Penyebaran Berita Bohong Belum Berhasil Ditangani

ilustrasi: pixabay

Penulis: Rio Fabanyo

Belakangan ini, saya melihat banyak sekali berita bohong dan informasi berisi ujaran kebecian bermunculan di berbagai platform transaksi informasi digital.
Masyarakat saat ini tidak suka kerumitan, sehingga membuat mereka mendekat pada teknologi yang memanjakan. Ibarat mi instan, tidak rumit untuk memasaknya. Cukup direbus di air panas, duduk diam, mi siap dimakan. Meski kadang-kadang, membuka bungkusan bumbunya masih terasa rumit bagi saya.
Sama halnya dengan mencari informasi, kita hanya butuh keaktifan jari-jari kita dan pulsa data tentunya.
Menggantikan peran orang tua, teknologi dapat memecahkan beberapa masalah dalam hidup saya. Seperti contoh, ketika saya penasaran dengan nama ilmiah Yaki pantat merah Sulawesi Utara, daripada mengganggu ibu yang sedang memasak, saya tanya saja pada Wikipedia. Dalam hitungan detik Macaca nigra langsung muncul di layar hape saya. Namun, ibarat jatuh cinta, teknologi kadang-kadang bikin buta. Kehebatanya buat saya bingung, bagaimana membedakan informasi yang benar dan yang tidak.
Manusia menciptakan teknologi itu sendiri, bagaimana bisa teknologi itu kemudian melampaui manusia penciptanya sendiri? Sayang, segala sesuatu yang kita ciptakan belum tentu menghasilkan hal-hal baik.
Kita boleh saja memperoleh segala informasi atau pengetahuan dengan mudah, tetapi dengan mudahnya juga kita ditipu oleh informasi-informasi itu.
Sampai saat ini saya kesulitan mencari informasi yang akurat, baik untuk tugas-tugas kuliah maupun isu-isu hangat yang ingin saya kepo-i. Masih ingat kasus Ratna Sarumpaet? Saya adalah korban berita hoaks itu.
Direktur Informasi dan Komunikasi Badan Intelijen Negara (BIN), Wawan Purwanto, menyebut konten-konten media sosial di Indonesia ternyata didominasi informasi bohong atau hoaks. Dalam kumparan.com dijelaskan bahwa Menteri Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia Rudiantara menuturkan dari survey terbaru dari lembaga Edelman diketahui dari sekitar 43 ribu media online di Indonesia, baru sekitar 500 atau 1,1 % media online yang sudah terverifikasi.
Jadi, bayangkan. Ada sekitar empat puluh ribuan lebih media online gadungan tersebar di Indonesia. Tony Keusgen sabagai Managing Director Google Indonesia menyadari ini. Dia menjelaskan, Google belum bisa mengontrol dengan ketat berbagai informasi yang diunggah.
Saya pikir penegasan peraturan tentang penyebar berita hoaks di media massa cetak atau online lemah, sehingga isu SARA merajalela di Indonesia.
Peneliti Pusat Studi Hukum dan Kebijakan Indonesia (PSHK), Miko Ginting yang dikutip dari hukumonline.com, menjelaskan bahwa penyebar berita hoaks atau kabar yang tidak lengkap itu dapat dikenakan sanksi pidana sesuai pasal 14 dan 15 UU No. 1 Tahun 1946 tentang Peraturan Hukum Pidana. Jerat hukum jika menggunakan pasal 14 dan 15 UU 1/1946 ini tidak tanggung-tanggung, kata Miko, ada yang bisa dikenakan sanksi 2 tahun, 3 tahun bahkan 10 tahun yang dikualifikasi dalam 3 bentuk pelanggaran, yakni:
1) Menyiarkan berita bohong dengan sengaja menerbitkan keonaran di kalangan rakyat dan dikenakan sanksi 10 tahun penjara sesuai Pasal 14 ayat 1
2) Menyiarkan berita atau mengeluarkan pemberitahuan yang dapat menerbitkan keonaran di kalangan rakyat, sedangkan ia patut dapat menyangka bahwa berita itu bohong dan dikenakan sanksi 3 tahun penjara sesuai Pasal 14 ayat 2
3) Menyiarkan kabar yang tidak pasti atau kabar yang berlebihan atau tidak lengkap, sedangkan ia mengerti dan mampu menduga bahwa kabar itu akan menerbitkan keonaran dan dikenakan sanksi 2 tahun penjara sesuai Pasal 15.
Hukumnya ada. Sanksinya ada. Tapi, kenapa masih ada saja berita-berita kibul di mana-mana? Dan ‘kok sepertinya tidak berhenti?
Di negara yang pluralis ini, berita bohong menjadi sangat berbahaya. Ia dapat menghadirkan kesalahpahaman di antara masyarakat.
Banyaknya isu-isu bohong bemuatan SARA dari media-media gadungan (didorong dengan berbagai kepentingan entah kepentingan ekonomi, politik, atau mungkin hanya iseng-iseng) dapat membuat negara terpecah belah.
Sampai saat ini saya melihat banyak netizen yang masih menyebarkan berita hoaks di akun media sosial pribadi. Dan memang, kenyataan di zaman ini produksi informasi-informasi aktual sebanding dengan produksi informasi-informasi bohong.
Saya kira upaya untuk menangkal berita bohong yang digaungkan oleh berbagai lembaga atau kelompok yang peduli dengan hal ini, tidak begitu berhasil sejauh ini.

