Setahun: ‘Sebelah Mata’ Novel Baswedan

Penulis: Wahyu Alfi

(sumber : https://nasional.kompas.com)

Sebelah mataku yang mampu melihat bercak adalah sebuah warna – warna mempesona

Membaur dengan suara dibawanya kegetiran

Begitu asing terdengar

Tapi sebelah mataku yang lain menyadari

Gelap adalah teman setia

Dari waktu waktu yang hilang – Efek Rumah Kaca

Setahun sudah kasus Novel Baswedan bergulir, penyidik senior Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK)  ini mengalami teror hingga disirami air keras pada Selasa 11 April 2017. Novel disirami air keras sepulangnya ia sholat subuh dari Masjid sekitar rumahnya di kawasan Kelapa Gading, Jakarta Utara oleh dua orang tidak dikenal.

Penyerangan dengan menggunakan air keras itu mengenai sebagian wajah dan mata Novel Baswedan, akibatnya Novel harus menjalani pengobatan yang cukup lama utuk memulihkan kesehatan dan penglihatan. Sekembalinya dari singapura  pada 22 februari 2018 lalu pasca operasi, kondisi mata Novel mengalami kerusakan cukup parah, bukan hanya satu, kedua mata novel mengalami penurunan fungsi pengelihatan.

Penurunan terus terjadi pada mata kanan, sedangkan pada mata kiri, Novel berharap bisa digunakan sebagai penglihat.

“Diharapkan penglihatan kirilah yang bisa digunakan untuk membaca nantinya,” kata Novel saat blak-blakan dengan detik.com, Senin (9/4/2018). (Sumber : detik.com)

Penyidik yang Tidak Pandang Bulu

Novel Baswedan sendiri mengawali kiprah sebagai salah satu penyidik KPK saat di tugaskan MBES Polri pada Januari 2017. Lulusan Akademi Kepolisian (Akpol) ini lebih memilih untuk melepaskan seragamnya dan bergabung sebagai penyidik KPK tahun 2014.

Sepak terjang Novel Baswedan biasa dikatan gemilang, beberapa kasus korupsi dipercayai untuk ditanganinya. Novel ikut andil bagian dalam kasus korupsi wisma atlet Hambalang. Ia berhasil memulangkan Muhammad Nazaruddin dari pelariannya di Kolombia, yang dituding menggelapkan dana. Dari kasus ini juga berhasil diungkap keterlibatan Angelina Sondakh, Direktur utama PT DGI Dudung Purwadi, dan Ketua Komite Pembangunan Wisma Atlet Rizal Abdullah pada 2011.

Masih di tahun yang sama, Novel juka ikut terlibat dalam penanganan kasus suap pemilihan Deputi Senior Gubernur Bank Indonesia pada 2004. Kasus yang melibatkan Nunun Nurbaeti dan Miranda Swaray Goeltom ini berhasil diungkap dan diseret ke pengadilan. Keduanya dijatuhi hukuman penjara dan denda oleh pengadilan.

Kasus selanjutnya, Novel berhasil mengungkap suap sengketa Pilkada ketua Mahkama Konstitusi. Akil Mochtar terbukti menerima suap empat sengketa Pilkada. Yaitu, Pilkada Lebak di Banten, Pilkada Kabupaten Gunung Mas, Pilkada Empat Lawang, Kalimantan Tengah,

Bukan hanya itu saja, kasus suap proyek penyesuaian infrastruktur daerah yang melibatkan Wa Ode Nurhayat juga ikut diungkap. Wa Ode Politikus PAN ini terbukti menerima suap untuk mengusahakan agar Kabupaten Aceh Besar, Pidie Jaya, Bener Meriah dan Kabupaten Minahasa sebagai daerah penerima alokasi Dana Penyesuaian Infrastruktur Daerah (DPID) tahun anggaran 2011 yang juga ikut menyeret Fahd A Rafiq dan Mantan Bupati Buol Amran Batalipu.

Dalam kasus dugaan Korupsi Simulator SIM, beberapa nama petinggi Polri diseret. Novel dengan berani memeriksa mantan Kakorlantas Polri Irjen Djoko Susilo. Kasus ini menuai polemik dua institusi negara, Polri dan KPK, puncaknya penarikan penyidik polisi yang ada di KPK untuk kembali ke Mabes Polri. Novel menjadi salah satu yang menolak dengan memilih keluar dari kepolisian dan memilih sebagai penyidik KPK. Ia pun diangkat sebagai penyidik tetap tahun 2014.

Sampai pada penyidikannya terhadap kasus e-KTP. Pengungkapan kasus ini tidak lepas dari peran Novel Baswedan. Dalam kasus ini Novel adalah penyidik yang memeriksa Anggota DPR Fraksi Hanura, Miryam S Haryani. Dalam persidangan, Miryam mengatakan diancam penyidik saat diperiksa terkait e-KTP sehingga menandatangani BAP. Novel membantah dengan mengungkap jika Miryamlah yang mendapat tekanan dari sejumlah Anggota DPRP.

Dalam kasus ini, Novel muncul ke depan publik pada saat menjadi saksi untuk terdakwa Irman dan Sugiharto di sidang 30 Maret 2017. Novel bicara soal perkara tudingan ancaman, rekaman sadap, sampai aliran uang di DPR. Sejumlah nama Politikus keluar, sampai pada ketua DPR Setya Novanto.

Setahun Menunggu Kepastian

Pengungkapan kasus penyerangan air keras yang dilakukan orang tidak dikenal terhadap Novel Baswedan kian hari semakin tidak jelas, semuanya seperti jalan di tempat. Setahun berlalu, polisi belum juga mengungkap kasus ini. Lamanya penuntasan kasus ini oleh kepolisian membuat masyarakat mempertanyakan komitmen polisi.

Polisi berkilah dengan mengatakan Novel tidak kooperatif saat diperiksa, keterangan Novel dikatakan tidak lengkap. Keterangan dari Direktur Lembaga Hukum Jakarta yang sekaligus juga pengacara Novel mengatakan bahwa Novel sudah memerikan keterangan yang cukup jelas ketika polisi memeriksanya di Singapura pada 14 Agustus 2017 lalu.

Sampai pada saat perilisan sketsa pelaku, belum ada juga pengungkapan siapa pelaku dan dalang dibalik penyiraman. Beberapa pihak mendesak jalan alternatif untum membentuk  tim gabungan pencari fakta (TGPF) Novel Baswedan, sebagai reaksi dari kebuntuan polisi dalam kasus ini.

Usulan pembentukan TGPF ini pun juga menuai polemik, pemerintah malah meminta tidak didesak, dalam hal ini pembentukan TGPF untuk mengungkap kasus Novel Baswedan.

“Enggak ada desakan ya, pemerintah itu enggak usah didesak-desak, pemerintah itu dalam melaksanakan tugasnya selalu konstruktif, selalu melakukan yang terbaik untuk masyarakat,” kata Wiranto, di kantor Kemenko Polhukam, Jakarta, seperti dikutip Kompas.com Jumat (23/2/2018).

Beberapa pihak meyakini, TGPF adalah jalan terang untuk pengungkapan kasus ini. Beberapa kasus teror serta penyerangan yang menimpa karyawan KPK dan aktivis anti korupsi sebelum-sebelumya tidak pernah terungkap, ditakutkan, itu juga akan terjadi pada kasus Novel.

“Saya ingin menyampaikan bahwa (kasus) ini tidak boleh dianggap sepele, tidak boleh dibiarkan, dan saya juga kecewa dengan proses pengungkapan yang sampai sekarang belum juga diungkap,” kata Novel di Gedung KPK, Kuningan, Jakarta, seperti dikutip Tirto.Id pada Rabu (11/4/2018).

Larutnya pengungkapan kasus ini menjadi cermin, betapa rapuhnya hukum di indonesia, apalagi sudah bersinggungan dengan politikus. Perlindungan atas orang – orang yang berkomitmen memberantas korupsi masih saja dibiarkan, banyak yang  mengalami kriminalisasi, teror dan penyerangan. Slogan Anti Korupsi hanya sebatas lidah dan bibir. Setahun sudah Novel Baswedan menunggu pengungkapan kasus ini.

Sampai Kamis ke Berapa?

Penulis: Wahyu Alfi

Anggota Jaringan Solidaritas Korban untuk Keadilan (JSKK) mengikuti Aksi Kamisan ke-460 di depan Istana Merdeka, Jakarta. 22 September 2016. (lensa.fotokita.net)

Ketika hak hidup keluarga tidak mendapat perlindungan dari negara, Tuhan akan melindunginya.

Aksi diam melawan impunitas, adalah aksi diam yang tak sepenuhnya diam. Mereka sesungguhnya sedang menyuarakan hal-hal besar yang luput dari pandangan kita, bahkan mata para pembesar negara pun buta akan persoalan ini. Buta atau memilih tutup mata, tidak ada yang tahu. Bagi mereka yang berjuang, diam adalah cara untuk mengkritik pemerintah yang tidak selayaknya diam atas isu-isu yang mereka suarakan.

Gerakan itu diberi nama Payung Hitam. Mereka adalah orang-orang yang berdiri di depan istana negara dengan mengembangkan payung-payung berwarna hitam, bukan karena hari sedang hujan.

Makna “Payung” memang menyimbolkan perlindungan secara fisik atas hujan dan terik matahari. Sedangkan warna hitam melambangkan keteguhan iman dalam mendambakan kekuatan dan ketentuan ilahi. Hitam juga melambangkan duka cita sekaligus cinta kasih kepada para korban, dan sesamanya.

Aksi yang mereka lakukan setiap hari kamis disebut “Kamisan”. Mereka memilih untuk diam dan berdiri sebagai pilihan. Diam mengartikan telah hilangnya hak-hak sebagai warga negara, sedangkan berdiri adalah bentuk sikap korban dan keluarga korban yang akan tetap berdiri menuntut hak-haknya hak sebagai warga di bumi pertiwi.

Adalah hak mereka juga untuk menyuarakan kepada pemerintah agar mengusut kasus-kasus pelangaran HAM (Hak Asasi Manusia) yang dialami para korban, maupun keluarga korban.

