusi. Dimana generasi muda bangsa dibekali dengan 2 penguasaan bahasa yang berbeda. Yakni bahasa etnik sebagai jati diri dan pembawa budaya, serta Bahasa Indonesia sebagai media dan penghubung dengan dunia luar

Akhir kata. Jangan menempatkan Bahasa Indonesia itu pada sebuah sisi atau pihak yang memiliki seberang. Bahasa Indonesia itu tidak bersalah! Ia berada pada posisi tengah sebagai penengah, pemediasi, dan pemberi ruang berkaraya yang lebih besar bagi sebuah budaya untuk terhubung dengan berbagai budaya lain yang ada di negeri ini. Dengan adanya Bahasa Indonesia, tulisan ini tidak hanya akan menjadi sekedar tinta kering. Namun, menjadi sesuatu yang dapat dipahami orang lain. Dengan adanya Bahasa Indonesia, lagu daerah yang di awal tadi dapat kita nikmati bersama-sama. Itulah fungsi dari Bahasa Indonesia. Bahasa Bhinneka!

Di negeri yang indah ini, mari kita bersama-sama bermimpi berada di suatu peristiwa salam-menyalam. Yang dibuka dengan sebuah kata singkat, “Apa kabar?” Lalu dijawab dengan, “Habe gët”, “Horas!”, “Apik”, “Becik-becik”, ”Abdi sae”, “Bahalap ih”, ”Bheres!”, ”Baji-baji”, “Mapaele ue”, “Bae-bae”, “Bale-bale”.

Dan kita semua tersenyum bersama-sama.

I kite kebi limege surarung sembau bawelang mesurung, bawelang naung.”                       

Karena kita semua tersenyum dalam satu bahasa yang sama, bahasa hati.”