Maaf Aku Pernah Menyebutmu “Pelakor”

Penulis: Tessa Caca

(Foto: gettyimages.com)

Sempat ramai di media sosial video Jennifer Dunn yang dilabrak oleh putri Bos Ferarri Club dan Pengusaha Properti Faisal Haris karena diduga menjadi orang ketiga di antara hubungan ibu dan ayahnya. Sejak saat itu kata Pelakor mulai terdengar tak asing di telinga kita.

Mungkin ada yang akan bertanya-tanya, sebenarnya apa, sih pelakor itu?

Pelakor, istilah ini adalah singkatan dari “perebut laki orang”, bila dilihat dari latar belakang, munculnya kata pelakor digunakan oleh wanita yang merasa sakit hati karena suaminya direbut oleh wanita lain yang memang sudah mengetahui secara pasti bahwa sang lelaki sudah beristri. Tapi, seiring berjalannya waktu kata pelakor tidak hanya digunakan oleh wanita yang suaminya direbut, tapi juga anak muda yang merasa pacarnya diambil teman, atau orang lain yang jelas-jelas sudah mengetahui tentang hubungan mereka. Jadi, bila ditarik kesimpulan kata PELAKOR lebih mengarah ke orang ketiga dalam suatu hubungan yang khususnya ditujukan pada wanita.

Pelakor, setelah dipikir-pikir kok jatuhnya kayak diskriminatif, ya? Soalnya ‘kan dalam kampanye kesetaraan gender yang namanya korban pelecehan seksual dan korban kekerasan dalam rumah tangga tidak selalu menjadikan wanita sebagai korban. Pria pun bisa (menjadi korban).  Jadi demi kebaikan bersama yah dibikin adil aja, dong. Jika ada pelakor, seharusnya ada juga perebut wanita orang, kan pelakor viral karena singkatannya, tapi kalo perebut wanita orang disingkat terus jadi Pewarong kan rancu. Tidak enak didengar. Apa lagi kalo disingkat (maaf) Pewar, kata ini terlalu kasar buat masyarakat Manado dan sekitarnya.

Wahai para wanita, apa perlu kita menyebut pelakor ke teman wanita yang lain?