Orang-orang itu adalah keluarga korban perengutan HAM—tragedi ’65, Trisakti, Semanggi, ’98, Rumpin, dll— yang enggan menutup mata. Gerakan Payung Hitam ‘diam’ pertama kali pada hari Kamis 18 Januari 2007, sekaligus menjadi momentum dimulainya aksi ini. Sebuah usaha untuk bertahan dalam memperjuangkan, mengungkap, mencari keadilan, dan tentunya, melawan lupa.

 

Kasus HAM yang Menemui Kemacetan

Pengusutan serta penuntasan kasus HAM di negeri ini selalu menemui jalan buntu, juga tak jarang dikesampingkan. Janji politik untuk memberikan cahaya pada sejarah kelam seolah menguap begitu saja. Isu hanyalah barang jualan di pasar pemilu. Janji, hanya sebatas janji. Akuntabilitas pelanggaran HAM masa lalu tidak menunjukkan kemajuan.

Mari kita lihat kembali yang terjadi pasca-peristiwa Gerakan 30 September 1965. Pada 2012 lalu, Komnas HAM menyatakan telah menemukan adanya pelangaran HAM berat. Kasus-kasus yang ditemukan antara lain adalah penganiayaan, pemerkosaan, pembunuhan, perbudakan, hingga penghilangan paksa. Kasus tersebut menemui kemacetan di kejaksaan agung, jumlah korbanya mencapai 1,5 juta orang. Sebagian besar dari mereka adalah anggota PKI, ormas-ormas yang berafiliasi dengannya, dan orang-orang yang disangka atau dituduh sebagai PKI.

Ada juga peristiwa Talang Sari  Lampung 1989. Komnas HAM membentuk komisi penyelidikan pelanggaran HAM guna melakukan penyelidikan terhadap kasus ini pada Maret 2005. Tim Penyidik meyimpulkan terdapat unsur pelanggaran HAM besar pada 19 Mei 2005. Berkas-berkas hasil penyelidikan diserahkan Komnas HAM kepada Kejaksaan Agung tahun 2006 untuk ditindak lanjuti. Dari hasil penyelidikan, jumlah korban diperkirakan mencapai 803 orang, dan sampai hari ini kasus tersebut juga masih macet di kejaksaan.

Tidak lebih parah dari kasus penembakan mahasiswa Trisakti tahun 1998, juga masih menemui jalan buntu. Kasus ini tak kunjung diselesaikan sampai sekarang. Peristiwa yang menewaskan empat mahasiswa Trisakti berjalan di tempat hingga memasuki babak tahun ke-19. Desakan dari banyak pihak agar menyeret pelaku pelanggaran HAM ini belum mampu membuat pemerintah bergerak mengeluarkan keputusan.

Walaupun Komnas HAM telah melakukan penyelidikan, dan selesai pada 2002 lalu, hanya mampu masuk ke Kejaksaan Agung berkali-kali, dan dikembalikan untuk kesekian kali. Mirisnya lagi, pada 13 maret 2008 dinyatakan hilang oleh Jampidsus Kejaksaan Agung, diperkirakan korban mencapai 685 orang.

Masih pada rentetan tahun 1998 ketika tragedi Semangi I. Komnas HAM sudah melakukan penyelidikan atas kasus ini, dan selesai pada maret 2002. Sayangnya, berkas hanya mondar-mandir dari komnas HAM ke Kejaksaan Agung. Sama seperti kasus Trisakti yang pada 13 maret 2008 juga dinyatakan hilang oleh Jampidus Kejaksaan dengan korban sejumlah 127 orang. Tragedi semangi II juga menemui hal serupa dengan jumlah korban 228 orang.

Di bulan Mei tahun 1998 juga terjadi kerusuhan dengan jumlah korban mencapai 1.308 orang. Komnas HAM telah membentuk komisi penyelidikan pelanggaran HAM untuk kasus ini, dan hasilnya telah diserahkan ke Jaksa Agung, tapi, lagi-lagi dikembalikan dengan alasan tidak lengkap.  Ada juga kasus Munir, si aktivis HAM yang diracun, Marsinah buruh pabrik yang dibunuh, Kasus Rumpin, kasus Penembakan Misterius (petrus) dan deretan kasus pelanggaran HAM lainnya yang masih meninggalkan tanda tanya.

Kasus pelanggaran HAM masih dianggap belum jelas kelanjutan penyelesaiannya. Penyelesaian kasus pelanggaran HAM di masa lalu, bukan sekedar amanat reformasi, namun juga merupakan tantangan bangsa melihat masa depan. Penuntasan pelanggaran HAM berat juga merupakan penguji ketahanan bangsa sebagai negara hukum. Pengungkapan pelanggaran HAM akan menunjukan bahwa hukum, masih berdaulat di bumi pertiwi.

 

Sepuluh Tahun Kamisan

Tepat sepuluh tahun lamanya, sejak digagas pada penghujung tahun 2006. Waktu itu Jaringan Solidaritas Korban untuk Keadilan (JSKK)—paguyuban korban/keluarga korban pelanggaran HAM—bersama JRK (Jaringan Relawan Kemanusian), dan KontraS mencari alternatif perjuangan. Disepakati pada 9 Januari 2007 untuk mengadakan kegiatan guna bertahan dalam perjuangan mengungkap fakta kebenaran, mencari keadilan, yang pada intinya adalah melawan lupa.

Hari kamis 18 Januari 2007 merupakan Kamisan pertama. Mereka menuntut pengusutan secara tuntas kasus-kasus pelanggaran HAM serius masa lalu di depan Istana Negara. Sebuah perlawanan kolektif, bukan sekedar rutinitas mingguan yang hanya sekedar mempererat solidaritas antar sesama korban atau keluarga korban pelanggaran HAM. Di saat yang sama juga merupakan salah satu cara membuat publik tetap terjaga ingatannya atas sikap represif aparat militer, yang dalam hal ini telah melanggar hak-hak sipil dan politik.

Aksi kamisan mempunyai ciri khas tersendiri dari aksi protes lainnya. Durabilitas aksi yang kuat, aktor yang sama dari waktu ke waktu, keteraturan waktu terkait keberlangsungan aksi protes, konsistensi isu, dan tuntutan yang diperjuangkan di dalamnya, serta metode dan penyampaian tuntutan. Tidak banyak yang tahu bahwa aksi ini sudah berlangsung selama bertahun-tahun, dan dengan tuntutan yang selalu sama, begitu pula dengan aktor yang bermain di dalamnya.

Melihat motif kemunculan aksi Kamisan, maka terlihat jelas bahwa motif politik berupa mendesak pemerintah untuk mengusut tuntas pelanggaran HAM, baik yang terjadi di masa orde baru, maupun era pasca reformasi, dengan upaya menjaga ingatan kolektif tentang kejahatan HAM berat untuk disuarakan. Karena sampai hari ini, negara tidak memiliki keseriusan dan komitmen dalam menyikapi kasus-kasus HAM di masa lalu, serta cenderung membuat publik lupa pada persoalan penegakan keadilan HAM.

Sampai Kamis ke-512, tanggal 2 November 2017 lalu, orang-orang itu  masih dengan pijakan kuat berdiri, berpakaian serba hitam, dengan payung berwarna serupa digenggaman bertuliskan nama-nama kasus pelanggaran HAM. Tujuannya tetap sama, yakni, menuntut pemerintah menyelesaikan kasus HAM. Disamping itu, juga mengajak dan mengubah kanalisasi pandangan masyarakat yang melihat kejahatan HAM masa lalu sebagai permasalahan segelintir orang untuk menjadi pandangan bersama atas potensi-potensi bahaya kemanusiaan, yang bisa saja kita alami sewaktu-waktu. Segala jerih dalam upaya itu dimaksudkan untuk lagi, dan lagi mendesak, menekan negara agar membentuk pengadilan HAM ad hoc—pengadilan khusus yang dibentuk sementara waktu untuk menyelesaikan kasus tertentu.

13 Years Of Munir: Has It Been Resolved Yet?

Penulis: Dwiki H

                                                                    (Sumber: CNN Indonesia)

We used to have a human rights activist who fought for advocacy for the victims of kidnapping and violence during the New Order. This figure was named Munir Said Thalib. Munir, so he is often addressed, a simple man. He is a character, a true warrior, a human rights defender of Indonesia. The man born in Malang, December 8, 1965, was an extreme Muslim activist who later turned into a person who upheld tolerance, respect for humanity, non-violence and fought tirelessly against the practices of authoritarian as well as militaristic. He was an activist who was very active in fighting for the rights of the oppressed. During his life he was always committed to defend anyone whose rights are wrong.

While in the midst of fighting for human rights, there was a time many parties feel disturbed, causing him to go through several terrors and threats, including death threats.

Meeting His Death

The death threat finally became apparent on September 7, 2004 while he was en route to Amsterdam to continue his studies there. He boarded Garuda Indonesia GA-947 which took off from Singapore. Three hours after take-off, the cabin crew reported to pilot Pantun Matondang that a passenger named Munir sitting on seat number 40-G was ill. Munir went back to the toilet. The pilot asked the cabin crew to continue monitoring his condition. Munir was moved to sit next to a passenger who happened to be a doctor who also tried to help him at that time. The flight to Amsterdam took 12 hours. But two hours before landing on 7 September 2004, at 8:10 am Amsterdam time at Schiphol Airport Amsterdam, when examined, Munir has died.

On November 12, 2004, the Dutch police (Dutch Forensic Institute) issued that they found traces of arsenic compounds after autopsy. This was also confirmed by the Indonesian police. It was not yet known who has poisoned Munir then, although some suspect that certain elements do want to get rid of him.

Handling the Case

On December 20, 2005 Pollycarpus Budihari Priyanto was sentenced to 14 years in prison for the murder of Munir. The judge stated that Pollycarpus, a Garuda pilot on leave, put arsenic in Munir’s food, because he wanted to silence Munir, who had been actively criticizing the government. On June 19, 2008 a military General Muchdi Prawiro Pranjono, who also happened to be close to Prabowo Subianto and the Vice Chairman of Gerindra Party, was arrested with strong suspicion that he was the mastermind of Munir’s murder. Various strong evidence and testimony led to him. However, on December 31, 2008, Muchdi was acquitted. The verdict is highly controversial and the case is being reviewed, and 3 judges who convicted him free of charge are now being questioned.

A rapid process since the arrest was announced on June 19, 2008. Muchdi’s freedom was considered odd, because several facts in the trial reinforced his role in Munir’s death. Here is the gaffe:

  1. Muchdi is considered to have a motive of hurt to Munir. His career stalled after the disclosure of the case of kidnapping activists in 1997-1998.
  2. Before and after Munir were killed, there were at least more than 40 telephone communications happened between Muhdi and Pollycarpus. Even on the day Munir was murdered there were fifteen phone calls to Pollycarpus.
  3. From a list of contacts on Muhdi’s computers seized from his office, the team of investigators found Polly’s name.

Unfortunately, the judges’ verdicts did not lead to Muchdi’s involvement.

The President’s Move

13 years has passed by, however Munir’s case has not yet reached a bright spot. In 2016, the Public Information Commission (KIP) won Munir’s widow Suciwati and KontraS’s lawsuit requesting that the Ministry of State Secretariat (Kemensetneg) open a Fact Finding Team (TPF) document of Munir’s murder to the public.

The TPF document on Munir’s murder had been handed over to the then-president Susilo Bambang Yudhoyono on July 23, 2005. However, it has now gone missing. President Joko Widodo had instructed the Attorney General to find the missing document and examine it to resolve Munir’s murder case. A year later KIP’s decision for Kemensetneg was annulled and stated that said document is lost and is not a responsibility of Kemensetneg to find.

Munir’s widow Suciwati questioned Kemensetneg’s statement, she personally believes that the document had been submitted by the TPF to the government at the Palace in 2005. She also assumes there is a cover-up so that the document in 2005 was not opened. She will still ask the government to announce the TPF document.

Reflecting from this case 13 years ago, we can also look at the latest case as similar, such as Novel Baswedan’s case. How the government’s reaction to it may show that cases like these get only a small attention. In order for judicial cases like this to be resolved quickly, should there be more attention from the government such as the protection of the witnesses required to testify.

It’s been 3 years since Jokowi was elected as President of Indonesia in 2014. As a President, what he needs to do is to fulfill his promises because back then while he was campaigning to run, he promised to resolve the old and unresolved cases like Munir’s and other cases regarding to Human Rights. But up until now many parties think Jokowi hasn’t given his full attention to his promise. Given a statement by Indonesian International Amnesty director saying that Munir’s case could also be fully disclosed if the Attorney General’s Office and the Police re-opened the case seriously after the Supreme Court (MA)’s verdict stating that Kemensetneg was not obliged to find the TPF Munir document.

During his 3 years of governing the nation, he has done remarkable accomplishments. In his early years he managed to strengthen and maintain the nation’s economic stability. Now he needs to set his priority for the unresolved cases just like he promised.

Generasi Z: Kami Bukan “Generasi Micin”

Penulis: Indri Karundeng

                                                                                                           (Sumber: Stores.org)

 

Generasi Z adalah istilah yang ditujukan kepada jenis manusia yang lahir pada tahun 1995 hingga 2014. Istilah ini memang masih terdengar asing bagi sebagian orang, namun cukup menggemparkan dan membuat generasi sebelumnya, Generasi Y atau Generasi Milenial, cenat-cenut.

Generasi Z dikenal dengan sebutan iGeneration atau generasi internet. Bukan cuma ayah dan bunda, jenis ini juga dibesarkan oleh makhluk tak berkelamin bernama teknologi. Sejak kecil mereka akrab dengan gadget dan sosial media. Tidak jauh  dengan Generasi Y, yang lahir pada rentang tahun 1981 sampai dengan 2000. Hanya saja Generasi Z cenderung menggantungkan hampir seluruh aktivitasnya kepada teknologi yang secara tidak langsung mempengaruhi gaya hidup mereka.

Jika Generasi Z pertama adalah mereka yang lahir pada 1995, maka yang paling tua dari Generasi Z Indonesia sudah berumur 22 tahun: sudah dikategorikan sebagai manusia dewasa, paling tidak sekarang mereka sudah berkuliah atau sudah punya pekerjaan. Mereka juga sebenarnya adalah produk Generasi Y, di mana mereka masih sempat merasakan masa kecil tanpa WiFi dan indahnya dunia tanpa Instagram, Facebook, dan Online Games. Namun, dewasa ini mereka diperhadapkan dengan situasi yang lumayan berbeda. Tidak sulit bagi mereka untuk menyesuaikan, karena sebelumnya mereka sendiri pun juga sudah disentuh oleh teknologi wireless.

Generasi Z yang berstatus sebagai mahasiswa,  cenderung lebih terbuka, komunikatif, dan multitasking. Mereka juga dikenal kritis dalam menanggapi isu-isu kekinian. Mereka senang mencari tahu segala informasi berdasarkan fakta. Di tengah kontroversi berita hoax, mahasiswa golongan Z tidak begitu saja menerimanya, melainkan mereka mencari terlebih dahulu kebenarannya kemudian mereka berkesimpulan. Budaya tulis-menulis masih berlaku di zaman ini, mereka tidak akan sungkan menulis  dan menceritakan ide-ide mereka untuk dijadikan sebuah karya yang berfaedah. Bagi Gen Z, produktifitas adalah harga mati.

 

Momok Penyematan “Micin” Kepada Generasi Z

Belakangan ini, ilstilah “Micin” sering disebutkan di hampir setiap perbincangan, baik langsung maupun di sosial media. “Micin” sendiri ditujukan kepada perilaku kids zaman now yang suka melazimkan sesuatu yang tidak dilazimkan sebelumnya. Generasi ini dipandang sebagai manusia yang hedon, instan, dan sering melakukan tindakan yang tidak berfaedah, khususnya di media sosial. Sebuah kebanggan bagi mereka jika wajah dan nama mereka terpampang dimana-mana. Lantas, mengapa “Micin” menjadi istilah untuk menggambarkan kids zaman now  hingga berimbas ke Generasi Z?

Micin atau MSG (Monosodium glutamat) adalah bahan yang digunakan sebagai bumbu penyedap makanan. Anggapan bahwa micin adalah sesuatu yang membahayakan konsumernya, masih melekat di masyarakat luas. Namun, berdasarkan penelitian Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat  mengategorikan MSG sebagai GRAS (Generally Recognised As Safe) atau umumnya diakui aman. Penelitian lebih lanjut mengenai MSG tentu akan selalu bermunculan untuk benar-benar memastikan keamanannya. Hingga saat itu tiba, jika kita belum mengenal Generasi Z dengan baik, mungkin ada baiknya kita memuaskan diri untuk menggunakan kata “Micin” sebagai penggambaran Generasi Z.

Tidak sedikit Generasi Z menolak, bahkan kesal digeneralisasikan sebagai Generasi Micin. Walaupun mereka dibesarkan dan dimanjakan oleh teknologi wireless, tak lantas membuat mereka menjadi malas untuk berkreasi. Justru kemudahan akses inilah yang mereka manfaatkan sebagai kebutuhan utama untuk mengekspresikan karya mereka dengan mudah. Bukti hasil kreatifitas Generasi (Bukan) Micin dapat dilihat di mana saja, dalam bentuk apa saja, baik karya  tulisan, video, fotografi, dll. Maka wajar saja generasi ini menolak disebut Generasi Micin.

 

Masa Depan di Tangan Generasi Z

Sebagai generasi yang terlahir di era digital, mau tidak mau mereka akan tetap bersentuhan dengan teknologi, yang mana mereka secara tidak langsung dituntut untuk menggunakan teknologi dalam kesehariannya untuk memenuhi hasrat dan kebutuhannya sebagai seorang Gen Z itu sendiri. Yang dibutuhkan adalah kemampuan untuk menghasilkan sesuatu yang dibutuhkan, diinginkan, dan dicari oleh banyak orang. Kerena dalam sepuluh atau dua puluh tahun lagi, bumi akan dipenuhi dengan manusia Gen Z yang membuat persaingan semakin ketat.

Merah Bercerita tentang Bunga dan Tembok

Penulis: Rio Syahruddin Fabanyo

                                       (Sumber Ilustrasi: Soundcloud.com)

 

Sudah tahukah Kamu dengan band indie yang satu ini?

Merah Bercerita adalah kelompok musik asal Solo yang beraliran sound of freedom.  Pertama kali dibentuk oleh sekawanan siswa SMK 8 Surakarta yang ingin berpartisipasi pada sebuah event bulanan yang diselenggarakan sekolah mereka. Sebelumnya, band ini bernama Milagros.

Entah karena merasa aneh dengan nama tersebut, mereka memutuskan untuk merubah nama menjadi Merah Bercerita. Kata “Merah” diambil dari nama Vokalis mereka, Fajar Merah. Sedangkan maksud kata “Bercerita” adalah karena keinginan mereka menjadi pencerita lewat lirik-lirik lagunya.

Band ini digawangi oleh Fajar Merah (vocal/gitar), Gandhiasta Andarajati (gitar), Yanuar Arifin (bas), dan Lintang Bumi (drum). Mereka meluncurkan album perdana yang serupa nama band mereka: Merah Bercerita. Singel terbarunya berjudul Derita Sudah Naik Seleher. Hingga saat ini, Merah Bercerita telah memiliki sebelas lagu. Satu di antara lagu mereka berjudul Bunga dan Tembok, liriknya diadopsi dari puisi Wiji Thukul, Ayah dari Fajar Merah.

 Bagi Fajar Merah, puisi masih kata-kata mati ketika tidak ada yang membicarakan. “Kami ingin meghidupkan tulisan itu agar menjadi hidup melalui musik. Kami akan mengantar kalimat itu menuju keabadian” kata Fajar Merah, dikutip dari metrotvnews.com.

Fajar Merah tidak ingin kalau puisi yang ditulis bapaknya itu mati. Puisi masih kata-kata mati ketika tidak ada yang membacakannya.