Sebagai seorang wanita saya rasa kita harus lebih berhati-hati dengan kata ini. Apa anda pernah berpikir, menyebutkan kata ini anda sama saja menghina diri anda sendiri? Mungkin hal ini belum pernah terpikir di benak anda. Namun yang anda teriaki adalah kaum anda sendiri, yaitu kaum wanita.

Pernahkan anda berkata pada pacar atau teman lelaki anda demikian, bila kau menyakiti hati seorang wanita, itu sama saja engkau menyakiti hati Ibumu sendiri?” Tapi, bagaimana bila kalimat ini dijadikan senjata untuk menyerang dirimu sendiri? Bila kau mengatakan orang ketiga dalam hubunganmu sebagai wanita pelakor itu sama saja menghina dirimu sendiri karna kau adalah seorang wanita.

Seharusnya kita berpikir bahwa orang ketiga tidak akan hadir bila sang pria tetap setia dan terus bertahan walau banyak masalah dalam suatu hubungan, dengan kata lain, orang ketiga tidak akan hadir bila tidak diberi cela.

Mungkin bukan rahasia umum lagi bahwa ada pria yang gampang bosan ketika menjalin hubungan yang bukan berjalan ke arah yang lebih baik atau menjadi lebih romantis malah menjadi makin hancur karna pasangannya sibuk, atau karena terlalu banyak masalah yang membuat pasangan sering bertengkar dengan adu mulut. Hal ini membuatnya ingin mencari kenyamanan di tempat lain. Mungkin ia akan berpikir dengan curhat ke teman wanitanya akan terasa nyaman, dan ketika rasa nyaman itu datang tumbuhlah benih-benih cinta di antara mereka.

Jadi bagaimana? Pantaskah kata pelakor dilontarkan pada wanita? Saya rasa anda bisa memikirkannya sendiri.

Saya memang bukan psikiater, saya juga bukan Penasihat Pernikahan, dan saya juga bukan mahasiswa Psikologi. Saya hanya seorang mahasiswa di Fakultas Ekonomi. Tapi saya berhak dong mengemukakan pendapat (‘kan setiap orang punya hak mengemukakan pendapat). Mungkin diantara kalian ada yang akan berpikir, “aduh bocah, nikah aja belum, sok-sokan bahas orang ke-3.” Maaf beribu maaf, saya rasa pikiran anda harus diluruskan bahwa, “orang ketiga tidak hanya ada dalam hubungan rumah tangga saja!”

Saya hanya ingin mengatakan, bila ada masalah cobalah diselesaikan dengan kepala dingin dan cobalah untuk saling mengerti satu sama lain. Karena bila ada hal yang keliru terjadi dan menyakiti salah satu pihak, itu akan membawa dampak besar dalam suatu hubungan apalagi bila yang tersakiti hanya diam dan malah menceritakan masalahnya ke orang lain. Cobalah tetap tenang dan selesaikan semuanya baik-baik. Dan tentunya dengan komunikasi. Komunikasi yang baik antara satu sama lain agar tetap terus membangun rasa kepercayaan yang ada dalam diri.

Sekian tulisan saya kali ini, maaf kalau ada salah-salah kata, saltik, atau hal-hal yang tak mengenakkan dan membuat para pembaca kesal. Akhir kata teruntuk para kaum lelaki ,“Jangan pernah meninggalkan yang tulus demi yang mulus,” dan teruntuk kamu yang pernah diteriaki pelakor, “Maaf, aku pernah menyebutmu pelakor.

Tour Guide Masih Selow Menghadapi Ancaman Teknologi

Penulis: Ginpus

(Ilustrasi: cyberpictures.net)

Perkembangan teknologi yang pesat membuat manusia semakin inovatif. Saat ini berbagai kemudahan telah ditawarkan teknologi, salah satunya pada dunia pariwisata. Dengan berkembangnya platform travel, setiap destinasi dapat dijangkau. Hanya bermodalkan gawai dan akses internet, seseorang sudah bisa mendapatkan pelayanan wisata yang tentunya sesuai keinginan dan isi kantongnya. Hal ini tentu membuat orang berpikir karir seorang tour guide konvensional akan terancam. Namun, apakah benar demikian?