 

Tentang Bunga dan Tembok

Melalui puisi-puisinya, Ia menerbar konfrontasi. Puisi ini mengibaratkan rakyat kecil sebagai bunga, mereka tumbuh, tapi tak diharapkan oleh pemilik rumahnya. Rakyat kecil diibaratkan seperti bunga yang dicabut dan disingkirkan dari tanahnya sendiri. Lalu, sang penguasa sebagai tembok, menggusur bunga-bunga dari tanahnya sendiri.

Namun, di akhir sajaknya, Thukul memberikan semangat untuk pembaca, bahwa si bunga yang tercabut dari akarnya itu akan tetap menebarkan benihnya. Benih semangat yang akan bergelora kelak di masa depan, merongrong kengakuhan tembok penguasa.

Puisi Thukul menggambarkan kebobrokan pemerintah masa itu. Kezaliman orang-orang yang memiliki tahta tinggi di pemerintahan, melakukan segala macam cara untuk membungkam suara-suara yang melawan. Suara-suara yang meminta keadilan. Sebuah rezim yang membawa penderitaan fisik, dan menyisakan luka batin. Wiji Thukul lebih senang “melagukan” puisi dengan tema-tema kebangsaan yang membangkitkan jiwa. Salah satu cita-citanya yang selalu ia pegang adalah memberikan keadilan bagi semua kalangan rakyat, dan menentang segala bentuk penindasan dan pelanggaran kaum elit negeri ini.

Perjuangannya melawan ketidakadilan lewat puisi tidak berjalan mulus. Sudah tidak terhitung lagi aksinya yang ditentang aparat, hingga sekolompok orang yang merasa terusik dengan bisikan-bisikan pedas ala Wiji Thukul.

Namun, titik akhir hidup sang maestro ternyata malah menjadi misteri yang memilukan. Seperti kisah di akhir puisinya, Ia dikabarkan hilang pada prahara Mei 1998. Hingga kini, tak ada yang tahu di mana rimbanya. Ia menjadi korban penghilangan paksa, bersama dua belas aktivis 1998 yang lain. Tahun ini, terhitung sudah mereka hilang selama 19 tahun.

Mencari Keuntungan: Menguntungkan atau Merugikan?

Penulis: Jovany Joudi Joseph

(Sumber: Dokumenter Gorontalo Baik)

 

“Hidup ini bagai hukum permintaan dan penawaran, memiliki kontra dan hubungan yang akan mempengaruhi kedua aspek, apakah itu akan bertambah atau berkurang? Ketika semangat dan motivasi kita naik, maka otomatis pekerjaan kita akan turut berkembang, dan berlaku juga sebaliknya. Namun, bila ada aspek yang merugikan justru bertambah, maka ia akan menggerus kerja kita, dan akan berdampak berlawanan. Seperti itulah kira-kira yang dialami bila kita mempelajari ekonomi. Ada hukumnya” demikian kata-kata dari seorang dosen Ilmu Ekonomi yang tengah memberikan kuliah. Pernyataannya di atas menjadi doktrin bagi para mahasiswanya untuk mencari keuntungan sebanyak-banyaknya. Dalam konsep ekonomi, kerugian adalah kutukan yang mesti dihindari.

Pertanyaannya, apakah keuntungan itu benar-benar menguntungkan kehidupan? Apakah moral kita juga diuntungkan dengan doktrin mengejar keuntungan tersebut?

Hari itu tidak ada yang berbeda di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sam Ratulangi. Mahasiswa berkeliaran ke sana kemari. Hampir setiap jam kelas-kelas berganti mata kuliah, dosen lalu lalang dengan raut diam tanpa ekspresi. Kegiatan ormawa di tempat itu berjalan seperti biasa. Jadwal kuliah padat seperti biasa. Di sana, sekumpulan manusia terstruktur sedang  belajar tentang “keuntungan”.

“Apa yang kalian pelajari di mata kuliah ini?” tanya seorang dosen Ilmu Ekonomi kepada mahasiswanya. Lalu, serentak mereka menjawab “Mencari keuntungan!” Namun, bagaimana bila kalian dihadapkan dengan kerugian?” tanya sang dosen. Semua mahasiswa diam sesaat.

 “Kalian bangkit, dan kejar lagi keuntungan. Lupakan kerugian. Bila kalian ingin berhasil dan bahagia, tidak boleh ada yang namanya kerugian!” tegas sang dosen.

Dosen itu lalu menegur seorang mahasiswa yang telah selesai mengikuti mata kuliah Ilmu ekonomi, juga untuk menanyakan, apa yang telah Ia pelajari. Aldi Affandy, seorang mahasiswa semester-1 jurusan manajemen di Fekon.

“Saya mempelajari tentang defenisi keuntungan, dampak keuntungan, dan rumus-rumus untuk mencapai keuntungan” jawabnya dengan penuh percaya diri. Sebuah jawaban yang menegaskan doktrin keuntungan yang seolah menjanjikan sesuatu yang sangat “menguntungkan” dalam kehidupan, sehingga mesti dikejar dengan berbagai macam cara.

Namun, pertanyaan lain kembali muncul, apa bukti yang kuat bahwa keuntungan itu benar-benar menguntungkan?

KENYATAAN ZAMAN INI

“Seorang pejabat pemerintahan ditangkap KPK dalam operasi tangkap tangan tadi malam. Pelaku terbukti menggelapkan uang proyek pemerintah untuk kepentingan pribadinya’’ ucap seorang pembaca berita melalui sebuah siaran televisi nasional dengan raut serius. Namun, berita itu tak lagi begitu dihiraukan sebagian penonton berita. Berita seperti itu sudah tidak menarik untuk disimak. Sudah biasa.

Menengok kembali beberapa kasus korupsi besar-besaran yang terjadi di Indonesia: Hambalang, E-KTP, Dana hibah, dan serentetan kasus korupsi lainnya. Sudah basi. Seolah yang dicari para koruptur hanya melulu soal keuntungan. Seakan belum cukup gaji yang diterima, mereka malah mengejar keuntungan lain yang bukan menjadi hak mereka. “Toh, namanya juga keuntungan. Selagi ada kesempatan, ya, dikejar” ujar Fernanda Barijha, Mahasiswa jurusan manajemen, Fakultas Ekonomi dan Bisnis.

Tapi, apakah moral kita juga diuntungkan? Apakah perbuatan para pejabat yang mengejar keuntungan sampai ke balik jeruji besi, menerima keuntungan bagi kehidupannya? Apabila, para pajabat itu juga merupakan jebolan Fakultas Ekonomi, bergelar Sarjana Ekonomi, apakah ekonomi yang mereka pelajari telah benar-benar menjadikan mereka penggila keuntungan? Apakah benar manusia harus selalu mengejar keuntungan?

Kata Mereka, Secukupnya Saja

“Yang penting, secukupnya saja” ujar tante Oco, seorang penjual milu siram di kelurahan Biawu, Kota Selatan, Gorontalo. “Yah, penting berkah di usia saya yang sudah tua” begitu kata Oma Rabi, peramu obat tradisional di Desa Patungo, Telaga Biru, Gorontalo. Begitulah kutipan dari film dokumenter Gorontalo Baik karya Dandhy Dwi Laksono yang belum lama ini dirilis di YouTube.

Tante Oco dan Oma Rabi tidak menyandang gelar Serjana Ekonomi. Bukan pula pengikut doktrin “keuntungan” dalam menjalankan usaha mereka. “Yang penting, secukupnya” Itu adalah prinsip mereka. Warung sederhana di kelurahan Biawu itu sangat terkenal akan kenikmatan milu siram racikan Tante Oco. Warung yang hanya buka dari pukul 10.00- 13.00 WITA itu selalu ramai dikunjungi, bahkan tak pernah sepi dari para pelanggan setianya. Tante Oco, penjual dan pemilik usaha itu telah dikenal luas dan memiliki banyak pelanggan tetap. Diakuinya bahwa penghasilan yang diperoleh sudah cukup. Lalu, ketika ditanya, kenapa tak menambah jam buka, atau berinvestasi dengan membuka cabang di tempat lain? Ia menjawab, “Yang penting, secukupnya saja”.

Tante Oco mengaku tak ingin susah payah mengejar keuntungan sebesar-besarnya. Yang penting sudah cukup memenuhi target hari itu. Ketika dagangannya habis, Ia akan menutup warung kecil itu, lalu kembali mempersiapkan dagangan untuk esok hari.

Sama halnya dengana oma Rabi. Seorang peramu obat tradisional yang telah dikenal luas sampai keluar daerah karena ramuannya yang manjur. Namun, dengan ketulusan hatinya, setiap pasien yang datang dengan berbagai keluhan penyakit kronis, bahkan ada yang hampir mati akibat gagal ginjal, diberikan ramuan secara cuma-cuma tanpa bayaran sepeser pun. Para pasien yang telah merasakan ramuannya mengaku langsung sembuh tanpa perlu penanganan medis. Ketika ditanya, kenapa tak ingin meminta imbalan sedikit pun, Ia menjawab “Saya tidak ingin dikomersialkan. Tidak pernah kepikiran jauh-jauh ingin dikenal orang. Pokoknya, yang penting masyarakat sekitar sehat-sehat, kalau saya kan tinggal nunggu nomor antrian” ucapnya diiringi tawa kecil. “Saya tidak pernah kepikiran untuk berjualan. Memang tidak dijual. Saya hanya ingin sisa hidup saya menjadi berkah“ tutupnya.

Setelah menyimak cerita kedua tokoh di atas, manakah defenisi keuntungan yang sejati ? Manakah yang benar-benar menguntungkan kehidupan? Apakah kerugian adalah kutukan? Apakah kita sudah menjalani kehidupan dengan sebaik-baiknya?

Entah kenapa, mereka yang berujar “yang penting secukupnya saja,” adalah yang masih bisa tersenyum sampai hari ini. Mereka yang berpendidikan dan berpangkat, kini justru duduk di balik jeruji besi, menyaksikan mereka yang berujar “yang penting secukupnya saja” yang seolah-olah mengejek dari kejauhan, sambil berlalu dan tersenyum. Ironis.

Sunda Wiwitan: The Purity of the Local Religion and Its Discrimination in Indonesia

Penulis Tamu: Chika Tamsir

Sunda Wiwitan (Foto:https://sportourism.id)

There are only few people knowing the existence of the local believe in Indonesia. Local believes also known as nusantara religion. However, Indonesia only recognizing six religions officially. As what contained on the President’s decree number 1 in 1965 and also regulated in Indonesian constitution number 5 in 1965, explained that Indonesian people embrace the six religions, which are Islam, Christian, Catholic, Hindu, Buddha, and Konghucu. However, those all six religions are imported from the outside Indonesia.

Sunda Wiwitan is one of the local believe that worshiping to the nature and their ancestral spirit. Most of the Sunda Wiwitan believers are the traditional people of Sunda tribe. According to the Sunda Wiwitan believers, Sunda Wiwitan believe has already embraced since the ancient time, long before the Islam and Hindu entered Indonesia.

The Sunda Wiwitan believe was introduced by Sadewa Alibasa Kusuma Wijayaningrat, he also known as name Pangeran Madrais from Cigugur, Kuningan. Pangeran Madrais was arrested and exiled to Merauke by the Dutch colonist in 1901 for accusing heresy.

But in fact, the colonists are actually worry with the expanding influences of Madrais movement in building a resistance against the Dutch colonist through the doctrine of Islam. But at the end, he could free himself and back to Cigugur his hometown, and teach his followers about the importance of loving each other and being independent.

Madrais established a community to bring up and encourage the local people to against the colonists. In order to avoid the colonists suspicion, they created a strategy by delivering the doctrines through Sunda Java script, so that today, Madrais also known as Sunda Java believe, or Sunda Wiwitan.

When Madrais passed away in 1939, his leadership was continued by his Son named Pangeran Tedja Buana Alibasa until 1958. In 1964, there were group of people that slandered the Madrais and all his followers are communist. Eventually the Madrais community splitted into some groups.

The one group was led by Djati Kusumah, he is the son of Raden Tedja Buana from his second wife. Djati Kusumah reminded to all his Sunda Wiwitan followers that their believe is the continuation from Muslim Madrais. When at the beginning Madrais recognized as the founder and propagator of the Sunda Java believe, since the doctrine of Islam which was delivered in Sunda Java script.

In Sunda Wiwitan believe, they called their almighty as Sang Hyang Kersa, or Nu Ngersakuen as the most desirable. Sang Hyang Kersa also called in some names like, Batara Tunggal which means the omnipresent, Batara Jagat means the nature ruler, and Batara Seda Niskala as the unseen. The Sang Hyang Kersa is dwelling in the Buana Nyungcung.

All God in the concept of Hindu (Brahma, Wishnu, Shiwa, Indra, Yama, and etc) is bend over to the Batara Seda Niskala. There are three kind of world in Sunda Wiwitan believe, which are: Buana Nyungcung (the place to reside of Sang Hyang Kersa, which is located at the top), Buana Panca Tengah (the place of human dwelling and others creature, which is located at the middle), Buana Larang (the hell, which is located at the bottom).

We can meet the Sunda Wiwitan followers at the small village lacated in  Cireundeu, Bandung. Ridwan Tajudin the head of the Village mentioned that there are about 354 family living there, 91 of them are the followers of Sunda Wiwitan believe.

There are some life values believed by the Sunda Wiwitan like how to be a human being , and how to be a nation. To be a human being, the adherent must be having an affection to the nature, doing goods in the daily life, and respecting the parents. And to be a nation, the followers must uphold the local culture where they born, so they will not colonize other nation.

The Sunda Wiwitan followers are taught that in order to know their God, as human being they have to know their own self before their God, because they believed that the God itself is exist in every human being.

Unfortunately, the existence of Sunda Wiwitan followers today is quite apprehensive. As mentioned in Indonesian constitution 1945 article 29 explain about the freedom of religion, that the country is guarantee the freedom of every Indonesian people to choose their own religion, and worshiping according to what religion they believe in.

But today, the freedom of religion in Indonesia is now in the lowest point. People are commonly see the freedom of religion is different with the freedom of what to believe in. The Government separated the official and unofficial religion, so that most of the society never know that there are some local believe exist in Indonesia. Just like Sunda Wiwitan, even though the way they worship is actually similar to the other religions, which there are always bunch of goodness and values are taught. Sadly, some people think that Sunda Wiwitan is not a religion but the heresy, even the followers of Sunda Wiwitan are accused as Kafir.

The discrimination that happened to Sunda Wiwitan followers is the proof that this nation still cannot uphold the third Sila of Pancasila which is the unity of Indonesia. It is unfair for the Sunda Wiwitan followers, cause the freedom of religion is owned by each Indonesian people. The common society are still lack of information regarding to existence of the local believes.

The marriage of Sunda Wiwitan followers are not recorded in the Office of Religious Affairs, so they cannot have a certificate of marriage just like others. They are also prosecuted to empty their religion information on their Identity Card. Sometimes they cannot have the same right to get the health access from which is actually provide by the government, even in their own workplace. The worst is their children cannot get the birth certificate as what everyone should have for some sake of administration.

There are a lot of sadness experienced by the followers of Sunda Wiwitan. They are treated unfair by the country and most of other official religion, but it doesn’t trigger their revolt to the government. Even though everybody knew that ancestor of Sunda Wiwitan himself is one of the Indonesian national hero that also fight for the freedom of Indonesia.

The followers are living in patiently, but keep in fight for their own believe. They are all realize that the religion they believe in is teach the goodness just like the other religion. They are all believe that they are never break the Pancasila, and they have the same right accordance to Indonesian constitution article 29 about the freedom of religion and believe.

Nadran: Syukurannya Nelayan Pantai Utara Jawa

Reporter: Chairil Muhammad

Upacara Nadran di Indramayu (Sumber : https://sportourism.id)

 

Nadran adalah upacara adat para nelayan di pesisir pantai utara Jawa, sepert Subang, Indramayu, dan Cirebon yang bertujuan untuk mensyukuri hasil tangkapan ikan, mengharap tingkatan hasil pada tahun mendatang dan berdoa agar tidak mendapat aral melintang pada saat mencari nafkah di laut. Inilah maksud utama dari upacara adat nadran yang diselenggarakan secara rutin tiap tahun, yaitu pada dua minggu setelah lebaran idul fitri.

Kata Nadran itu sendiri berasal dari kata nadzar, atau nadzaran yang berarti syukuran. Syukuran para nelayan perihal diadakannya tradisi ini sendiri adalah atas rezeki melimpah yang telah diberikan Tuhan kepada mereka, keselamatan ketika berlayar di laut, maupun hasil ikan yang melimpah ruah.

Nadran sebenarnya merupakan tradisi hasil akulturasi budaya Islam dan Hindu yang diwariskan sejak ratusan tahun secara turun-temurun. Inti dari upacara ini adalah memberikan sesajenkepada penguasa laut agar diberi limpahan hasil laut, sekaligus dijadikan sebagai ritual tolak bala.

Seperti Apa Prosesi Nadran ?

Tradisi nadran diawali dengan pemotongan kerbau sehari sebelum acara puncak. Sesaji dan doa dipanjatkan sebelum kerbau disembelih agar proses penyembelihan berjalan lancar. Kepala kerbau yang sudah dipotong kemudian akan menjadi sesaji yang dilarung ke tengah laut dengan pendamping beberapa tumpeng, dan jajanan pasar. Tradisi ini pada mulanya diawali dengan diadakannya pagelaran tari-tarian dan hiburan rakyat tradisional seperti reog, jaipong, genjring, tari kerbau dan lain-lain. Kemeriahan pun tampak di dalam rungan khusus dimana ibu-ibu dan bapak-bapak nelayan yang dianggap kompeten menyiapkan meron yang akan dilarung keesokan harinya. Meron sendiri merupakan miniatur perahu yang di dalamnya di isi dengan kepala kerbau, kulit kerbau, dan berbagai macam sesajen yang nantinya akan diangkut ke dalam perahu sungguhan untuk kemudian dilarung ke tengah-tengah lautan kurang lebih lima puluh meter dari pantai.

Pemotongan Kepala Kerbau Sebagai Persembahan ( Sumber : http://bayukreshnaadhitya.blogspot.co.id)

 

Ketika meron yang telah dimuat berlayar, para penduduk nelayan dengan perahunya masing-masing akan mengawal perahu yang membawa meron ini. Ketika meron dilarung maka para masyarakat nelayan tadi berbondong-bondong untuk memperebutkan segala sesaji yang ada pada meron yang dilarung tadi.

Berbagai sesaji yang para nelayan dapat tadi sebelumnya telah dibacakan mantra-mantra yang berbaur dengan asap dupa oleh dukun yang diyakini oleh para nelayan bisa menjadi jimat yang berhasiat baik untuk menolak bala maupun menambah rezeki berlimpah ketika dibawa berlayar mencari ikan.

Setelah meron dilarung, sang dukun yang bertugas sebagai pembaca mantera tadi akan mengambil air laut yang nantinya akan dipakai dalam upacara ruwatan pada malam berikutnya. Ruwatan sendiri merupakan upacara meminta keselamatan yang ditandai dengan pagelaran wayang kulit dengan lakon tertentu.

Biasanya pertunjukan wayang digelar sampai satu minggu berturut-turut. Air yang ketika siang tadi diambil pada saat upacara larung meron tadi, oleh dukun pun dicampur dengan air-air lainnya setelah upacara ruwatan usai . Air tersebut akan dibagikan kepada para nelayan sebagai ajimat agar senantiasa diberi keselamatan.

Begitu upacara ruwatan usai, maka usai pulalah upacara tradisi nadran tersebut, dan para nelayan pun pulang kerumah masing-masing untuk kembali berkutat dengan rutinitas sehari-hari mereka yang tak lepas dari jaring dan perahu.