Tour Guide di Era Digital

Digitalisasi dunia pariwisata merupakan suatu kemajuan dalam perkembangan teknologi. Dimana informasi mengenai tempat tujuan wisata bisa langsung kita ketahui. Transportasi dan akomodasi dapat diakses hanya dengan sekali klik. Hal ini sebenarnya bukan sebuah ancaman. Tour guide bisa beradaptasi dengan kondisi ini, karena pendekatan digital dapat disesuaikan dengan kebutuhan. Tour guide bisa memanfaatkan teknologi yang sudah ada untuk memudahkan pekerjaannya. Seperti memesan tiket perjalanan atau reservasi tempat yang akan dikunjungi.

Menurut pendapat Joko Suratno, pemilik ATAYA Tour, “Era digital hanyalah sebuah sistem yang diperuntukan untuk mempermudah, bukan menggeser ataupun menggantikan,” seperti dikutip dari phinemo.com.

Cara Menghadapi Persaingan

Masih selow dengan kemajuan teknologi, para pemandu wisata menganggap kesempatan masih terbuka lebar. Mereka percaya diri ada beberapa kelebihan yang pastinya tidak dimiliki oleh penyedia wisata yang berbasis daring. Hospitality salah satunya. Keramah-tamahan tour guide serta kesiapsediaan dalam segala situasi merupakan keunggulan mereka. Dikutip dari tribunjogja.com, pernyataan Edwin Ismedi Himna selaku Managing Director Trend Tour and Travel, “Ada beberapa service yang tidak bisa didapatkan costumer dari agen-agen online. Diantaranya, saran dan petunjuk itinerary perjalanan hingga layanan refund langsung.” Tak hanya itu, dengan pengalaman matang seorang tour guide terhadap daerah-daerah yang sudah dikenalnya menjadi nilai plus, ketimbang hanya mengandalkan layanan ulasan pada sebuah aplikasi.

Peminat yang Masih Banyak

Bukan hanya keramah-tamahan dan kesiapsiagaan, jasa tour guide masih dilirik karena dapat memberikan rasa aman bagi para pengguna jasanya. Tidak main-main, tour guide adalah orang yang bertanggung jawab atas segala kemungkinan pada kliennya selama perjalanan berlangsung. Tidak hanya itu, budget untuk perjalanan juga masih dipertimbangkan. Salah satu paket pariwisata yang paling diminati adalah group tour. Perjalanan wisata berkelompok ini banyak peminatnya karena semakin banyak peserta tur, biayanya akan lebih murah. Masih dikutip dari pendapat Joko Suratno di phinemo.com, “Minat masyarakat pada agen travel konvensional itu masih sangat tinggi. Kalau dirata-rata memang paling banyak dari government.” Dengan merogoh kocek yang tidak terlalu dalam, pengguna jasa hanya tinggal membawa diri dan pakaian, tanda pengenal, tiket, hotel, akomodasi serta konsumsi sudah beres di tangan tour guide.

Seberapa pun hebatnya perkembangan teknologi, nyatanya tenaga manusia masih dipertimbangkan. Dengan rasa aman dan kenyamanan yang terjamin hingga kecakapan dalam merencanakan dan mengorganisir perjalanan wisata mampu mempertahankan eksistensi tour guide agar tidak dilengserkan jasa travel daring.