Sejarah Tradisi Nadran Pra Islam

Berdasarkan buku penelitian Dr. Heriyani Agustina, Kepel Press-2009 diceritakan tentang buku “Negara Kertabumi” karya Pangeran Wangsakerta  dengan sumber cerita dari Kartani[8] yang memerintahkan Raja Indraprahasta Prabu Santanu ( yang sekarang Kec. Talun, Kab. Cirebon) untuk memperdalam atau memperbaiki tanggul, yang bertujuan untuk menduplikat Sungai Gangga di India. Agar tanggul sungai lebih kuat, dibuatlah prasastinya tangan sang Prabu Purnawarman yang sekarang belum ditemukan, serta sang Prabu memberikan hadiah-hadiah untuk Brahmana 500 ekor sapi, pakaian-pakaian dan satu ekor gajah untuk Raja Indraprahasta (Prabu Santanu).

Duplikat Sungai Gangga tersebut digunakan untuk keperluan mandi suci. Sungai yang dimaksud adalah sungai Gangganadi dan muaranya di sebut Subanadi (muara adalah perbatasan antara sungai dan laut). Sungai tersebut sekarang adalah sungai Kriyan, terletak di belakang Keraton Kasepuhan Kota Cirebon.

Mandi suci di sungai Gangganadi dilakukan setahun sekali, sebagai acara ritual untuk menghilangkan kesialan dan sebagai sarana mempersatukan rakyat dan pemujaan kepada sang pencipta ( Kartani dan Kaenudin).

Sebetulnya, tradisi Nadran bukanlah tradisi asli daerah Cirebon apalagi masyarakat Desa Mertasinga. Tradisi ini banyak juga ditemukan di beberapa daerah lain dengan nama yang berbeda. Di Jawa Tengah dikenal dengan tradisi Labuhan, karena ada beberapa kepercayaan bahwa apabila mereka tidak melakukan sedekah ini, mereka percaya bahwa Dewa Baruna akan murka dan segera mengirim bencana melalui dewa petir, Dewa Halilintar dan Dewa Angin yang mengakibatkan nelayan tidak dapat melaut. Akhirnya, tidak dapat mencari ikan sebagai sumber kehidupan utama.

Penggunaan daging kerbau sebagai persembahan dikarenakan daging kerbau yang lebih banyak dari pada daging sapi. Ada pula kemungkinan sapi merupakan hewan yang dianggap suci dalam agama Hindu, sehingga harus dipelihara dan tidak boleh dibunuh. Selain itu, sapi dianggap sebagai jelmaan dari dewa.

Selain melarung, ritual lainnya adalah pembacaan mantra-mantra sambil membakar dupa atau kemenyan, tujuanya adalah memohon keselamatan kepada para Dewa Laut. Mantra juga berfungsi untuk memanggil arwah para leluhur yang telah ikut menjaga keselamatan mereka dalam mencari rejeki di laut. Kesan magis pada asap dupa dan kemenyan bertujuan untuk ketenangan sekaligus permohonan kehadirat Yang Maha Kuasa, agar permohonan mereka lebih cepat sampai ke hadapan Tuhan serta cepat dikabulkan segala permohonan atau permintaannya.

Dalam rangkaian upacara Nadran, ditampilkan juga hiburan Wayang yang merupakan kesenian dari Hinduisme dan animisme, yang dapat diperankan seperti tokoh Mahabarata dan Ramayana. Pertunjukan lain dari wayang yang sangat kental dengan Hinduisme dan animismenya adalah wayang dengan lakon Wudug Basuh, yang menceritkan tentang pencarian Tirta Amerta (air kehidupan) oleh para Dewa, dengan cara mengaduk air laut menggunakan ekor naga Basuki.

Tirta Amerta diperlukan untuk mengurapi para Dewa agar mereka terhindar dari kematian, tapi mereka tidak dapat terhindar dari sakit. Oleh karena itu, masing-masing-masing dewa diberi tempat dikayangan Suralaya. Namun demikian, ada kelanjutannya, air laut yang diaduk oleh para dewa tersebut mengakibatkan mahluk laut terganggu, lalu bermuculan ke daratan sambil membawah wabah penyakit wudug, budug (bisul), penyakit-penyakit lainnya. untuk mengatasi wabah ini para Dewa meminta bantuan pada Sanghiyang Baruna untuk menentramkan mahluk laut supaya tidak mengganggu penghuni daratan. Sangyang Baruna melantunkan jampa mantra di baskom air kembang, lalu air kembang yang telah diberi mantra disiramkan pada layar perahu nelayan (Prawiraredja,2005:164).

Meskipun Nadran bernuansa magis dan animisme, masyarakat primitif pada waktu itu telaah memiliki kesadaran mistik terhadap keberadaan penguasa alam semesta, disertai rasa terima kasih dan bermohon kepada Yang Maha Kuasa suapaya diberi kebaikan dan keselamatan.

Tradisi Nadran Setelah Datang Islam

Tradisi-tradisi Nadran setelah kedatangan Islam tidak lagi dimaknai sebagai sebuah persembahan kepada Sanghyang Jagat Batara (Penguasa Alam Semesta), akan tetapi lebih dimaknai sebagai wujud syukur kepada Allah SWT atas karunia yang diberikan-Nya kepada para nelayan, baik itu karunia kesehatan, kekuatan maupun hasil tangkapan ikan yang berlimpah. Mantra-mantra yang dibacakan dalam prosesi Nadran diganti dengan pembacaan do’a-do’a yang dipimpin oleh seorang ulama. Lauk pauk hasil bumi yang diikutsertakan dalam upacara ini dibagi-bagikan kepada penduduk desa dangan simbolisasi pembagian berkah. (Dasuki,1979:1011).

Pelarungan kepala kerbau ke laut tetap dilakukan, tapi tidak lagi dimaknai sebagai persembahan kepada Dewa Baruna.  Pelarungan ini lebih bersimbol pada membuang kesialan, sekaligus untuk mengingat bahwa laut merupakan sumber kehidupan bagi para nelayan, sehingga perlu dijaga dan dilestarikan.

Nuansa keislaman juga nampak dalam pementasan seni wayang dan tari. Wayang yang dipertunjukan adalah wayang Golek Cepak dan wayang kulit Dakwah (sebelumnya wayang dibuat dari gulungan kain yang bergambar lalu diubah menjadi wayang kulit yang berasal dari kulit kerbau atau lembu ) yang merupakan asli Cirebon yang alur ceritanya diambil dari Babad Cirebon, Babad Walisanga dan Babad Ambiya, yang menggambarkan sejarah Islamisasi di tanah Jawa yang dilakukan para Wali, beserta cerita perjuangan Rasullah SAW dan sahabat-sahabatnya dalam menegakkan syariat Islam.

Pagelaran wayang semalam suntuk dalam tradisi Nadran bukan hanya untuk bergadang, akan tetapi masyarakat mendapatkan penyuluhan dan pembekalan rohani. Pagelaran ini diistilahkan dengan tabarukan, yaitu mencari keberkahan atas syukur yang mendalam, dengan membuang kebiasaan-kebiasaan buruk dan menggantinya dengan nilai-nilai positif (Dahuri,2004:218).

Tradisi Nadran Dewasa Ini

Proses pelaksanaan tradisi Nadran di Desa Playangan Kecamatan Gebang Kabupaten  Cirebon, berdasarkan cerita masyarakat setempat, dari dulu hingga sekarang adalah sama dan hampir tidak ada perubahan berarti kalaupun ada hanya proses kelengkapan hiburan yang kadang disesuaikan dengan tingkat kemampuan para nelayan atau tengkulak, dan berdasarkan fakta dilapangan disetiap tahunnya hampir seluruh warga masyarakat khusunya yang berdekatan dengan Desa Playangan turut memeriahkan tradisi ini.

Mereka mengelar berbagai hiburan tambahan, bahkan para pedagang pun tak ketinggalan dari pintu masuk jalan raya sampai ke pusat kegiatan (biasanya jalan menuju bendungan atau pusat acara nadran Desa Playangan) disesaki berbagai macam pedagang, dan hiburan baik dari penduduk desa maupun dari luar desa.

Pemicu tradisi nadran masih selalu dilakukan selain sebagai upaya pelestarian budaya dan tradisi, masyarakat  percaya dengan mitos-mitos yang bermunculan jika nadran tidak dilakukan, maka hal-hal aneh akan terjadi pada nelayan Desa Playangan itu sendiri.

Dahulu, tradisi Nadran pernah tidak diadakan karena beberapa kendala, serta tidak adanya persiapan yang dilakukan. Dalam waktu yang berselang, beberapa kejadian aneh terjadi, seperti kemunculan buaya putih yang menggemparkan warga, juga tenggelamnya kapal nelayan yang sedang berlayar.

Menurut Dr. Heriyani Agustina, dalam kontek kekinian, Nadran terkadang lebih terlihat sebagai upaya pelestarian tradisi, juga sebagai sarana hiburan bagi masyarakat. Ia kehilangan ruhnya, ini terlihat dari banyaknya masyarakat yang telah mulai meninggalkan pesan-pesan moral para pendahulunya, terutama tokoh-tokoh Islam dan para pendiri Cirebon yang tersirat melalui simbol-simbol tradisi.

Bahkan, ketika menampilkan lakon para sufi atau para wali dalam pagelaran wayang sebagai media pengajaran masyarakat supaya hidup sederhana, dan selalu memperhatikan kaum yang lemah, Nadran kini justru dijadikan sarana untuk berfoya-foya dengan tidak menghiraukan pendekatan kaum yang lemah. Sekarang ada kecenderungan bahwa pesta tradisi Nadran lebih banyak dalam bentuk campur sari dan dangdutan.

Kalau dicermati secara rinci dari sisi ekonomi, tradisi Nadran yang dilaksanakan oleh masyarakat Nalayan Desa Playangan, sebenarnya sangat menguntungkan bagi masyarakat maupun daerah, dikarenakan kegiatan Nadran ini sangat menarik para wisatawan baik domestik maupun mancanegara. Bahkan lewat tradisi ini kadang masyarakat Desa Mertasinga juga diuntungkan dari para wisatawan yang kadang juga turut bertransaksi ekonomi lainnya disamping menikmati hiburan-hiburan yang sedang ditampilkan.

Tradisi Nadran merupakan tradisi tahunan yang dirayakan oleh masyarakat Desa Playangan yang perayaannya memakan waktu berhari-hari, dimana tradisi ini merupakan upacara tradisi kelautan yang dilatarbelakangi semangat penyerapan nilai-nilai Islami.