Fenomena “Viral” dan Masyarakat Indonesia

Penulis: Mody Lumi

(Sumber: formato7.com)

Masyarakat Indonesia sudah tidak asing lagi dengan istilah “viral”. Viral sendiri berasal dari Bahasa Inggris, yang jika diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia menggunakan Google Translate, menghasilkan kata “virus”. Kata ini sangat mudah ditemukan di media sosial, televisi, bahkan dalam komunikasi tatap muka setiap hari. Sesuatu atau seseorang yang viral biasanya menjadi hiburan, bahan pembicaraan, bahkan ada yang menjadikannya sebagai role model. Contohnya, goyangan Presiden Joko Widodo saat pembukaan Asian Games ke-18 yang terekam kamera. Goyangan ini sempat viral dan menjadi hiburan bagi masyarakat Indonesia. Banyak yang memparodikan goyangan ini dalam sebuah video dan diunggah di media sosial mereka masing-masing dan ditonton banyak pasang mata, bahkan ada yang membagikan. Beberapa hari yang lalu video parodi Jusuf Kalla bersama cucunya juga sempat viral. Dalam video itu terlihat Wakil Presiden RI bersama cucunya bergoyang sambil mengikuti musik.

Namun, segala sesuatu yang viral tidak bisa dikatakan positif bahkan dapat membahayakan nyawa bagi pelakunya. Kiki Challenge misalnya, sempat dilarang oleh kepolisian karena dinilai membahayakan, tidak hanya pelaku tapi juga masyarakat yang lain khususnya pengguna jalan. Bagaimana tidak, challenge ini mengharuskan salah satu pelakunya turun dan joget di luar mobil sementara mobilnya tetap berjalan pelan diiringi lantunan lagu karya Drake yang berjudul In My Feelings.

 

Hasrat Menjadi Terkenal

Banyak masyarakat Indonesia yang belakangan ini sengaja melakukan hal konyol dan bodoh untuk viral dan menjadi terkenal. Dengan bermodalkan akun sosial media, video konyol dan bahkan ada yang tidak layak untuk dilihat dan dicontohi anak-anak di bawah umur, dengan mudah menyebar di sosial media dan menjadi viral. Kebebasan bersosialisasi di media sosial yang didapatkan banyak anak di Indonesia menjadi salah satu faktor anak-anak mengikuti kekonyolan yang sengaja dibuat-buat ini. Orang tua yang seharusnya mengawasi anak mereka malah ikut-ikutan main sosmed.

Beberapa kejadian yang viral di media sosial mengundang ketertarikan acara-acara TV untuk turut meliput bahkan sampai menghadirkan artis dadakan pelaku viral sebagai bintang tamu.

Terjadi hubungan yang saling menguntungkan antara pihak acara TV dan artis-artis dadakan itu. Selain menaikkan rating acara, para artis dadakan juga diuntungkan, mereka semakin viral.

Namun, ketenaran mereka memang tidak berlangsung lama. Warganet biasanya menyukai hal-hal baru yang tentunya juga tidak kalah viral dari sebelumnya, dan ini akan berlangsung terus-menerus sehingga yang lama pun akhirnya dilupakan dan ditinggalkan.

 

Viral Untuk Kampanye Kebaikan

Tidak melulu negatif atau semua kejadian yang viral adalah hal bodoh. “Viral” juga dimanfaatkan dengan baik oleh beberapa masyarakat. Sebuah kampanye untuk memberikan dampak positif bagi masyarakat sangat wajib untuk di-viralkan. Contohnya, kampanye lingkungan di Sulawesi Utara yang semakin meriah dengan kemunculan slogan “Buang Dalam Jo” yang berarti “Buang di Dalam Saja” memberi saran untuk masyarakat membuang sampah ke dalam tempat sampah. Kampanye ini menjadi viral dan banyak masyarakat yang terbawa gaya hidup seperti ini. Bahkan ada lagu, video dan challenge yang bertemakan “Buang Dalam Jo” yang beredar luas di media sosial. Viral seperti inilah yang harus selalu ada dan tidak boleh habis masanya sampai semua warganet saling mengingatkan untuk menjaga lingkungan dan segala sesuatu untuk dampak positif yang berkepanjangan.

Gaya hidup masyarakat yang seperti ini juga dimanfaatkan untuk kegiatan sosial. Contohnya bencana alam yang belum lama ini melanda kota Lombok juga Palu dan Kabupaten Donggala menjadi pergumulan untuk Indonesia. Banyak Kampanye Peduli Lombok, Palu dan Donggala yang beredar luas di media sosial dan kejadian ini kemudian menjadi hangat dibahas di media sosial. Hangatnya pembahasan tindakan kepedulian terhadap Palu dan Donggala membuat banyak yang tertarik untuk berperan langsung dalam aksi sosial ini. Aksi sosial ini seakan menjadi gaya hidup positif yang dipengaruhi oleh sesuatu yang viral di media sosial.

 

Keberagaman masyarakat Indonesia seakan dipersatukan dengan gaya hidup yang berubah-ubah mengikuti arus media sosial. Saya sendiri sebagai masyarakat Indonesia pernah dan sampai sekarang pun ingin jadi viral dan terkenal. Tidak bisa dibayangkan saya diundang sebuah talk show di TV karena tindakan konyol yang sengaja saya buat. Tidak bisa dibayangkan betapa bangganya orang tua saya bisa melihat anaknya di TV dan ditonton jutaan pasang mata yang penasaran akan kekonyolan saya. Dan saat kembali pulang pasti menjadi artis di kampus dan pasti banyak yang ingin foto bareng.

Ada satu hal lagi yang tidak bisa tidak dilakukan jika sudah viral dan terkenal nanti, yaitu membuat Jumpa Fans dengan tiket seharga Rp. 350.000, ditambah dengan biaya Rp. 150.000 untuk sekali foto, foto goyang pun tidak boleh diulang kecuali bayar lagi. Uang hasil menjual kebodohan itu nantinya akan disumbangkan untuk saudara-saudara yang terkena bencana dan orang-orang lain yang sangat membutuhkan. Maksud baik saya semoga dikabulkan Sang Kuasa, untuk pembaca doakan saya bisa viral. Hehe.

Masih Jaman Tulis Blog? It’s Vlog Time!

Penulis: Fipin Desfita

Bila kita membandingkan antara AdSense YouTube dan Blog sebagai fasilitator dalam mengikuti perkembangan jaman, maka anda mendapat kesulitan memilih mana yang sesuai, karena kedua platform ini sama-sama punya potensi yang besar dan semuanya tergantung kepada potensi dan kebutuhan anda.

Intinya: Siapapun bisa menulis blog

Untuk menjadi penulis blog kita bukan hanya harus bisa menghayal, tapi kita juga harus bisa memposisikan diri dalam peran yang kita tulis, atau bahkan kita bisa saja menceritakan pengalaman yang pernah dialami sebelumnya.

Berbeda dengan vlog, yang membuat anda harus bisa mencari tema yang kreatif agar para viewers tidak kabur atau bosan dengan video yang kita buat, dan mahir melakukan beberapa optimasi untuk memaksimalkan konten di mata viewers dan mesin pencari.

Lalu, manakah yang lebih mudah? Blog atau vlog?

Lihat juga berdasarkan kebutuhan anda. Apakah untuk mencari uang, ingin belajar menulis, ingin belajar videografi, ingin eksis, atau mau mengembangkan usaha dan profit?

Banyak kebutuhan yang tidak bisa dipaksakan pada kedua jenis platform ini.

Namun yang paling tepat adalah bila anda seorang blogger dan punya Channel YouTube yang dimonetitasi juga. Tetap menjaga keduanya eksis tanpa membiarkan yang lain.

Lalu, mengapa judulnya seperti mengedepankan “zaman” daripada keinginan atau kebutuhan? Karena memang saya melihat karakter blogger Indonesia secara keseluruhan: jarang mengikuti passion.

Seperti kebanyakan remaja yang ketika sedang booming-nya blogspot mereka langsung merespon mendaftar akun tersebut tanpa melihat diri apakah bisa berkarya atau tidak? Apa manfaat blog setelah mereka buat? Bahkan mereka tidak dalam blog tersebut.