Tradisi Nadran dimaknai sebagai bentuk rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa yang telah menjadikan laut sebagai tempat mencari nafkah bagi masyarakat pesisir. Tradisi Nadran merupakan tradisi yang sakral, bahkan komersial, karena dalam pelaksanaannya sudah pasti memakan biaya besar hanya demi mempertahankan tradisi. Namun demikian, Nadran apabila tidak dipengaruhi berbagai kepentingan politik dan ekonomi atau campur tangan pihak lain, ia adalah upacara tanpa pamrih duniawi.

Apabila dicermati lebih lanjut, tradisi Nadran memiliki nilai-nilai yang sangat ideal, namun nilai-nilai tersebut belum sepenuhnya diimplikasikan dalam kehidupan dilapangan. Nadran memiliki dimensi yang sangat luas, namun masih sebatas dimensi kultural atau tradisi saja, dan belum menyentuh dimensi kearifan budaya lokal. Tradisinya memiliki kelebihan bila dibandingkan dengan ketentuan-ketentuan hukum positif nasional. Nadran juga berguna dalam memperkaya konsepsi dan tujuan pembangunan nasional berbasis kelautan.

Satu hal yang harus kita ketahui bersama adalah bahwa persoalan yang sekarang dihadapi oleh para nelayan begitu kompleks, maka diperlukan peran semua unsur dan elemen bangsa ini untuk mencari solusi bagi kesejahteraan nelayan dalam rangka meningkatkan taraf hidup masyarakat nelayan. hal yang lebih penting juga bahwa tradisi Nadran dapat dijadikan sebagai nilai etika dan agama (asas-asas akhlak) yang manjadi faktor penentu, agar tradisi Nadran kembali pada kesakralan, sekaligus menjadi landasan spritual bagi terbentuknya kode etik dan konvensi pesisir dan kelautan.

 

Cerita di Balik Tradisi Unik “Pengucapan Syukur” Minahasa

Reporter: Ilona

Minahasa merupakan suku asli yang tersebar di beberapa wilayah di Sulawesi Utara. Seperti halnya suku-suku lain di Indonesia, suku Minahasa memiliki suatu tradisi tahunan khas yang dikenal dengan “Hari Pengucapan Syukur”. Suku Minahasa sendiri umumnya menetap di beberapa wilayah kabupaten di Sulawesi Utara seperti kabupaten Minahasa Selatan, Minahasa Utara, Minahasa tenggara, dan Minahasa Induk.

Setiap wilayah kabupaten tersebut umumnya merayakan hari Pengucapan Syukur pada pertengahan tahun. Pengucapan syukur biasanya dilakukan sebagai bentuk syukur kepada Empung Wailan Wangko (Tuhan Yang Maha Besar). Menurut praktisi budaya, Rinto Taroreh, tradisi ini sudah ada sejak zaman leluhur dan dilakukan sebagai wujud syukur atas panen yang didapat. Walaupun dilaksanakan serentak pada setiap pertengahan tahun, setiap kabupatennya merayakan pengucapan syukur di tanggal yang berbeda, tergantung instruksi yang ditetapkan oleh pemerintah masing-masing kabupaten atau kota.

Tahun ini pemerintah Minahasa (induk) menetapkan tanggal 24 Juli 2016 sebagai hari Pengucapan Syukur. Kali ini saya dapat kesempatan untuk mengunjungi kota Langowan untuk mengikuti perayaan tahunan Minahasa ini. Berangkat sejak sabtu dari kota Manado memungkinkan saya untuk melihat-lihat persiapan masyarakat Minahasa (Langowan khususnya) menghadapi hari pengucapan syukur.

Hal unik yang biasa saya saksikan pada perayaan Pengucapan adalah makanan yang disajikan. Masyarakat Minahasa dikenal dengan sajian kulinernya yang ekstrim. Selain makanan jajanan seperti dodol, dan nasi jaha, mereka juga menyajikan makanan pokok teman makan nasi yang biasanya dibuat dari olahan daging-dagingan. Pembuatan dodol biasanya sama dengan pembuatan dodol pada umumnya, hanya saja dodol yang telah jadi dibungkus dengan daun Woka. Nasi Jaha sendiri merupakan olahan beras ketan seperti lemper hanya saja memasaknya dengan dimasukkan kedalam bambu.

Bagi yang tidak terbiasa dan bukan orang asli Minahasa anda mungkin akan kaget dengan olahan daging-dagingan khas Minahasa. Seperti saya, walaupun ayah dan ibu saya merupakan warga turunan asli Minahasa, Saya cukup kaget melihat olahan daging-dagingan yang disajikan di pengucapan syukur Minahasa.

Hari Pembantaian

Sebelum proses pengolahan makanan, saya mendapat kesempatan untuk mengunjungi tempat jualan hewan dan ternak untuk dimasak. Pukul 9 pagi saya bersama seorang kerabat yang tinggal di Langowan berangkat menuju pasar baru. Sabtu pagi yang padat di pasar baru Langowan. Masyarakat berdesakan berbelanja keperluan pengucapan. Selain baju, sepatu, karpet, bumbu dan keperluan rumahtangga lainnya tujuan saya datang adalah karena penasaran dengan hewan-hewan yang nantinya akan berakhir di panci penggorengan.

Masuk lebih dalam pasar saya melihat stand unggas yang terdiri dari ayam dan bebek siap potong (Langowan terkenal dengan olahan bebeknya yang enak). Melihat ayam-ayam dan bebek-bebek yang digantung terbalik dengan kaki diikat saya sedikit kasihan. “belum dimasak saja sudah disiksa”.

Semakin kedalam pasar aroma kopi bercampur dengan keringat orang berdesakan, unggas, dan bumbu-bumbu yang digelar di meja-meja lapak pedagang. Terus kedalam ada meja-meja yang di atasnya diletakkan ikan berbagai jenis yang tengah megap-megap berusaha bernafas bahkan ada yang pingsan.

Di pojok paling belakang pasar merupakan letak lokasi pembantaian yang sesungguhnya. Anda yang nggak tegaan disarankan untuk tidak datang kesini. Masyarakat Minahasa memang dikenal dengan kuliner ekstrimnya. Di tempat inilah anda akan melihat Tikus, Ular Patola (piton), Paniki (kelelawar), Kucing, Anjing, Babi, dan Yaki Hitam (Satwa Endemik khas Sulawesi) yang tengah digantung, dibakar, atau dipotong-potong untuk dijajakan. Walaupun tidak ada aturan tertulisnya, namun hewan-hewan tersebut “wajib” ada (walaupun tidak semua) di meja sajian perayaan Pengucapan.

Cara eksekusinyalah yang jadi perhatian bagi saya. Untuk tikus, tidak ada kegiatan pembantaian langsung. Yang saya saksikan hanya tikus masih utuh yang sudah dibakar dan dijejer diatas meja. “Rest in Peace Mice”. Selain itu ada pula Patola (ular piton), saat tiba di lokasi ular telah dipotong menjadi beberapa bagian tapi tanpa dibakar karena kulitnya tidak ikut dimasak. Berbeda dengan hewan berbulu lainnya yang harus dibakar untuk merontokan bulu.

Selain tikus dan ular, ada pula babi. Babi biasanya telah dipotong terlebih dahulu sebelum dijual. Ada pula kucing. Disini hewan yang biasa dipelihara tersebut harus berakhir di panci penggorengan. Ada yang dibantai langsung, biasanya dengan dijerat. Setelah mati kemudian dibakar.

Coklat yang malang

Hal yang paling menggugah bagi saya adalah saat melihat stand anjing. Saya pribadi memang penyuka hewan yang suka menggoyang-goyangkan ekor sambil menjulirkan lidah kala sedang bahagia tersebut. Walau demikian saya tidak punya daya untuk menghentikan kaum omnivora ini mengkonsumsi bleki dan kawan-kawan. Yang menyedihkan adalah prosesi pembantaiannya. Mungkin saya sedikit mendramatisir. Tapi inilah yang saya lihat dan rasakan langsung saat kawan si Bleki harus dibantai demi daging RW di meja Pengucapan.

Anjing-anjing biasanya dikurung bersama dalam keranjang besi. Kala itu ada 2 ekor anjing yang dikurung dalam satu keranjang sementara anjing lain diletakkan di keranjang berbeda. Saat semakin mendekat saya melihat om-om yang tidak dapat disebutkan namanya menjerat seekor anjing berwarana coklat dengan corak putih di keempat kakinya (sebut saja si Coklat) di salah satu keranjang tersebut. Alat penjeratnya berupa bambu (galah) yang pada ujungnya diikatkan tali lingkar sebesar ukuran leher anjing. Saat berhasil dijerat, saya melihat si Coklat berusaha melepaskan jeratnya dengan menahan galah yang disodorkan si om sambil berteriak ketakutan. Saat sudah terjeratpun coklat masih berusaha memegang galah sambil menangis memohon si om melepaskan jeratnya. Si om tidak memperdulikan tangisan si Coklat. Si om kemudian memukul kepala coklat dengan balok sampai Coklat terkulai lemas disaksikan beberapa teman anjing di keranjang lain yang hanya bisa menatap pedih kemudian tertunduk dalam diam.

Di kandang bersama-sama dengan Coklat ada seekor anjing lain yang juga tertunduk tanpa mau menoleh ke tubuh lemas Coklat di sebelahnya. Hatinya lebih pedih karena itu berarti gilirannya semakin dekat. Ia hanya bisa berdoa untuk keselamatan dirinya dan anjing lainnya.

Sementara itu tubuh lemah coklat kemudian diangkat untuk dibakar dan dipotong dan dijajakan ke pembeli lainnya.

Antara tradisi dan satwa endemik Sulawesi

Di antara beberapa daging yang dijajakan, saya penasaran dengan daging Yaki (monyet) hitam yang merupakan satwa endemik Sulawesi Utara. Sepanjang stand saya tidak dapat menemukan daging yaki. Menurut kerabat saya yang mengajak saya ke pasar ini daging yaki cukup langka karena banyak peminatnya. Setelah beberapa kali berkeliling dengan hasil nihil karena saya bukanlah ahli yang bisa tau morfologi hewan hanya dengan melihat meski hanya potongan, saya kemudian memutuskan bertanya kepada seorang penjual, seorang om berbaju kuning yang sedang memotong-motong daging hewan.