Mereka hanya mengikuti naluri masa ke masa dimana semakin kesini mungkin orang-orang lebih suka menonton dibanding membaca dan pindah ke YouTube setelah menyadari bahwa di sana lumbung untuk saling bersaing kreativitas.

Menjadi blogger tidak menjanjikan lagi? Anda salah. Tidak boleh dikatakan demikian. Sebab banyak blogger yang bisa kaya raya sampai hari ini.

Kebanyakan blogger, apalagi yang mengeluh: saya tidak diterima AdSense, adalah karena memang tidak punya sense kuat pada blog yang ia bangun. Hanya ingin uang dan uang, sehingga imannya goyah ketika ada ladang lain yang lebih menjanjikan, karena uang lah alasannya bergelut dalam bidang daring bukan karena passion.

Contohnya seperti blogger yang dikenal sudah sukses walau hanya sebagai ibu rumah tangga, yaitu Indri Lidiawati

(Sumber foto: soundcloud.com)

Indri Lidiawati lebih dikenal dengan nama online, yakni Juragancipir. Ia merupakan seorang IRT alias Ibu Rumah Tangga. Sosok sederhana ini sungguh luar biasa di kalangan blogger pemula, bagaimana tidak, ia ikhlas membagi seluruh ilmu atau pengalamannya dari jatuh bangun sebagai seorang publisher AdSense Google Indonesia hingga mencapai sukses saat ini.

Keuletan Indri mengelola beberapa blognya semata-mata hanya ingin api gas atau kompor di dapurnya tetap menyala karena ia tidak memiliki profesi gemilang yang tetap tapi hanya sebagai seorang IRT pengangguran.

Ketika travel blogger mengenal AdSense YouTube, ia pasti akan memaksimalkannya, tanpa melewatkan blog yang juga telah ia dirikan dengan susah payah.

Karena sense nya tidak tergulung medium, perpindahan hanya menjangkau pemirsa yang lebih luas, dan berusaha memaksimalkan media yang ada di sekitarnya

Ya, ia tidak kehilangan profitnya di blog. Baginya YouTube adalah hadiah, bukan surat untuk pindah tugas. Integrasi kedua media ini adalah kekuatan besar sehingga harus terus dimaksimalkan.

Seperti tokoh yang kita kenal sebagai penulis juga komedian yang sukses di bidangnya yaitu Raditya Dika.

(Sumber: duniagames.co.id)

Raditya Dika mengawali karirnya dengan menjadi seorang penulis di blog miliknya yang berisikan kegiatan sehari-hari. Seiring berjalannya waktu Radit berkeinginan untuk membukukan tulisan yang ada di blog miliknya saat Radit memenangkan Indonesia Blog Award. Raditya Dika juga meraih penghargaan The Online Inspiring Award pada tahun 2009 yang digelar oleh Indosat. Dengan kejadian tersebut Radit langsung mencetak tulisan-tulisannya yang berada di blog miliknya dan ditawarkan ke beberapa penerbit untuk dijadikan buku. Gagasmedia adalah penerbit utama buku-buku Raditya Dika.

Raditya Dika juga eksis di YouTube dengan video yang pastinya kita kenal dulu yaitu tentang Malam Minggu Miko sampai ada Malam Minggu Miko 2 dan itu terbagi menjadi beberapa judul dan episode, cerita yang ada dalam videonya tersebut menceritakan kegiatan anak muda waktu malam minggu. Akan tetapi sekarang videonya lebih ke kegiatan sehari-harinya yang sering disebut vlog.

It’s vlog time.

Semua adalah pilihan anda.

Jangan persempit juga rasa antusias anda terhadap blog, karena blog juga masih memiliki penggemar dan pembaca tergantung bagaimana kita bisa se-kreatif mungkin menulis dengan daya khayal, pengalaman atau kita menjabarkan pemikiran agar pembaca tetap bertahan tanpa berpaling, bahkan ada fitur monetisasi yang ada pada blog tidak ada di YouTube. Contohnya adalah afilliate marketing, Pay Per Install, dan iklan Pop Up. Karena setiap akun pasti memiliki kelebihan dan kekurangan tanpa harus kita mengikuti jaman.

Tetap jaga sense anda, kembangkan diri dan rauplah kreativitas dengan ideal.

AdSense YouTube memang menjanjikan, rauplah kreativitas selagi masih bisa berkarya.

Pelestarian Alam Harusnya Menjadi Identitas Nasional

Penulis: Rio Syahruddin Fabanyo

(Sumber foto: tirto.id)

Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 97 tahun 2017 tentang Kebijakan dan Strategi Nasional Pengelolaan Sampah hanya menjadi wacana yang lambat direalisasikan oleh pihak masyarakat maupun pemerintah. Padahal pemerintah baik di pusat dan daerah bahkan internasional, sering berkoordinasi masalah sampah yang ada di perairan Indonesia.
Kesadaran masyarakat untuk melestarikan lingkungan juga masih sangat rendah. Mereka berpikir masalah lingkungan adalah urusan pemerintah saja, karena itu banyak masyarakat yang masih tidak perduli.
Dalam Undang-Undang No.23 Tahun 1997 Tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup, Pasal 7 ayat (1): Masyarakat mempunyai kesempatan yang sama dan seluas-luasnya untuk berperan dalam pengelolaan lingkungan hidup, ayat (2): pelaksanaan ketentuan pada ayat 1, dilakukan dengan cara: meningkatkan kemandirian, keberdayaan masyarakat dan kemitraan; menumbuhkembangkan kemampuan dan kepeloporan masyarakat; menumbuhkan ketanggapsegeraan masyarakat untuk melakukan pengawasan sosial; memberikan saran pendapat; menyampaikan informasi dan/atau menyampaikan laporan, dari undang-udang tersebut harusnya dijadikan cerminan bagi masyarakat.

Bumi adalah rumah bagi seluruh makhluk hidup dan segala kebudayaannya. Bagaimanapun juga makhluk hidup tidak akan pernah bisa hidup sendiri. Dalam menjalani kehidupan, makhluk hidup akan membutuhkan kehadiran makhluk hidup lainnya (baik yang sejenis maupun yang tidak sejenis). Manusia tidak mungkin dapat hidup tanpa adanya binatang dan juga tumbuh- tumbuhan. Bagaimanapun tumbuhan dan juga hewan merupakan sumber makanan bagi manusia, sehingga apabila kedua makhluk hidup tersebut tidak ada, maka manusia tidak akan dapat hidup dan jika lingkungan hidup manusia tercemar dan rusak, bagaimana jadinya?
Namun, kebanyakan orang tidak berpikir ke depan apa dampak jika lingkungan yang kita tinggali dirusak. Jika lingkungan rusak keseimbangan lingkungan tentunya akan terganggu. Banyak masyarakat masih kurang paham bahwa kepunahan berbagai spesies flora dan fauna, berkurangannya kesuburan tanah, polusi udara, meledaknya pertumbuhan hama, produksi sampah dunia yang semakin meningkat serta mecairnya es kutub adalah bagian dari rusaknya ekosistem makhluk hidup.

Sebuah wadah pemikir (think tank) melaporkan Slovenia menjadi negara terbaik di dunia yang mampu menjaga lingkungannya untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. “Perlindungan terhadap alam merupakan inti dari kepentingan dan identitas nasional,” kata Kementerian Lingkungan yang dikutip di antaranews.com. Semestinya masyarakat dan pemerintah Indonesia melakukan hal serupa, yaitu dengan menjadikan perlindungan terhadap alam menjadi identitas nasional.