“Om, daging Yaki di seblah mana kang?” ujar saya. Si om mengamati saya, setelah yakin saya adalah pembeli dengan memandang kantong kresek yang saya bawa di tangan kiri,ia kemudian menunjuk ke arah meja di sebelahnya.

“sana dang yaki”

“ih, patola itu om” ujar saya kurang yakin karena tidak melihat tubuh utuh yaki di atas meja yang ditunjuk si om.

“itu dang yaki di depe seblah”. Ujarnya lagi. Setelah benar-benar yakin, saya pun mendatangi stand tersebut. Untuk lebih memastikan saya bertanya kepada wanita muda yang menjaga stand tersebut. Dengan menunjuk daging yang dimaksud saya mulai bertanya

“ini…” belum sempat saya meneruskan omongan saya langsung dipotong oleh penjualnya yang memang terlihat sibuk

“Yaki” ujarnya pendek sambil melayani pembeli lain.

Daging yang saya tunjuk merupakan potongan dari pinggang hingga kaki yang dibelah lagi menjadi dua. Karena sudah dibakar orang awam seperti saya tidak tahu jika potongan tersebut merupakan daging Yaki, satwa endemik sulawesi yang dilindungi.

“berapa?” saya bertanya lagi.

“80 ribu” balasnya pendek.

Ternyata selain langka, harganya juga sedikit lebih mahal dibanding daging babi yang kala itu dibandrol dengan harga 75 ribu rupiah perkilonya.

Menit-menit terakhir di pasar baru Langowan. Saya kembali memandangi hewan-hewan malang yang jadi korban tradisi, yang akan berakhir di panci lalu mati. Inilah tradisi yang justru bagi mereka tak boleh mati. Sampai saat menulis tulisan ini saya masih cukup sedih membayangkan Coklat yang mati, dan tetap dikonsumsinya satwa di ambang kepunahan seperti Yaki. Walau demikian masyarakat yang telah turun-temurun melakukan tradisi ini tidak bisa langsung disalahkan.

Untuk coklat, saya amat sangat teramat sedih dan pedih atas jiwanya yang harus melayang, tapi saya tidak lantas menyalahkan para pengkonsumsi anjing, dan mungkin oma-oma dan opa-opa yang makan olahan daging si Coklat. Saya tidak boleh egois. Karena saya juga tetap makan ayam, sapi, dan ikan di tengah beberapa orang yang mungkin cinta mati ayam, sapi, dan ikan, dan beranggapan mereka teman, bukan makanan. Untuk Yaki, karena jumlahnya yang semakin sedikit dan hanya ada di Sulawesi, saya berpesan kepada anda semua, mari kurangi makan Yaki, jika boleh jangan makan sama sekali. Untuk hewan lainnya, silahkan makan sepuasnya, asal jaga kolestrol anda.  Untuk Langowan, terimakasih telah menghadirkan pengalaman dan cerita unik bagi saya. Sampai ketemu di Pengucapan selanjutnya.

Foto ilustrasi si Coklat diunduh dari sini

Mengapa Merayakan Hari Laut Sedunia?

Reporter: Mustika Muchtar

Di Indonesia, masyarakat memperingati Hari Laut Sedunia dengan menyampaikan pesan-pesan tentang pentingnya menjaga kelestarian laut dan organismenya.

Pesan-pesan itu disampaikan melalui berbagai saluran media sosial. Tagar #HariLautSedunia, misalnya, pada 8 Juni 2017 menjadi trending topic.

Sementara di Manado, Sulawesi Utara, pemerintah provinsi menyelenggarakan aksi bersih-bersih pantai di Pulau Bunaken bersama berbagai LSM dan masyarakat pulau tersebut.

Bunaken, sebagai ikon pariwisisata Sulut, dalam beberapa tahun terakhir memang mengalami masalah sampah yang tak kunjung terselesaikan.

Aksi tersebut diharapkan dapat mempengaruhi masyarakat agar mengubah kebiasaan membuang sampah di aliran sungai agar. Sekaligus, melestarikan satu-satunya Taman Laut yang dimiliki Sulawesi Utara.

Mengapa Kita Merayakan Hari Laut Sedunia?

Sebuah organisasi internasional bernama The Ocean Project, berupaya menginisiasi Hari Laut Sedunia sejak tahun 2002. Pada perhelatan Earth Summit yang diselenggarakan di Rio de Janeiro, tahun 1992, Pemerintah Canada mengajukan konsep Hari Laut Sedunia dalam forum tersebut. Namun, hingga saat itu, Hari Laut Sedunia  masih menjadi wacana.

Akhirnya, bersama World Ocean Network, pada tahun 2004 sampai 2008, para sukarelawan membuat dan membagikan petisi online yang berisi desakan kepada PBB agar menetapkan Hari Laut Sedunia pada setiap tanggal 8 Juni.

Usaha mereka berbuah manis. Ratusan organisasi dan masyarakat dari berbagai belahan dunia turut berpartisipasi menandatangani petisi tersebut. Hasilnya, pada tahun 2008, Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), menetapkan Hari Laut Sedunia pada setiap tanggal 8 Juni.

Sejak saat itu, Hari Laut Sedunia dirayakan dengan berbagai macam cara di berbagai negara. Umumnya, masyarakat merayakannya dengan menggelar berbagai kampanye mengenai isu-isu kerusakan lingkungan laut, aksi bersih-bersih pantai, pemutaran film, pentas seni, dan berbagai aksi positif lainnya dalam rangka melindungi kehidupan di laut.

Apa Tujuan Hari Laut Sedunia 

Laut yang mencakup 71% wilayah permukaan bumi selayaknya dimaknai secara khusus oleh kita, manusia – aktor utama yang paling bertanggung jawab atas berbagai kasus kerusakan lingkungan laut yang mengancam kehidupan jutaan biota tinggal di dalammya.

Kesehatan laut menjadi sangat penting bagi kehidupan makhluk hidup di belahan bumi manapun. Kesehatan laut adalah kesehatan manusia. Ada banyak peranan laut yang begitu erat dalam rangka memastikan kehidupan manusia berlangsung dengan baik.

Salah satu peran  laut yang paling penting adalah memenuhi kebutuhan pangan, protein, dan mineral 7  miliar manusia di bumi. Secara ideal, penyediaan konsumsi pangan laut merujuk pada berbagai ikan konsumsi yang bernilai ekonomis, rumput laut, garam yodium, dan berbagai macam sumberdaya laut lainnya yang berpotensi untuk dikembangkan menjadi alternatif pangan.

Adapun obat-obatan yang merupakan hasil ekstraksi dari organisme laut, saat ini tengah dikembangkan dalam bidang biofarmasitika laut oleh para peneliti bidang kelautan dan kesehatan.

Laporan Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) memperkirakan 30% total karbondioksida di atmosfer selama masa pra-industri diserap oleh lautan melalui siklus karbon global.

Kemampuan laut dalam menyerap karbondioksida diperkirakan bahkan lebih baik dari hutan tropis. Berbagai variasi iklim dan cuaca di bumi juga tidak lepas dari peranan laut sebagai komponen penting.

Jutaan masyarakat di banyak negara juga menggantungkan perekonomian dan mata pencaharian mereka pada aktivitas penangkapan di laut. Terutama di negara-negara berkembang, mata pencaharian di bidang perikanan dan pariwisata bahari sangat bergantung pada produktivitas terumbu karang yang sehat.

Sebab itu, Hari Laut Sedunia menjadi kesempatan bagi kita semua untuk sedikit membalas limpahan kebaikan alam yang kita nikmati dari laut.

Melalui berbagai kegiatan perayaan Hari Laut Sedunia, ada beberapa poin-poin penting yang diharapkan dapat disampaikan kepada setiap individu, baik yang mendiami daratan, maupun wilayah-wilayan pesisir.

Pertama, memberikan pemahaman kepada masyarakat tentang makna laut, dan apa saja yang disediakannya bagi kehidupan makhluk hidup di masa sekarang dan masa yang akan datang.

Kedua, Hari Laut Sedunia diharapkan menjadi momentum bagi siapa saja untuk mengekplorasi keindahan dan keanekaragaman hayati laut dan habitat di dalamnya.

Kemudian kita dapat mempertimbangkan tindakan sehari-hari yang mempengaruhi kehidupan organisme-organisme di dalammya, juga bagaimana memahami hubungan manusia dan lautan.

Ketiga, berbagai aksi kampanye dan penyadartahuan dilakukan untuk mendorong orang-orang mengubah kebiasaan-kebiasaan kecilnnya yang berkontribusi dalam merusak kehidupan di laut.

Semisal, di manapun kita membuang sampah sembarangan, 80% di antaranya dipastikan akan bermuara ke laut, serta meracuni setiap organisme laut yang tanpa sengaja mengira sampah sebagai makanannya.

Kita dapat mengajak anggota keluarga, teman, kerabat, atau siapapun untuk ikut beraksi mengurangi jumlah sampah yang masuk ke lautan dengan cara-cara menyenangkan.

Ocean Conference

Bertepatan dengan Hari Laut Sedunia, baru-baru ini juga berlangsung Ocean Conference 2017 yang diselenggarakan oleh PBB di New York Amerika, pada 5 sampai 9 Juni 2017 kemarin.

Konferensi tersebut bertujuan mencapai target Sustainable Development Goal nomer 14, yaitu pada tahun 2030 negara-negara anggota bisa secara efektif meregulasi panen ikan, mencegah tangkapan berlebih (over fishing), dan memberantas IUUF (Illegal, Unreported, Unregulated Fishing), praktik penangkapan ikan yang destruktif.

Target lain yang ingin dicapai adalah manajemen perikanan berdasarkan sains, untuk mengembalikan stok ikan secepat mungkin ke tingkat yang bisa menghasilkan panen maksimum berkelanjutan.